Monthly Archives: February 2011

Cinta = Hidup : Menjangkau Fenomena Cinta dengan Pendekatan Fisiologis, Psikologis, Sosiologis

S

ehari sebelum Valentine day, Ninon Coemi membuat status yang mempertanyakan cinta sejati itu apa? 30 komentar lebih atas status itu tidak satupun yang menjawab, termasuk komentarku. Betapa susahnya menjawab pertanyaan tersebut, bahkan menguraikan cinta itu sendiri begitu abstrak. Kata yang dekat dengan cinta adalah sayang, kasih, suka, gandrung, kasmaran yang penggunaannya disesuaikan dengan konteksnya. Kata-kata tersebut tetap saja tidak mengandung arti yang sama persis dengan cinta, yang menurut saya begitu abstrak.

Meskipun kata cinta itu abstrak, menariknya kata tersebut dapat digunakan kepada obyek non-manusia, misalnya pekerjaan, hewan bahkan mungkin barang. Dalam kasus tertentu orang bisa juga mencintai sesuatu yang mungkin sangat abstrak, yaitu Tuhan dengan kata lain orang tersebut melakukan abstraksi terhadap yang abstrak. Begitu abstraknya Tuhan tidak tepat jika saya mengada-ada untuk membahas cinta manusia kepada Tuhan, saat ini. Cinta orang tua kepada anaknya atau antar anggota keluarga karena nyaris tidak terelakkan juga tidak akan dibahas saat ini, termasuk cinta terhadap barang atau pekerjaan.

Cinta orang tua kepada anaknya, nyaris tidak terelakkan namun cinta seseorang terhadap orang lain baik sesama atau lawan jenis merupakan pilihan (kehendak bebas). Begitupula cinta manusia terhadap pekerjaan atau barang adalah pilihan. Dari semua pengungkapan cinta yang paling rumit adalah cinta terhadap lawan jenis, karena melibatkan setidaknya  dua individu lawan jenis yang masing-masing mempunyai kehendak bebas untuk memaknai cinta tersebut. Pemaknaan tersebut juga tidak sama untuk setiap orang, bahkan orang yang samapun juga dapat memperbaharui makna cinta seiring dengan berjalannya waktu.

Fisiologi Cinta

Memahami makna cinta secara terpisah tetap saja terlampau rumit, pendekatan yang sedikit memudahkan untuk memahami cinta adalah dengan fisiologis, psikologis, sosial. Pendekatan fisiologis setidaknya menggunakan pancaindera kita, dalam tingkatan yang lebih tinggi juga menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Tingkatan paling rendah hanya akan digunakan panca indera secara minimal, misalnya bisa jadi orang begitu mencintai orang lain yang tidak pernah ditemuinya, hanya melihat di TV atau foto. Tingkatan di atasnya digunakan setidaknya dua panca indera, misalnya seseorang yang mencintai seseorang yang ditemuinya, juga pernah mendengar yang bersangkutan berbicara, meski tidak pernah berbicara langsung dengannya. Sudah bisa ditebak, tingkatan yang di atasnya digunakan kombinasi sebanyak mungkin potensi yang ada dalam dirinya. Manifestasi cinta secara fisiologis melalui tatap muka, berkomunikasi secara langsung, bersentuhan, membaui , mencium bahkan termasuk hubungan seks.

Kemampuan secara fisiologis untuk menemukan pasangannya dimiliki oleh semua makhluk hidup, jadi jangan dulu terlalu bangga.  Sederhananya kemampuan dasar ini  terfokus pada fisik termasuk gerak, bau. Orang-orang yang melintas dalam kehidupan kita dengan sendirinya akan terseleksi dengan cara ini. Biasanya kandidat yang dianggap potensial akan mencoba membangun komunikasi, dalam kadar yang lebih tinggi intensitasnya akan bertambah. Sejujurnya saya agak meragukan jika seseorang masih menanti jodoh dari Tuhan sampai tua. Ketidakmampuan seseorang untuk menemukan jodohnya dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu : kendala geografis, mobilitas, hambatan berkomunikasi. Faktor kendala geografis dan mobilitas sangatlah dekat, meskipun tidak sama. Sederhananya kedua faktor itu mewakili keadaan seseorang yang tidak menemukan jodohnya karena minimnya persinggungan dengan orang lain. Minimnya referensi orang yang melintas dalam kehidupannya menjadikan yang bersangkutan kesulitan untuk menemukan orang yang cocok  (jodohnya). Dengan kata lain jangan berharap menemukan jodohnya kalau kita sibuk dengan rutinitas dan urusan kita sendiri di ladang, kantor, dapur, di depan TV, cobalah keluar dari lingkungan rutinitas.

Hambatan komunikasi bermakna ketidakmampuan seseorang untuk bertanya, menjawab, menyampaikan pemikiran termasuk juga ketiadaan alat komunikasi. Bersyukur dengan berkembangnya teknologi komunikasi, orang-orang punya kesempatan lebih besar menemukan jodohnya tanpa terlalu banyak menghabiskan waktu di luar rutinitasnya. Menjadi keprihatinan saya, karena teknologi juga orang dapat kehilangan kemampuan kepekaan serta keluwesan dalam berkomunikasi. Kualitas komunikasi saat bertatap muka sangatlah berbeda dengan komunikasi via telepon ataupun media berbasis internet. Ketika orang terlalu mengandalkan teknologi dalam menjalin komunikasi selama penjajakan berpeluang mengalami ’kekeringan’ ketika menjalani hubungan atau pernikahan.

Selain ketiga faktor itu merupakan faktor yang tidak dapat dirubah atau justru sangat klise, seperti adanya kekurangan secara fisik, agama, adat, faktor ekonomi. Saya menganggap faktor tersebut (kecuali fisik) merupakan faktor yang mengada-ada terkait dengan hambatan seseorang menemukan jodohnya. Meski saya bilang mengada-ada, bukan berarti kita sembarangan untuk mengabaikan faktor tersebut. Seberapa klisenya faktor tersebut haruslah diperhatikan, itulah mengapa manusia dibekali akal budi. Jikalau terpaksa akalbudinya tidak jalan, kita dapat belajar kepada serangga dalam menemukan pasangannya. Kenali dan cercaplah bau badan alami (Feromon) yang ada pada calon pasangan anda, jika ada ’sesuatau yang lain’ daripada bau orang pada umumnya, bisa jadi orang itu adalah pasangan anda. Bau badan relatif stabil daripada menggunakan kriteria fisik yang sudah pasti akan banayak berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Ketidak mampuan orang menemukan jodohnya, akan lain cerita jika seseorang memang memilih hidup selibat, bukan karena keadaan. Saya tidak punya banyak referensi mengenai motivasi orang hidup selibat. Tidak dapat disimpulkan  bahwa orang yang hidup selibat tdak akan mungkin memaknai cinta secara lebih tinggi, justru mereka yang hidup selibat dikenal karena loyalitas terhadap pekerjaan ataupun pelayanan terhadap orang lain bisa totalitas. Apakah hidup selibat berarti ketiadaan aktifitas seksual?

Psikologi Cinta

Memaknai cinta hanya dengan panca indera, menempatkan manusia hanya sedikit di atas mamalia lainnya. Panca indera yang ada tersebut hanya sebagai pengatar manusia untuk memaknai cinta menjadi lebih mulia. Kombinasi pancaindera itu didukung oleh segenap tubuh melalui berbagai hormon yang dikoordinasikan oleh otak menghasilkan suatu fenomena yang disebut perasaan(cinta). Bukankah seseorang yang merasa sedang jatuh cinta, pada saat tertentu akan merasakan jantung berdetak lebih kencang, tersenyum, kornea mata melebar? Semua itu merupakan respon fisiologis. Tidak berhenti sampai di sini, perasaan cinta itu lebih rumit dari sekedar respon fisiologis dalam perkembangannya cinta juga menggunakan akal budi. Mengapa akal budi? Segala bentuk reaksi atau fenomena apapun yang terjadi dalam tubuh manusia pada dasarnya bertujuan untuk kelangsungan hidupnya. Jadi fenomena cinta seabstrak  apapaun itu juga berkembang untuk memepertahankan atau meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan akal budi itu manusia menciptakan standar atau kriteria untuk lawan jenisnya yang diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Penggunaan akal budi memberikan alasan atau dorongan-dorongan mengapa mereka mencintai orang lain? Manifestasi cinta dengan pendekatan psikologis melalui keterikatan atau komitmen satu dengan yang lain, dalam bahasa yang umum digunakan istilah pacaran.

Pada tahap proses menuju pacaran sampai dengan jadian, tiap pribadi mempunyai kesempatan yang paling baik untuk mengeksplorasi  potensi diri juga pada lawan jenisnya. Potensi tersebut antara lain kemampuan untuk membawa diri, cara berkomunikasi, pola berpikir, kebiasaan, resistensi terhadap masalah, nilai-nilai prinsipil, budaya, agama, rencana masa depan dan lain sebagainya. Tidak perlu buru-buru untuk segera melewati masa penjajakan ini, karena masing-masing pribadi berada dalam kedudukan yang seimbang sehingga memungkinkan terjadinya kompromi jika terdapat beberapa perbedaan yang tidak prinsipil. Lalu bagaimana jika terjadi perbedaan prinsipil? Bisa saja tetap nekat, namun resiko ditanggung sendiri. Lamanya masa penjajakan disesuaikan dengan sebarapa banyak hal yang perlu disinkronisasi sebelum berpacaran, biasanya tergantung dari motivasi masing-masing untuk berpacaran.

Pada tahapan berpacaran kecenderungan akan terjadi dominansi oleh salah satu pihak, terutama laki-laki yang secara sosial didukung oleh budaya yang patriarki. Karena kecenderungan ini, perempuan sudah harus lebih waspada agar hal ini dapat diantisipasi dan dikomunikasikan dahulu ketika masih penjajakan. Ketika sudah merasa yakin, boleh saja mengikatkan diri dalam sebuah komitmen berpacaran. Saya menduga sebagian besar kegagalan orang dalam berpacaran disebabkan kegagalan mereka untuk melakukan integrasi nilai-nilai, tentunya termasuk dalam turunannya yaitu kebiasaan. Resiko kegagalan integrasi nilai tersebut berbanding terbalik dengan lamanya penjajakan. Semakin minim baik kuantitas ataupun kualitas penjajakan maka semakin beresiko gagal berpacaran. Perlu menjadi catatan, bahwa kuantitas pertemuan tidak  menjamin keberhasilan masa integrasi, meskipun tetap saja perlu diperhitungkan. Sebagai contoh, pasangan yang selalu bertemu tiap hari tidak menjamin integrasinya lebih lancar jika tidak didukung dengan topik-topik pembicaraan yang relevan dan mendalam terkait dengan  potensi juga motivasi lawan jenis dalam berpacaran.

Sosiologi Cinta

Dekonstruksi pemaknaan cinta menjadi jauh lebih rumit ketika akal budi manusia mendapat sentuhan dari unsur sosial di masyarakat. Pendidikan, status sosial, pekerjaan, kekayaan, agama, adat, budaya dan lain sebagainya. Bukan merupakan hal yang mendasar, namun realitas tersebut justru lebih banyak menghambat manusia untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan lawan jenisnya, sehingga muncul istilah ’gagal dalam cinta’.  Manifestasi cinta secara sosial melalui pernikahan, namun bukan berarti setiap orang yang menikah dapat dikatakan sudah ketemu jodohnya. Tidak sesederhana itu, faktor sosial  terkadang menjadi begitu memaksa yang berarti juga dapat mengabaikan faktor fisiologis dan psikologis. Pernikahan yang dijodohkan, membuat yang bersangkutan kesusahan untuk memaknai cintanya, dan kondisi ini bisa berakibat kepada generasi yang diturunkannya. Hal ini bukan berarti semua perkawinan yang dijodohkan pasti gagal atau tidak baik, tergantung kepada kemampuan kedua pihak dalam melakukan penyesuaian diri dalam waktu sesingkat mungkin. Hambatan untuk memaknai cinta dalam pernikahan yang dijodohkan karena telah mengabaikan kehendak bebas yang menjadi esensi atas cinta itu sendiri.

Apakah cinta hanya bisa dipahami melalui pernikahan saja? Terlalu sempit kalau memaknai cinta hanya melalui ikatan pernikahan saja.  Tapi setidaknya kita perlu mengindahkan tatanan sosial yang ada, karena hanya dengan pernikahan saja, pasangan dianggap sah untuk melakukan hubungan seks termasuk menghasilkan keturunan.  Bagaimana jika melakukan hubungan seks sampai mendapatkan keturunan dan pasangan tersebut menganggap dirinya sudah menemukan makna cinta yang sesungguhnya? Hal itu bisa saja terjadi, namun kualitas hubungan mereka tidak akan setinggi ketika mendapat dukungan dari masayarakat, karena kita juga belajar untuk mencintai orang lain (masyarakat). Apakah memaknai cinta itu harus dengan hubungan seks? Boleh saja memaknai cinta tanpa melakukan hubungan seks, namun yang bersangkutan akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh makna yang lebih tinggi atas cinta. Apakah setelah melakukan hubungan seks berarti seseorang pasti dapat memaknai cinta lebih tinggi daripada yang tidak melakukan hubungan seks? Tidak ada jaminan akan hal ini, melakukan hubungan seks tanpa melibatkan dimensi psikologis (mungkin spiritual), hanya terfokus pada aktifitas biologis semata akan menempatkan manusia sedikit di atas mamalia lainnya.

Beberapa referensi mengenai hubungan seks, memungkinkan seseorang mencapai tingkatan spiritualitas tertinggi. Meskipun saya menganggap hal itu sedikit berlebihan, namun kiranya hal itu bisa menjadi referensi bagi kita yang hendak jauh lebih berkualitas/tinggi dalam memaknai cinta. Satu referensi lokal yang sangat bagus tentang pendidikan seks terdapat dalam novel non fiksi ”Perkawinan Tripartit” karya Tri Kadarsilo (alm). Di kesempatan yang lain, secara sederhana Ki Wagiman mengatakan bahwa hubungan seks berfungsi untuk rekreasi dan prokreasi. Rekreasi berarti seks itu sesuatu yang menyenangkan, prokreasi terkait dengan regenerasi atau menghasilkan keturunan.  Terkait dengan hal itu, ada lima hal yang menjadi syarat dalam pernikahan : sama-sama manusia, sama-sama hidup, sama-sama sehat, laki-laki dengan perempuan, sama-sama sudah dewasa. Pengertian dewasa bukan hanya secara biologis saja namun termasuk dalam kematangan untuk menanggung kebutuhan hidup selama mereka menjalani hubungan dalam ikatan pernikahan.

Epilog

Ulasan panjang lebar ini tetap saja tidak menjawab pertanyaan cinta sejati itu apa? Namun setidaknya kita sudah ada sedikit gambaran untuk mewujudnyatakan cinta sejati. Saya tidak bisa memastikan keberhasilannya, sehingga saya tidak bisa menjawab apakah cinta sejati itu ada atau tidak ada? Kita hanya bisa mengusahakannya, saya kira itu lebih masuk akal daripada menyangkal cinta sejati itu tidak ada, dan berlarut-larut menunggu jodoh yang diberikan Tuhan. Saya hanya bisa tersenyum dengan orang yang demikian, kalau saya berada dalam posisi sebagai Tuhan saya akan bilang ”Bukankah kamu sudah dilengkapi dengan akal budi?” untuk menjawab doa orang yang selalu minta dipertemukan dengan jodohnya. Akan lebih sehat jika kita mengharapakan jodoh, cobalah kita keluar dari dunia kita, membuka diri, perbesar kesempatan untuk melakukan kontak dengan orang lain, namun tetap waspada.

Ironis memang jika seseorang sesungguhnya tidak benar-benar siap untuk menerima pribadi lain untuk bersama-sama memaknai cinta dalam hidupnya dan hanya berdoa di kamar saja. Selain adanya kehendak bebas, cinta juga mengandung dimensi pengorbanan.  Seluruh cerita mitos dan legenda di bumi ini yang paling mulia adalah bertemakan pengorbanan diri. Ketika kita mengijinkan orang lain untuk masuk dalam kehidupan kita, bukanlah sesuatu yang mudah. Bagi saya hal itu termasuk pengorbanan. Orang-orang yang masih mementingkan ego, tidak mau dengan besar hati menerima orang lain yang berbeda sekalipun itu pejabat, saya sangat meragukan mereka dalam memaknai cinta. Apakah cinta itu dimaknai bahwa segala sesuatu harus sama? Ketika ada orang lain yang berbeda, akan dianggab sebagai bukan dirinya sehingga dipaksa (mungkin dengan kekerasan) untuk mengikuti kehendaknya. Kalau cinta itu berarti harus sama, mengapa tidak menikah dengan yang sama jenis kelaminnya?

Tidak akan pernah mungkin mengharapkan perdamaian dunia tanpa ada kedamaian dalam negara-negara. Negara akan hancur jika pondasi dalam keluarga terlalu rapuh. Keluarga menjadi hancur jika tidak didasarkan atas cinta. Cinta tidak akan berkembang tanpa kesadaran pribadi-pribadi menghargai betapa mulianya cinta disertai tindakan untuk menerima pribadi lain dengan keperbedaanya. Penyatuan pribadi-pribadi yang berbeda tersebut atas dasar kehendak bebas serta kesadaran bersama untuk saling mengorbankan diri demi mengenakkan orang lain, menuju pemaknaan cinta yang lebih tinggi dan hidup yang berkualitas[1].

Cinta sangat egois namun juga begitu universal, setiap peradaban berkembang atas dasar cinta. Tanpa cinta beradaban dengan sendirinya akan hancur, selain karena faktor alam. Bagaimana mungkin peradaban berkembang dengan kebencian, iri terhadap orang atau kelompok lain semua itu berujung pada tindakan yang destruktif. Betapapun berbedanya bukan menjadi alasan untuk menyingkirkan ataupun menghancurkan apalagi karena alasan agama. Sungguh sangat disayangkan ketika agama yang seharusnya menampakan wajah kesalehan namun justru terkadang lebih sering muncul dengan keberingasannya.

Tugu Yogyakarta

Betapapun rumitnya cinta, tidak ada satu persamaanpun yang dapat merumuskan cinta. Sebagai gambaran saja untuk mempermudah memahami fenomena tersebut dapat dibayangkan pada dua buah diagram tiga dimensi. Mendapatkan resultan dalam satu kurva tiga dimensi saja susah, apalagi tiga dimensi. Anggap saja kurva pertama pada sumbu X adalah waktu, sumbu Y adalah kuantitas sedangkan sumbu Z adalah Kualitas. Sementara itu pada kurva kedua pada sumbu A adalah dimensi fisiologis, pada sumbu B adalah dimensi psikologis, dan pada sumbu C adalah dimensi sosiologis. Bisa dibayangkan betapa rumitnya menemukan resultan ke enam titik tersebut. Hal ini bisa disederhanakan dengan meminjam gambaran dua segitiga bersatu. Resultan tersebut tidak selalu bertemu dalam satu titik, olehkarena itu masing-masing budaya dapat mengartikanya berbeda. Liat saja simbol yang terdapat dalam tugu Yogyakarta, Bintang Daud, Simbol manunggaling kawula lan Gusti berupa telu telu ning atunggal (tiga tiga namun bersatu). Secara kreatif enam titik bersatu melambangkan struktur dasar dari kehidupan dalam sarang lebah, struktur dasar kristal, juga struktur alam semesta.

Setiap orang bebas mengartikan keenam titik tersebut, sama bebasnya menafsirkan makna cinta. Kebetulan saja semua itu menjadi masuk akal di otakku, struktur dasar dari kehidupan juga merupakan struktur dasar cinta. Dengan demikian cinta itu adalah kehidupan itu sendiri. Cara orang memaknai hidup, demikian juga orang akan memaknai cinta. Meskipun ada unsur ego[2] dalam cinta namun kiranya hal ini bisa kembali dipancarkan keluar dalam bentuk kepedulian kepada sesama dan semesta. Hormati orang lain, masyarakat, negara bagaimananpun keadaanya benih cinta tersebut tertanam, rawat dan maknai dengan kesungguhan dan kemenyeluruhan sehingga mampu berbuah perdamaian.

Jadi ketika ditanya cinta itu apa saya menjawab cinta sama dengan hidup.


[1] Salah satu referensi mengenai hidup berkualitas dalam persepktif jawa dapat di lihat di dalam artikel Njawani
[2] Digambarkan sebagai keinginan atas sesuatu dari luar yang harus dibawa ke dalam atau disesuaikan dengan yang ada dalam diri kita.
Link Video Nassim Haramein, tentang mengapa kita perlu ‘cinta’ http://www.youtube.com/watch?v=Un36yIoBObg
Advertisements

Njawani : Laku Menjadi Orang Jawa

M

asih berbicara tentang jawa, berawal dari ketidak-tahuan saya tentang jawa ketika ditanya oleh teman-teman dari luar jawa mengenai “Jawa itu apa?” Ulasan saya tentang hal ini bukan bersifat dogmatis yang tidak terbantahkan, namun sangat terbuka untuk berbagai kritik dan koreksi bahkan jika ada pemaknaan lain juga tidak menutup kemungkinan. Agar bisa njawani, tidak perlu menjadi ahli, oleh-karena itu meskipun saya bukan ahli tentang jawa, saya memberanikan diri menulis tentang jawa.

Secara sederhana menjawab pertanyaan “Jawa itu apa?” dikaitkan dengan nama pulau, suku, bahasa, tulisan, budaya ataupun kerajaan. Sampai pada jawaban tersebut sudah dapat menjawab pertayaan, namun orang yang njawani tidak berhenti sampai dengan jawaban itu. Laku menjadi orang jawa (njawani) tidak sekedar mengetahui arti namun lebih jauh kedalam memahami makna yang meski tersamarkan, juga terkandung unsur internalisasi nilai yang diselaraskan dengan diri-semesta untuk terus dilakukan dan ditingkatkan kualitasnya. Nilai-nilai yang inheren dalam kata njawani adalah mengerti, refleksi, harmoni, proses yang progresif-simultan, universal. Laku menjadi orang jawa merupakan proses untuk mengerti berbagai realitas baik yang ada di alam pikiran manusia ataupun alam semesta. Upaya untuk mengerti itu sendiri diperoleh melalui refleksi dengan menggunakan prisma[1] keharmonian dan keselarasan dengan semesta juga universalitas. Sebagai contoh, peribahasa “ Jika tidak mau dicubit, janganlah mencubit” merupakan nilai yang bisa diterima dimana saja, dan kapan saja.  Nilai tersebut dibangun untuk menjaga keselarasan dan keharmonisan dalam komunitas, ataupun antar komunitas bahkan semesta. Nilai yang diperoleh tersebut tidak bersifat statis atau mati tetapi senantiasa dilakukan, direfleksikan untuk dikoreksi (mawas diri) sampai didapati nilai yang lebih luhur, mulia, universal dan semakin baik tiada henti.

Tidak ada kata-kata yang benar-benar pas untuk mengartikan ataupun memaknai njawani. Secara sederhana laku menjadi orang jawa tidak cukup hanya dengan mempelajari bahasa, budaya tanpa melibatkan diri menjadi orang jawa. Laku menjadi orang jawa  secara fungsional dimaknai sebagai berguna bagi kesejahteraan hidup umat manusia juga semesta (migunani tumrap karaharjaning urip bebrayan)[2]. Sementara itu menurut Paulus Bambang Susetyo kata jawa secara esensial diartikan sebagai mengerti dengan tepat mengenai segala sesuatu perkara hidup dan kehidupan secara menyeluruh yang selaras dengan kehendak sang maha hidup. Dengan demikian laku menjadi orang jawa (njawani) bersifat inklusif, terbuka bagi siapa saja untuk mengerti dan menjalaninya, yang bahkan sudah banyak ditinggalkan oleh kebanyakan orang jawa itu sendiri. Ketidak-mauan serta ketidak-mampuan orang jawa untuk njawani diistilahkan sebagai “wong jawa ilang jawane”.

Personifikasi Jawa

Tidak semua fenomena dalam kehidupan terbuka secara blak-blakan, demikian pula orang jawa memahami berperilaku dalam budaya. Kata atau kalimat dalam bahasa jawa boleh saja diartikan secara langsung, namun mengartikan yang semacam demikian boleh-boleh saja tapi tak jarang justru dapat membawa pada ketersesatan pikir. Sebagai contoh kata waton yang barasal dari kata watu atau batu, menjadi waton atau bebatuan. Pemakaiannya dalam frase, waton amben yang berarti batu penyangga dipan. Dalam frase waton ngomong diartikan sebagai asal bicara, sedangan dalam kalimat ngomong nganggo waton berarti berbicara pakai dasar. Dalam kalimat anggonmu gondelan waton sing seret, wong saiki jamane wis jaman edan[3] jika diartikan langsung secara luwes menjadi berbeganglah yang kuat pada batu, sekarang sudah jaman edan. Kata waton dapat dimaknai lebih dari sekedar batu,asal, dasar tetapi dapat mencakup pada nilai-nilai kehidupan yang mendasar yang selaras juga kontekstual.

Dalam menggambarkan diri dalam kebudayaan, personifikasi jawa terkandung dalam tokoh Arjuna. Tidak tepat mengartikan Arjuna sebagai playboy, karena secara katuranggan dia perpawakan kurus dan lemah. Simbol dari maskulinitas atau playboy seharusnya melakat pada karakter Bima, kakak Arjuna, namun mengapa tidak  demikian? Dalam suatu kesempatan bertanya-jawab dengan Ki Sigit Sukasman, dia mengatakan “Jawa iki ora blak-blakan” atau jawa itu tidak vulgar. Daya tarik Arjuna dimata perempuan dan kebiasaan mengawininya merupakan simbolisasi daya tarik tanah jawa (nusantara) dimata para pendatang. Para pendatang dengan beragam latar belakang kebudayaan, agama, suku oleh orang jawa diterima dan ditempatkan layaknya istri agar tercapai keharmonisan hidup.

Lebih lanjut Ki Sigit Sukasman mengatakan bahwa orang Jawa tidak beringasan. Dalam karakter Arjuna selalu tampil lemah lembut dan tidak emosional meskipun dalam keadaan perang. Sebagai contoh dalam satu lakon  pewayangan Mahabarata digambarkan Arjuna yang berpapasan dengan Buta Cakil dalam peperangan. Cakil merupakan raksasa yang sangat gesit dengan rahang bagian bawah lebih maju daripada rahang atas dengan taring yang tajam, jika berbicara terdengar agak sengau, cepat dan berulang-ulang. Sementara itu ketika Arjuna menghadapi Cakil yang sedemikian beringas, tetap santun terlihat dari posisi tangganya yang santai atau kebawah, tidak dalam sikap menantang. Arjuna tidak akan langsung menjawab pertanyaan Cakil, namun menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dan tetap masih santai. Hal ini juga yang menjadikan Cakil semakin geram dan ingin segera melabrak Arjuna.

Perjumpaan Jawa dengan Agama-agama

Perkawinan yang paling dramatis adalah antara Jawa dengan agama-agama. Jika dalam pewayangan perempuan-perempuan yang dinikahi Arjuna saling akur bahkan mendukung karya Arjuna, tidak demikian dengan agama-agama yang masuk di tanah jawa (nusantara). Pernah memang agama-agama begitu rukun namun semakin hari nampaknya tidak semakin baik. Beberapa keributan yang terjadi antar agama tersebut bukan semata-mata kesalahan mereka, tidak lain karena ‘Arjuna pergi bertapa’.  Menjadi pertanyaan besar adalah kapan Arjuna akan turun gunung, keluar dari pertapaannya?

Saya tidak akan terjebak pada keributan tersebut, sungguh memprihatinkan jika ternyata Arjuna terlalu asik dengan pertapaannya atau mungkin lupa, bahwa tidak satupun istri yang diambilnya merupakan putri asli Madukara, semua adalah pendatang. Tidak sepantasnya agama-agama pendatang, merusak keharmonisan di tanah jawa (nusantara) dengan alasan apapun.

Dalam perspektif yang lain, agama dikaitkan dengan kata ageman yang berarti busana atau pakaian. Kita bisa saja menganti pakaian kita berkali-kali sesuai dengan perkembangan jaman, meskipun demikian tidak akan merubah identitas kita. Keberadaan guru atau secara luas termasuk juga orang tua atau yang dituakan dalam masyarakat jawa merupakan suatu pondasi yang kuat dalam rengka menciptakan peningkatan kualitas hidap dalam keharmonisan dan keselarasan dengan alam.  Ketika orang jawa pergi ke kuburan untuk tafakur dan membersihkan sekitar makam tidak dimaknai sebagai pemujaan terhadap roh leluhur ataupun batu atau pohon besar yang ada di sekitar makam. Penilaian yang demikian sering ditimpakan sekonyong-konyong kepada orang jawa yang masih melakukan ritual tersebut. Ritual tersebut sebenarnya merupakan bakti terhadap orang tua yang paling mungkin mereka lakukan ketika orang tua sudah meninggal. Di kemudian hari oleh penganut agama-agama yang lebih muda, ritual tersebut sudah diartikan lain yaitu penyembahan kepada yang bukan Tuhan (menurut versi mereka).

Perkawinan pengajaran Hindu dan Jawa adalah dalam bentuk konsep Hindu Maha Dewa yang ada di India menjadi Hindu Maha Guru. Di India Brahma-Siwa-Wisnu menjadi tokoh sentral, sementara itu dalam pewayangan jawa peran itu didominasi Batara Guru. Lebih menarik lagi jika melihat hubungan antara Batara Guru, Kesatria dan Semar. Sebagai seorang punakawan, rakyat biasa (pendamping dan pamomong kesatria) Semar menggunakan bahasa jawa halus (krama inggil) kepada para Pandawa. Kesatria yang diperamkan oleh pandawa yang merepresentasi penguasa, kaum terpelajar dan luhur keberadaannya harus menggunakan bahasa jawa halus para dewa termasuk  kepada Batara Guru sebagai bentuk penghormatan. Terdapat pengecualian pada Bima yang tidak pernah menggunakan bahasa jawa halus  kecuali dengan Dewa Ruci. Penggunaan bahasa jawa halus tersebut menunjukan strata yang semakin  tinggi, namun demikian yang menarik bahwa Batara Guru juga menggunakan bahasa jawa halus kepada Semar yang notabene adalah rakyat biasa.

Budhisme yang tidak dalam selang waktu yang lama juga merambah tanah jawa, tak urung juga terjadi perkawinan dengan jawa. Meskipun sedikit lebih mudah dari Hinduisme ternyata ajaran  dalam Budhisme lebih banyak kecocokan dengan ajaran nilai-nilai luhur masyarakat jawa sebelum Hinduisme masuk. Budhisme yang merupakan bentuk reformasi santun terhadap Hinduisme jelaslah sangat berbeda, namun dalam rengkuhan Arjuna di tanah jawa mereka bisa hidup berdampingan secara harmonis. Apakah hidup berdampingan secara harmonis tersebut berarti tidak pernah ada konflik? Seperti halnya dalam rumah tanggga, pertikaian kecilpun kadang terjadi namun tidak dimasukkan ke hati dan segera diselesaikan. Pada masa inilah jawa (nusantara) mengalami puncak kejayaan, yang juga menjadi cikal bakal negara Indonesia.  Semboyan Bhineka Tunggal Ika (Tan Hana Dharma  Mangrwa) juga lahir pada masa ini yang pada dasarnya menggambarkan hubungan antara penganut Hinduisme dan Budhisme di Majapahit. Semboyan tersebut terkadang diartikan secara sempit karena tidak menggunakan frase yang di dalam kurung, sehigga hanya diartikan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu. Tidak salah memang mengartikan yang demikian, namun menurut saya konteks waktu itu adalah keperbedaan antara ajaran Hindu dan Budha satu dalam perbuatan baik (dharma) yang tidak mendua. Maksud dari tidak mendua adalah tidak menggunakan standar ganda terhadap kebaikan, baik Hindu maupun Budha memahami dan melakukan kebaikan yang sama dan tidak diragukan kebenarannya.

Suka tidak suka Kekristenan (termasuk Katholik) dan Islam yang kemudian ikut menyusul dan menjadi ‘mempelai’ di tanah jawa (nusantara) terkesan lebih invasif daripada Hindu dan Budha yang telah datang sebelumnya. Awal mula kekristenan berkembang  lebih lambat dan tidak muncul dalam ranah politis. Perkawinan antara kekristenan dengan Jawa layaknya remaja yang sedang jatuh cinta, mau tapi malu. Hambatan terbesar selain bahasa adalah penyebar ajaran tersebut sudah lekat dengan stigma penjajah, sehingga tidak banyak orang jawa yang berkesempatan secara langsung mengalami perjumpaan secara intim dengan kekristenan. Kyai Sadrach dan Tunggul Wulung sedikit lebih beruntung dapat mengalami perjumpaan itu meskipun saya sendiri masih meragukan keintimannya. Mengapa saya meragukan, perkembangan kekristenan sampai saat ini masih banyak terbelit dengan konsep yang sebenarnya agak susah dimengerti oleh kebanyakan orang jawa karena terkesan sangat baru sama sekali. Kesan yang demikian bisa dimengerti ketika pengajaran tersebut masih seputar konsep, dalam bahasa kerennya teologis-dogmatis.

Lebih dalam menelusuri dinamika hubungan Kristen-Hindu-Budha-Jawa terdapat benang merah dalam konsep mesianika. Secara sederhana mesianika dipahami sebagai pengharapan akan datanganya orang konsep atau gagasan untuk mengatasi berbagai tantangan jaman menuju ke kehidupan yang lebih baik. Mesianika yang pada mulanya berkembang di daerah Israel, rupanya juga terjadi pada kebudayaan Hindu di India. Masing-masing sepertinya terpisah namun ketika memasuki tanah jawa seolah-olah konsep mesianika mendapatkan tempat dalam formulasi yang kontekstual. Secara personal Kresna, Arjuna, Budha Gautama, Jayabhaya dianggap sebagai titisan, penjelmaan, avatar dari Wisnu. Jika terjebak pada personal maka konsep tersebut hanya bisa merangkai Hindu-Budha-Jawa saja, karena Kekristenan menampilkan figur yang berbeda yaitu bahwa Yesus (Yeshua) merupakan manifestasi YHWH di dunia. Meskipun dari sisi figur berbeda namun jika disimak lebih dalam, masing-masing tokoh tersebut merupakan penentu/pengubah tatanan masyarakat pada jamannya menuju keadaan yang lebih baik. Masyarakat jawa sekarang juga masih memegang kuat konsep mesianika dalam pengaharapan akan datangnya Ratu Adil.

Saya sendiri lebih sreg menggunakan konsep mesianika dengan pendekatan peran, bukan hanya secara personal. Dengan pendekatan ini saya merasa lebih njawani, tidak terjebak dalam bingkai geografis, kultural dan jaman. Kosep personal yang juga individual tentunya kemudian akan berhadapan dengan konsep fungsional dan komunal. Ratu Adil dianggap sebagai ratu,namun tidak pernah mengaku sabagai ratu. Hendaknya setiap manusia jawa menjadi Ratu Adil dalam setiap eksistensinya, bukan serta merta melimpahkan tanggungjawab terhadap segala permasalahan jaman kepada salah seorang saja, yang menjadi penekanan adalah perubahan itu.

Perkawinan Jawa dengan Islam patut mendapat perhatian khusus karena kiprahnya sejak abad ke  XV sudah terbukti membawa perubahan kepada masyarakat jawa (nusantara). Nilai,tata cara dan pemikiran Islam telah mampu memberikan sumbangan yang begitu banyak, atau setidaknya sebagian besar orang Indonesia menjalankannya.  Sunan Kalijaga dianggap sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam mengakselerasi nilai dan ajaran islam ke dalam budaya jawa, terlepas kontroversi tentang asal usulnya. Perkembangan selanjutnya, Islam di Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai negara dengan Jumlah pemeluk Agama Islam terbesar di luar tanah kelahirannya. Berbagai masacam aliran yang berkembang dalam Islam di Indenonesia dengan keunikan masing-masing tentunya dipandang sebagai suatu proses juga terus berlangsung. Berbagai sorotan dan tudingan miring atas sepak terjang kelompok tertentu yang terlihat beringas dalam Islam sendiri, tidak lantas kita memberikan stigma negatif terhadap Islam. Sebagai sebuah organisasi atau secara personal tentunya kita harus memberikan kesempatan kepada mereka menuju kedewasaan secara spiritual.

Apakah dengan masuknya agama-agama tersebut menjadikan jawa kehilangan identitasnya? Barangkali iya, namun bukan berarti hilang seluruhnya. Jika mengamati di permukaan, misalnya melalui kebiasaan orang jawa (nusantara), sudah menggunakan pakaian agama masing-masing. Dibalik semua keriuhan itu sebagian orang jawa tetap dengan yakin untuk laku menjadi orang jawa yang tidak terbatas pada agama, garis darah, bahasa, budaya maupun rentang geografis. Memandang fenomena kekerasan dengan label agama tentunya orang jawa tidak akan cepat naik darah dan menimpakan kesalahan itu pada pelakunya. Jangankan orang yang sekali waktu melakukan kekerasan, pencuri yang begitu tekun menekuni profesinyapun diterima baik dalam komunitas masyarakat jawa. Upaya untuk menolak dan mengasingkan orang-orang yang dianggap jahat tidak lain merupakan pengingkaran terhadap identitas diri sebagai orang jawa. Pelaku kejahatan tidak disebut sebagai penjahat hanya orang yang masih cupet ing nalar atau dangkal pemikirannya. Bukan masalah orangnya, namun seberapa besar kita bisa hadir dalam kehidupan orang lain untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih baik, bukan untuk menggurui.

Epilog

Menjadi orang jawa bukan keberhasilan personal namun kolektif, bukan lokal namun universal, bukan statis namun progresif-simultan, bukan eklusif namun inklusif, bukan genealogis ataupun geografis namun fungsional.

Kehadiran saya melalui tulisan ini bukan untuk menggurui, berbagai masukkan ataupun kritik terhadap tulisan ini saya maknai sebagai suatu penghargaan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.


[1] Prisma, alat optik berbentuk prisa dengan pola dasar segitiga untuk menguraikan cahaya. Dalam hal ini prisma dimaknai sebagai cara untuk menguraikan makna atau sifat asali atas suatu feneomena.

[2] Penjelasan “migunani tumrap karaharjaning urip bebrayan” juga dapat dilihar dalam artikel Kanca Wingking

[3] Lebih lanjut lihat  Waton Amben