Njawani : Laku Menjadi Orang Jawa

M

asih berbicara tentang jawa, berawal dari ketidak-tahuan saya tentang jawa ketika ditanya oleh teman-teman dari luar jawa mengenai “Jawa itu apa?” Ulasan saya tentang hal ini bukan bersifat dogmatis yang tidak terbantahkan, namun sangat terbuka untuk berbagai kritik dan koreksi bahkan jika ada pemaknaan lain juga tidak menutup kemungkinan. Agar bisa njawani, tidak perlu menjadi ahli, oleh-karena itu meskipun saya bukan ahli tentang jawa, saya memberanikan diri menulis tentang jawa.

Secara sederhana menjawab pertanyaan “Jawa itu apa?” dikaitkan dengan nama pulau, suku, bahasa, tulisan, budaya ataupun kerajaan. Sampai pada jawaban tersebut sudah dapat menjawab pertayaan, namun orang yang njawani tidak berhenti sampai dengan jawaban itu. Laku menjadi orang jawa (njawani) tidak sekedar mengetahui arti namun lebih jauh kedalam memahami makna yang meski tersamarkan, juga terkandung unsur internalisasi nilai yang diselaraskan dengan diri-semesta untuk terus dilakukan dan ditingkatkan kualitasnya. Nilai-nilai yang inheren dalam kata njawani adalah mengerti, refleksi, harmoni, proses yang progresif-simultan, universal. Laku menjadi orang jawa merupakan proses untuk mengerti berbagai realitas baik yang ada di alam pikiran manusia ataupun alam semesta. Upaya untuk mengerti itu sendiri diperoleh melalui refleksi dengan menggunakan prisma[1] keharmonian dan keselarasan dengan semesta juga universalitas. Sebagai contoh, peribahasa “ Jika tidak mau dicubit, janganlah mencubit” merupakan nilai yang bisa diterima dimana saja, dan kapan saja.  Nilai tersebut dibangun untuk menjaga keselarasan dan keharmonisan dalam komunitas, ataupun antar komunitas bahkan semesta. Nilai yang diperoleh tersebut tidak bersifat statis atau mati tetapi senantiasa dilakukan, direfleksikan untuk dikoreksi (mawas diri) sampai didapati nilai yang lebih luhur, mulia, universal dan semakin baik tiada henti.

Tidak ada kata-kata yang benar-benar pas untuk mengartikan ataupun memaknai njawani. Secara sederhana laku menjadi orang jawa tidak cukup hanya dengan mempelajari bahasa, budaya tanpa melibatkan diri menjadi orang jawa. Laku menjadi orang jawa  secara fungsional dimaknai sebagai berguna bagi kesejahteraan hidup umat manusia juga semesta (migunani tumrap karaharjaning urip bebrayan)[2]. Sementara itu menurut Paulus Bambang Susetyo kata jawa secara esensial diartikan sebagai mengerti dengan tepat mengenai segala sesuatu perkara hidup dan kehidupan secara menyeluruh yang selaras dengan kehendak sang maha hidup. Dengan demikian laku menjadi orang jawa (njawani) bersifat inklusif, terbuka bagi siapa saja untuk mengerti dan menjalaninya, yang bahkan sudah banyak ditinggalkan oleh kebanyakan orang jawa itu sendiri. Ketidak-mauan serta ketidak-mampuan orang jawa untuk njawani diistilahkan sebagai “wong jawa ilang jawane”.

Personifikasi Jawa

Tidak semua fenomena dalam kehidupan terbuka secara blak-blakan, demikian pula orang jawa memahami berperilaku dalam budaya. Kata atau kalimat dalam bahasa jawa boleh saja diartikan secara langsung, namun mengartikan yang semacam demikian boleh-boleh saja tapi tak jarang justru dapat membawa pada ketersesatan pikir. Sebagai contoh kata waton yang barasal dari kata watu atau batu, menjadi waton atau bebatuan. Pemakaiannya dalam frase, waton amben yang berarti batu penyangga dipan. Dalam frase waton ngomong diartikan sebagai asal bicara, sedangan dalam kalimat ngomong nganggo waton berarti berbicara pakai dasar. Dalam kalimat anggonmu gondelan waton sing seret, wong saiki jamane wis jaman edan[3] jika diartikan langsung secara luwes menjadi berbeganglah yang kuat pada batu, sekarang sudah jaman edan. Kata waton dapat dimaknai lebih dari sekedar batu,asal, dasar tetapi dapat mencakup pada nilai-nilai kehidupan yang mendasar yang selaras juga kontekstual.

Dalam menggambarkan diri dalam kebudayaan, personifikasi jawa terkandung dalam tokoh Arjuna. Tidak tepat mengartikan Arjuna sebagai playboy, karena secara katuranggan dia perpawakan kurus dan lemah. Simbol dari maskulinitas atau playboy seharusnya melakat pada karakter Bima, kakak Arjuna, namun mengapa tidak  demikian? Dalam suatu kesempatan bertanya-jawab dengan Ki Sigit Sukasman, dia mengatakan “Jawa iki ora blak-blakan” atau jawa itu tidak vulgar. Daya tarik Arjuna dimata perempuan dan kebiasaan mengawininya merupakan simbolisasi daya tarik tanah jawa (nusantara) dimata para pendatang. Para pendatang dengan beragam latar belakang kebudayaan, agama, suku oleh orang jawa diterima dan ditempatkan layaknya istri agar tercapai keharmonisan hidup.

Lebih lanjut Ki Sigit Sukasman mengatakan bahwa orang Jawa tidak beringasan. Dalam karakter Arjuna selalu tampil lemah lembut dan tidak emosional meskipun dalam keadaan perang. Sebagai contoh dalam satu lakon  pewayangan Mahabarata digambarkan Arjuna yang berpapasan dengan Buta Cakil dalam peperangan. Cakil merupakan raksasa yang sangat gesit dengan rahang bagian bawah lebih maju daripada rahang atas dengan taring yang tajam, jika berbicara terdengar agak sengau, cepat dan berulang-ulang. Sementara itu ketika Arjuna menghadapi Cakil yang sedemikian beringas, tetap santun terlihat dari posisi tangganya yang santai atau kebawah, tidak dalam sikap menantang. Arjuna tidak akan langsung menjawab pertanyaan Cakil, namun menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dan tetap masih santai. Hal ini juga yang menjadikan Cakil semakin geram dan ingin segera melabrak Arjuna.

Perjumpaan Jawa dengan Agama-agama

Perkawinan yang paling dramatis adalah antara Jawa dengan agama-agama. Jika dalam pewayangan perempuan-perempuan yang dinikahi Arjuna saling akur bahkan mendukung karya Arjuna, tidak demikian dengan agama-agama yang masuk di tanah jawa (nusantara). Pernah memang agama-agama begitu rukun namun semakin hari nampaknya tidak semakin baik. Beberapa keributan yang terjadi antar agama tersebut bukan semata-mata kesalahan mereka, tidak lain karena ‘Arjuna pergi bertapa’.  Menjadi pertanyaan besar adalah kapan Arjuna akan turun gunung, keluar dari pertapaannya?

Saya tidak akan terjebak pada keributan tersebut, sungguh memprihatinkan jika ternyata Arjuna terlalu asik dengan pertapaannya atau mungkin lupa, bahwa tidak satupun istri yang diambilnya merupakan putri asli Madukara, semua adalah pendatang. Tidak sepantasnya agama-agama pendatang, merusak keharmonisan di tanah jawa (nusantara) dengan alasan apapun.

Dalam perspektif yang lain, agama dikaitkan dengan kata ageman yang berarti busana atau pakaian. Kita bisa saja menganti pakaian kita berkali-kali sesuai dengan perkembangan jaman, meskipun demikian tidak akan merubah identitas kita. Keberadaan guru atau secara luas termasuk juga orang tua atau yang dituakan dalam masyarakat jawa merupakan suatu pondasi yang kuat dalam rengka menciptakan peningkatan kualitas hidap dalam keharmonisan dan keselarasan dengan alam.  Ketika orang jawa pergi ke kuburan untuk tafakur dan membersihkan sekitar makam tidak dimaknai sebagai pemujaan terhadap roh leluhur ataupun batu atau pohon besar yang ada di sekitar makam. Penilaian yang demikian sering ditimpakan sekonyong-konyong kepada orang jawa yang masih melakukan ritual tersebut. Ritual tersebut sebenarnya merupakan bakti terhadap orang tua yang paling mungkin mereka lakukan ketika orang tua sudah meninggal. Di kemudian hari oleh penganut agama-agama yang lebih muda, ritual tersebut sudah diartikan lain yaitu penyembahan kepada yang bukan Tuhan (menurut versi mereka).

Perkawinan pengajaran Hindu dan Jawa adalah dalam bentuk konsep Hindu Maha Dewa yang ada di India menjadi Hindu Maha Guru. Di India Brahma-Siwa-Wisnu menjadi tokoh sentral, sementara itu dalam pewayangan jawa peran itu didominasi Batara Guru. Lebih menarik lagi jika melihat hubungan antara Batara Guru, Kesatria dan Semar. Sebagai seorang punakawan, rakyat biasa (pendamping dan pamomong kesatria) Semar menggunakan bahasa jawa halus (krama inggil) kepada para Pandawa. Kesatria yang diperamkan oleh pandawa yang merepresentasi penguasa, kaum terpelajar dan luhur keberadaannya harus menggunakan bahasa jawa halus para dewa termasuk  kepada Batara Guru sebagai bentuk penghormatan. Terdapat pengecualian pada Bima yang tidak pernah menggunakan bahasa jawa halus  kecuali dengan Dewa Ruci. Penggunaan bahasa jawa halus tersebut menunjukan strata yang semakin  tinggi, namun demikian yang menarik bahwa Batara Guru juga menggunakan bahasa jawa halus kepada Semar yang notabene adalah rakyat biasa.

Budhisme yang tidak dalam selang waktu yang lama juga merambah tanah jawa, tak urung juga terjadi perkawinan dengan jawa. Meskipun sedikit lebih mudah dari Hinduisme ternyata ajaran  dalam Budhisme lebih banyak kecocokan dengan ajaran nilai-nilai luhur masyarakat jawa sebelum Hinduisme masuk. Budhisme yang merupakan bentuk reformasi santun terhadap Hinduisme jelaslah sangat berbeda, namun dalam rengkuhan Arjuna di tanah jawa mereka bisa hidup berdampingan secara harmonis. Apakah hidup berdampingan secara harmonis tersebut berarti tidak pernah ada konflik? Seperti halnya dalam rumah tanggga, pertikaian kecilpun kadang terjadi namun tidak dimasukkan ke hati dan segera diselesaikan. Pada masa inilah jawa (nusantara) mengalami puncak kejayaan, yang juga menjadi cikal bakal negara Indonesia.  Semboyan Bhineka Tunggal Ika (Tan Hana Dharma  Mangrwa) juga lahir pada masa ini yang pada dasarnya menggambarkan hubungan antara penganut Hinduisme dan Budhisme di Majapahit. Semboyan tersebut terkadang diartikan secara sempit karena tidak menggunakan frase yang di dalam kurung, sehigga hanya diartikan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu. Tidak salah memang mengartikan yang demikian, namun menurut saya konteks waktu itu adalah keperbedaan antara ajaran Hindu dan Budha satu dalam perbuatan baik (dharma) yang tidak mendua. Maksud dari tidak mendua adalah tidak menggunakan standar ganda terhadap kebaikan, baik Hindu maupun Budha memahami dan melakukan kebaikan yang sama dan tidak diragukan kebenarannya.

Suka tidak suka Kekristenan (termasuk Katholik) dan Islam yang kemudian ikut menyusul dan menjadi ‘mempelai’ di tanah jawa (nusantara) terkesan lebih invasif daripada Hindu dan Budha yang telah datang sebelumnya. Awal mula kekristenan berkembang  lebih lambat dan tidak muncul dalam ranah politis. Perkawinan antara kekristenan dengan Jawa layaknya remaja yang sedang jatuh cinta, mau tapi malu. Hambatan terbesar selain bahasa adalah penyebar ajaran tersebut sudah lekat dengan stigma penjajah, sehingga tidak banyak orang jawa yang berkesempatan secara langsung mengalami perjumpaan secara intim dengan kekristenan. Kyai Sadrach dan Tunggul Wulung sedikit lebih beruntung dapat mengalami perjumpaan itu meskipun saya sendiri masih meragukan keintimannya. Mengapa saya meragukan, perkembangan kekristenan sampai saat ini masih banyak terbelit dengan konsep yang sebenarnya agak susah dimengerti oleh kebanyakan orang jawa karena terkesan sangat baru sama sekali. Kesan yang demikian bisa dimengerti ketika pengajaran tersebut masih seputar konsep, dalam bahasa kerennya teologis-dogmatis.

Lebih dalam menelusuri dinamika hubungan Kristen-Hindu-Budha-Jawa terdapat benang merah dalam konsep mesianika. Secara sederhana mesianika dipahami sebagai pengharapan akan datanganya orang konsep atau gagasan untuk mengatasi berbagai tantangan jaman menuju ke kehidupan yang lebih baik. Mesianika yang pada mulanya berkembang di daerah Israel, rupanya juga terjadi pada kebudayaan Hindu di India. Masing-masing sepertinya terpisah namun ketika memasuki tanah jawa seolah-olah konsep mesianika mendapatkan tempat dalam formulasi yang kontekstual. Secara personal Kresna, Arjuna, Budha Gautama, Jayabhaya dianggap sebagai titisan, penjelmaan, avatar dari Wisnu. Jika terjebak pada personal maka konsep tersebut hanya bisa merangkai Hindu-Budha-Jawa saja, karena Kekristenan menampilkan figur yang berbeda yaitu bahwa Yesus (Yeshua) merupakan manifestasi YHWH di dunia. Meskipun dari sisi figur berbeda namun jika disimak lebih dalam, masing-masing tokoh tersebut merupakan penentu/pengubah tatanan masyarakat pada jamannya menuju keadaan yang lebih baik. Masyarakat jawa sekarang juga masih memegang kuat konsep mesianika dalam pengaharapan akan datangnya Ratu Adil.

Saya sendiri lebih sreg menggunakan konsep mesianika dengan pendekatan peran, bukan hanya secara personal. Dengan pendekatan ini saya merasa lebih njawani, tidak terjebak dalam bingkai geografis, kultural dan jaman. Kosep personal yang juga individual tentunya kemudian akan berhadapan dengan konsep fungsional dan komunal. Ratu Adil dianggap sebagai ratu,namun tidak pernah mengaku sabagai ratu. Hendaknya setiap manusia jawa menjadi Ratu Adil dalam setiap eksistensinya, bukan serta merta melimpahkan tanggungjawab terhadap segala permasalahan jaman kepada salah seorang saja, yang menjadi penekanan adalah perubahan itu.

Perkawinan Jawa dengan Islam patut mendapat perhatian khusus karena kiprahnya sejak abad ke  XV sudah terbukti membawa perubahan kepada masyarakat jawa (nusantara). Nilai,tata cara dan pemikiran Islam telah mampu memberikan sumbangan yang begitu banyak, atau setidaknya sebagian besar orang Indonesia menjalankannya.  Sunan Kalijaga dianggap sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam mengakselerasi nilai dan ajaran islam ke dalam budaya jawa, terlepas kontroversi tentang asal usulnya. Perkembangan selanjutnya, Islam di Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai negara dengan Jumlah pemeluk Agama Islam terbesar di luar tanah kelahirannya. Berbagai masacam aliran yang berkembang dalam Islam di Indenonesia dengan keunikan masing-masing tentunya dipandang sebagai suatu proses juga terus berlangsung. Berbagai sorotan dan tudingan miring atas sepak terjang kelompok tertentu yang terlihat beringas dalam Islam sendiri, tidak lantas kita memberikan stigma negatif terhadap Islam. Sebagai sebuah organisasi atau secara personal tentunya kita harus memberikan kesempatan kepada mereka menuju kedewasaan secara spiritual.

Apakah dengan masuknya agama-agama tersebut menjadikan jawa kehilangan identitasnya? Barangkali iya, namun bukan berarti hilang seluruhnya. Jika mengamati di permukaan, misalnya melalui kebiasaan orang jawa (nusantara), sudah menggunakan pakaian agama masing-masing. Dibalik semua keriuhan itu sebagian orang jawa tetap dengan yakin untuk laku menjadi orang jawa yang tidak terbatas pada agama, garis darah, bahasa, budaya maupun rentang geografis. Memandang fenomena kekerasan dengan label agama tentunya orang jawa tidak akan cepat naik darah dan menimpakan kesalahan itu pada pelakunya. Jangankan orang yang sekali waktu melakukan kekerasan, pencuri yang begitu tekun menekuni profesinyapun diterima baik dalam komunitas masyarakat jawa. Upaya untuk menolak dan mengasingkan orang-orang yang dianggap jahat tidak lain merupakan pengingkaran terhadap identitas diri sebagai orang jawa. Pelaku kejahatan tidak disebut sebagai penjahat hanya orang yang masih cupet ing nalar atau dangkal pemikirannya. Bukan masalah orangnya, namun seberapa besar kita bisa hadir dalam kehidupan orang lain untuk bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih baik, bukan untuk menggurui.

Epilog

Menjadi orang jawa bukan keberhasilan personal namun kolektif, bukan lokal namun universal, bukan statis namun progresif-simultan, bukan eklusif namun inklusif, bukan genealogis ataupun geografis namun fungsional.

Kehadiran saya melalui tulisan ini bukan untuk menggurui, berbagai masukkan ataupun kritik terhadap tulisan ini saya maknai sebagai suatu penghargaan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.


[1] Prisma, alat optik berbentuk prisa dengan pola dasar segitiga untuk menguraikan cahaya. Dalam hal ini prisma dimaknai sebagai cara untuk menguraikan makna atau sifat asali atas suatu feneomena.

[2] Penjelasan “migunani tumrap karaharjaning urip bebrayan” juga dapat dilihar dalam artikel Kanca Wingking

[3] Lebih lanjut lihat  Waton Amben

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on February 19, 2011, in Javalosophy and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. mantab bro…….ki aq lagek arep garap film pendek neng demak…aq mencoba mentranformasi makna konotatif syair tembang “Ilir-ilir” kedalam visual film pendek yang berjudul “Ilir-ilir”……ewangi bro….butuh bantuan banyak ki…terutama dana,hehehehehehehe…….

    • Terimakasih dah mo mampir bro. Sukses juga buat shooting filmnya, sementara saya kirim dukungan agara kosmos ikut nyekungyung niat maik sampeyan membuat film yang akan ikut Hamemayu Hayuning Bawana.

  2. @Dimas Arisandi;
    tolong diperiksa lagi dalam syair tembang “Ilir-Ilir”:
    yang benar itu “lunyu-lunyu ya penekna” (licin-licin ya panjatkan)
    atau “lonyo-lonyo ya penekna” (matang-matang ya panjatkan)

  1. Pingback: Cinta Sejati : Operasionalisasi Fenomena Cinta dengan Pendekatan Fisiologis, Psikologis, Sosiologis « S L A M E T H A R Y O N O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: