Monthly Archives: August 2012

Tuhanmu Dimana?

http://baby-jihan.blogspot.com/2009/11/karena-merpati-tak-pernah-ingkar-janji.html

Prihatin dengan realitas kehidupan beragama di negeri ini. Kekerasan, penyerangan, intimidasi, pembatasan, pemaksaan antar kelompok menjadi tontonan yang cukup sering di layar televisi. Oleh para pakar dan birokrat hal itu bisa menjadi topik diskusi berkepanjangan tanpa ada suatu kejelasan solusi, mengambang, normatif dan mempersalahkan pihak-pihak tertentu. Oh negriku…

Bukankah bangsa ini bangsa yang beradab? Bukankah bangsa ini katanya berkeTuhanan Yang Maha Esa? Bukankah setiap penduduk wajib mengisikan sesuatu di KTP pada kolom agama? Ada banyak kaum cerdik pandai, banyak pemuka-pemuka agama, rumah ibadah hampir ada di semua pemukiman, ada pemerintahan, ada penegak hukum. Tetapi melihat realitas yang ada, sepertinya kita sedang hidup ditengah-tengah sandiwara dengan judul kekacauan dan kemunafikan. Ada apa semua ini?

Konon katanya Agama diadakan dan sangat perlu untuk membuat keadaan menjadi tidak kacau. Dari agama itulah orang mengenal Tuhan. Sekarang justru banyak kekacauan berlabel agama. Berangkat dari kenyataan itu muncul pertanyaan sebenarnya Tuhan itu ada  tidak? Kalau ada, dimanakah keberadaannya?

Tarik Nafas Sejenak

Agamawan dan agamawati yang terhormat, mari kita introspeksi diri kita masing-masing, agama kita masing-masing. Apakah diperbenarkan melakukan tindak kekerasan, atas nama apapun? Silahkan gunakan analisa, segala rumus, segala ilmu, segala kitab di segala penjuru. Masih tidak berani dengan tegas menjawab? Tanyakan pada Nabi masing-masing. Kalau masih tidak bisa, tanyakan pada Tuhan masing-masing. Kalau Tuhannya sama, saya yakin jawabannya sama, jika berbeda jawabannya saya yakin ada yang mengaku-aku Tuhan. Atau Tuhannya sama, tapi kita saja yang tidak bisa mendengar jawabannya.

Lagi-lagi saya merasa ada yang aneh setelah menuliskan kalimat-kalimat tertentu. Kali ini saya terpaksa membaca berulang-ulang kalimat yang menyatakan harus bertanya kepada Tuhan, justru mendapati pertanyaan semakin banyak tentang Tuhan. Jika mau bertanya kepada Tuhan sudah barang tentu harus terjawab Tuhan ada dimana? Terus bertanya pakai apa? Lewat sms, tanya langsung atau kirim email? Sebelum itu boleh menjadi tambahan daftar pertanyaan yang mungkin perlu dijawab, Tuhan itu seperti apa? Apakah Tuhan semua orang itu sama? Apakah Tuhan benar-benar ada secara eksistensi atau hanya ada sekedar kata Tuhan?

Mari kita pilahkan sejenak. Sebagian orang menganggap Tuhan itu tidak ada secara eksistensi, yang ada hanya kata Tuhan bisa disebut Ateis. Sebagian lainnya menganggap Tuhan itu ada, meskipun sama-sama tidak ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Kelompok ini bisa disebut Teistik. Kelompok Teistik sebagian diantara masih mengharuskan keberadaan agama, disebut kelompok relogius. Sebagian  Teistik lainnya tidak lagi menganggap agama perlu, tapi tetap percaya Tuhan itu ada. Menguraikan yang demikian hanya akan terjebak pada konsep, tapi tidak apalah sekali waktu boleh terjebak, hanya jangan selamanya terjebak pada konsep.

Silahkan tentukan masing-masing, tidak harus ikut-ikutan atau takut berbeda pandangan dengan orang lain mengenai Tuhan. Tidak akan dipersalahkan, yang menyalahkan sudah barang tentu pandangan yang bersangkutan sendiri patut dipertanyakan. Sampai disini cukup jelas, tidak perlu saling mempersalahkan dan menganggap diri paling benar.

Kembali ke pembahasan di atas tentang Tuhan ada dimana. Orang pada umumnya mengatakan Tuahan berada di suatu tempat atau di surga. Artinya Tuhan itu nan jauh disana, untuk berkomunikasi manusia menggunakan cara dengan berdoa. Tidak tahu pasti apakah komunikasi satu arah atau dua arah. Melengkapi ritual keagamaannya, manusia juga melakukan ibadah, biasanya melakukan hal itu karena ada maunya. Ayolah, kita jujur pada diri kita masing-masing. Kalau memang surga seperti yang dikonsepkan dalam kitab-kitab itu tidak ada, masih adakah diantara kita yang mau beribadah?

Keterpisahan?

Doa, ibadah, menjalankan perintah agama dengan segala sesuatu keanehan perilaku manusia beragama nampaknya terbangun dalam konsep keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Betapa tidak, dalam kehidupannya manusia sering kali merasa ditinggalkan, diabaikan bahkan ada yang menganggap sedang diberi ujian oleh Tuhan. Beribadah ya ibadah saja, soal kehidupan sehari-hari itu urusan lain, katanya Tuhan nanti akan memperhitungkan perbuatan baik dengan ibadahnya. Tergantung banyak yang mana, itu yang aan menentukan finalnya di surga atau neraka. Dalam doanya manusia cenderung merengek-rengek, meminta-minta meski sebagian doanya merupakan doa hafalan. Kalau berdoanya saja demikian, bagaimana Tuhan bisa memberi jawaban atas pertanyaan kita? Bisa dibayangkan ketika kita sedang bicara dengan seseorang yang memberondong kita dengan banyak pertanyaan dan permintaan. Belum sempat kita menjawab, orang tersebut sudah pergi. Fiuh…capek deh….

Manusia tidak takut melakukan tindak kekerasan karena menganggap Tuhan tidak mengetahuinya, lebih parah lagi kalau menganggap Tuhan berada dipihaknya. Kalau tidak percaya, perhatikan saja apa yang diseru-serukan orang ketika sedang melakukan kekerasan berlabel agama.  Itulah kondisi ketika manusia menempatkan dirinya secara terpisah dengan Tuhan. Akibatnya bisa merasa hampa, jauh, arogan, dan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal katanya atas nama Tuhan.

Kita mesti belajajar juga kepada mereka yang dianggap ateis. Justru mereka dalam kehidupan kesehariannya lebih baik daripada yang mengaku berTuhan. Apakah kita yang mengaku berTuhan tidak malu? Setidaknya mereka yang dianggap ateis tidak menjadikan dirinya sebagai standar moralitas dan kebenaran.

Di Dalam dan Menyatu

Keterpisahan manusia dengan Tuhannya tersebut, sungguh sesuatu yang tragis. Lalu bagaimana solusi atas keterpisahan tersebut? Bagi yang ateis mulailah dengan diam, tidak usah bicara tidak usah berpikir, cukup diam saja dulu. Bagi yang berTuhan dan beragama, baca kitab sucinya masing-masing. Pelajari apa kata kitab tersebut tentang sifat-sifat Tuhan. Sudah barang tentu sifatnya ada banyak, tidak usah diperdebatkan perbedaannya. Kita cari saja sifat yang umum dan bisa diterima.

Saya rasa kaum teistik semua percaya Tuhan adalah kreator. Kreator itu mengadakan yang belum ada. Ada inisiatif, proaktif. Dekat dengan itu, Tuhan juga merupakan komposer, artinya mampu menciptakan sekaligus menyelaraskan yang diciptakannya secara harmonis. Tuhan juga punya sifat pemelihara, artinya rancangan-rancangannya adalah penuh kebaikan. Pastinya Tuhan itu tanggungjawab dengan yang diciptakannya. Setidaknya itu menurut cerita-cerita dalam kitab, selebihnya silahkan ditambahkan sifat-sifat lainnya sesuai selera masing-masing.

Sifat-sifat Tuhan tersebut kita hadirkan dalam kehidupan kita, tidak usah muluk-muluk menciptakan pulau sendiri. Cukup ciptakan kedamaian di keluarga dan lingkungan dimana kita tinggal. Boleh juga menjadi tokoh perdamaian dunia, atau pemuka agama namun setidaknya setiap gerak dan ucapan kita, diselaraskan dengan berbagai hal agar menjadi kebaikan bersama yang universal dan tidak menganggap diri paling benar. Boleh juga menjadi pekerja di taman nasional atau aktivis lingkungan, lebih dari itu tentunya kita lebih memilih tindakan-tindakan yang konstruktif daripada destruktif. Sepertihalnya Tuhan bertanggungjawab pada ciptaanya, kita juga bertanggungjawab atas semua hasil olah budi kita termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan baik melebihi ibadah apapapun. Tapi nampaknya masih banyak orang suka beribadah saja, urusan pekerjaan tidak beres. Tidak percaya, silahkan saja merasakan layanan di lembaga-lembaga pemerintah yang digaji dari uang pajak dari rakyat. Sungguh mengecewakan.

Jika setiap orang mampu menghadirkan sifat-sifat Tuhan tersebut saya rasa keadaan akan semakin baik.  Meski demikian tidak usah merasa diri paling berTuhan atau mengaku-aku Tuhan. Tidak ada yang lebih Longan dari Longan yang lainnya. Tidak perlu mengulang kisah tragis Syeh Siti Jenar, yang karena keyakinannya dan juga karena intrik politik harus meregang nyawa.

Menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita, memberikan kesempatan kepada kita menjadi co-creator. Kita dapat berperan aktif untuk bersama-sama menciptakan suasana damai dan nyaman di bumi. Selain itu, dengan menghadirkan Tuhan dapat menyisihkan efek samping keterpisahan yaitu merasa jauh, terabaikan atau sekedar menjadi korban kebijakan Tuhan dengan menyebutnya sebagai nasib atau takdir.

Sebagai catatan saja, di beberapa kitab dikisahkan juga tentang sifat Tuhan lainnya, diantaranya adalah pemarah dan pencemburu. Itu cerita, bisa jadi cerita itu tidak benar. Kalau kita saja yang manusia tahu bahwa marah itu tidak baik, mengapa Tuhan tidak lebih tahu dari manusia?

Jadi, mau berTuhan atau tidak ya silahkan. Mau menganggap Tuhan yang terpisah nan juah di luar sana atau menyatu di dalam diri kita ya silahkan. Jika hal itu ditanyakan kepada saya, maka akan saya jawab “di dalam  lebih asik”.

***

Pastinya, malapetaka menghampiri orang-orang yang menyukai kekerasan. Saya memilih jalan damai, kiranya malapetaka tersebut menyingkir dari jalan kami.

Tuhanmu Berapa?

http://gebyokandfurniture.blogspot.com/Ketika masih kecil, pernah saya ditanya oleh seorang teman “Tuhanmu berapa?” Saya hanya terdiam. Kemudian teman tersebut menerangkan “Bukankah Tuhanmu ada tiga”. Kebiasaan mereka yang mengaku berTuhan satu merasa lebih benar daripada yang berTuhan bukan satu.

Sebentar, rasanya ada yang kurang pas dengan kalimat tersebut di atas. Rupaya saya telah terbawa dalam paradigma kaum pembilang Tuhan. Anggap tidak terjadi apa-apa, dan mari kita selami pemikiran kaum pembilang Tuhan.

Saat ini yang lagi tren adalah Tuhan dibilang satu atau monoteis. Namanya juga lagi tren, kalau saja Tuhanmu tidak dibilang satu maka dianggap tidak benar. Anggapan tersebut tidak bisa disalahkan, dianggap benar ataupun dianggap salah tidak merubah esensi yang dianggap.

Paham monoteis pernah juga menjadi bahan olokan di abad pertama sampai pertengahan. Saat itu masih tren paham politeis, atau menganggap Tuhan lebih dari satu. Jadi pertanyaan yang sama “Tuhanmu berapa?” saat itu juga menjadi pertanyaan yang bersifat mengolok, seperti halnya saat-saat belakangan ini. Hanya saja konteksnya berbeda apakah monoteis atau politeis yang menanyakan. Biasanya yang menanyakan adalah mayoritas kepada minoritas.

Jauh kebelakang, sebelum ditemukan angka, sudah barang tentu  pertanyaan “Tuhanmu Berapa?” dianggap pertanyaan yang bodoh. Masih jauh lebih relevan jika bertanya “Tuhanmu apa?”, itupun jika orang pada masa itu ada yang menanyakan hal itu.

Pertanyaan “Tuhanmu apa?” akan dijawab sangat bervariatif. Mereka yang tinggal di teluk bisa saja menjawab Tuhan mereka adalah buaya. Mereka yang tinggal di tengah hutan bisa saja menjawab Tuhan mereka adalah burung elang, atau bisa juga batu besar, pohon besar, gunung berapi dan lain sebagainya. Entah bagaimana, orang-orang jaman sekarang menganggap mereka yang berTuhan buaya, elang, batu besar, pohon besar tersebut disebut sebagai pengikut dinamisme.

Saya menduga, dinamisme lahir kemudian. Sebelumnya kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang terlebih dahulu ada. Mengapa demikian? Karena kematian merupakan hal yang nyata dihadapi oleh manusia di sepanjang jaman. Menyaksikan orang-orang terdekat meninggal merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan bagi setiap orang. Perlindungan dan asuhan orang tua ketika masih hidup menjadi sesuatu kebutuhan bahkan dekat dengan ketagihan, dan bagaimana menjawab kebutuhan tersebut ketika orang tua yang mengasuh tersebut meninggal?

Kerabat yang masih hidup mengganggap orang tua yang telah meninggal itu tetap ada, meskipun tidak tampak. Ada dan melindungi mereka sama seperti saat hidup, berikut juga kebiasaan orang tua tersebut saat masih hidup. Tidak heran mereka yang masih hidup kadang mengirim makanan, minuman kesukaan  pada hari hari tertentu di pemakaman orang tua tersebut. Kepercayaan demikian disebut animisme. Karena setiap orang pasti mati, maka setiap orang berkesempatan menjadi nenek moyang bagi keturunannya. Meskipun tidak punya keturuanan langsung, masih bisa juga diTuhankan oleh orang yang masih hidup.

Baik dinamisme maupun animisme, menyediakan banyak sekali jawaban atas pertanyaan tentang Tuhan, sehingga semua jawaban atas pertanyaan “Tuhanmu Berapa” dan “Tuhanmu Apa” dianggap benar dan sah. Saya menyebut animisme dan dinamisme sebagai kaum pewujud Tuhan. Tidak dipermasalahkan Tuhan dibilang berapa atau apa, pembuktiannya hanyalah Tuhan siapa yang lebih kuat. Kepercayaan yang terlalu berlebih menganggap Tuhannya yang paling kuat. Tidak heran jika pada saat itu atau bahkan sampai saat ini orang masih suka bertikai hanya untuk mendapatkan pengakuan Tuhan siapa yang lebih kuat.

Ketika suatu kelompok dengan kepercayaan terhadap Tuhan tertentu menyerang kelompok lain dan menang mereka beranggapan bahwa Tuhan mereka itu memang kuat dan berpihak kepada mereka. Khusus pada fenomena ini, masih sering terjadi sampai sekarang baik di kalangan pewujud Tuhan ataupun pembilang Tuhan. Jika Tuhan memang maha kuat untuk apa meminta bantuan kepada manusia yang maha lemah untuk memusnahkan sekelompok orang? Lagipula untuk apa juga memusnahkan sekelompok manusia  yang katanya juga hasil ciptaannya tanpa alasan, hanya untuk mendapatkan pengakuan ke-maha-annya? Tuhan macam apa itu…

Oh iya lupa, namanya juga Tuhan. Boleh apa saja, suka-suka dong. Ups…kok jadi begini yah? Ya kira-kira beginilah kalau sudah terseret ke dalam doktrin keTuhanan yang tidak universal. Apapapun caranya dan apapun alasannya untuk mengukuhkan pandangan keTuhanannya yang paling besar dan paling benar. Asumsi-asumsi dan pandangan tersebut diramu dan dibungkus rapi dalam suatu kemasan yang namanya agama, itupun masih ada labelnya masing-masing.

***

Omong kosong apa lagi ini? Betapa susahnya menguraikan omong kosong secara berisi. Tentang hal ini mengingatkan saya tentang cerita seorang tukang yang membuat Dipan, ketika dipan tersebut sudah selesai orang menyebut rongga dibawah Dipan tersebut sebagai “Longan” (Longan : Kolong-an). Menarik, meskipun tukang tersebut membuat berbagai bentuk dan ukuran Dipan dengan rongga berapapun orang tetap menyebutnya Longan. Tukang tersebut tidak pernah berusaha membuat Longan, namun demikian Longan tersebut akan selalu ada ketika Dipan terbentuk. Longan itu hanya kekosongan semata, sekalipun semua Dipan dimusnahkan, kekosongan itu tetap ada.

Manusia ibarat Dipan yang dapat menangkap fenomena keTuhanan dalam dirinya. Dipan yang besar, kuat dan indah dapat dipakai untuk duduk sekian banyak orang dengan nyaman. Manusia yang berbudi luhur tentu dapat memperbesar potensi keTuhanan dalam dirinya, sehingga mendapati kehidupan yang harmonis bagi banyak orang.

Potensi keTuhanan tersebut bukan semata pengetahuan atau doktrin tentang Tuhan.  Mereka yang pegang harga mati doktrin keTuhanan hanya akan terjebak pada retorika, usaha pembenaran diri, menyalahkan orang lain, pasif dan tidak mau bertanggungjawab.

Mengapakah mesti beragama  jika kita masih menyukai kekerasan, minta dihormati dan dihargai, iri hati, pendendam dan arogan. Kita yang mengaku beragama dan masih suka demikian tidakkah membuktikan bahwa agama kita hanya omong kosong belaka?

Tidak bisakahkah kita hidup dalam keharmonisan dan kedamaian? Setidaknya itu pengakuanku, inilah jalanku. Jadi, apakah masih akan bertanya “Tuhanmu berapa?” Jika masih bertanya demikian, maka akan saya jawab “maaf tidak saya jual”.