Jaga Lali

Badrasanti

Entah bagaimana mulainya, saya tiba-tiba berkomentar di status Damar Shashangka (DS) yang Babad Badrasanti (BB). Kebetulan DS beberapa minggu sebelumnya  menghubungi saya lewat inbox Facebook. Pada saat saya konfirmasi akan dilakukan pengiriman copy BB, rupanya DS sudah terlebih dahulu mendapatkan copy BB tersebut, entah darimana.

Saya memberikan komentar pada status DS sebagai bentuk apresiasi sekaligus konfirmasi tentang apa yang saya pahami dalam Carita Lasem, termasuk di dalamnya tentang Sunan Kalijaga. Rupanya diskusi menjadi cukup panjang, dan saya sedikit kerepotan karena saya hanya mengadalkan ingatan atas beberapa naskah yang pernah saya baca dahulu.

Carita Lasem dalam Babad Badrasanti

Sebelum berlanjut alangkah baiknya baca Belajar Sejarah Minor di Lasem. Seperti dalam tulisan tersebut saya menggunakan istilah Carita Lasem (CL) untuk membedakan dengan Babad Badrasanti (BB). Meski demikian orang lebih familiar menyebut BB, padahal dalam BB berisi tentang ajaran luhur dan tatacara kehidupan yang baik, sementara itu sejarah tentang Kadipaten Lasem dan Raden Mas Said Satikusumo atau Sunan kalijaga termuat dalam CL.

Lebih jauh BB ditulis oleh Empu Santibadra, yang mengalami beberapa kali penggubahan. Sedangkan CL menurut saya ditulis oleh Ki Kamzah. Tidak menutup kemungkinan bukan Ki Kamzah seorang diri yang menulis CL. Sejarah Kadipaten Lasem dalam CL mulai dikenal publik pada masa setelah penggubahan oleh Ki Kamzah. Selanjutnya BB dan CL Dibendel menjadi satu kesatuan, dan lebih disebut sebagai BB saja.

Tumenggung Wilatikta adalah Empu Santibadra?

Berangkat dari pertanyaan apakah Tumenggung Wilatikta adalah Empu Santibadra? Diskusi kemudian berkembang.  Kerancuan tersebut disebabkan karena ada beberapa sumber lain yang belum saling mengafirmasi yaitu sumber berita Kronik Sampokong dalam buku Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara (KS),Babad Tuban dan Babad Tanah Jawi.

Menurut CL, oleh Kertabumi empu Santibadra diberi gelar Tumenggung Wilatikta. Sementara itu dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Tumenggung Wilatikta adalah Adipati Tuban. Sementara itu dalam Babad Tuban, Adipati Tuban Adalah Arya Adikara atau menantunya Arya Teja. Menurut Slamet Muldjana dalam KS, Bupati Tuban adalah Arya Adikara.

Menurut saya benar bahwa Santibadra adalah Tumenggung Wilatikta yang merupakan menantu Adipati Tuban dalam hal ini Arya Adikara. Santibadra menikahi Raden Ayu Retna Dumilah dalam Babad Tuban atau Putri Sukati dalam CL. Nama Sukati bisa jadi nama kecil dari Retna Dumilah.

Saudara Raden Ayu Retna Dumilah yaitu Ayu Teja dinikahi oleh Gan Eng Cu yang kemudian bergelar Arya Teja atu juga Syeh Abdurrohman. Dalam KS, Gan Eng Cu mempunyai anak Bong Ang dan Gan Si Cang. Oleh Slamet Muldjana Bong Ang diidentifikasi sebagai Sunan Bonang dan Gan Si Cang adalah Sunan Kalijaga.

Perihal Jabatan Adipati dan gelar Tumenggung pada Santibadra

Jabatan Adipati pada Tumenggung Wilatikta atau Santibadra dalam Babad Tanah Jawi, perlu dimaknai lebih luas. Karena Santibadra tidak pernah memegang kekuasaan pemerintahan meskipun dia sebagai seorang Tumenggung. Dia lebih tertarik pada pengajaran agama Budha di Majapahit sehingga lebih familiar dipanggil Empu Santibadra.

Jabatan Adipati diperoleh karena Santibadra memperisti Retna Dumilah, anak Adipati Arya Adikara. Bisa jadi Retna Dumilah anak tertua, itu menjelaskan mengapa jabatan Adipati itu jatuh ke tangan Santibadra daripada ke Syeh Abdurahman. Karena yang dinikahi Syeh Abdurrahman adalah Ayu Teja yang merupakan adik Retna Dumilah.

Jabatan Adipati pada Tumenggung Wilatikta hanya secara simbolis saja, dalam praktek pemerintahannya dikendalikan oleh suami adik Iparnya yaitu Syeh Abdurahman atau Arya Teja. Kebiasaan yang berkembang pada saat itu terdapat dua pengasa yang cukup berpengaruh dalam satu kadipaten, yaitu sang Adipati dan Syahbandar atau Dampoawang. Tidak selalu kedua jabatan tersebut diisi oleh orang yang berbeda, tetapi dapat juga dirangkap oleh satu orang.

Menjadi kebiasaan bahwa pewarisan kekuasaan adalah kepada anaknya yang tertua, kebetulan kedua anaknya perempuan maka jatuh ke menantunya dari anaknya yang tertua. Bisa jadi pada awalnya Arya Teja hanya sebagai Syahbandar, namun karena Santibadra lebih sering berada di Majapahit maka kekuasaan di Tuban praktis ada dibawah kendali Arya Teja.

Jika Arya teja diidentifikasi sebagai Gan Eng Cu yang merupakan seorang Cina, maka hal ini lebih masuk akal.  Pada jaman majapahit posisi pelabuhan-pelabuhan penting sering diserahkan kepada seorang Cina, karena kepiawaiannya dalam berdagang juga dalam bahasa.

Hubungan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga

Masih ada yang belum klop yaitu Gan Si Cang dan Bong Ang dikatakan sebagai sama-sama anak Gan Eng Cu oleh Slamet Muldjana dalam KS. Berdasarkan penafsiran saya atas CL dan Babad Tuban, maka Sunan Kalijaga adalah  Pak Lik atau om dari Sunan Bonang. Meski secara abu Sunan Kalijaga lebih tua tapi secara umur Sunan Bonang Lebih tua, mengingat Sunan Kalijaga adalah bungsu dari 10 bersaudara dalam CL.

Masih menurut KS, Anak Gan Eng Cu adalah Gan Si Cang yang dididentifikasi oleh Slamet Muldjana Sebagai Sunan Kalijaga. Perihal status anak  pada Gan Si Cang sebagai anak Gan Eng Cu, mungkin menjadi masuk akal jika Sunan Kalijaga diangkat anak oleh Arya Teja/ Gan Eng Cu. Karena menurut penuturan CL, Sunan Kalijaga kecil masih berumur 2 tahun ketika ditinggal bapaknya, Empu Santibadra mengabdi ke Majapahit. Selanjutnya pada umur 19 tahun Sunan Kalijaga muda pergi ke Tuban berguru Agama Islam pada Kakeknya Arya Adikara yang juga disebut sebagai Sunan Bejagung. Dengan demikian KS menjadi benar jika pemaknaan anak diperluas, bukan hanya anak secara biologis/keturunan tapi juga termasuk anak angkat.

Saya sekaligus meralat bahwa Sunan Kalijaga Tidak berguru kepada Sunan Bonang di Tuban, tetapi kepada Sunan Bejagung atau Kakeknya sendiri yang bernama Arya Adikara, karena pada waktu itu justru Sunan Bonang sedang berada di Lasem, menjaga istana Kakak Iparnya di Binangun Lasem, yaitu Adipati Wiranegara, suami dari putri Malokha.

Putri Malokha dan Sunan Bonang

Dikatakan dalam CL bahwa Malokha adalah kakak dari Sunan Bonang, yang keduanya merupakan anak dari Sunan Ampel. Sementara itu menurut KS, Sunan Bonang merupakan anak Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Ni Gede Manila. Ni Gede Manila adalah anak dari Gan Eng Cu/Arya Teja dari Istri terdahulu, seorang Cina. Dengan demikian CL dan KS terkait asal usul Sunan Bonang klop.

Sebagai penutup, dapat saya katakan bahwa Tumenggung Wilatikta adalah Santibadra, yang juga merupakan Adipati Tuban secara definitif, namun demikian dalam prakteknya peran tersebut diambil alih oleh Arya Teja. Sunan Kali Jaga adalah Raden Mas Said Santikusuma alias Gan Si Cang anak bungsu Santibadra dengan Raden Ayu Retna Dumilah/Putri Sukati.  Putri Sukati sendiri adalah anak dari Tumenggung Arya Adikara, Adipati Tuban yang juga bergelar Sunan Bejagung. Adik dari Retna Dumilah adalah Ayu Teja, yang diperistri Syeh Abdurrahman atau juga disebut Gan Eng Cu kemudian bergelar Arya Teja.  Sebelum menikah dengan Ayu Teja, Gan Eng Cu telah menikah dengan seorang Cina, dari perkawinan ini melahirkan Putri Malokha dan Sunan Bonang.

Kepada keluarga, pendukung dan pengaggum tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas mohon maaf kalau ada salah tulis atau salaf tafsir. Saya berharap dari tulisan ini bukan hanya membuat kita tahu akan sejarah Sunan Kalijaga dan yang lainnya, tapi juga menjaga agar kita tetap ingat pada akar sejarah kita. Oleh karena itu tulisan ini saya beri judul Jaga Lali, maksudnya menjaga agar kita tetap eling atau tidak lupa darimana dan siapa diri kita.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on January 18, 2013, in Javalosophy and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Saya dibalik semua itu pak..sy yg mengenalkan facebook bpk kpd DS…dan mengenalkan jg kepada sesepuh Vihara di lasem yg kayanya beliaulah yg mengirimkan Kitab BS k DS he2..semua itu berkat guru sejati saya YTH >>mbah Google

  1. Pingback: Belajar Sejarah Minor di Lasem « Slamet Haryono's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: