Monthly Archives: September 2004

Singkat Cerita Babak Baru Lembaga Kemahasiswaan UKSW

Oleh : Slamet Haryono (412000011)[2]

 

Tanpa berbasa-basi, bahwasanya kawan-kawan seperjuangan dan pemerhati Lembaga Kemahasiswaan (LK), telah banyak mendapat berita duka seputar penyelenggaraan LK akhir-akhir ini. Tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekan pihak-pihak yang terkait di dalamnya marilah kita pilahkan beberapa permasalahan pokok yang ada pada LK itu sendiri serta diluar LK yang keberadaannya turut mempengaruhi LK.

Masalah paling kritis yang dihadapi LK adalah terkait erat dengan kepercayaan mahasiswa akan kredibilitas lembaga ini. Bagaimana tidak ?, LK yang notabene ada untuk mahasiswa, untuk menjaga hak-hak dan kewajiban mahasiswa justru menjadi batu sandungan bagi mahasiswa dalam mengembangkan diri baik secara akademik maupun organisasi. Melihat kondisi tersebut tak heran jika mahasiswa memberikan cap miring pada para fungsionaris, yang hanya dianggap sebagai orang yang sok sibuk.

Ketidak percayaan mahasiswa tersebut besar disebabkan oleh karena reputasi yang diukir oleh kita di LK yang menuliskannya dengan miring. Ketidak konsistenan, ketidak tanggungjawaban, serta ketidak matangan  kita yang kita bungkus dengan jas almamater dan berteriak-teriak tentang mahasiswa, sembari berpijak diatas ubun-ubun mahasiswa itu sendiri. Di sisi lain kendaraan yang oleh kita sebut sebagai “Lembaga Kemahasiswaan” tak kunjung muat lagi mengangkut berbagai permasalahan dalam tubuh LK itu sendiri, lalu bagaimana dengan mahasiswa, bagaimana dengan salatiga dan bagaimana dengan negri ini ?

Nampaknya terlalu tinggi kita untuk membicarakan negri ini, tetapi setidaknya kita mesti berkaca dengan yang ada di luar kampus bahwasanya apa yang kita teriakkan sehari-hari di sini merupakan kalimat yang telah di dengungkan sejak tahunan yang lalu. Lalu apa yang bisa kita perbuat?

Boleh jadi tema yang diwajibkan mengenai “Pengkaderan” memang baik adanya, namun demikian tanpa bermaksud untuk keluar dari tema tersebut penulis mencoba mengkaitkannya dengan berbagai persoalan yang lain. Dengan demikian penulis memasukkanya dalam satu bagian agenda besar dalam mengembangkan LK, yang secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut :

 

1. Membangun kesadaran bersama tentang keberadaan kita saat ini serta berbagai kemungkinan yang akan datang.

Tak hayal jika seseorang meronta saat diobati manakala ia menganggap dirinya tidak merasa sakit. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya LK yang kritis itu selalu memberikan kritik dan masukan bagi pihak lain. Yang jadi pertanyaan adalah pernahkah LK secara khusus dilakukan evaluasi mengenai eksistensi dan produktifitas lembaga tersebut ?. Secara subyektif penulis menilai bahwasanya LK selalu berorientasi pada kegiatan dan sibuk dengan berbagai prosedural birokratis. Adakah yang lebih mulia yang dapat kita kerjakan ?

2. Menghimpun sumberdaya, sumberdana untuk mewujudkan satu pemerintahan yang tangguh dan solid, tidak hanya dalam melaksanakan berbagai kegiatan namun juga dalam pengawasan terhadap kebijakan kampus.

Memang terlalu sulit untuk mengajak berbagi diantara kita para fungsionaris, yang berlindung dengan berbagai simbol-simbol kekusaan dan pelayanan terhadap fakultas masing-masing. Salahkah saya mengajak kawan semua untuk kita berbagi sumberdaaya manusia dan sumberdana yang ada, ataukah kita perlu mengajukan permohonan amandemen Alkitab ?

3. Membagun paradigma yang utuh.

Keberadaan LK akan selalu timpang dengan naik turunnya kualitas kepeminpinan fungsionaris. Belum lagi dengan berbagai intrik tentang pencalonan pemimpin-pemimpin baru. Tampaknya kita mesti berpikir jauh kedepan, tak usahlah kita memperdebatkan siapa yang akan menduduki kepemimpinan ini, sudah waktunya baagi kita untuk memberikan porsi lebih untuk setiap meraka yang mempunyai motivasi tinggi untuk mengembangkan diri di LK.

Sebagai penutup penulis menyampaikan penyesalan yang mendalam bahwasanya penulis tidak cukup terampil untuk menyajikan tulisan seperti halnya yang di harapkan oleh kawan-kawan satgas. Juga penulis mengucapkan terima kasih atas diberikannya kesempatan untuk menyampaikan pemikiran yang sempat mengkristal, terlebih lagi penulis kan berterima kasih jika ide dan gagaasan penulis dipakai dengan penuh kesadaran dan akal sehat. Akhir kata selamat berjuang kawan, ataukah kita menunggu orang lain untuk memeperjuangkan nasib kita ?

Salatiga, 29 September 2004

 

Penulis


[1] Disajikan dalam presentasi  pemilihan Ketua SMU Periode 2004-2005.

[2] Mahasiswa Fakultas Biologi UKSW.

Beberapa Pokok Pikiran Revolusi Lembaga Kemahasiswaan

Oleh : Slamet Haryono (412000011)

 

 

1.        Perlunya dilakukan pemusatan konsentrasi pergerakan dan aktifitas Lembaga Kemahasiswaan (LK) mengingat lemahnya “taring”  (perlawanan) LK baik yang ada di tingkat Fakultas maupun Universitas terhadap kebijakan-kebijakan  yang diturunkan  oleh penguasa kampus yang cenderung merugikan mahasiswa. Sebagai contoh digulirkannya sistem pendidikan trimester yang membuktikan lemahnya “taring” LK terutama di aras Univeritas. Kondisi tersebut bukanlah semata-mata kelemahan pihak di LKU saja tetapi kondisi LKF yang cenderung membangun menara gadingnya tinggi-tinggi tempat dipancangkannya simbol kejayaan Fakultas tanpa mau mengerti kondisi LKF lainnya terlebih LKU. Di sisi lain kiprah LK UKSW di lingkungan ekternal semakin melemah yang disebabkan oleh terlalu seringnya konflik internal LK sehingga menjadi lupa akan tanggungjawabnya.

Tidak ada alternatif lain untuk yang ini, kecuali anda berani mengambil resiko untuk angkat senjata melawan LKF yang lain dan LKU.

2.        Perlunya pengambil alihan pengelolaan keuangan LK mengingat ketidaktransparanan PR III dan birokrasi keuangan yang terkesan ruwet. Pengambil  alihan tersebut dimaksudkan agar LK mampu mengalokasikan dan menyelenggarakan keuangan secara mandiri dan menuntut adanya tanggungjawab yang besar dan disisi lain terjadi pengurangan beban yang semestinya ditanggung PR III.

Bisa jadi pengelolaan keuangan tetap dipeggang PR III tapi jangan lupa untuk membeli obat penurun tekanan darah tinggi dan plester penutup luka hati.

3.        Perlunya pemusatan alokasi dana LK sebagai satu rangkaian dari pemusatan pergerakan dan aktifitas LK mengingat pemusatan pergerakan dan aktifitas LK akan menjadi omomng kosong besar jika tidak diimbangi pendanaan yang kuat. Dalam hal ini kebesaran jiwa dari masing-masing penguasa LKF sangat dibutuhkan jika memang masih mempunyai komitmen untuk memperbaiki kondisi LK yang ada. Pemusatan pendanaan ini juga dimaksudkan untuk menguatkan LK dalam penyelenggaraan kegiatan sehingga akan mengurangi tingkat ketergantungan terhadap sponsor atau dengan kata lain menaikkan posisi tawar LK terhadap sponsor.

Tidak ada alternatif untuk ini kecuali anda siap dipermainkan oleh Event Organizer dan sponsor  atau anda cukup membeli kain kafan untuk menutup mata dan telinga terhadap realitas yang ada.

4.      Perlunya pemusatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dalam rangka mengimbangi permainan pengusa kampus dan geopolitik LK di aras nasional.  Kelemahaan LK baik di aras Fakultas maupun Universitas disebaabkan oleh karena lemahnya jejaring dan bahkan cenderung membentuk basis politik menurut alirannya masing-masing sehingga tidaklah mengherankan jikalau sering didapati bahwa LK justru diperalat untuk melegitimasi kepentingan penguasa kampus dan memerah kawan-kawannya sendiri (mahasiswa). Masihkah anda bersikeras untuk berjuang sendiri ?

5.      Perlunya perampingan struktur organisasi dalam rangka menciptakan ruang gerak yang cukup serta kelincahan dalam setiap manuver LK. Satu langkah ini akan mengakomodir berbagai keperluan yang telah disebutkan di atas, mengingat bahwa ekspresi revolusi di atas  hanya akan menjadi dongen sebelum tidur tanpa dilakukannya perampingan struktur organisasi.

Di sisi lain nampaknya konsumen (mahasiswa) sudah jenuh terhadap produk (LK) yang ada sehingga dengan mengganti kemasan nampaknya akan membawa angin segar bagi pemasaran produk yang lebih luas, kecuali anda berani mengambil resiko untuk merugi.

6.      Perlunya komitmen untuk dapat mengekspresikan revolusi seperti tertulis di atas ataukah kita akan membiarkan momen ini berlalu begitu saja dan teronggok di keranjang sampah sebatas wacana bersama sesumbar idealisme yang dimuntahkan dalam setiap obrolan. Barangkali memang benar orang mengatakaan UKSW sebagai Universitas Kristen Sebatas Wacana.

 

Salatiga, 5 September 2004