Cinta = Hidup : Menjangkau Fenomena Cinta dengan Pendekatan Fisiologis, Psikologis, Sosiologis

S

ehari sebelum Valentine day, Ninon Coemi membuat status yang mempertanyakan cinta sejati itu apa? 30 komentar lebih atas status itu tidak satupun yang menjawab, termasuk komentarku. Betapa susahnya menjawab pertanyaan tersebut, bahkan menguraikan cinta itu sendiri begitu abstrak. Kata yang dekat dengan cinta adalah sayang, kasih, suka, gandrung, kasmaran yang penggunaannya disesuaikan dengan konteksnya. Kata-kata tersebut tetap saja tidak mengandung arti yang sama persis dengan cinta, yang menurut saya begitu abstrak.

Meskipun kata cinta itu abstrak, menariknya kata tersebut dapat digunakan kepada obyek non-manusia, misalnya pekerjaan, hewan bahkan mungkin barang. Dalam kasus tertentu orang bisa juga mencintai sesuatu yang mungkin sangat abstrak, yaitu Tuhan dengan kata lain orang tersebut melakukan abstraksi terhadap yang abstrak. Begitu abstraknya Tuhan tidak tepat jika saya mengada-ada untuk membahas cinta manusia kepada Tuhan, saat ini. Cinta orang tua kepada anaknya atau antar anggota keluarga karena nyaris tidak terelakkan juga tidak akan dibahas saat ini, termasuk cinta terhadap barang atau pekerjaan.

Cinta orang tua kepada anaknya, nyaris tidak terelakkan namun cinta seseorang terhadap orang lain baik sesama atau lawan jenis merupakan pilihan (kehendak bebas). Begitupula cinta manusia terhadap pekerjaan atau barang adalah pilihan. Dari semua pengungkapan cinta yang paling rumit adalah cinta terhadap lawan jenis, karena melibatkan setidaknya  dua individu lawan jenis yang masing-masing mempunyai kehendak bebas untuk memaknai cinta tersebut. Pemaknaan tersebut juga tidak sama untuk setiap orang, bahkan orang yang samapun juga dapat memperbaharui makna cinta seiring dengan berjalannya waktu.

Fisiologi Cinta

Memahami makna cinta secara terpisah tetap saja terlampau rumit, pendekatan yang sedikit memudahkan untuk memahami cinta adalah dengan fisiologis, psikologis, sosial. Pendekatan fisiologis setidaknya menggunakan pancaindera kita, dalam tingkatan yang lebih tinggi juga menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Tingkatan paling rendah hanya akan digunakan panca indera secara minimal, misalnya bisa jadi orang begitu mencintai orang lain yang tidak pernah ditemuinya, hanya melihat di TV atau foto. Tingkatan di atasnya digunakan setidaknya dua panca indera, misalnya seseorang yang mencintai seseorang yang ditemuinya, juga pernah mendengar yang bersangkutan berbicara, meski tidak pernah berbicara langsung dengannya. Sudah bisa ditebak, tingkatan yang di atasnya digunakan kombinasi sebanyak mungkin potensi yang ada dalam dirinya. Manifestasi cinta secara fisiologis melalui tatap muka, berkomunikasi secara langsung, bersentuhan, membaui , mencium bahkan termasuk hubungan seks.

Kemampuan secara fisiologis untuk menemukan pasangannya dimiliki oleh semua makhluk hidup, jadi jangan dulu terlalu bangga.  Sederhananya kemampuan dasar ini  terfokus pada fisik termasuk gerak, bau. Orang-orang yang melintas dalam kehidupan kita dengan sendirinya akan terseleksi dengan cara ini. Biasanya kandidat yang dianggap potensial akan mencoba membangun komunikasi, dalam kadar yang lebih tinggi intensitasnya akan bertambah. Sejujurnya saya agak meragukan jika seseorang masih menanti jodoh dari Tuhan sampai tua. Ketidakmampuan seseorang untuk menemukan jodohnya dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu : kendala geografis, mobilitas, hambatan berkomunikasi. Faktor kendala geografis dan mobilitas sangatlah dekat, meskipun tidak sama. Sederhananya kedua faktor itu mewakili keadaan seseorang yang tidak menemukan jodohnya karena minimnya persinggungan dengan orang lain. Minimnya referensi orang yang melintas dalam kehidupannya menjadikan yang bersangkutan kesulitan untuk menemukan orang yang cocok  (jodohnya). Dengan kata lain jangan berharap menemukan jodohnya kalau kita sibuk dengan rutinitas dan urusan kita sendiri di ladang, kantor, dapur, di depan TV, cobalah keluar dari lingkungan rutinitas.

Hambatan komunikasi bermakna ketidakmampuan seseorang untuk bertanya, menjawab, menyampaikan pemikiran termasuk juga ketiadaan alat komunikasi. Bersyukur dengan berkembangnya teknologi komunikasi, orang-orang punya kesempatan lebih besar menemukan jodohnya tanpa terlalu banyak menghabiskan waktu di luar rutinitasnya. Menjadi keprihatinan saya, karena teknologi juga orang dapat kehilangan kemampuan kepekaan serta keluwesan dalam berkomunikasi. Kualitas komunikasi saat bertatap muka sangatlah berbeda dengan komunikasi via telepon ataupun media berbasis internet. Ketika orang terlalu mengandalkan teknologi dalam menjalin komunikasi selama penjajakan berpeluang mengalami ’kekeringan’ ketika menjalani hubungan atau pernikahan.

Selain ketiga faktor itu merupakan faktor yang tidak dapat dirubah atau justru sangat klise, seperti adanya kekurangan secara fisik, agama, adat, faktor ekonomi. Saya menganggap faktor tersebut (kecuali fisik) merupakan faktor yang mengada-ada terkait dengan hambatan seseorang menemukan jodohnya. Meski saya bilang mengada-ada, bukan berarti kita sembarangan untuk mengabaikan faktor tersebut. Seberapa klisenya faktor tersebut haruslah diperhatikan, itulah mengapa manusia dibekali akal budi. Jikalau terpaksa akalbudinya tidak jalan, kita dapat belajar kepada serangga dalam menemukan pasangannya. Kenali dan cercaplah bau badan alami (Feromon) yang ada pada calon pasangan anda, jika ada ’sesuatau yang lain’ daripada bau orang pada umumnya, bisa jadi orang itu adalah pasangan anda. Bau badan relatif stabil daripada menggunakan kriteria fisik yang sudah pasti akan banayak berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Ketidak mampuan orang menemukan jodohnya, akan lain cerita jika seseorang memang memilih hidup selibat, bukan karena keadaan. Saya tidak punya banyak referensi mengenai motivasi orang hidup selibat. Tidak dapat disimpulkan  bahwa orang yang hidup selibat tdak akan mungkin memaknai cinta secara lebih tinggi, justru mereka yang hidup selibat dikenal karena loyalitas terhadap pekerjaan ataupun pelayanan terhadap orang lain bisa totalitas. Apakah hidup selibat berarti ketiadaan aktifitas seksual?

Psikologi Cinta

Memaknai cinta hanya dengan panca indera, menempatkan manusia hanya sedikit di atas mamalia lainnya. Panca indera yang ada tersebut hanya sebagai pengatar manusia untuk memaknai cinta menjadi lebih mulia. Kombinasi pancaindera itu didukung oleh segenap tubuh melalui berbagai hormon yang dikoordinasikan oleh otak menghasilkan suatu fenomena yang disebut perasaan(cinta). Bukankah seseorang yang merasa sedang jatuh cinta, pada saat tertentu akan merasakan jantung berdetak lebih kencang, tersenyum, kornea mata melebar? Semua itu merupakan respon fisiologis. Tidak berhenti sampai di sini, perasaan cinta itu lebih rumit dari sekedar respon fisiologis dalam perkembangannya cinta juga menggunakan akal budi. Mengapa akal budi? Segala bentuk reaksi atau fenomena apapun yang terjadi dalam tubuh manusia pada dasarnya bertujuan untuk kelangsungan hidupnya. Jadi fenomena cinta seabstrak  apapaun itu juga berkembang untuk memepertahankan atau meningkatkan kualitas hidup manusia. Dengan akal budi itu manusia menciptakan standar atau kriteria untuk lawan jenisnya yang diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Penggunaan akal budi memberikan alasan atau dorongan-dorongan mengapa mereka mencintai orang lain? Manifestasi cinta dengan pendekatan psikologis melalui keterikatan atau komitmen satu dengan yang lain, dalam bahasa yang umum digunakan istilah pacaran.

Pada tahap proses menuju pacaran sampai dengan jadian, tiap pribadi mempunyai kesempatan yang paling baik untuk mengeksplorasi  potensi diri juga pada lawan jenisnya. Potensi tersebut antara lain kemampuan untuk membawa diri, cara berkomunikasi, pola berpikir, kebiasaan, resistensi terhadap masalah, nilai-nilai prinsipil, budaya, agama, rencana masa depan dan lain sebagainya. Tidak perlu buru-buru untuk segera melewati masa penjajakan ini, karena masing-masing pribadi berada dalam kedudukan yang seimbang sehingga memungkinkan terjadinya kompromi jika terdapat beberapa perbedaan yang tidak prinsipil. Lalu bagaimana jika terjadi perbedaan prinsipil? Bisa saja tetap nekat, namun resiko ditanggung sendiri. Lamanya masa penjajakan disesuaikan dengan sebarapa banyak hal yang perlu disinkronisasi sebelum berpacaran, biasanya tergantung dari motivasi masing-masing untuk berpacaran.

Pada tahapan berpacaran kecenderungan akan terjadi dominansi oleh salah satu pihak, terutama laki-laki yang secara sosial didukung oleh budaya yang patriarki. Karena kecenderungan ini, perempuan sudah harus lebih waspada agar hal ini dapat diantisipasi dan dikomunikasikan dahulu ketika masih penjajakan. Ketika sudah merasa yakin, boleh saja mengikatkan diri dalam sebuah komitmen berpacaran. Saya menduga sebagian besar kegagalan orang dalam berpacaran disebabkan kegagalan mereka untuk melakukan integrasi nilai-nilai, tentunya termasuk dalam turunannya yaitu kebiasaan. Resiko kegagalan integrasi nilai tersebut berbanding terbalik dengan lamanya penjajakan. Semakin minim baik kuantitas ataupun kualitas penjajakan maka semakin beresiko gagal berpacaran. Perlu menjadi catatan, bahwa kuantitas pertemuan tidak  menjamin keberhasilan masa integrasi, meskipun tetap saja perlu diperhitungkan. Sebagai contoh, pasangan yang selalu bertemu tiap hari tidak menjamin integrasinya lebih lancar jika tidak didukung dengan topik-topik pembicaraan yang relevan dan mendalam terkait dengan  potensi juga motivasi lawan jenis dalam berpacaran.

Sosiologi Cinta

Dekonstruksi pemaknaan cinta menjadi jauh lebih rumit ketika akal budi manusia mendapat sentuhan dari unsur sosial di masyarakat. Pendidikan, status sosial, pekerjaan, kekayaan, agama, adat, budaya dan lain sebagainya. Bukan merupakan hal yang mendasar, namun realitas tersebut justru lebih banyak menghambat manusia untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan lawan jenisnya, sehingga muncul istilah ’gagal dalam cinta’.  Manifestasi cinta secara sosial melalui pernikahan, namun bukan berarti setiap orang yang menikah dapat dikatakan sudah ketemu jodohnya. Tidak sesederhana itu, faktor sosial  terkadang menjadi begitu memaksa yang berarti juga dapat mengabaikan faktor fisiologis dan psikologis. Pernikahan yang dijodohkan, membuat yang bersangkutan kesusahan untuk memaknai cintanya, dan kondisi ini bisa berakibat kepada generasi yang diturunkannya. Hal ini bukan berarti semua perkawinan yang dijodohkan pasti gagal atau tidak baik, tergantung kepada kemampuan kedua pihak dalam melakukan penyesuaian diri dalam waktu sesingkat mungkin. Hambatan untuk memaknai cinta dalam pernikahan yang dijodohkan karena telah mengabaikan kehendak bebas yang menjadi esensi atas cinta itu sendiri.

Apakah cinta hanya bisa dipahami melalui pernikahan saja? Terlalu sempit kalau memaknai cinta hanya melalui ikatan pernikahan saja.  Tapi setidaknya kita perlu mengindahkan tatanan sosial yang ada, karena hanya dengan pernikahan saja, pasangan dianggap sah untuk melakukan hubungan seks termasuk menghasilkan keturunan.  Bagaimana jika melakukan hubungan seks sampai mendapatkan keturunan dan pasangan tersebut menganggap dirinya sudah menemukan makna cinta yang sesungguhnya? Hal itu bisa saja terjadi, namun kualitas hubungan mereka tidak akan setinggi ketika mendapat dukungan dari masayarakat, karena kita juga belajar untuk mencintai orang lain (masyarakat). Apakah memaknai cinta itu harus dengan hubungan seks? Boleh saja memaknai cinta tanpa melakukan hubungan seks, namun yang bersangkutan akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh makna yang lebih tinggi atas cinta. Apakah setelah melakukan hubungan seks berarti seseorang pasti dapat memaknai cinta lebih tinggi daripada yang tidak melakukan hubungan seks? Tidak ada jaminan akan hal ini, melakukan hubungan seks tanpa melibatkan dimensi psikologis (mungkin spiritual), hanya terfokus pada aktifitas biologis semata akan menempatkan manusia sedikit di atas mamalia lainnya.

Beberapa referensi mengenai hubungan seks, memungkinkan seseorang mencapai tingkatan spiritualitas tertinggi. Meskipun saya menganggap hal itu sedikit berlebihan, namun kiranya hal itu bisa menjadi referensi bagi kita yang hendak jauh lebih berkualitas/tinggi dalam memaknai cinta. Satu referensi lokal yang sangat bagus tentang pendidikan seks terdapat dalam novel non fiksi ”Perkawinan Tripartit” karya Tri Kadarsilo (alm). Di kesempatan yang lain, secara sederhana Ki Wagiman mengatakan bahwa hubungan seks berfungsi untuk rekreasi dan prokreasi. Rekreasi berarti seks itu sesuatu yang menyenangkan, prokreasi terkait dengan regenerasi atau menghasilkan keturunan.  Terkait dengan hal itu, ada lima hal yang menjadi syarat dalam pernikahan : sama-sama manusia, sama-sama hidup, sama-sama sehat, laki-laki dengan perempuan, sama-sama sudah dewasa. Pengertian dewasa bukan hanya secara biologis saja namun termasuk dalam kematangan untuk menanggung kebutuhan hidup selama mereka menjalani hubungan dalam ikatan pernikahan.

Epilog

Ulasan panjang lebar ini tetap saja tidak menjawab pertanyaan cinta sejati itu apa? Namun setidaknya kita sudah ada sedikit gambaran untuk mewujudnyatakan cinta sejati. Saya tidak bisa memastikan keberhasilannya, sehingga saya tidak bisa menjawab apakah cinta sejati itu ada atau tidak ada? Kita hanya bisa mengusahakannya, saya kira itu lebih masuk akal daripada menyangkal cinta sejati itu tidak ada, dan berlarut-larut menunggu jodoh yang diberikan Tuhan. Saya hanya bisa tersenyum dengan orang yang demikian, kalau saya berada dalam posisi sebagai Tuhan saya akan bilang ”Bukankah kamu sudah dilengkapi dengan akal budi?” untuk menjawab doa orang yang selalu minta dipertemukan dengan jodohnya. Akan lebih sehat jika kita mengharapakan jodoh, cobalah kita keluar dari dunia kita, membuka diri, perbesar kesempatan untuk melakukan kontak dengan orang lain, namun tetap waspada.

Ironis memang jika seseorang sesungguhnya tidak benar-benar siap untuk menerima pribadi lain untuk bersama-sama memaknai cinta dalam hidupnya dan hanya berdoa di kamar saja. Selain adanya kehendak bebas, cinta juga mengandung dimensi pengorbanan.  Seluruh cerita mitos dan legenda di bumi ini yang paling mulia adalah bertemakan pengorbanan diri. Ketika kita mengijinkan orang lain untuk masuk dalam kehidupan kita, bukanlah sesuatu yang mudah. Bagi saya hal itu termasuk pengorbanan. Orang-orang yang masih mementingkan ego, tidak mau dengan besar hati menerima orang lain yang berbeda sekalipun itu pejabat, saya sangat meragukan mereka dalam memaknai cinta. Apakah cinta itu dimaknai bahwa segala sesuatu harus sama? Ketika ada orang lain yang berbeda, akan dianggab sebagai bukan dirinya sehingga dipaksa (mungkin dengan kekerasan) untuk mengikuti kehendaknya. Kalau cinta itu berarti harus sama, mengapa tidak menikah dengan yang sama jenis kelaminnya?

Tidak akan pernah mungkin mengharapkan perdamaian dunia tanpa ada kedamaian dalam negara-negara. Negara akan hancur jika pondasi dalam keluarga terlalu rapuh. Keluarga menjadi hancur jika tidak didasarkan atas cinta. Cinta tidak akan berkembang tanpa kesadaran pribadi-pribadi menghargai betapa mulianya cinta disertai tindakan untuk menerima pribadi lain dengan keperbedaanya. Penyatuan pribadi-pribadi yang berbeda tersebut atas dasar kehendak bebas serta kesadaran bersama untuk saling mengorbankan diri demi mengenakkan orang lain, menuju pemaknaan cinta yang lebih tinggi dan hidup yang berkualitas[1].

Cinta sangat egois namun juga begitu universal, setiap peradaban berkembang atas dasar cinta. Tanpa cinta beradaban dengan sendirinya akan hancur, selain karena faktor alam. Bagaimana mungkin peradaban berkembang dengan kebencian, iri terhadap orang atau kelompok lain semua itu berujung pada tindakan yang destruktif. Betapapun berbedanya bukan menjadi alasan untuk menyingkirkan ataupun menghancurkan apalagi karena alasan agama. Sungguh sangat disayangkan ketika agama yang seharusnya menampakan wajah kesalehan namun justru terkadang lebih sering muncul dengan keberingasannya.

Tugu Yogyakarta

Betapapun rumitnya cinta, tidak ada satu persamaanpun yang dapat merumuskan cinta. Sebagai gambaran saja untuk mempermudah memahami fenomena tersebut dapat dibayangkan pada dua buah diagram tiga dimensi. Mendapatkan resultan dalam satu kurva tiga dimensi saja susah, apalagi tiga dimensi. Anggap saja kurva pertama pada sumbu X adalah waktu, sumbu Y adalah kuantitas sedangkan sumbu Z adalah Kualitas. Sementara itu pada kurva kedua pada sumbu A adalah dimensi fisiologis, pada sumbu B adalah dimensi psikologis, dan pada sumbu C adalah dimensi sosiologis. Bisa dibayangkan betapa rumitnya menemukan resultan ke enam titik tersebut. Hal ini bisa disederhanakan dengan meminjam gambaran dua segitiga bersatu. Resultan tersebut tidak selalu bertemu dalam satu titik, olehkarena itu masing-masing budaya dapat mengartikanya berbeda. Liat saja simbol yang terdapat dalam tugu Yogyakarta, Bintang Daud, Simbol manunggaling kawula lan Gusti berupa telu telu ning atunggal (tiga tiga namun bersatu). Secara kreatif enam titik bersatu melambangkan struktur dasar dari kehidupan dalam sarang lebah, struktur dasar kristal, juga struktur alam semesta.

Setiap orang bebas mengartikan keenam titik tersebut, sama bebasnya menafsirkan makna cinta. Kebetulan saja semua itu menjadi masuk akal di otakku, struktur dasar dari kehidupan juga merupakan struktur dasar cinta. Dengan demikian cinta itu adalah kehidupan itu sendiri. Cara orang memaknai hidup, demikian juga orang akan memaknai cinta. Meskipun ada unsur ego[2] dalam cinta namun kiranya hal ini bisa kembali dipancarkan keluar dalam bentuk kepedulian kepada sesama dan semesta. Hormati orang lain, masyarakat, negara bagaimananpun keadaanya benih cinta tersebut tertanam, rawat dan maknai dengan kesungguhan dan kemenyeluruhan sehingga mampu berbuah perdamaian.

Jadi ketika ditanya cinta itu apa saya menjawab cinta sama dengan hidup.


[1] Salah satu referensi mengenai hidup berkualitas dalam persepktif jawa dapat di lihat di dalam artikel Njawani
[2] Digambarkan sebagai keinginan atas sesuatu dari luar yang harus dibawa ke dalam atau disesuaikan dengan yang ada dalam diri kita.
Link Video Nassim Haramein, tentang mengapa kita perlu ‘cinta’ http://www.youtube.com/watch?v=Un36yIoBObg

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on February 21, 2011, in Artikel and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: