Monthly Archives: February 2013

Evolusi Spiritual

Singkat cerita, ketika berbicara tentang evolusi hampir selalu dikaitkan dengan konsep bahwa manusia modern berasal dari manusia primitif (kera). Terang saja pandangan tersebut langsung mendapat banyak tantangan dari berbagai pihak, terutama agamawan. Seolah-olah dengan teori tersebut hendak mengatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera.

Bagi agamawan, teori evolusi merupakan spekulasi semata, namun sayangnya penolakan mereka tidak disertai bukti yang cukup. Sebagai contoh dalam doktrin agama, dikisahkan tentang manusia pertama berkisar 6.000 tahun sebelum masehi. Terang saja konsep-konsep agama tidak mampu menjelaskan mengenai penemuan fosil-fosil yang umurnya jauh lebih tua, yang bahkan berumur sampai 1,8 juta tahun. Jadi agamawan berhenti pada titik ini dengan satu pondasi iman.

Sampai saat ini, penolakan terhadap konsep evolusi biologi masih terus dilakukan. Di sisi lain dunia ilmu pengetahuan justru semakin gigih untuk menemukan bukti-bukti yang semakin menguatkan. Biarkan demikian adanya.

Penolakan dan keengganan terhadap konsep evolusi berangkat dari ketakutan akan terjadinya kerusakan sistem sosial keagamaan yang telah terbentuk dengan mapan. Doktrin-doktrin tentang manusia pertama yang mirip atau segambar dengan penciptanya menjadi pertaruhan iman yang besar. Meski demikian, bukan berarti kita membuang begitu saja konsep evolusi. Saya tetap dapat menggunakan konsep evolusi bukan hanya dalam konteks biologi, namun juga dalam konteks spiritualitas.

Kata evolusi dan spiritual jarang sekali bertemu dalam satu tulisan. Untuk itu pada kesempatan ini kita berikan kesempatan kepada kedua kata tersebut untuk saling mencumbu dan biarlah sampai menghasilkan keturunan baru, entah apa itu.

Konsep spiritualitas lebih sering dikaitkan dengan kehidupan keagamaan. Kata-kata yang sering hadir mengiringi konsep spiritualitas adalah kata energi, meditasi, jiwa, roh, supra natural dan lain sebagainya. Agamawan menggunakan konsep evolusi spiritual lebih kepada manfaat yang luar biasa dengan terbentukanya kesadaran pengamalan ajaran agamannya. Tidak menutup kemungkinan ada pandangan lain tentang hal ini.

Celakanya agamawan terkadang lupa memahami kata kunci yang menjadi prinsip dalam evolusi, mereka cenderung memahami evolusi dalam kontek perubahannya saja.  Salah satu prinsip dalam evolusi biologi adalah korektif dan progresif, artinya perubahan anatomi dan fisiologis bahkan terbentuknya generasi baru merupakan perbaikan dari keadaan sebelumnya menuju kepada keadaan atau generasi yang lebh unggul. Ketika konsep evolusi daalam dunia spiritualitas tidak mengindahkan prinsip tersebut maka menghasilkan pemahaman yang kontraproduktif. Misalnya dahulu dengan tanpa konsep agama yang muluk-muluk manusia bisa hidup berdampingan, mengapa dengan pemahaman dan ritual keagamaan yang intensif terkadang justru yang nampak manusia semakin eksklusif. Dalam rangka menjalankan praktek keagamaan dan mengembangkan spiritualitas itu boleh beda, dan tidak harus sama. Menjadi beda itu bukan asal beda, namun juga fungsional. Artinya segenap praktik beribadah mampu menghasilkan efek yang lebih baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri.

Perlu menjadi catatan adalah motivasi dasar orang melakukan ritual tertentu tersebut. Jika motivasinya berangkat dari keinginan, maka hasil yang diperoleh tidak lebih baik dari evolusi burung Finch atas perubahan bentuk paruhnya.  Burung Finch mengalami penyesuaian betuk paruhnya karena adanya kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan alam dalam rangka mencarai makan. Sementara itu manusia masih mendasarkan diri pada keinginannya. Dengan demikian meskipun secara biologis manusia telah mengalami evolusi yang jauh lebih sempurna daripada burung Finch, namun dalam konteks spiritualitas justru bermakna sebaliknya.

Manusia yang mendasarkan perubahan atas dirinya karena keinginan cenderung untuk segera memamerkan hasil yang telah diperoleh. Sebenarnya saya sendiri tidak bersepakat dengan penggunaan istilah evolusi spiritual dalam konteks tersebut, saya jenderung menyebut fenomena tersebut sebagai make up spiritual.

Prinsip kedua dalam evolusi biologi adalah keberagaman. Dalam dunia spiritualitas mengaku diri ada terjadinya suatu proses evolusi spiritual dengan cara  tertentu dan hasil yang relatif seragam bahkan efeknya juga menciptakan keseragaman, hal ini patut dipertanyakan. Masing-masing manusia mempunyai potensi yang berbda-beda, demikian juga dunia spiritualitasnya. Oleh karena itu tidak perlu terjebak dengan standar dan prosedur tertentu. Tugas dan panggilan hidup kita tersebut yang akan mengarahkan perkembangan spiritual kita. Dengan demikian pertumbuhan dan perbaikan spiritual kita seiring dengan tugas dan tanggung jawab kita, sehingga tidak ada mutasi yang sia-sia.

Keterkaitan prinsip evolusi yang pertama dan kedua adalah pada hasilnya. Hasil dari evolusi spiritual akan semakin membawa kita kepada kesadaran dan penerimaan akan keberagaman, bukan sebaliknya. Ketika kita tidak bisa menerima keberagaaman dan merasa paling benar sendiri justru menunjukkan keberadaan spirituaiitasnya yang berkebalikan. Evolusi yang demikian tidak lebih baik dari evolusi biologis yang mengantarkan makhluk bernama manusia sebagai predator bagi makhluk lainnya. Apakah dapat dibenarkan ketika manusia sudah merasa hebat dalam keagamaannya namun hadir untuk memerangi manusia lainnya?

Perkembangan dunia spiritualitas jangan melulu disemaikan dalam media agama. Pertumbuhannya bisa kerdil karena tersekat dalam batas-batas iman. Perkembangan spiritualitas juga dipengaruhi media biologis yaitu tubuh manusia. Kesadaran untuk kehidupan yang lebih baik tentunya terbentuk ketika kapasitas otak manusia cukup berisi informasi dan pengetahuan sehingga dapat mengekspresikan dalam kehidupan kesehariannya.

Kesadaran agar senantiasa memperluas cakrawala pengetahuan dan kesadaran spiritual perlu untuk disemaikan dari generasi ke generasi. Tentunya kita tidak perlu terlalu membatasi dalam hal metode, karena generasi yang berikutnya besar kemungkinan mempunyai potensi secara biologis yang jauh lebih baik.  Ditambah lagi kesempatan untuk membangun konsep kesadaran melalui ilmu pengetahuan yang jauh lebih baik dari kita saat ini.

Perkembangan kesadaran lintas generasi kepada arah yang lebih baik ini yang saya maksudkan sebagai evolusi spiritual. Kesadaran tersebut berarti tindakan manusia bukan hanya ditentukan oleh doktrin dan iming-iming surga semata, namun melalui pengalaman hidup lintas generasi. Jadi untuk apakah bermusuhan dan memerangi sesama manusia hanya karena iming-iming surga? Iya kalau surga itu pasti ada, kalau ternyata tidak ada kan betapa malangnya manusia yang mempercayai hal itu diturunkan dari generasi ke generasi. Kehidupannya dipenuhi dengan kecurigaan, rasa takut, iri hati.

Kalaupun surga itu ada, tidak ada salahnya juga kita menjaga kehidupan di dunia ini menjadi lebih baik dalam keberagaman. Jangan kita meninggalkan dunia yang penuh dengan kebencian untuk sesuatu yang belum pasti. Evolusi spiritualitas itu bukan hal yang luar biasa, hanya perlu pembiasaan.

Sebagai penutup saya kutipkan pendapat Nassim Haramein “Spirituality is science which is not fully revealed yet” . Selamat berevolusi…

Duluan Ayam atau Telur?

http://s5.postimage.org/qnrlkb2uf/Ayam_Telur_02.jpgBaik filsuf dan biolog klasik ketika berbicara tentang asal usul kehidupan terjebak pada pertanyaan “manakah yang lebih dahulu, ayam atau telur?”. Pada umumnya orang akan menjawab tergantung kita menyebutkannya mana duluan, kalau kita menyebutkan ayam dan telur maka akan dijawab ayam duluan. Sementara klo kita menyebutkan telur dan ayam maka kita akan menjawab telur duluan.

Selain jawaban retoris tersebut ada juga yang menjawab berdasarkan abjadnya, kebetulan kata ayam dimulai dengan huruf A, sedangkan kata telur dimulai dengan huruf T maka orang menjawab ayam duluan. Tentu kedua jawaban di atas tidak akan memuaskan.

Suatu ketika dalam pertemuan yang tidak formal, ketika saya masih mengajar di Kalimantan Timur, ada orang yang menanyakan “Telur dan ayam duluan mana?” Sebetulnya pertayaan tersebut lebih bersifat menguji dan hendak mempermalukan saya di depan umum. Mengapa demikian? Mereka mengetahui latar belakang saya seorang biolog, yang kental dengan konsep evolusi. Di sisi lain saya juga seorang guru sekolah minggu yang tentunya lekat dengan konsep kreasi (penciptaan).

Sembari menyantap hidangan, setelah saya mengatur kursi tempat duduk saya sedemikian rupa. Saya memberikan jawaban “Ya jelas ayam duluan”. Mereka kemudian terdiam sejenak dan penasaran dengan alasan atas jawaban saya. Kebetulan mereka semua adalah orang taat beragama jadi mereka berharap jawaban saya bertentangan dengan iman mereka, sehingga mereka punya cukup alasan untuk memberikan label sesat pada diri saya.

Alasan mengapa saya menjawab ayam duluan adalah begini : Dalam konsep penciptaan, dikisahkan bahwa sang pencipta bersabda dalam membentuk alam semesta. Dikisahkan bahwa setelah alam semesta, bumi dan tumbuhan diciptakan maka segeralah diciptakan segala jenis hewan baik yang di air, yang di darat maupun yang terbang di udara. Dari sini sudah dapat ditarik alasan bahwa Ayam sudah pasti duluan dari telur, karena yang disabdakan adalah “jadilah binatang-binatang” bukan “jadilah telur-telur”.

Alasan kedua, saya sampaikan dengan nada bercanda “Kalau telur duluan memang kamu yang mau mengerami?” Misalnya pada alasan pertama orang membantah bahwa seharusnya yang diciptakan adalah telur-telur, bukan binatang. Maka akan terjadi keruwetan luar biasa, pertama adalah bahwa dari telur tersebut kita tidak tahu manakah yang akan menjadi ayam jantan dan betina. Artinya kalau nanti sudah jadi ayam, jika ternyata yang diciptakan adalah telur ayam betina maka tidak ada ayam jantan yang akan membuahi sel telurnya, jadi dapat dipastikan ayam tersebut mati tanpa keturunan. Keruwetan kedua adalah ketika telur tersebut ada tanpa ada yang membuahi, maka saat menetas tidak akan menghasilkan individu baru (tidak jadi anak ayam) karena kromosomnya haploid alias tidak mendapat sumbangan kromosom dari lawan jenis. Keruwetan ketiga adalah yang saya sampaikan di atas, kalaupun sudah diciptakan telur siapakah yang akan mengerami telur tersebut?

Alasan ketiga, berangkat dari konsep evolusi. Bahwa yang berevolusi adalah mahkluk hidup berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Artinya seekor burung mengalami perubahan bentuk paruhnya karena menyesuaikan dengan tipe makanan tempat dimana dia tumbuh. Pastinya hal itu berlangsung dari generasi ke generasi. Berangkat dari dasar itu maka yang bereaksi terhadap lingkungan adalah mahluk hidupnya, dalam hal ini  burung atau ayam, bukan telurnya. Jadi mau tidak mau para evolusionis harus menyepakati ayam duluan agar teori evolusi dapat diterima.

Alasan keempat, ini berdasarkan temuan terkini dari para peneliti dari universitas Warwick dan Sheffield menggunakan super komputer yang diberi nama Hector. Mereka menemukan ada protein ovocledidin-17 yang membatu proses pembentukan cangkang. Protein tersebut terbentuk dalam indung telur yang terdapat di dalam tubuh ayam, dengan kata lain pembentukan telur hanya bisa terjadi ketika ada di dalam tubuh ayam.

Jelas sudah, empat alasan mengapa saya menjawab ayam duluan daripada telur. Pada saat itu saya hanya menyampaikan tiga alasan, sedangkan alasan keempat baru saya ketahui kemudian.