Monthly Archives: July 2002

Kajian Historis Penggunaan dan Pengolahan Tembakau

Oleh :

Slamet Haryono (412000011), Ariyanto Dwi Wahyu (412000015)

Dhanang Puspita (412001029), Yustinus Alexander Agung Yuwono (412001039)

 

I. PENDAHULUAN

Tembakau banyak digunakan sebagai bahan baku utama industri rokok cukup banyak ditanam di beberapa wilayah di  Indonesia. Tembakau tidaklah melulu digunakan hanya sebagai bahan baku industri rokok meskipun kata tembakau sendiri akan memberikan kesan pada industri rokok, tapi tembakau juga digunakan untuk keperluan lain seperti digunakan sebagai pestisida.

Umumnya pada sebagian besar industri rokok melibatkan tenaga kerja wanita yang jauh lebih banyak dari tenaga kerja pria, terutama pada bagian pelintingan. Kalau kita tinjau lebih jauh dominansi peran wanita tidak hanya pada tahapan industri rokok saja tetapi juga pada saat mulai menanam sampai  menjadi rokok.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai sejarah dan mitos penggunaan serta pengolahan tembakau.

II. KAJIAN SEJARAH UMUM

Tembakau sudah banyak digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk keperluan pengobatan dan pengusiran serta pendekatan roh-roh halus tertentu, sejak sebelum kedatangan Christopherus Columbus di benua Amerika pada tahun 1492. Pada saat Christopherus Columbus sampai di benua Amerika, ia dihadiahi daun tembakau oleh penduduk asli Amerika (Indian). Christopherus Columbus melihat orang-orang indian mengisap rokok yang dibuat dari daun tembakau yang kering dan digulung dengan daun jagung, sehingga gulungan daun-daun ini oleh orang indian disebut tobaco.

Mula-mula tanaman tembakau ditanam di Eropa sebagai tanaman hias. Pada tahun 1558-1568 seorang perancis yang bernama Jean Nicot De Villemain membawa biji-biji tembakau ke negrinya dan kemudian ditanam sebagai tanaman obat-obatan dan dipersembahkan kepada raja Frans II yang di pergunakan untuk mengobati kepala pusing. Pada tahun 1568 tanaman ini disebut Nicotiana dan baru tahun 1615 ditanamlah untuk keperluan industri dan yang merupakan tembakau rokok eropa yang pertama.

Diduga tanaman tembakau di Indonesia di datangkan oleh bangsa Portugis kurang lebih pada tahun 1600, tetapi banyak pula yang mengatakan, bahwa tanaman tembakau pertama-tama didatangkan langsung dari Mexico melalui Filipina  dan kemudian dari Filipina tersebar luas ke seluruh Asia termasuk indonesia. Pada waktu Rhumphius mengelilingi Indonesia pada tahun 1650 tanaman tembakau sudah dilihat dimana-mana, juga ditempat-tempat yang sama sekali belum pernah di kunjungi oleh bangsa Portugis. Nama tembakau yang diberikan oleh penduduk setempat dan seluruh Indonesia  adalah perkataan yang berasal dari bahasa Portugis yaitu tobacco atau tembakau.

Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa tembakau tidak hanya digunakan sebagai rokok seperti kebanyakan yang kita ketahui. Tembakau mengalami perkembangan penggunaan mulai dari pengobatan, pengusiran roh, tanaman hias, serta rokok bahkan akhir-akhir ini tembakau juga digunakan sebagai pestisida.

III. MITOS MASYARAKAT LOKAL SEPUTAR PENGGUNAAN DAN PENGOLAHAN      TEMBAKAU

Menurut cerita yang beredar di masyarakat Wonosobo, dikisahkan pada sebuah kerajaan yang terletak di jawa tengah terdapat seorang raja yang mempunyai seorang istri yang sakit-sakitan. Karena begitu lamanya penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh maka sang raja mengadakan sayembara, barang siapa dapat menyembuhkan istrinya akan mendapatkan hadiah, jika ia seorang perempuan ia akan diangkat menjadi anak raja dan jika ia laki-laki ia akan dinikahkan dengan anak perempuannya. Setetelah pengunguman tersebut disebarluaskan maka tabib dari seluruh penjuru negri berlomba-lomba menyembuhkan istri raja tersebut.

Adanya sayembara tersebut juga didengar oleh seorang tukang kayu kepercayaan raja, dan akhirnya pada sore hari ia memutuskan untuk memohon ijin pulang pada sang raja. Sang raja kaget dan keberatan dengan permintaan yang begitu tiba-tiba, lagi pula waktu tempuh dari kerajaan sampai rumah si tukang kayu tersebut adalah enam jam perjalanan degan kuda. Akhirnya sang raja mengabulkan permintaan tukang kayu tersebut. Sesampainya dirumah ditemuilah anak laki-lakinya dan menceritakan tentang sayembara yang diadakan oleh raja. Si anakpun menyetujui rencana keikutsertaan bapaknya dalam sayembara tersebut.

Sebelum fajar menyingsing pada hari yang sama si tukang kayu beserta anaknya telah tiba di kerajaan, hal itu kembali mengejutkan sang raja karena sangat tidak mungkin melakukan perjalanan sedemikian jauh hanya dalam beberapa saat saja. Si tukang kayu mengutarakan niatnya untuk ikut serta dalam sayembara yang diadakan sang raja, hanya saja jika istri raja dapat disembuhkan ia meminta hadiah agar anaknyalah yang dinikahkan dengan anak sang raja, bukan dirinya..

Singkat cerita sang istri raja dapat disembuhkan  oleh si tukang kayu, dan si tukang kayu tersebut meminta hadiah yang ia janjikan. Dengan keberatan sang raja menikahkan anaknya dengan anak si tukang kayu, meskipun keduanya sudah saling mencintai. Karena kedegilan sang raja, anak menantunya yang dari tukang kayu dimintanya untuk menjadi panglima perang untuk menghadapi pemberontakan dengan maksud agar menantunya tersebut mati di  medan pertempuran. Sang putri raja tersebut sebenarnya keberatan untuk melepas kepergian suaminya ke medan perang. Sebelum berangkat berperang sang pangeran memerintahkan supaya istrinya tetap tinggal didalam rumah, sedangkan untuk kebutuhannya akan disediakan oleh sang suami.

Selama dalam pertempuran sang pangeran mencemaskan kondisi istrinya akirnya ia membakar semak untuk diambil debunya kemudian ditaburkan disekeliling rumahnya. Setelah selesai perang sang pangeran mendapati banyak tapak kaki yang menuju kerumahnya tempat dimana istrinya tinggal, dia mengira istrinya telah memasukkan laki-laki lain padahal tapak kaki tersebut adalah tapak kaki dari sang raja sendiri yang menjeguk anaknya. Karena kekecewaan sang pangeran ia tega membunuh istrinya, namun sebelum dibunuh sang putri mengatakan jikalau darah yang dikeluarkan adalah putih maka ia masih suci dan jika merah ia sudah ternoda. Keris menghujam diperut sang putri ternyata darah yang dikeluarkan berwarna putih, tangis penyesalan sang pangeran mengiringi kepergian sang putri.

Hari berlalu sang pangeran terus dilanda kemurungan. Sang pangeran begitu takjub manakala melihat tanaman yang tumbuh di tanah tempat darah istrinya terkucur . Tanaman itu ia rawat dengan baik sampailah ia berbunga yang sangat cantik. Disaat ia melihat tanaman tersebut ia membayangkan kehadiran sang putri. Sang pangeran ingin sekali mencium sang putri, akhirnya dengan berbagai cara ia mencincang daun tanaman tersebut (yang kemudian disebut tembakau) untuk dihisap seperti halnya rokok yang kita kenal.

Berdasarkan cerita tersebut diatas menjelaskan mengenai latar belakang berbagai proses pengolahan tembakau. Seorang petani akan meraba-raba daun tembakau untuk mengetahui kualitas daun tembakau, seperti halnya sang pangeran yang sedang membelai sang putri.  Seorang grader pada perusahaan rokok akan mencium daun rajangan, seperti halnya sang pangeran mencium sang putri. Seorang perokok akan merasa nyaman seperti halnya sang pangeran yang merasakan kehadiran sang putri. Pada perdagangan daun banyak terjadi kelicikan  seperti halnya yang dilakukan sang raja pada anak menantunya. Pengolahan daun tembakau sampai menjadi rokok banyak dikerjakan oleh kaum wanita karena mereka lebih telaten dan tulus sepertihalnya yang dilakukan sang putri.

IV. KESIMPULAN

Pada mulanya tembakau digunakan sebagai obat dan sarana pemanggilan dan pengusiran roh halus kemudian berkembang sebagai tanaman hias, rokok, dan pestisida. Pengolahan tembakau melibatkan berbagai teknik yang sederhana seperti halnya melakukannya pada manusia yaitu dengan mencium dan meraba.

V. DAFTAR PUSTAKA

Soedarmanto, dan A. Abdullah. 1970. Bercocok Tanam Tanaman Tembakau . Penerbit P.T. Soeroengan. Jakarta.

Advertisements

Padi Transgenik

Disusun oleh:

Slamet Haryono (412000011); Ariyanto Dwi Wahyu (412000015);

Dhanang Puspita (412001029); Yustinus Alexander Agung Yuwono (412001039)


I. PENDAHULUAN

Di masa yang akan datang pertumbuhan penduduk dunia semakin meningkat.  Proyeksi pada tahun 2030 yang dilaporkan Brown dan Kane (1994) memperlihatkan peningkatan jumlah penduduk  cukup fantastis, kurang lebih 160% dari jumlah penduduk tahun 1990. Saat ini diduga 900 juta dari 5,8 miliar penduduk dunia terutama di negara-negara Asia dan Afrika pada saat ini sedang mengalami kelaparan akibat penurunan produksi pertanian per kapita..  Penyebab utama penurunan produksi adalah gangguan hama dan penyakit tanaman. Laju peningkatan jumlah penduduk yang tidak terkendali secara tidak langsung juga ikut andil memperburuk situasi ini.  Upaya peningkatan produktivitas yang telah dilakukan belum dapat mencukupi kebutuhan karena selalu tidak mampu mengimbangi kecepatan peningkatan jumlah penduduk.

Perkembangan bioteknologi terkini telah memasuki tahap pemasaran GEP (Genetically Engeneered Plants) yang lebih dikenal dengan tanaman transgenik. Perakitan tanaman transgenik dapat diarahkan untuk memperoleh kultivar tanaman yang memiliki produksi tinggi, nutrisi dan penampilan berkualitas tinggi, maupun resistensi terhadap hama, penyakit dan cekaman lingkungan. Fragmen DNA organisme manapun melalui teknik rekayasa genetika dapat disisipkan ke genom jenis lain bahkan yang jauh hubungan kekerabatannya.  Pemindahan gen ke dalam genom lain tidak mengenal batas jenis maupun golongan organisme.  Melihat potensi manfaat yang dapat disumbangkan, pendekatan bioteknologi dipandang mampu menyelesaikan problematika pangan dunia  terutama di negara-negara yang sedang berkembang seperti yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju.

II. MANFAAT TANAMAN TRANSGENIK

Penanggulangan krisis pangan dunia dilakukan antara lain melalui upaya perakitan kultivar tanaman yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit atau menghasilkan bahan makanan berkualitas.  Defisiensi vitamin A yang mengganggu kesehatan mata merupakan masalah gizi utama di negara-negara Asia yang sedang berkembang.  Karena beras merupakan makanan popok mereka maka keberadaan provitamin A dalam beras sangat diperlukan untuk mencegah dan menanggulangi defisiensi vitamin A.  Salah satu padi transgenik yang dihasilkan adalah hasil pemuliaan tanaman yang tidak mampu menghasilkan provitamin A menjadi tanaman yang menghasilkan provitamin A .

Tanaman transgenik yang sudah berhasil dilepas di lapangan mempunyai banyak manfaat terutama di bidang pertanian. Tanaman transgenik yang tahan terhadap insekta, herbisida, dan toleran terhadap lingkungan secara langsung berperan dalam meningkatkan produktifitas. Hal ini dapat dipahami karena tanaman dapat sintas menghadapi tekanan lingkungan, sehingga semua fase kehidupannya dapat dilalui dengan baik. Tanaman transgenik yang tahan terhadap insekta akan menurunkan frekuensi aplikasi pestisida. Pengurangan pemakaian pestisida sama artinya dengan tidak memasukkan bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam lingkungan, sehingga dampak pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Dalam kasus ini tanaman transgenik mampu meningkatkan keramahan terhadap lingkungan

Keberhasilan perakitan tanaman transgenik yang mempunyai kadar zat gizi tinggi, masa simpan produk lebih lama, dan penampilan produk lebih baik menyebabkan mutu produk secara keseluruhan lebih baik. Mutu produk yang baik memberikan kepuasan terhadap konsumen.

III. DAMPAK TANAMAN TRANSGENIK

Campur tangan manusia melalui rekayasa genetik telah mengakibatkan “revolusi” dalam tatanan gen.  Perubahan drastis ini telah menimbulkan kekhawatiran akan munculnya dampak produk transgenik baik terhadap lingkungan, kesehatan maupun keselamatan keanekaragaman hayati.

Dalam banyak hal bahaya produk transgenik yang diduga akan muncul terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada teknologi yang tanpa resiko, demikian pula dengan produk rekayasa genetik.  Resiko dari produk transgenik tidak akan lebih besar dari produk hasil persilangan alamiah.   Beberapa resiko pangan transgenik yang mungkin terjadi antara lain resiko alergi, keracunan dan tahan antibiotik. Pangan transgenik berpotensi menimbulkan alergi pada konsumen yang memiliki sensitivitas alergi tinggi.  Keadaan itu dipengaruhi sumber gen yang ditransformasikan.

IV. SIKAP TERHADAP PRODUK TRANSGENIK

Menyikapi produk-produk pangan transgenik sangatlah tergantung pada jenis produk, asal, cara pembuatan, tempat konsumen berada, serta budaya. Sebagai contoh adalah penolakan negara barat terhadap padi transgenik yang menghasilkan provitamin A.  Penolakan ini terjadi karena mereka bisa memperoleh vitamin A dari sumber lain. Bagi negara-negara berkembang yang rawan pangan bahan pangan yang kaya vitamin A sangat dibutuhkan.  Oleh sebab itu penting untuk memahami terlebih dahulu latar belakang penolakan produk transgenik di suatu negara . Hendaknya kehadiran produk-produk pangan transgenik janganlah langsung dimaknai sebagai sesuatu yang tidak baik dan penuh degan efek samping tetapi sebagai suatu solusi dari berbagai kesulitan yang ada.

Penilaian terhadap tanaman transgenik dapat mengandung persaingan bisnis yang terselubung. Pestisida kimiawi tidak terlalu diperlukan lagi dalam budidaya tanaman transgenik yang tahan serangan hama dan penyakit, sehingga pihak-pihak berkepentingan akan berusaha menuntun masyarakat dalam menentukan sikap sesuai tujuan mereka masing-masing.

V. KESIMPULAN

Kebutuhan manusia akan ketercukupan pangan sangatlah mutlak, satu diantaranya adalah padi. Perubahan yang ditimbulkan akibat efek samping dari padi transgenik mungkin berbahaya tapi hanya pada daerah  tertertu. Efek yang ditimbulkan akan menjadi sangat besar ketika ketersediaan pangan berkurang, sehingga akan mempengaruhi tatanan sosial buadaya. Dengan ditemukannya varietas padi yang tahan hama ataupun diperkaya dengan zat gizi tertentu setidaknya membantu untuk mengatasi berbagai permasalahan, tidak hanya sekedar sebagai obat pengilang lapar.

VI. SUMBER ACUAN

http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/2002-December/000529.html.

http://rudyct.tripod.com/sem2_023/kel3_sem2_023

http://www.ipb.ac.id/gallery/journal/hayati/index.php3?tID=30&tItem=01

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=40166