Author Archives: Slamet Haryono

INI MEDAN BUNG : Identitas Jalanan Kota Medan

Permasalahan kesemrawutan tidak hanya terkait dengan manajemen transportasi. Pengaturan lalu lintas dan peningkatan sarana transportasi harus juga di dukung dengan penindakan terhadap aksi pelanggaran. Di saat yang bersamaan juga perlu dilakukan upaya untuk membangun kesadaran masyarakat.

Kita bebas memaknai “Ini Medan Bung” apakah akan dimaknai sebagai arogansi jalanan atau kesantunan di jalan raya sekaligus sebagai identitas kota yang nyaman huni. Ketika kita memilih untuk memaknainya dengan arogansi jalanan maka akan meningkatkan kesemrawutan di jalanan, pada kondisi tersebut sangat rawan terhadap pelanggaran hak orang lain untuk menggunakan jalan raya dengan aman dan nyaman. Pilihan lainnya untuk memaknai identitas kota menjadi kota yang nyaman huni masih terbuka lebar sebagai suatu konsensus bersama. Untuk mewujudkan konsensus tersebut perlu untuk dibuka selebar-lebarnya wahana ruang publik yang mampu membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat pengguna jalan raya. Diskursus dan pembahasan-pembahasan informal tentang etika dan kesantunan di jalan raya perlu terus diupayakan dalam berbagai kesempatan dan arena. Hal ini diperlukan untuk memaksimalkan upaya penertiban dan pengelolalan lalu lintas jalan raya.

Lebih lengkapnya silakan unduh disini

Advertisements

Analisa Kritis atas Aspek Sosial Perkebunan Sawit Rakyat Pola Kemitraan

Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah masyarakat ketika disusunnya rancang bangun kebun kemitraan. Tentunnya dapat dijawab dengan mudah bahwa produk perundang-undangan terkait hal itu sudah melalui proses komunikasi dan konsultasi dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat. Dalam prakatiknya masyarakat selalu mesara sebagai pihak yang paling dirugikan. Dalam perspektif ruang publik, Habermas hal ini patut dipertanyakan proses-menuju pada perumusan kebijakan tersebut. Karena ruang publik yang dimaksud bukan merupakan keterangan lokatif, melainkan sebagai kondisi atau syarat dari kemungkinan suatu klaim yang berlaku secara umum dan mengikat karena persetujuan rasional dari semua anggota masyarakat (Poespowardojo, 2016). Barangkali bukan berarti masyarakat tidak dilibatkan sama sekali, namun partisipasi masyarakat yang diidealkan adalah adanya rasionalitas, bukan asal hadir.

Kehadiran masyarakat minus rasionalitas ini yang kemudian dapat melahirkan kebijakan yang merugikan masyarakat itu sendiri. Di sisi lain absennya rasionalitas menyebabkan msayarakat hanya menggunakan pilihan aksi massa biasanya dengan penutupan jalan ataupun pendudukan kebun. Hal ini merupakan tindakan tidak kontruktif,
yang pada ujungnya akan merugikan semua pihak. Proses menuju kepada peningkatan kesejahteraan dan demokratisasi kebijakan terkait kebun sawit rakyat tidak bisa dicapaidengan aksi massa, melainkan dengan komunikasi dan kolaborasi intensif. Masyarakat maupun perusahaan seringkali lupa bahwa tanggungawab kesejahteraan petani kemitraan di sekitar kebun inti tidak melulu berdasarkan hitung-hitungan ekonomis dari hasil penjualan TBS kebun kemitraan. Perlu untuk dicatat mengenai jumlaah tenaga kerja lokal, kontraktor, suplier maupun pedagang yang berada di sekitar perkebunan yang juga memperoleh akses pada sumber-sumber pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan. Lebih dari itu terdapat potensi lain yang melibatkan perusahaan inti, koperasi kemitraan dan pemerintah desa melalui pelaksanaan program CSR (Corporate Social Responsibility). Pemilihan program yang tidak terbatas pada fasilitas fisik namun juga pada pengembangan ekonomi lokal lainnya.

Dalam proses kolaborasi perusahaan inti-koperasi kemitraan-pemerintah desa terdapat suatu potensi terjadinya transfer pengetahuan, pembelajaran bersama untu menciptakan kehidupan yang lebih baik, bukan semata-mata perhitungan ekonomis semata. Potensi ini dapat terus ditingkatkan seriring dengan penikatan rasionalitas semua pihak dalam konteks ruang publik. Di sisi lain, potensi inipun belum disadari sepenuhnya oleh perusahaan inti, mengingat dari sejaaharahnya perusahaan kelaapa sawit merupakan indutri perkebunan yang terkesan hanya membutuhkan seolang “planters” ahli bercocok tanam saja. Kehadiran perusahaan inti dengan personil yang mempunyai kecakapan dalam bidang sosial masyarakat menjadi sangat penting untuk menciptakan relasi yang setara, kolaborasi maksimal dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik, menghindarkan konflik-konflik terbuka yang dapat merugikan banyak pihak.

Lebih lengkapnya silakan unduh disini