Monthly Archives: July 2003

Studi Komparatif Budaya dan Pembangunan antara Jepang dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Suatu Refleksi dalam Rangka Mencari Solusi terhadap Berbagai Permasalahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia

Oleh    : Slamet Haryono (412000011)

 

I. PENDAHULUAN

Setelah separuh abad lebih Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, muncul suatu pertanyaan mendasar “ Apa sajakah yang telah dihasilkan dari kemerdekaan selama ini ?’. Sebagian orang pasti akan menjawab “ Pembangunan “, dengan memberikan berbagai contoh seperti banyaknya gedung-gedung dan listrik masuk desa. Memang sangatlah mudah untuk mengatakan keberhasilan pembangunan dengan tolok ukur bangunan fisik yang tampak oleh kasat mata, namun demikian terdapat suatu kesulitan yang sangat manakala kita harus menilai keberhasilan pembangunan dengan tolok ukur lainnya, seperti perubahan pola pikir mayarakat, mentalitas, budaya, serta semangat nasionalisme. Sehingga tidaklah mengherankan jika pembangunan yang telah dijalankan selama ini justru menyisakan setumpuk permasalahan mentalitas, moralitas, loyalitas dan permasalahan budaya. Sebagai contoh akhir-akhir ini seringkali terjadi pertikaian antar kelompok dengan isu SARA[1], korupsi dimana-mana,  meningkatnya angka kriminalitas dan lain sebagainya.

Sementara itu Jepang salah salah satu negara kecil dengan cepatnya menjadi raksasa di Asia. Tidak hanya Jepang negara-negara di Asia lainya juga mengalami kemajuan pembangunan yang pesat seperti Malaysia,  Singapura, dan Thailand. Dengan melihat kemajuan pembangunan masyarakat Jepang khususnya, menjadi suatu daya tarik tersendiri mengingat sebelum tahun 1855[2] Jepang masih merupakan negri yang terbelakang dan tertutup. Dalam perkembangan selanjunya tiba-tiba pada awal abad ke 20 Jepang menjadi negara yang di takuti oleh pihak sekutu, karena Jepang melakukan ekspansi besar-besaran di Asia. Selama masa ekspansinya tersebut, Indonesia juga menjadi salah satu korbannya. Baru setelah dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 Jepang mulai menarik pasukannya. Bisa di banyangkan berapa kerugian yang di derita Jepang dengan kekalahan perangnya, tidak hanya materi namun juga mentalitas bangsa Jepang.

Melihat fenomena di atas kembali memunculkan pertanyaan baru “ada apakah dibalik semua ini ?”  apakah peristiwa-peristiwa di tanah air terjadi dengan begitu saja, adakah suatu penjelasan yang masuk akal untuk ini ? kemudian bagaimana jadinya setelah ini ? apa sajakah yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya ?. Dengan berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan tersebut, melalui makalah ini akan dipaparkan kilasan potret Indonesia sebelum merdeka, setelah merdeka, serta kesempatan yang ada setelah pemerintahan presiden Megawati Soekarno Putri dengan referensi pada negara Jepang.

 

II. KAJIAN PSIKOLOGI BUDAYA

A. Pra Kemerdekaan

Konteks budaya yang dimaksud adalah budaya dalam arti yang lebih sempit, yaitu budaya dalam pengertian sebagai suatu pola umum pemikiran dan kejiwaan masyarakat Indonesia.   Pola pikir masyarakat Indonesia saat itu adalah cenderung untuk berdamai dan tidak suka keributan, jujur dan penurut. Di sisi lain orang-orang yang mendiami wilayah Indonesia berasal dari beragam suku dan etnis yang tentunya masing-masing kelompok tersebut mampunyai suatu sifat yang khas. Berbagai aliran kepercayaanpun turut mewarnai masing-masing kelompok. Sementara itu masyarakat Jepang lebih homogen dengan semangat kerja keras, keuletan, disiplin, pelayanan dan menjunjung tinggi suatu kehormatan. Satu hal yang sama adalah adanya kesamaan dalam model pemerintahan yang dijalankan yaitu kekuasaan penuh di tangan raja. Nampaknya kondisis inilah yang melatar belakangi Belanda untuk menggunakan siasat devida et impera untuk dapa menguras kekayaan di Indonesia. Semasa itu imperial barat tiadaklah melihat Jepang sebagai suatu daerah yang potensial untuk melebarkan kekuasaannya, mengingat sumberdaya alam di sana sangat sedikit. Di kemudian hari dengan adanya penjajahan oleh Belandalah yang menyebabkan perbedaan yang sangat jauh antara Indonesia dengan Jepang.

Pada akhir masa pendudukan kolonial Belanda telah muncul benih-benih nasionalisme yang dipelopori oleh perkumpulan Boedi Oetomo pada tahun 1908. Perkembangan selanjutnya bermunculan kelompok-kelompok yang secara tegas mengiginkan adanya kemerdekaan. Pada masa ini tampak sekali adanya suatu titik kejenuhan yang sangat dengan segala bentuk penjajahan. Kondisi ini semakin memanas manakala Jepang memulai ekspansinya, terlihat banyak organ pergerakan yang dilarang keberadaanya oleh pihak penguasa. Sebelum masa ini masyarakat Indonesia berada dalam kondisi keterbelakangan, dan wabah penyakit ada di mana-mana. Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Jepang sebelum masa Restorasi Meiji[3]. Hanya saja di Jepang tidaklah mendapat tekanan yang kuat dari bangsa lain, konflik yang terjadi adalah konflik antar klan. Sementara itu di Indonesia konflik yang terjadi adalah persaingan dagang dari pengusaha pribumi[4] dan asing dan konflik antara tuan tanah dengan buruhnya[5].

Selama  Jepang berkuasa hampir dapat dikatakan pergerakan secara terbuka mati. Baru kemudian setelah peristiwa pemboman di Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu, pemuda Indonesia melihat adanya suatu kesempatan yang sangat besar untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Oleh karena euforia berita kekalahan Jepang oleh sekutu membangunkan setiap jiwa pemuda di tanah air untuk bersatu padu untuk memerdekakan diri. Pada masa ini jelas sekali tingginya semangat berkorban untuk memperoleh suatu kemerdekaan, mengingat mereka sama-sama mengalami pahitnya penjajahan. Masing-masing daerah dengan penuh kesadaran mengabungkan diri dalam Republik Indonesia Serikat, termasuk di dalamnya daerah-daerah yang masih memiliki kedaulatan penuh seperti Yogyakarta.

Selama masa penjajahan, masyarakat di nusantara tidak mendapat kesempatan untuk dapat mengekspresikan diri, baik dalam budaya, pola pikir, seni dan lain sebagainya. Masyarakat awam yang tidak mengenyam pendidikan mendapat suatu pengajaran secara langsung dari para penjajah, bahwa kekuasan dan kemewahan dapat menempatkan meraka pada posisi yang aman meskipun untuk itu mereka harus menjilat kepada penjajah. Pemikiran-pemikiran gaya feodal sangat mendominasi dalam penentuan tolok ukur untuk menentukan posisi masyarakat, contoh nyata dari ini adalah dengan adaya pembagian kelas mayarakat yang mendiami Hindia Belanda.

 

B. Masa Setelah Kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia belumlah leluasa untuk mengekspresikan jati dirinya mengingat bayang-bayang pemerintahan Belanda masih mengincar negri ini[6]. Cekaman masa lalu gaya feodal masih teringat jelas dalam setiap pemikiran warga Indonesia. Semangat borjuasi tuan tanah yang selama masa penjajahan terkekang nampaknya mendapatkan angin segar pada masa setelah kemerdekaan. Memang pada masa ini belumlah terlalu kelihatan, tetapi nanti setelah masa pemerintahan Soeharto akan nampak jelas sekali. Dengan strategi ekonominya yang membangun beberapa perusahaan raksasa yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung perekonomian justru menjadi penjajahan yang halis oleh bangsa sendiri. Sungguh malang nasib masyarakat bangsa ini yang hanya mendengar kabar kemerdekaan dan tidak pernah merasakannya bahkan penderitaanya semakin menjadi oleh penjajah dari negri sendiri.

Budaya feodal tersebut yang meletakkan nilai nilai kemanusiaan berdasarkan kelas sosial, sehingga kelimpahan materilah yang dipakai untuk menaikkan statusnya tersebut. Hal inilah yang menyebabkan selama pemerintahan Soeharto terjadi korupsi dimana-mana. Strategi pembangunan yang dipakaipun tidak lepas dari pembangunan sarana fisik mulai dari jembatan, bendungan, listrik dan tempat ibadah. Simbol-simbol tersebut yang dipakai sebagai gagah-gagahan keberhasilan pembangunan. Meskipun yang terjadi di balik itu adalah upaya untuk dapat menyisihkan hak-hak rakyat untuk menikmati kemerdekaan dengan megaproyek[7] yang di danai dari utang luar negri. Demokrasi yang digembar-gemborkan hanyalah slogan belaka, mengingat masyaraakat yang cukup vokal mengkritik kebijakkannya akan direpresi oleh pihak militer dan tak segan-segan dicap sebagai antek-anteknya PKI. Lebih parah lagi mega proyek tersebut hanya berputar di Jawa saja, yang di kemudian hari menyebabkan adanya upaya pemerdekaan wilyah[8] oleh karena ketimpangan sosial tersebut. Sementara itu kekakyaan alam mengalir deras ke luar negri tanpa diketahui kemana perginya uang itu. Di sisi lain terjadi suatu pembodohan terstruktur dengan sistem pendidikan yang ada, dimana penguasa tidak menghendaki adanya generasi muda yang cerdas dan vokal. Barangkali yang cerdas tetap ada namun tidak lagi vokal yang kemudian dapat dipakai sebagai alat untuk terus memupuk rezim itu. Kecerdasan yang dimiliki adalah kecerdasan tanpa mentalitas yang kuat yang dikemudian hari hanya dipakai untuk mengakali bangsanya sendiri. Oleh karena itu tidaklah heran jika di Indonesia terjadi banya pemalsuan dan pembajakkan. Bagaimana hal itu tidak terjadi penguasa-penguasa yang melahirkan kebijakan tentang pembentukan moral[9] bangsa justru memberikan contoh yang keliru melalui prktek-praktek KKN[10]. Strategi yang dipakai Oleh pemerintahan Soeharto tak jauh beda dengan gaya kolonial yaitu dengan represi mliliter dan kapitalis.

Konflik yang terjadi setelah proklamasi kemerdekaan mejadi semakin rumit, mulai dari perbedaan ideologi sampi kepada upaya pemerdekaan diri. Dalam sejarahnya Indonesia seringkali terjadi berbagai pemberontakan dengan maksud permerdekaan daerah tertentu seperti DI/TII, PRRI Permesta, RMS, dan akhir akhir ini adal GAM di Aceh dan OPM di Papua. Selain dari pada itu pada masa setelah Soeharto Justru terjadi banyak sekali kerusuhan yang bersifat SARA seperti yang terjadi di Sampit, Poso, Ambon dan kerusuhan Mei 1998.

Sementara itu di Jepang yang sama-sama bangkit dari keterpurukkannya akibat perang, justru saling bahu membahu membangin negrinya kembali. Dengan semangat kerja yang tinggi dan kedisiplinan yang dimiliki sehingga tidaklah mengejutkan manakala dua tahun setelah itu Jepang justru mengalami kenaikan pertumbuhan industri yang sangat tinggi melebihi sebelum masa perang. Sepintas kemajuan Jepang hanya sekedar kebetulan, kebetulan karena tidak dijajah, kebetulan lebih homogen. Namun itu semua bukanlah alasan, semangat nasionalisme Jepang begitu tinggi mengalahkan kepentingan pribadi, sementara itu bangsa Indonesia lebih mengutamakan keunggulan yang mewakili kelommpok, suku atau daerah tertentu. Semangat Nasionalisme dan kebangsaan hanyaa tinggal sejenak selama masa pengusiaran penjajah, setelah itu kembali bergegas memperkaya diri untuk dapat unjuk muka pada kelompok lain.

Strategi pembangunan Jepang adalah dengan mengutamakan penciptaan tenaga ahli, hal ini terbukti dengan misi pengiriman ke luar negri yang dimulai sejak 1860 yang jumlahnya terus bertambah sejak saat itu. Setelah mempunyai cukup keahlian mereka kembali ke Jepang dan menerapkannya di negri itu. Untuk menopang kelancaran pembangunan di sana pihak pemerintah semakin meningkatkan sarana transportasi, selain untuk meningkatkan pemerataan pembangunan  juga digunakan untuk  mengangkut hasil produksi masing-masing daerah.

Dengan semakin majunya pembangunan di Jepang jarang sekali terjadi konflik SARA yang terdengar. Dengan kata lin bahwa kesadaran masyarakat Jepang akan pentingnya kehidupan bersama sangatlah penting sekali dalam rangka menopang kelangsungan hidup bangsanya ditengah persaingan Internasional.

 

III. KESEMPATAN TERSISA SETELAH PEMERINTAHAN MEGA

Berdasarkan ulasan di atas terdapat suatu benang merah yang dapat dipakai untuk memotret keberadaan Indonesia. Dan nampaknya jika potret itu dipampang berdampingan dengan potret negara Jepang tampak sekali terdapat perbedaan seperti halnya potret hitam putih dengan potret berwarna. Permasalahan-permasalahan yang harus segera mendapatkan prioritas untuk segera ditangani adalah masalah keutuhan bangsa ini. Hal ini patut menjadi sorotan utama mengingat jika terjadi pelepasan satu wilayah saja, tidak menutup kemingkinan bahwa Indonesia dapat terpecah menjadi beberapa negara. Hal ini tentunya sangat tidak diharapkan. Dengan kondisi negara yang utuh saja masih belum dapat mengimbangi pengaruh globalisasi dari luar apalagi terpecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini tentunya sangat diharapkan oleh negara-negara barat. Tentunya kita jangan mudah terkeceoh dengan adanya bantuan dari barat yang mengatas namakan hak asasi manusia untuk menuntut kemerdekaan. Bukankah sejarah telah mencatat bahwa kehadiran Jepang pada awal mulanya adalah mngaku sebagai saudara tua yang juga menjanjikan kemerdekaan

Masalah kedua adalah masalah keamanan dan stabilitas dalam negri. Masalah ini sangat terkait dengan masalah yang pertama hanya saja diutamakan pada pelayanan keselamatan setiap warga negara dalam melukan aktifitasnya. Sudah waktunya bagi TNI dan POLRI untuk membuktikan kemampuannya dalam menjaga stabilitas dan HanKamNas dan tidak lagi digunakan hanya sebagai alat represi dan menghambur-hamburkan anggaran negara. Peran serta mereka tentunya sangatlah diharapkan oleh masyarakat yang akhir –akhir ini cenderung berlaku anarkhis, irasional[11] dengan mentalitas yang semakin bobrok. Kerja mereka akan mejandi optimal dengan adanya kolaborasi yang baik dengan aparat penegak hukum lainnya sepertei kejaksaan dan tetunya harus diimbagi oleh adanya iklim hukum yang sehat.

Masalah ketiga yang cukup penting sekaligus dapat menjadi suatu solusi yang mujarab untuk mengatasi berbagai permasalahan di negri ini adalah pendidikan. Memang dibutuhkan danan yang sangat banyak dan juga termasuk investasi jangka panjang untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.  Memang agak berat untuk dapat memebaskan biaya pendidikan dari sekolah darasr hingga SLTA, namun menurut hitungan kasar seorang pengajar dari FE UKSW bahwa jika subsidi untuk BBM dipakai untuk membiayai pendidikan dari SD sampai SLTA masih ada sisa. Alternatif kedua adalah dengan membuat satu sekolah rakyat pada satu wilayah tertentu (misalnya satu kabupaten) pada tingkat SLTP dan SLTA  dimana terdapat siswa siswa yang berpotensi dan tanpa dikenakan biaya pendidikan. Untuk pendidikan di level SD ataupun perguruan tinggi dapat disesuaikan dengan model serupa. Tentunya dengan format pendidikan yang lain pula. Dan tanpa biaya sunat[12].

Masalah ke empat adalah masalah pengentasam kemiskinan. Hal ini terkait erat dengan kehidupan perekonomian di negara ini. Dan untuk melaksanakannya tidaklah semudah diucaapkan seperti yang terjadi dalam kampanye calon presiden, mengingat untuk mengangkat kaum miskin berarti pemerintah mengarapkan terjadinya permerataan[13]. Namu demikian kondsi ini tidaklah demikian diharapkan oleh pelaku industri, dimana peningkatan kualitas kehidupan dan kecerdasan kaum bawah yang notabene banyak sebagai buruh akan dapat menghabat produksi dan mengurangi pendapatan[14]. Arah kebijakan perekonomian kerakyatan tampaknya lebih teepat untuk negri ini dan akan sekanin baik jika diimbangi oleh pemanfaatan teknologi secara bijak.

Masalah ke lima adalah perlunya penataan kembali kehidupan sosial budaya bangsa ini. Nampaknya dibutuhkan kebesaran jiwa untuk mengakui keunggulan kelompok, suku atau daerah lain, sehingga tidaklah lagi bersaing untuk menunjukkan ssiapaakah yang paling unggul. Akulturasi budaya antar susku dan etnis dinanah air dapat menjadi salah satu alternatif jalan damai. Dan bilamana perpaduan itu telah menjadi sedemikian rupa maka niscaya akan berkurang konflik-konflik SARA. Kemampuan para pejabat dan penguasa negara untuk terjun kebawah dan tidak berkutat pada masalah biroktrasi dapat menjadi katarsis[15] selama pemulihan berlangsung.

IV. CATATAN AKHIR

  • Sifat mendasar masyarakat Indonesia adalah suka berdamai, jujur dan penurut. Sementara itu masyarakat Jepang adalah pekerja keras, ulet, disiplin, pelayanan yang baik serta menjunjung tinggi kehormatan. Kesamaan antara Jepang dan bangsa-bangsa di Indonesia saat itu adalah pada sistem pemerintahan yang monarki absolut.
  • Sebelum masa kemerdekaan kondisi masyarakat Indonesia secara umum hampir sama dengan masyarakat Jepang sebelum kedatangan Commodor Perry. Perbedaannya adalah terletak pada sumber konflik, di Jepang adalah konflik internal antar klan sedangkan di Indonesia adalah konflik persaingan dagang dengan pengusaha asing serta konflik majikan buruh.
  • Konflik-konflik yang terjadi setelah masa kemerdekaan justru menjadi semakin berfariasi, namu demikian konflik dengan upaya untuk memebntuk negara baru terus terjadi mulai dari awal kemerdekaan sampai kepada saat ini.
  • Orientasi Pembanguanan Indonesia yang terarah pada sektor materiel namapaknya membawa dampak yang kurang baik dalam rangka menciptakan bangsa yang tangguh untuk menghadapi tantangan globalisasi.
  • Sklala prioritas yang dapaat dipakai untuk mempertahankan negri ini adlah mempertahankan keutuhan bangasa, menjamin stabilitasn dan keamanan nasional, pendidikan, pengetasan kemiskinan, penataan kembali kehidupan sosial budaya.

 

V. REFERENSI

 

Anto, J., 2002. Pers Menyalahpahami tentang Etnis Tionghoa. KUPAS Volume 3 No.4.

Beilharz, P., 2002. Teori Teori Sosial : Terjemahan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Jansen, M.B., 1983. Jepang selama Dua Abad Perubahan : Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Malaka, T., 2000. Aksi Massa. CEDI & Aliansi Press. Jakarta.

Sanit, A., 1989. Mahasiswa Kekuasaan dan Bangsa. Lingkaran Studi Indonesia & Yayasan LBH Indonesia. Jakarta.

Sjamsuddin, N., 1993. Dinamika Sistem Politik Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Stone, J., 2001. Prakasa Pencegahan Konflik. Program on Humanitarian Policy and Conflict Research. Harvard School of Public Health. Harvard.

Thung, J. L., 2002. Prasangka dan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa. KUPAS Volume 3 No.4.

 


[1] Suku, agama, ras dan antar golongan.

[2] Masa sebelum kedatangangan Commodor Perry.

[3] Masa kebangkitan negara Jepang dengan membuka diri terhadap dunia luar, yang dimulai pada masa kekaisaran Meiji.

[4] Yang mengawali didirikanya perkumpulan Rekso Rumekso dan kemudian Sarekat Islam Oleh K.H Samanhudi pada tahun 1912 di Solo.

[5] Seperti terjadi di Sumatera Utara pada tahun 1888 sampai 1900.

[6] Terbukti dengan adanya agresi militer Belanda 1948.

[7] Contoh kasus adalah proyek waduk Kedung ombo.

[8] Pemerdekaan Timor timur, Gerakan Sparatis GAM di Aceh, OPM di Papua dan gerakan Riau kepulauan merdeka.

[9] Kebijakan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

[10] Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

[11] Lebih percaya pada hal-hal magis.

[12] Budaya memotong biaya untuk masuk kantong pribadi dengan alasan biaya administrasi.

[13] Konsep sosialisme dimana terjadi peningkatan kulaitas hidup masyarakat kelas bawah..

[14] Konsep kapitalisme dimana terjadi pemusatan modal adan pendapatan, kaum bawah hanya diperlaukakan sebagi salah satu alat produksi.

[15] Penyelaras, memberikan kelegaan.

Advertisements

Sel Induk dan Toko Organ Tubuh Manusia : Suatu Tinjauan Teknis dan Etis

Disusun Oleh :

Slamet Haryono (412000011), Tri Hatmoko (412000030), Okie Wisnu Adityo (412000041),

Kunto Wibisono (4120000047)

 


ABSTRAK

Dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan manusia terutama penanganan terhadap penyakit menurun yang hampir bisa disebut permanen seperti diabetes melitus, telah banyak dilakukan penelitian. Salah satu kemajuan dari penelitian yang cukup membantu adalah dikembangkannya teknik dengan memanfaatkan  Embryonic Stem Cell. Teknik ini cukup membantu penanganan masalah tersebut selain dengan cara lama yaitu transplantasi.

Teknik transplantasi telah banyak dilakukan dan tidaklah terlalu rumit, seperti halnya transfusi darah, dan trasnplantasi ginjal. Namun demikian penggunaan Embryonic Stem Cell masih sedikit dilakukan. Prinsip dasar dari penggunaan Embryonic Stem Cell adalah dengan cara melakukan pembuahan ovum dengan sel sperma secra in vitro untuk kemudian pada hari ke lima atau pada fase blastula dilakukan isolasi terhadap inner cell dan ditumbuhkan pada medium dengan faktor tumbuh tertentu.  Diharapkan dari sel sel yang telah diisolasi tersebut dapat dihasilkan jaringan atau organ seperti yang dikehendaki.

Baik teknik transplantasi maupun dengan Embryonic Stem Cell sama-sama mempunyai konsekuensi yang juga harus dipertimbangkan, mengingat objek yang digunakan adalah organ hidup dan untuk diberikan pada manusia. Pertimbangan tersebut meliputi : kecocokan organ, biaya, jarak, serta status moral. Disamping itu juga harus dihadapkan kendala teknis di laboratorium seperti pada waktu isolasi inner cell pada blastosis.

Dalam kenyataannya permintaan akan organ ataupun jaringan tertentu terus meningkat, dan mau tidak mau penggunaan Embryonic Stem Cell ataupun transplantasi terus dilakukan, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah perlunya adanya pengaturan ataupun pembatasan terhadap penggunaan jaringan ataupun organ hidup dari manusia serta perlunya dilihat kembali tujuan dari pengguaan barang-barang tersebut. Selain dari pada itu motif pelayanan terhadap masyarakat lebih dapat diterima daripada motif komersialisasi jaringan ataupun organ tubuh manusia.

Kata Kunci : Sel Induk, Bioetik, Toko Organ

I. Pendahuluan

Dewasa ini perhatian masyarakat dunia begitu serius terhadap permasalahan kesehatan manusia. Berbagai penelitian gencar dilakukan dalam rangka meningkatkan tingkat kesehatan manusia terutama dalam penanganan penyakit yang berkaitan dengan kelainan fungsi organ. Sebagai contoh seperti dikutip dari internet[1] bahwa kebutuhan akan organ donor di Amerika Serikat pada tahun 2002 mencapai 81.000, sedangkan organ transplan yang terpenuhi sekitar 23.000 organ dengan perkiraan 68 orang menerima organ dalam satu hari dan 17 orang meninggal selama dalam penantianya. Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara permintaan organ dengan jumlah organ yang tersedia. Berbagai upayapun telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan penyediaan organ tersebut, namun belumlah mencukupi mengingat jumlah permintaan yang meningkat tiap tahunnya.

Dalam perkembangannya semenjak tahun 1959 tentang keberhasilan pembuahan in vitro[2] pada kelinci sampai saat ini telah mengalami banyak perkembangan yaitu keberhasilan dalam membiakkan jaringan manusia seperti sel islet pankreas, neuron, sel otot cardiac yang kesemuanya itu berasal dari Embryonic Stem Cell (ESC) [3]. Jaringan yang telah berhasil ditumbuhkan tersebut kemudian dapat ditransplantasikan pada manusia sebagai suatu solusi atas berbagai permasalahan kesehatan, terutama penyakit turunan secara genetis. Terapi ESC cukup memberikan harapan bagi para penderita penyakit turunan secara genetis yang relatif permanen seperti alzheimer, diabetes melitus, kerusakan permanen pada jaringan atau organ vital.

Keberhasilan dari teknologi tersebut tidak lepas dari pengembangan prinsip kultur sel. Terutama sel induk embrionik (ESC). Stem cell atau sel induk adalah sel yang mempunyai kemampuan untuk membelah diri  menjadi organisme utuh, dalam kondisi in vivo[4] dikarenakan sel tersebut masih memiliki kemampuan totipotensi[5]. Dalam medium pertumbuhan secara in vitro memerlukan kondisi yang tepat, atau diberikan perlakuan yang benar, yang kemudian dapat berdiferensiasi menjadi berbagai bentuk tipe sel yang menyusun suatu organisme. Stem cell mampu tumbuh menjadi sel yang matang dengan bentuk dan fungsi yang khas seperti sel hati, sel kulit, atau sel syaraf dan menjadi organisme normal (in vivo) atau dengan kata lain sel tersebut berkembang secrara pluripotensi[6]. Berdasarkan asalnya stem cell dapat berasal dari embrio yaitu dengan membuahkan sel sperma dan sel telur secara in vitro yang kemudian ditumbuhkan dalam medium. Pada hari yang ke lima atau pada fase blastosis[7] dilakukan isolasi bagian inner cell[8] dan ditumbuhkan pada medium  yang diperkaya dengan faktor tumbuh. Stem Cel yang diperoleh dengan cara demikian disebu sebagai embryonic stem cell. Stem sel juga dapat diperoleh dari sel tubuh pada organisme dewasa atau disebut sebgai adult stem cell.

Pada makalah ini, pembahasan dibatasi pada penjelasan teknik transplantasi baik jaringan maupun organ yang diperoleh dari pendonor maupun disintesis secara in vitro. Pembahasan selanjutnya merupakan kajian terhadap beberapa permasalahan sebagai konsekuensi dari penggunaan teknik tersebut dan berbagai pertimbangan etis.

II. LEBIH LANJUT TENTANG TEKNIK TRANSPLANTASI

Prinsip dasar dari transplantasi[9] adalah pemindahan jaringan atau organ hidup dari satu orang ke orang lain. Namun dalam perkembangannya transplantasi juga dapat dilakukan antar spesies. Dalam dunia medis, transplantasi yang sering dilakukan adalah transplantasi jaringan kornea ataupun transfusi darah. Hal itu dianggap sebagai suatu prosedur yang sudah lazim. Namun demikian untuk transplantasi pada organ yang lain menimbulkan berbagai permasalahan baik secara teknis maupun etis, misalnya transplantasi ginjal, hati dan jantung.

Teknik transplantasi tersebut sebenarnya tidaklah terlalu rumit, hanya saja dibutuhkan prosedur yang cukup panjang agar dapat dilakukan transplantasi. Mulai dari membuat surat perjanjian sampai dilakukan pemeriksaan medis untuk menentukan tingkat kesehatan dan kecocokan jaringan atau organ dari pendonor. Setelah dilakukan proses transplantasipun masih harus dilakukan pemeriksaan secara berkala untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut.

Permasalahan teknis yang paling mendasar adalah berkenaan dengan pengadaan jaringan atau organ tersebut, mengingat bahwa jaringan atau organ yang dibutuhkan terlampau banyak dibandingkan dengan jaringan atau organ yang tersedia. Untuk mendapatkan organ yang diinginkan masyarakat cenderung mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah organ yang diinginkan dan kurangnya peran masyarakat yang berperan sebagai pendonor. Berdasarkan pada permasalahan di atas tercetus suatu gagasan untuk mendirikan “pabrik organ atau toko organ”. Pabrik organ atau toko organ merupakan suatu tempat/instansi yang membuat dan menyediakan organ, baik yang digunakan untuk penelitian maupun proses pengobatan yang memerlukan bagian anggota tubuh.

Atas dasar pemikiran itulah berbagai upaya untuk mengadakan jaringan atau organ secara in vitro banyak dilakukan. Pengadaan organ secara in vitro tersebut menggunakan embryonic stem cell. Embryonic stem cell dihasilkan dari pembuahan secara in vitro sel sperma dan sel telur yang kemudian pada hari ke lima atau pada fase blastosis yang kemudian dilakukan isolasi pada sel-sel bagian dalam. Sel-sel bagian dalam tersebut ditumbuhkan dalam suatu medium yang diperkaya dengan faktor tumbuh tertentu sehingga dapat menghasilkan jaringan ataupun organ seperti yang diharapkan. Sel-sel yang dihasilkan tersebut secara pluripoten dapat membentuk jaringan embrionik. Jaringan-jaringan embrionik yang diproduksi dapat digunakan untuk membuat organ. Organ-organ tersebut dapat digunakan untuk mengganti salah satu bagian tubuh kita yang tidak berfungsi dengan semestinya atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Untuk mendapatkan organ tersebut, kita tidak harus menunggu kematian seseorang atau sumbangan dari beberapa orang yang merelakan beberapa anggota tubuh untuk kepentingan suatu pihak.

III. BERBAGAI MASALAH TEKNIS DAN ETIS

Dalam praktek kesehariannya, transplantasi jaringan ataupun organ mendatangkan berbagai permasalahan teknis maupun etis. Permasalahan itu hendaknya dijadikan sbeagai suatu bahan evaluasi baik oleh  para ahli maupun masyarakat awam untuk dapat mengetahui dan memberikan suatu penilaian maupun keputusan yang tepat mengenai transplantasi.

Secara umum teknik transplantasi memberikan harapan yang besar bagi para penderita penyakit kronis yang berkenaan dengan kelainan fungsi jaringan atau organ. Akan tetapi sebagian penderita yang melakukan transplantasi hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa tahun saja, terutama transplantasi organ yang sangat vital seperti jantung, hati dan ginjal. Sementara itu biaya yang diperlukan sangat banyak.

Berikut kami sajikan beberapa masalah teknis dan etis mengenai transplantasi jaringan atau organ :

A. Ketidakcocokan Organ antara Pendonor dan Resipien.

Baik organ yang berasal dari pendonor ataupun disintesis secara in vitro mempunyai peluang yang cukup besar terjadi ketidakcocokan. Hal ini disebabkan karena masing-masing tubuh pasien mempunyai karakteristik yang berlainan. Dalam penelitian ilmiah diupayakan terus-menerus materi yang tidak merusak darah atau substansi organis lain yang terkena alat atau organ artifisial (buatan) itu. Misalnya, material/substansi yang terdapat dalam organ artifisial itu harus dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah dan tidak boleh merusak sel-sel darah merah. Organ–organ yang akan ditransplantasikan harus bebas dari kemungkinan yang merugikan resipien seperti adanya interferensi dalam organ transplantasi terhadap fungsi-fungsi organ normal yang lain. Kemudian, ketidakcocokan pasien dengan organ baru yang ada yang mengakibatkan tubuh kehilangan kemampuan dalam perlindungan terhadap infeksi. Penolakan terhadap organ yang baru ditanamkan tersebut umumnya disebabkan oleh adanya kepekaan sistem kekebalan. Untuk mengatasi masalah ini telah ditemukan obat penurun kepekaan yang disebut cyclosporin. Penolakan tersebut juga akan relatif kecil jika organ transplan tersebut berasal dari sel tubuhnya sendiri (in vitro).

B. Isolasi Inner Cell Dan Penumbuhan Pasca Blastosis (secara in vitro)

Pada tahap ini para pakar mengalami banyak kesulitan untuk dapatmengisolasi inner cell secara lengkap tanpa merusak kemampuan sel tersebut untuk tumbuh. Selanjutnya adalah sulitnya pengaturan untuk menghasilkan kultur jaringan atau organ seperti yang diharapkan meskipun telah ditambahkan faktor tumbuh tertentu. Hal ini tentunya akan banyak dibutuhkan stem cell embryonic untuk menjadi satu organ saja yang diharapkan. Pada tahap ini juga mendatangkan satu permasalahan etis yaitu dihilangkannya kemampuan embrio untuk tumbuh menjadi individu baru yang utuh. Dengan kata lain sel tersebut telah dieuthanasia[10], karena sel tersebut kehilangan kemampunanya untuk tumbuh menjadi organisme utuh, sehingga cukup beralasan untuk dilakukan berbagai peerlakuan laboratorium termasuk dibinasakan.

C. Terjadinya Pemborosan  Sel Sperma Dan Sel Telur (secara in vitro)

Untuk memperoleh jaringan atau organ yang ditumbuhkan secara in vitro dibutuhkan banyak sel sperma dan sel telur, mengingat tidak semua stem cell embryonic tersebut dapat menghasilkan jaringan atau organ seperti yang diharapkan. Bisa dibayangkan untuk menghasilkan sebuah jaringan atau organ saja harus rela mengorbankan puluhan embrio mati secara sia-sia. Selama proses ini, sel sperma dan sel telur wanita yang digunakan seakan akan tidak memiliki arti selain hanya sebagai materi yang digunakan untuk penelitian. Selain masalah yang timbul akibat eksploitasi sel sperma dan sel telur tersebut, terdapat beberapa masalah lain yang masih berkaitan dengan penggunaan sel telur tersebut. Sel telur wanita yang telah dibuahi maupun yang belum dibuahi merupakan calon individu baru. Dapat dikatakan demikian karena individu baru didapatkan dari sel telur yang telah dibuahi. Berdasarkan hal tersebut, sel telur dipandang sebagai cikal bakal adanya kehidupan baru atau individu baru. Sedangkan pada riset mengenai sel induk (ESC), sel telur hanya dipandang sebagai barang atau sarana yang dieksploitasi untuk tujuan mendapatkan sel induk sebagai media riset atau penelitian.

D. Status Moral Embrio (secara in vitro)

Sel induk didapatkan dari proses fertilisasi in vitro yang membutuhkan pengambilan dan pembiakan sejumlah sel telur. Selama proses ini berlangsung, maka akan tampak sel-sel telur yang telah dibuahi. Sel-sel telur atau embrio tersebut baik yang akan digunakan untuk penelitian maupun yang terbuang sia-sia sebenarnya mempunyai hak/peluang yang sama untuk dapat berkembang menjadi individu baru. Bagaimanapun juga embrio ini, meskipun tidak menjadi suatu individu, memiliki hak hidup yang sama seperti yang kita miliki. Namun demikian dalam prosedur laboratorium kita seolah membatasi hak dan kita menjadi hakim atas embrio tersebut.

E. Awal Mula Kehidupan (secara in vitro)

Terdapat perbedaan pendapat yang sangat pelik mengenai awal mula sebuah kehidupan. Kalangan pertama menganggap bahwa kehidupan itu sudah ada semenjak terjadi pembuahan. Sementara itu pihak lain mengatakan bahwa pada stem sel embrionik belum merupakan suatu kehidupan mengingat bahwa pada stem sel embrionik tidak dapat tumbuh menjadi individu yang utuh, tetapi hanya merupakan jaringan atau organ tertentu.  Sehingga berbagai perlakuan tertentu terhadap stem cell embryonic masih sangat manusiawi. Perdebatan inipun masih terus dilakukan tetapi nyatanya praktek menggunakan embrio justru malah bertambah.

F. Ironisme Alasan Transplantasi Secara In Vitro

Terdapat suatu pertimbangan yang mendasar mengenai alasan dilakukannya kultur jaringan atu organ secarin vitro yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia dan sebagai solusi atas berbagai permasalahan berkenaan dengan kelainan fungsi organ tertentu. Namun demikian untuk dapat menghasilkan suatu organ harus rela mengorbankan puluhan embrio untuk mati sia-sia.

G. Perdebatan Tentang Kapan Tepatnya Seseorang Mati

Sampai sejauh ini kalangan medis menggunakan ukuran kematian otak sebagai dasar untuk menentukan bahwa orang tersebut telah meninggal dunia. Sedangkan para kalangan religius masih bersikeras bahwa kematian status kematian seseorang tidak hanya ditentukan melalui kematian otak, akan tetapi kematian sesorang lebih ditentukan sebagai suatu peristiwa terlepasnya jiwa dari tubuh tersebut. Namun penentuan lepasnya jiwa atau raga tidak dapat ditentukan secara empirik. Dalam hal ini manakala kematian seseorang hanya ditentukan dari kematian otak maka seolah terkesan bahwa manusia menjadi hakim atas hidup dan matinya seseorang.

H. Masalah Jarak Dan Biaya

Permasalahan jarak dan biaya merupakan permasalahan yang sangat teknis. Mengingat ketersediaan organ transplan boleh jadi jauh dari tempat resipien berada sementara itu dituntut kesegaran dari transplan. Selain daripada itu biaya yang digunakan untuk proses transplantasi sangat mahal. Kalaupun transplantasi dapat dilakukan masih juga beresiko terjadinya ketidak cocokan  serta kemampuannya untuk dapat memepertahankan hidup tidaklah terlalu lama. Sehingga dapat pula dilakukan perenungan ulang sebelum dilakukan transplantasi termasuk untung dan ruginya.

I. Organ tak Berpasangan

Transplantasi akan cenderung tak bermasalah (secara etis) jika transplan yang digunakan merupakan jaringan sederhana ataupun organ yang berpasangan. Namun demikian pada organ yang tidak berpasangan seperti hati, jantung dan pankreas akan menimbulkan permasalahan baru yaitu si pendonor harus dalam keadaan meninggal dunia. Mengingat bahwa organ tersebut sangan vital keberadaanya.

J. Komersialisasi Jaringan Atau Organ

Terdapat suatu kekhawatiran besar oleh para kaum religius bahwa pabrik atau toko organ didirikan hanya untuk kepentingan bisnis semata. Dengan berkedok membantu kepentingan membantu kepentingan kesehatan.

IV. KESIMPULAN

Sebagai manusia yang berakal budi dan juga sebagai makhluk sosial sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu satu dengan yang lainya mengingat bahwa hakikat dari makna kehidupan tersebut menjadi berarti jika ada orang lain. Wujud nyata dari kewajiban tersebut adalah kepedulian untuk memberikan sumbangan jaringan ataupun organ tubuh kita.   Yang paling sederhana adalah dengan mendonorkan darah kita.

Hendaknya para pendonor telah sepakat dengan suatu perjanjian untuk memberikan organ tubuhnya kepada orang lain meskipun penentuan kematiannya berdasarkan kematian otak. Hal ini dimaknai bukannya sebagai suatu tindakkan melangkahi wewenang Tuhan tetapi pemberian organ tersebut dilakukkan sebagai upaya untuk mensejahterakan kehidupan orang lain. Toh kalaupun kita meninggal dengan tubuh yang utuhpun akan membusuk dan tidak berguna, bukankah lebih baik itu dapat digunakan orang lain.

Berbagai upaya untuk mengadakan organ secara in vitro hendaklah dimaknai sebagai suatu upaya untuk membantu penderitaan orang lain, bukannya sebagai suatu motif bisnis belaka. Lebih jauh diharapkan penggunaan organ buatan tersebut bersifat pemberian ataupun jika memang harus membayar tentunya dengan harga yang sekecil mungkin. Di sisi lain penggunaan sel sperma dan sel telur juga harus dibatasi untuk keperluan medis yang bersifat unuk menolong penderitaan orang lain.

V. REFERENSI

Djati, M. S. , 2003. Diskursus Teknologi Embryonic Cells dan Kloning Dari Dimensi Bioetika dan Religiositas. Jurnal Universitas Paramadina.Vol 3 No.1: 102-123.

Dole,V.P. , 1969.  Ethical Aspect andsociological implication of organ transplantation as a therapeutic procedure. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 63 .

Gage, F.H. dan I.M.Verma, 2003. Stem cells at the dawn of the 21st century. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 100: 11817-11818.

Gilbert, D.M. 2004. The Future of Human embryonicStem cell research : addresing ethical ethical conflict with responsible scientificreseach. Med Sci Monit: 10(5):RA99-103.

Meyer, J.R. 2000. Human Embryonic Stem Cells and Respect for Life. Journal of Medical of Ethics. Vol 26:166-170.

Whestine, L. , K. Bowman, L. Hawryluck. 2002. Pro/Con Debate: Is Nonheart-Beating Organ Donation Ethically Acceptable ?. Crutical care:6: 192-195.

Yannas,  I.V. , 2000. Synthesis of Organ : In vitro or In vivo. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 97: 9354- 9356.


[1] Informasi diperoleh dari http://www.organdonor.gov/ bestpractice.tm#methodology.

 

[2] Ditumbuhkan dalam kondisi laboratorium yang khusus, bukan didalam tubuh suatu organisme.

[3] Merupakan sel yang mampu bertumbuh dan menjadi berbagai bentuk jaringan atau organ dalam kondisi khusus.

[4] Berada dalam tubuh organisme.

[5] Kemampuan untuk tumbuh menjadi organisme secara utuh.

[6] Kemampuan untuk tumbuh dan berdeferensiasi menjadi bergbagai bentuk jaringan atau organ yang khas namun tak dapat menjadi organisme yang utuh.

[7] Tahapan awal dalam pembelahan sel sebelum terjadai diferensiasi. Pada vertebrata jumlahnya berkisar antara 150-200 sel.

[8] Bagian tengah sel atau lapusan endoderm.

[9] Pencangkokan organ.

[10] Dimatikan dengan tanpa rasa sakit.