Monthly Archives: March 2007

MEMASUKAN BATU KELUAR BERLIAN : Penjaminan Kualitas Lulusan Berorientasi Proses dengan Kompetensi Akademis, Soft Skill dan Leadership

 

Di tengah maraknya perdebatan tentang trimester dan semester, diam-diam pimpinan UKSW sedang bergumul dengan serius mengenai kualitas lulusannya. Lebih dari separuh mahasiswa UKSW mempunyai IPK kurang dari 3,0 yang dengan IPK tinggi saja belum tentu menang dalam berkompetisi di dunia kerja, apa lagi yang dibawahnya. Adakah strategi jitu dalam rangka menciptakan lulusan yang mampu berkompetisi?


(SA-Jumat, 16 Maret 2007)- Usaha keras untuk dapat menghasilkan lulusan dengan cepat nampaknya bukan merupakan satu-satunya indikator keunggulan suatu universitas. Tidak seperti dalam dunia industri, jika prosesnya telah mapan maka dengan percepatan produksi akan menghasilkan produk yang lebih banyak dan diharapkan dapat menaikkan keuntungan. Karena pada bagian akhir dari proses produksi terdapat bagian QC (quality control) yang akan mensortir produk-produk yang memenuhi dan tidak memenuhi syarat. Kalaupun terdapat produk yang lolos ke pasaran dan tidak memenuhi syarat maka akan dengan mudah untuk menariknya lagi dari peredaran.

Tidak demikian dalam dunia pendidikan, sebagai contoh UKSW. Ketika UKSW telah berhasil menciptakan para sarjana (product output), ketika ada sesuatu yang “salah” pada sarjana tersebut maka tidak mungkin untuk dapat dilakukan penarikan lagi dari peredaran. Itulah sebabnya di UKSW sedang dikembangkan sistem penjaminan kualitas lulusan yang berbasis pada proses. Dibawah komando Dr. Ferdy Rondonuwu, bagian PPMA (Pusat Penjaminan Mutu Akademik) bekerja keras untuk mendesain sistem penjaminan mutu yang yang paling tepat untuk UKSW.

Sebenarnya penjaminan mutu bukan hanya tanggung jawab PPMA, sampai sejauh ini terdapat tiga elemen yang menjamin mutu tersebut. Dua diantaranya dari luar yaitu BAN (Badan Akreditasi Nasional) dan Dikti (Direktoran Kendral Perguruan Tinggi) dengan EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri), sedangkan yang internal kampus secara khusus pada Fakultas dan program studi yang ada di dalam kampus itu sendiri juga melakukan penjaminan mutu. Penjaminan mutu secara internal tersebut tersebut sudah berlangsung sejak lama, hanya saja tidak terdokumentasi dengan baik dan tidak terintegrasi. Selain itu tindak lanjut dari evaluasi ataupun penjaminan mutu yang diselenggarakan secara internal masih belum jelas.

Dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan selama proses dari sisi pengajar, menurut atauran Dikti maka staf pengajar di untuk S1 haruslah berkualifikasi S2, untuk itu maka staf pengajar yang masih merupakan lulusan S1 haruslah di dorong untuk dapat melakukan studi lanjut, atau peraturan mengenai perekrutan staf pengajar yang baru haruslah berkualifikasi S2. Selain dari sisi peningkatan kualitas pengajar maka juga perlu ditingkatkan metode pembelajaran.

Langkah paling awal adalah dengan membangun sistem dokumentasi yang baik, sehingga kita dapat membuat base-line, UKSW sekarang setara dengan perguruan tinggi yang mana?. Selanjutnya adalah membuat instrumen penjaminan mutu kemudian manual operasi. Level pengerjaan penjaminan mutu di level universitas berupa pedoman penjaminan mutu yang kemudian turun ke program studi menjadi lebih terperinci seperti instruksi kerja, verifikasi, pemantauan, pengendalian, teknik pengujian dan lain sebagainya. Penjaminan tersebut bukan hanya merupakan tanggung jawab satu orang atau satu lembaga saja tetapi merupakan tanggungjawab bersama segenap sivitas akademika karena semua saling terkait. Lebih lanjut Pak Ferdi merancang agar sistem penjaminan mutu tersebut dikuatkan pada level program studi, dengan demikian jika selama proses tersebut terdapat “kesalahan” dapat segera ditindak-lanjuti.

Sistem penjaminan mutu yang berorientasi pada proses tersebut, tidak membatasi input yang hanya merupakan siswa dengan prestasi belajar tinggi seperti pada kebanyakan Perguruan Tinggi Negeri yang sangat memperhatikan input. Di UKSW dapat saja untuk menggunakan model demikian untuk meningkatkan mutu lulusannya, sehingga jumlah input akan dibatasi, namun demikian hal ini tidaklah menantang. Akan lebih menantang ketika kita memasukan batu dalam sebuah proses -UKSW- kemudian keluar dalam bentuk berlian, dan ketika kita memasukan berluan maka akan dihasilkan berlian yang lebih mengkilap. Begitu analogi yang digunakan Pak Ferdi untuk menjelaskan mengenai penjaminan mutu lulusan berorientasi proses.

***

Sementara itu di sisi lain, Dr. Sutarto Wijono, MA -staf pengajar Fakultas Psikologi UKSW- sedang terfokus untuk mengembangkan soft skill. Baik hard skill (pengetahuan) ataupun soft skill sama-sama mengisi dan membentuk lulusan kita. Soft skill sendiri susah untuk didefinisikan, namun demikian isi dari soft skill dapat diidentifikasi sebagai kemampuan untuk berperilaku dengan baik (attitude), misalnya yang terkait dengan kemampuan untuk bersikap tegas, berpegang pada prinsip, kedisiplinan tinggi dan bertanggungjawab.

Sebenarnya soft skill itu sendiri seharusnya sudah tercakup dalam proses belajar mengajar, namun kadangkala karena terbatasnya waktu dan kemampuan dosen menyebabkan soft skill sedikit terabaikan. “Jika dengan waktu proses belajar mengajar yang cukup saja tidak ada jaminan soft skill tersebut dapat dikembangkan dengan baik pada mahasiswa, apalagi dengan waktu yang terbatas”, begitu tutur Pak Tarto. Dengan soft skill mahasiswa tidak hanya dicetak sebagai pencari kerja yang produktif, tetapi juga mampu untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Lemahnya soft skill pada lulusan UKSW bukan hanya karena proses yang ada di UKSW yang bermasalah, namun merupakan akumulasi dari proses pendidikan yang dimulai sejak TK yang ternyata memang tidak mendukung pada pengembangan soft skill, dan lebih banyak pada pengembangan hard skill. Praktek pengembangan soft skill yang dirancang dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Misalnya salah satu parameternya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan bernegosiasi, melalui pelatihan soft skill maka diharapkan peserta benar-benar melakukan praktek berkomunikasi dan bernegosiasi, bukan hanya tahu tentang teori berkomunikasi dan bernegosiasi.

Secara akademis sebenarnya kualitas lulusan kita tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi lain, namun demikian soft skill-nya masih rendah, misalnya sebelum kerja ada masa training, terkadang lulusan kita merasa tertekan, tidak tahan banting sehingga tidak mampu bersaing. Diharapkan jika pengembangan soft skill benar-benar menjadi tanggungjawab bersama, maka pelatihan soft skill yang diselenggarakan secara khusus menjadi bersifat menajamkan soft skill yang sudah diproses selama belajar mengajar. Hal ini harusnya menjadi kabar gembira bagai mahasiswa UKSW, karena ada kejelasan nasib dan keyakinan setelah lulus dari UKSW, namun demikian kembali lagi karena hal ini menjadi tanggungjawab bersama berarti bahwa kesadaran dan niat mahasiswa itu sendiri menjadi kunci. Jika pelatihan ini diselenggarakan tiap tahunnya, tidak menjamin bahwa mahasiswa tertarik untuk mengikuti pelatihan. Satu-satunya cara adalah dengan mewajibkan, itupun juga tidak bagus karena mahasiswa merasa terpaksa. Sepertinya proses pendidikan bagaimanapun bentuknya tidak ada yang benar-benar mengenakkan, ketika kita memasuki UKSW berarti kita siap untuk “diproses”, kalau mau enak-enakan yang masa depan kita yang jadi taruhan.

***

Pada lain kesempatan, Rektor UKSW,  Prof. Dr. Kris H. Timotius mengatakan bahwa, lulusan kita yang bercirikan creative minority tersebut harus unggul secra akademis, berperilaku yang baik juga mempunyai jiwa kepemimpinan. Oleh karena itu melalui WR III, Rektor membentuk tim untuk mendesain pola pengembangan kepemimpinan yang ada di UKSW.

Sampai sejauh ini meskipun sudah ada SPPM (Skenario Pola Pengembangan Mahasiswa), pola pengembangan yang ada di UKSW masih belum terarah dan terintegrasi dengan baik, selain itu pelaksanaan SPPM tidak dipahami oleh semua staf pengajar di UKSW, sehingga seolah-olah SPPM hanya milik Lembaga Kemahasiswaan. Dalam rangka mengintegrasikan pengembangan kepemimpinan tersebut tim yang dibentuk oleh WR III bekerjasama dengan LK telah berhasil mendesain kurikulum pengembangan kepemimpinan. Dengan demikian tanggungjawab mengenai kualitas lulusan merupakan tanggungjawab bersama, termasuk LK. Namun demikian LK bukan menjadi penentu segala-galanya atas aktifitas dan kegiatan mahasiswa, LK turut mewarnai lulusannya melalui berbagai kegiatan yang terintegrasikan dengan universitas.

Sebagai langkah awal dari WR III dalam rangka melaksanakan program pengembangan tersebut maka telah diselenggarakan “Training of Trainers” pada 17-19 Maret 2007 yang bekerjasama dengan Yayasan Bina Dharma. Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas staf pengajar UKSW dan mahasiswa tahap akhir. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat dihasilkan trainers atau para fasilitator pelatihan kepemimpinan yang handal. Terutama untuk pengembangan kepemimpinan tahap I yang rencananya akan diselenggarakan untuk semua mahasiswa baru pada saat pra kuliah. Untuk tahap II dan tahap III sudah dimulai pada awal Februari 2007, dimana tahap II ditangani oleh SEMA Fakultas sedangkan tahap III oleh SMU. Tahap IV, kembali akan ditangani oleh WR III.

Masing-masing tahap tersebut saling melengkapi satu dengan yang lain, meskipun dalam pelaksanannya ditangani oleh berbagai pihak. Secara sederhana pelatihan tahap I difokuskan kepada  upaya pengenalan dan pengembaangan diri peserta. Tahap II difokuskan untuk kemampuan Leading Self dan Leading Others. Tahap III difokuskan pada Leading Organization dan tahap IV adalah Leading Society.

Pengembangan kepemimpinan yang terintegrasi tersebut bukan bermaksud untuk menghilangkan warna-warna Fakultas atau penyerobotan kegiatan LK. Pengembangan ini harus lebih dimaknai menjadi tanggungjawab bersama sebagai satu Universitas dalam rangka mencetak lulusan yang bercirikan crative minority. Meskipun sebagai tanggungjawab bersama, Rektor sebagai pejabat tertinggi di kampus mempunyai kewenangan untuk mengerahkan segenap sumberdaya yang ada, tentunya dengan kesadaran bahwa masing-masing unit yang ada merupakan satu kesatuan. Untuk itu dibutuhkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa segenap pimpinan baik di Fakultas ataupun Universitas saling bahu-membahu menjadi “kanca ing gawe” (rekan kerja) baik kepada sesama staf ataupun kepada Tuhan. (SA- Slamet Haryono).

Advertisements

Kristen Sungguhan Takut akan Tuhan atau Takut Feng Shui?

Hadirnya pancuran batu hitam tepat di depan pintu masuk GAP (Gedung Admisitrasi Pusat),  disinyalir sebagai icon pengakuan terhadap praktek feng shui di UKSW. Belakangan ini pembicaraan mengenai feng shui menjadi begitu hangat setelah adanya aksi pengunduran diri dari beberapa staf pengajar di Fakultas Teologi untuk tidak lagi membantu  melayani di campus ministry karena UKSW dianggap tidak hanya mendasarkan diri pada nilai-nilai kristiani tapi juga feng shui. Berikut hasil penelusuran SA.


(SA- Kamis, 15 Maret)- Mengawali investigasi, SA bergegas menemui Pdt. I Wayan Damayana, STh., M.Si sebagai ketua campus ministry. Di sela-sela kesibukannya Pak Wayan -sebutan akrab beliau- dengan ramah menyambut dengan hangat kehadiran tim SA di ruang kerjanya, meskipun mendadak dan tidak ada janji ketemu sebelumnya. Mengenai feng shui sendiri, beliau sendiri mengaku tidak tahu persis apa sebenarnya feng shui sehingga ketika ada isu mengenai praktek feng shui di UKSW beliau tidak dapat mengatakan memang benar ada ataupun  tidak ada. Beliau menyarankan agar SA melakukan penelusuran kepada pihak-pihak yang mengidentifikasi adanya praktek feng shui di UKSW, karena beliau sendiri tidak mengetahui dengan jelas mengenai batasan tindakan atau keberadaan benda-benda yang dianggap menggunakan prinsip-prinsip feng shui.

Disinggung mengenai pancuran batu hitam beliau menanggapi bahwa keberadaannya lebih kepada nilai keindahan, hal ini bukanlah sesuatu yang asing mengingat beliau berasal dari Bali sehingga jika gedung gereja di bali lebih tampak seperti pura merupakan hal yang biasa. Bukan merupakan hal yang prinsip mengenai keberadaan batu tersebut, sebagai unit penunjang campus ministry akan tetap melakukan pelayanannya, bahkan kalaupun isu itu benar tentunya justru seharusnya menjadikan pelayanannya lebih serius. Beliau menegaskan, karena UKSW adalah Universitas Kristen maka sudah menjadi keharusan bagi UKSW dalam rangka menjalankan kebijakannya harus berdasarkan nilai-nilai kristiani, namun demikian dalam rangka menafsirkan nilai-nilai kristiani tersebut tidak akan pernah lepas dari perspektif budaya. Keberadaan benda-benda yang ada disekeliling kita menjadi dikultuskan atau mengandung magis tergantung pada sikap dan cara pandang kita terhadap benda tersebut.

Kemudian SA melakukan konfirmasi kepada Rektor UKSW, Prof. Dr. Kris H. Timotius berkenaan dengan adanya isu feng shui di UKSW. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa pimpinan UKSW tidak pernah membuat kebijakan secara lembaga dengan menggunakan prisnsip-prinsip feng shui. Keberadaan batu hitam yang ada di pintu masuk GAP bukan sengaja dihadirkan dalam rangka prktek feng shui tapi sebatas untuk keindahan, karena barang tersebut merupakan hadiah dari salah satu SMA di Bali ketika ada kunjungan dari pihak kampus. Di lain pihak tudingan mengenai penggunaan prinsip-prinsip feng shui oleh pimpinan UKSW bukan tanpa alasan mengingat salah satu staf di GAP (Linda Kusuma Effendy, SE., MM) merupakan pakar dalam hal feng shui, namun sangat disayangkan ketika SA tidak dapat menemui beliau, karena kesibukannya. Hal ini bukan berarti bahwa beliau tidak mau ditemui, karena beliau justru dengan sangat senang jika pembicaraan mengenai feng shui dapat dilakukan dalam seminar sehingga akan lebih akademis.

Mariska Lauterboom, S.Si-Teol -salah satu staf pengajar di Fakultas Teologi yang mengundurkan diri dari campus ministry­– sangat menyayangkan akan praktek feng shui di kampus, dicontohkan dengan adanya batu hitam dan penambahan sekat di depan tangga GAP merupakan salah satu praktek penerapan prinsip-prinsip feng shui yang mempunyai tujuan tertentu bukan hanya karena alasan keindahan semata. Beliau juga mendapatkan pengaduan akan adanya staf di GAP yang merasa kurang nyaman dengan adanya batu hitam tersebut, bahkan ada beberapa mahasiswa yang juga mengadu karena tidak diperkenankan menyetuh batu tersebut oleh petugas Satpam di GAP, sehingga batu tersebut memang benar-benar terkesan dikultuskan.

Di lain pihak, Sumardi yang merupakan kepala Kamtibpus UKSW mengaku tidak menerima instruksi dari pimpinan UKSW perihal larangan untuk menyentuh batu hitam tersebut, sehingga beliau tidak menginstruksikan anggotanya untuk memperingatkan orang yang hendak menyetuh batu tersebut. Menyinggung mengenai kenyamanan kerja, sampai sejauh ini belum ada yang mengadu ke bagian Kamtibpus, jadi ya nyaman-nyaman saja, bahkan batu tersebut lebih terkesan sebagai topik pembicaraan yang lucu, karena bentuknya yang aneh mirip alat kelamin laki-laki, tutur Pak Mardi sambil tertawa.

Lebih lanjut Mariska menegaskan bahwa kita tidak semestinya menduakan Tuhan dengan mengharapkan berkat dan keberhasilan dengan batu atau penataan ruang dengan prinsip feng shui. Ketika SA mengaitkan dengan konteks pluralitas, beliau berkomentar tidak ada masalah dengan adanya keberagaman suku, agama dan ras sejauh tidak mengganggu iman kita. Sebagai contoh adalah disediakannya ruang untuk sholat di kampus bagi yang muslim, bahkan itu justru semakin menguatkan iman kita lain halnya dengan keberadaan batu hitam yang justru meresahkan civitas.

Kristen sungguhan, apakah kekristenan yang kita jalankan sampai sejauh ini merupakan kristen sungguhan? Kita harus berani jujur pada khalayak, karena akan sangat tergantung kita menafsirkan kekristenan itu. Begitu tutur Drs. Tri Kadarsilo -seorang staf pengajar FISIPOL- menyikapi tentang kekristenan dan budaya. Lebih lanjut beliau menambahkan, agama-agama dalam prakteknya selalu hadir  dalam bingkai budaya, lain halnya dalam hal dunia spiritualitas khususnya spiritualitas kristen dengan dasar kasihnya. Menurutnya feng shui merupakan ilmu hitung yang bertitik tolak pada keselarasan alam mengingat asalnya dari budaya timur yang cenderung menganut paham ecosentris, tidak seperti agama barat yang teosentris. Karena itu merupakan ilmu hitung, maka tidaklah jauh berbeda dengan keberadaan suatu program aplikasi -excel atau SPSS- pada komputer. Apakah ada yang masalah dengan menggunakan atau tidak menggunakan feng shui, karena saya –Drs. Tri Kadarsilo- menghormati multikultural, jadi ya terserah saja.

Menjadi kristen ketika di gereja, ketika di luar saya –Drs. Tri Kadarsilo-  benar-benar menjadi orang Jawa yang lebih mengutamakan hidup bebrayan(bersama), saya tidak bisa mengatakan ini lebih benar atau itu salah karena ketika kita menganggap hal itu salah juga sudah merupakan suatu kesalahan karena kebenaran yang mutlak tidak akan pernah di temui di Bumi. Kebenaran yang ada akan selalu berada dalam bingkai -budaya, agama- sehingga kebenaran tersebut merupakan perspektif, terutama yang kuat ataupun yang berkuasa. Mempelajari dan mempraktekkan agama menggunakan nalar, dalam titik tertentu nalar akan mandheg (berhenti), berbeda dengan pengalaman iman seseorang yang tidak terbatas pada atribut-atribut agama. Menurut beliau kekristenan Satya Wacana memang sudah luntur sebelum adanya isu feng shui, kekristenan itu harus dimulai dengan orang peduli orang. Apakah kita -UKSW- memang sudah benar-benar secara serius peduli dengan masalah-masalah di Salatiga?

Prinsip kasih itu berarti menerima realitas apa adanya, sehingga tidak perlu ada rasa takut, kembali pada budi-pekerti bukan praktek-praktek keagamaan. Begitu tutur pak Tri menutup wawancara dengan SA.

Kita dapat bernafas dengan lega, ketika kita kembali membaca tanggapan Pak Noto (Rektor pertama UKSW) tentang perjumpaan iman kristen dan budaya sebagai berikut :

“…hubungan antara iman kristen dan kebudayaan adalah sebagai berikut: Iman kristen menyebabkan orang kristen menciptakan kembali dan mentransformasikan kebudayaan; oleh karena iman kristen manusia didorong untuk membudaya. Membudaya mencakup memberi direksi (redireksi) kepada kebudayaan, memurnikan kebudayaan (sanktifikasi) dan mengembangkan kebudayaan.

…kebudayaan itu merupakan kegiatan manusia (sebagai gambar Allah) untuk mengolah alam.

…kebudayaan dipengaruhi oleh pandangan manusia terhadap alam. Bila pandangan manusia terhadap alam itu adalah menyesuaikan diri terhadap alam maka timbul kebudayaan yang serasi dengan alam. Bila pandangan manusia terhadap alam adalah untuk menguasai alam maka akan timbul kebudayaan yang menguasai alam…”

Sampai di sini kita harus berani introspeksi diri. Bagaimana kebudayaan barat -tempat lahirnya agama-agama Teosentris- dengan revolusi industrinya? Bagaimana pula budaya timur yang kental dengan nuansa ekosentris? (SA- Slamet Haryono)