Monthly Archives: January 2010

Menimba Pengalaman dari Desa-desa dalam Mengembangkan Sanggar Kreativitas Anak sebagai Upaya Pelestarian Budaya Tradisional

Rembang (16/1/2010), Pendopo rumah dinas Bupati.  Haru bercampur bangga, ekspresi dari Ibu Ramini dan Maryati ketika menyaksikan anak-anak yang diasuhnya di Sanggar Kreatifitas Anak (SKA) Desa Jeruk menampilkan tarian tradisional dan modern di depan Ibu Bupati Umi Jazilah dan tamu undangan beserta perserta Festival Budaya Anak Rembang. Betapa tidak, anak-anak yang pada mulanya hanya belajar membatik kini mereka juga bisa menari. Sesekali terdengar bisikan dari penonton yang bertanya-tanya siapakah yang mengajari mereka menari? Pastilah seorang guru tari yang hebat? Darimana mereka mendapatkan uang untuk membayar guru tari itu?

Ramini

Ibu Ramini dan Maryati menjadi saksi betapa besar perjuangan anak-anak sanggar. Dengan mata sedikit berkaca-kaca karena rasa yang tidak terungkapkan, mungkin Ramini  dan Maryati akan menjawab “ Tidak. Tidak ada guru tari yang mengajari mereka, mereka belajar sendiri”.  Sebenarnya pementasan itu bukanlah yang pertama kali, sebelumnya mereka juga sudah tampil di acara Lomba Kelompok Sadar Wisata (29/8/2009), juga di tempat yang sama. Pementasan perdana mereka adalah saat perayaan 17 Agustus 2009 di dusun Gading, desa Jeruk.

Itulah sedikit potret semangat anak-anak yang masih mau belajar untuk melestarikan budaya tradisional. Bukan semata-mata hasil jadi yang terlihat, tetapi proses bagaimana mereka belajar untuk melihat kenyataan dan mecari jalan keluar dengan kreatifitas dan potensi yang ada di sekitar mereka. Mereka sadar betul bahwa untuk menghadirkan guru tari akan dibutuhkan dana, yang meskipun tidak terlalu besar tetap saja mereka memperhitungkannya. “Kalau kami bisa belajar sendiri tentunya uangnya bisa dtabung untuk menyewa pakaian dan rias saat pentas nanti” Demikian tanggapan Dwi Anggraeni, salah satu anak anggota SKA gading yang ikut menari saat dimintai pendapatnya tentang mengapa mereka bisa belajar menari sendiri . Barangkali ada baiknya anak-anak mengembangkan kepekaan sosial melalui belajar hidup bersama di sanggar, dari pada menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi atau bermain playstation.

Orang tua barangkali akan menganggap tidak ada bedanya, apakah anak-anak bermain di SKA atau menghabiskan waktu dengan bermain playstation. Dalam kondisi demikian, tentunya orang tua dan pihak pemerintah tidak dapat lepas tangan. Sudah menjadi kewajiban orang tua dan pemerintah mendukung anak-anak untuk mengembangkan kemampuan belajar hidup bersama.

Pengajuan Biaya Operasional Sanggar Kreativitas Anak oleh Desa Warugunung dan Tuyuhan

Dukungan dari pihak pemerintah desa sudah mulai nampak di Desa Warugunung dan Tuyuhan. Mereka mengusulkan dana biaya operasional SKA batik SD di 2 lokasi. Terbukti usulan program tersebut masih menjadi program yang diusung melalui Dinas Pendidikan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang tahun 2010. Keterbatasan anggaran pemerintah Kabupaten Rembang, mungkin menjadi alasan bahwa pelestarian dan pengembangan budaya masih belum menjadi prioritas, sehingga program yang usulkan tidak berhasil masuk dalam APBD Kabupaten Rembang tahun 2010. Setidaknya komitmen pihak pemerintah Desa Warugunung dan Tuyuhan sudah terlihat dari usaha mereka yang mengusulkan program tersebut sejak di  Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa).

Perihal ketidakberhasilan tersebut, Suharlin (Kepala Desa Warugunung) tidak patah semangat, dia akan terus mengusulkannya.  “Jika lewat APBD tidak tembus, maka kami akan terus mengusahakan dana dari sumber yang lain. Sudah menjadi tanggungjawab dari pihak desa dan orang tua, untuk turut melestarikan budaya tradisional“ Demikian tanggapan Suharlin.

Ketika ditanya mengenai alasan mengapa penganggaran biaya operasional SKA tersebut diusulkan melalui APBD dan bukan ADD (Alokasi Dana Desa), Suharlin menjelaskan bahwa untuk menggunakan ADD pertanggungjawabannya repot. Biasanya masyarakat sudah punya usulan bahwa penggunaan dana ADD tersebut untuk pembangunan fasilitas fisik, lagipula pertanggungjawabannya lebih mudah.

Sementara itu di Desa Tuyuhan, meski usulan untuk biaya operasional SKA bernasib sama dengan Desa Warugunung, Suparno (Kepala Desa Tuyuhan) rela mengeluarkan uang pribadinya untuk membuatkan almari buku. Almari tersebut digunakan untuk meletakkan buku-buku bacaan hasil sumbangan dari berbagai pihak untuk taman bacaan anak-anak sanggar. Meskipun bukunya masih sedikit, dia sengaja memesan almari yang agak besar “Nanti akan penuh sendiri, akan ada yang  ikut nyumbang buku yang penting kita siapkan tempatnya dulu” demikian Suparno menambahkan dengan penuh keyakinan. Perlu dicatat bahwa SKA di Desa  Tuyuhan selain mereka belajar membatik ada juga taman bacaan, dan bahkan sekarang mereka juga belajar menari.

Ibu Kusniyah, istri Suparno dengan sangat antusias mendukung suami dan anak-anak untuk terus mengembangkan kreatifitas mereka. Semangat dan dedikasinya untuk membangun desa patut mendapat acungan jempol. Diam-diam dia sudah sering mengajukan proposal ke berbagai dinas agar mendapatkan bantuan dan pelatihan untuk mengembangkan kreatifitas ataupun ketrampilan kepada warganya. Namun demikain pelatihan ataupun bantuan dana yang diharapkan masih sangat minim. Karena semangatnya yang pantang menyerah, Kusniyah berhasil memikat  Kuntati, tutornya di Kejar Paket C yang juga seorang guru tari, untuk datang ke desanya. Bukan masalah kedatangannya saja, namun melihat semangat Ibu Kustiyah dan anak-anak di Desa Tuyuhan untuk belajar menari, rupanya Kuntati tergerak untuk melatih anak-anak menari meski dia tidak mendapatkan bayaran. Sungguh luar biasa, di jaman seperti sekarang yang serba materialis masih ada juga orang-orang yang berhati mulia mau membagikan ilmu dan ketrampilannnya tanpa pamrih.

Tantangan bagi Desa Karaskepoh dan Jeruk dalam Memajukan Sanggar Kreatifitas Anak

Lain cerita di Desa Karaskepoh, meski pada tahun anggaran 2010 tidak mengajukan anggaran untuk penyelenggaraan SKA, namun untuk tahun anggaran 2011 mereka akan mengusulkan pembangunan gedung SKA melalui program PNPM Mandiri Perdesaan. Komitmen itu disampaikan oleh Ibu Siti Sri Muniyati, Kepala Desa Karaskepoh yang juga pengasuh sanggar. Dia Berharap melalui pendirian gedung SKA dapat menambah semangat anak-anak untuk belajar mengembangkan diri, bukan hanya membatik tapi juga menari ataupun ketrampilan seperti di SKA lainnya. Maklum sampai sejauh ini kegiatan anak-anak SKA  masih dilaksanakan di teras rumahnya yang sempit, itupun kalau tidak hujan.

Rencananya pembangunan gedung SKA itu akan diintegrasikan dengan kegiatan perekonomian desa, yaitu selain untuk aktivitas SKA dapat juga dipakai sebagai tempat penyelenggaraan bazar tahunan atau musiman di desa. Dengan demikian anak-anak SKA dapat lebih peka untuk melihat potensi usaha di desa “ Bukan hanya sebagai pembatik, mereka juga harus belajar menjadi pengusaha batik” demikian Siti menambahkan. Hasil kerajinan dari anak-anak SKA dapat juga ikut dipamerkan dalam bazar tersebut, dengan harapan akan semakin menambah semangat anak-anak ketika hasil karyanya juga dihargai. Meskipun itu baru rencana, tentunya bukan hal yang mudah bagi Ibu Siti untuk membuka wawasan warga desanya agar secara sadar dan demokratis mengusulkan pembanguan gedung SKA itu melalui program PNPM Mandiri Perdesaan.

Perjuangan yang juga tidak mudah dihadapi oleh Juweni, Kepala Desa Jeruk. Dia mengakui bahwa dinamika masyarakat Desa Jeruk jauh lebih kompleks dibandingkan desa-desa lain yang mempunyai sanggar. Tidak mudah bagi dia untuk mengalokasikan anggaran untuk kegiatan sanggar, mengingat desa sendiri masih punya PR (Pekerjaan Rumah) yang besar, yaitu penyelesaian pembangunan Masjid dan gapura desa. Dengan besar hati Juweni senatiasa memberikan kesempatan bagi warga masyarakat dan pengasuh SKA untuk berpartisipasi dalam Musrenbangdes. Juweni secara khusus mengundang pengasuh SKA untuk menyampaikan secara langsung di dalam Musrenbangdes. Selaku Kepala Desa, Juweni sangat mendukung keberadaan SKA, namun demikian dukungan dan kesadaran masyarakat Desa Jeruk juga akan sangat menentukan perkembangan SKA itu sendiri. Dia juga berharap agar usulan pendirian gedung SKA di dusun Gading melalui program PNPM Mandiri Perdesaan dapat terwujud.

Belajar dari Pengalaman

Selain ke empat desa tersebut, SKA kini juga mulai di rintis di Desa Doropayung. Sebagai SKA yang paling muda tentunya tidak berarti yang terbelakang. Diharapkan pihak pemerintah desa dapat lebih tanggap untuk mengembangkan SKA melalui penyadaran terhadap orang tua serta dukungan dana operasional. Belajar dari desa-desa tersebut di atas, pengembangan SKA dapat diusulkan melalui Musrenbangdes. Adapun pengalokasian dananya dapat melalui APBD, ADD ataupun dana kekayaan desa yang diperoleh dari PADes (Pendapatan Asli Desa). Tidak menutup kemungkinan pengembangan SKA dengan menggunakan dana hibah, seperti PNPM Mandiri Perdesaan. Namun untuk menggunakan dana tersebut tentunya harus diintegrasikan dengan kebutuhan desa yang lebih prinsip terkait dengan peningkatan ekonomi ataupun pendidikan yang sifatnya menunjang kebutuhan masyarakat desa.

Pengusulan dana melalui APBD Kabupaten, bisa menjadi alternatif lain. Meskipun kemungkinannya kecil, namun harus dikemas sedemikian rupa sehingga dapat terakomodasi oleh SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) terkait. Misalnya pengembangan SKA jika akan mengggandeng Disperindakop UMKM (Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah) tentunya harus terintegrasi dengan kelompok usaha kecil atau terkait dengan pengembangan perekonomian yang sudah ada. Seperti keberadaan SKA Jeruk dengan KUB Srikandi Jeruk.

Pengembangan SKA ke arah peningkatan ketrampilan, pelestarian budaya dan kesadaran akan hak-hak anak dapat menggandeng Disbudparpora (Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga), BPMPKB (Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana) melalui bidang perlindungan anak, atau bisa dengan Dinas Pendidikan melalui Bidang Pendidikan Luar Sekolah. Pengusulan program dari tingkat desa tersebut tentunya juga diimbangi oleh perhatian dan komitmen pemeritah dalam melestarikan budaya tradisional melalui SKPD terkait.

Pemanfaatan dana ADD sebenarnya cukup potensial. Dengan tetap mengacu pada tujuan peruntukan ADD, maka keberadaan anak dalam SKA dapat disejajarkan dengan PKK ataupun Karang Taruna. Perlu disadari bersama, bahwa minimnya perhatian kepada anak menyebabkan mereka kurang terlatih untuk mengembangkan kemampuan hidup dan kepekaan sosial, sehingga jangan heran kalau pada tahapan berikutnya yaitu saat dewasa mereka menjadi enggan untuk berpatisipasi dalam kegiatan masyarakat. Pendapat ini bisa salah, namun dapat dibuktikan melalui : seberapa banyak pemuda yang aktif terlibat dalam Karang Taruna? Atau seberapa banyak Karang Taruna yang aktif dari seluruh desa yang ada? Usia emas masa kanak-kanak dan remaja sudah selayaknya mendapatkan perhatian yang serius, sebagai kunci kesusksesan pembangunan. Sebagaimana pendapat banyak ahli pendidikan bahwa, kepribadian dan kualitas seseorang ditentukan pada masa kanak-kanak dan remaja, setelah itu hanya tinggal melanjutkan dan mengembangkan yang sudah ada.

Selain sumber dana tersebut, pemerintah desa dapat juga menggunakan dana desa yang  diperoleh dari Pendapatan Asli Desa, baik dari laba usaha yang diselenggarakan desa ataupun hasil pelelangan aset desa. Besarnya dukungan pemerintah tidak selalu tercermin dari besarnya dana yang disediakan, seberapapun dana yang dialokasikan untuk pelestarian budaya dan pendidikan anak tentunya mencerminkan kepedulian terhadap kelangsungan desa dan keberhasilan pembangunan (Slamet Haryono).

Advertisements

Sanggar Kreatifitas, Setelah Batik Selanjutnya Apa Lagi?

Pemandangan tidak seperti biasanya akan kita temukan di bengkel kerja KUB  (Kelompok Usaha Bersama) Jeruk, jika kita mengunjunginya setiap hari Minggu jam 09.00 WIB. Kalau di hari biasanya kita akan menjumpai ibu-ibu yang sedang membatik, namun kali ini kita dapat menyaksikan anak-anak kecil yang sedang berlatih membatik. Di Desa Jeruk terdapat dua kelompok Sanggar, selain yang di KUB juga ada pula kelompok yang di Dusun Gading, bertempat di rumah Ibu Maryati. Tidak kurang dari  6 anak setiap minggunya, mereka senantiasa aktif untuk mengikuti kegiatan di sanggar batik. Pemandangan serupa juga akan kita temukan di Tuyuhan, Warugunung dan Karaskepoh. Di Desa Tuyuhan dilaksanakan setiap hari Jumat jam 12.30 WIB bertempat di rumah Bapak Suparno, Kepala Desa Tuyuhan. Untuk Warugunung bertempat di  rumah Ibu Juniah, dilaksanakan setiap hari Minggu jam 09.00 WIB. Sedangkan untuk Karaskepoh seminggu dilaksanakan dua kali yaitu pada hari Minggu jam 10.00 WIB dan Jumat 12.30 WIB bertempat di rumah Ibu Siti.

Kegiatan sanggar batik tersebut merupakan hasil dari kerjasama antara pihak sekolah, desa dan masyarakat. Keterlibatan sekolah, dalam hal ini adalah Sekolah Dasar setempat mengingat para peserta kegiatan sanggar merupakan siswa usia pendidikan SD. Oleh karena itu pengarahan dan dukungan motivasi kepada peserta sanggar serta kerjsama antara pihak sekolah dan sanggar menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sanggar. “Biar bagaimanapun, kalau Bapak/Ibu guru yang memberikan arahan tentunya para murid akan termotivasi untuk ikut kegiatan di sanggar” demikian penuturan Juniah, salah seorang pengasuh sanggar batik di Warugunung.

Peran masyarakat dan kepedulian masyarakat menjadi modal utama untuk pembangunan. Di tengah gelombang merosotnya moralitas dan mentalitas bangsa ini, keberadaan sanggar batik diharapkan mampu menanamkan spirit untuk melestarikan kebudayaan lokal, mengembangkan etos kerja yang tinggi, membangun rasa kepedulian sosial dan penghargaan terhadap sesama. Setidaknya sepirit itu nampak dari kiprah para pengasuh sanggar yang meski tidak diberi imbalan, mereka dengan penuh perhatian memberikan ilmunya dalam membatik kepada anak-anak peserta sanggar. Maryati, dia mengakui kalau pengabdiannnya dalam mengasuh sanggar batik tidak mengharapkan imbalan apa-apa, dia hanya ingin melihat desanya menjadi lebih maju, “ Kalau bukan kita yang mau mengajarkan batik kepada anak-anak, siapakah yang akan melestarikan batik?” demikian dia menambahkan.  Semangat pengapdiannya itu juga menular pada kedua anaknya, Siti Khanifah dan Dwi Anggraeni.  Siti Khanifah yang sekarang duduk di kelas 2 SMA sudah mula belajar untuk mengembangkan pola batik, dan bahkan bersama adiknya (Dwi Anggraeni) dan anak-anak sanggar Dusun Gading juga mulai untuk mengolah kertas bekas menjadi kerajinan.

Memang kerajinan yang dibuat baru tahap percobaan, namun dari semua sanggar yang ada nampaknya sanggar Dusun Gading yang paling sigap untuk  berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Bahkan belakangan mereka juga sudah mulai belajar tari batik, mereka tidak menghadirkan pelatih tari, mereka yakin bisa belajar sendiri hanya dengan melihat contoh tarian itu di VCD. Hal yang sama dilakukan baik oleh sanggar KUB Jeruk ataupun sanggar Gading, mereka sudah belajar untuk membuat film dokumenter yang alur cerita dan pengambilan gambarnya dilakukan oleh mereka sendiri.

Metamorfosis Sanggar

Belajar dari contoh sanggar Jeruk dan Gading nampaknya terjadi metamormosis yang tadinya hanya sanggar batik, juga sudah mulai masuk ke seni tari, kerajinan tangan dan sinematografi. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa bagi generasi muda, yang dengan tulus melestarikan kebudayaan nusantara namun tetap membuka diri untuk ruang kreatifitas dan inovasi. Bagi mereka menjaga kebudayaan nusantara bukan berarti mereka tidak bisa belajar sesuatu yang baru. Nampaknya mereka sudah ketagihan untuk terus menggali sesuati yang baru dengan modal kreatifitas yang mereka miliki.

Kontribusi pihak desa sangatlah diperlukan untuk menunjang keberhasilan sekaligus kelangsungan sanggar batik. Sesungguhnya sanggar batik ini merupakan purwarupa dari aktivitas kelompok sosial (social group activity), dengan demikian sepatutnyalah ditempakan sebagai potensi dan kekayaan desa bukan menjadi beban desa. Dalam konteks yang lebih luas model social group activity ini dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari batik, tari, drama, musik dan pengembangan keahlian serta pengetahuan lainnya. Begitu juga segmentasi umur dan jenis kelamin, bisa dikembangkan ke usia remaja, dewasa dan bahkan juga mereka yang sudah berumah tangga, baik laki-laki atau perempuan. Tentunya jika mengambil segmen usia yang lebih matang kegiatannnya lebih diarahkan untuk kegiatan ekonomi produktif atau penunjang ekonomi produktif.

Ketika desa mulai menangkap akan hal ini, tentunya ada harapan untuk dapat menggerakan generasi muda setempat, baik untuk pelestarian budaya ataupun ekonomi produktif. Anggap saja aktifitas anak-anak sanggar batik yang memanfaatkan limbah kertas untuk bahan kerajinan dapat ditangkap oleh generasi di atasnya yang belum mempunyai pekerjaan, tentunya hal ini dapat menciptakan peluang usaha baru. Kemungkinan besar tingginya angka pengangguran generasi muda disebabkan karena mereka tidak dapat melihat dan mengembangkan usaha baru. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka dapat belajar menangkap peluang usaha baru? Karena belum ada sekolah pengusaha ataupun sekolah kreatifitas. Melalui bentuk-bentuk seperti sanggar batik inilah mulai sejak kecil mereka bersempatan untuk belajar mengembangkan kreatifitas. Ketika mereka sudah terbiasa untuk berpikir dan bertindak kreatif, bisa dibayangkan berapa banyak generasi muda ke depan yang akan mampu menjadi pengusaha dan memajukan desa mereka.

Potensi yang dimiliki oleh desa adalah sumberdaya manusianya, terlepas desa tersebut mempunyai atau tidak sumberdaya alam yang melimpah ataupun potensi wisata. Ketika pada satu sisi terdapat sekelompok generasi muda desa  yang mau mengembangkan budaya, dan di sisi lain kelompok yang engembangkan ekonomi produktif. Maka pertemuan kedua kelompok tersebut dapat memberikan efek daya tarik tersendiri sebagai suatu sajian wisata. Sebagai contoh jika kelompok pertama mampu membuat atau memodifikasi seni tari atau kesenian setempat dan di kelompok yang lainnnya menggembangkan usaha kerajinan, maka pertemuan kedua potensi tersebut dapat menjadi magnet wisata desa.

Memang bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah untuk membangun social group activity menjadi productive group activity (aktifitas kelompok produktif), apalagi untuk tahap sekarang masih sangatlah awal sekali, baru merupakan inisiasi melalui sanggar batik. Ke depan sanggar itu sendiri tidak melulu batik dan akan berkembang sesuai dengan dinamika yang terjadi pada masing-masing desa binaan. Pada prinsipnya para peserta sanggar mampu untuk memahami potensi dirinya dan potensi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian kelak diharapkan untuk mampu meningkatkan jejaring sosial, ketrampilan dan yang terutama adalah kreatifitas yang bisa menjadi modal utama untuk menciptakan ekonomi produktif (Slamet Haryono).