Monthly Archives: October 2014

Gratitude : A Tribute to Ir. Adiloekito and Mr. William Kwan

Selesai menempuh pendidikan tinggi, dengan semangat revolusi yang menggelora rupanya menjadi beban tersendiri untuk menentukan karir. Sebagian aktifis mahasiswa kemudian melanjutkan perjuangan dengan bergabung di partai politik, sebagian lagi menutup sejarah parlemen jalanan dengan membuka lembaran baru di dunia pekerjaan profesional.

Saya enggan bergabung dengan partai politik, apapun alasannya pada pangkalnya adalah kekuasaan. Memang beberapa diantaranya mampu hadir dengan cukup bersih dan komitmen pada perjuangan, namun tidak banyak yang mengharuskan tangannya berlumuran dusta yang mengatasnamakan rakyat. Jika ingin memperjuangkan rakyat, mengapakah harus mengurangi hak-hak rakyat untuk mendapatkan fasilitas publik yang layak, rasa nyaman dalam menjalani hidup kesehariannya?

Paling nyata adalah banyaknya kasus korupsi oleh pejabat negara, belum lagi mafia proyek atas program-program yang katanya untuk rakyat. Hal ini justru semakin mengurangi hak-hak yang semestinya diterima masyarakat, sangat kontradiktif dengan upayanya yang katanya untuk rakyat.

Merantau Ke Manado

Kala itu, saya menetapkan diri untuk bergabung di salah satu NGO (non government organization) di Manado. Rupanya semangat yang tinggi tidak serta-merta kita bisa selesaikan objektif atas pekerjaan kita. Beruntunglah waktu itu saya dibimbing oleh seorang mentor yang sangat cakap untuk memancing agar potensi-potensi saya dapat mengemuka, Ir. Adiloekito.

Beliau yang seorang Insiyur mekanisasi pertanian, menghabiskan masa pengapdiannya sebagai PNS Dinas Pertanian di Sulawesi Utara. Saya tidak tau pasti alasannya, namun kemudian beliau memutuskan pensiun muda, dan mendirikan LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) Manado.  Saya hanya menduga-duga, pergulatan batin beliau yang sangat peduli dengan masyarakat kecil harus berkompromi dengan birokrasi. Barangkali jika saya seumuran beliau, saya akan menghadapi hal yang sama, tidak punya banyak pilihan.

Setiap sore, ketika waktu senggang beliau selalu memancing diskusi melalui pertanyan-pertanyaan tentang banyak hal, meminta tanggapan saya akan beberapa peristiwa politik lokal, analisa atas kebijakan-kebijakan. Lebih dari itu beliau memberikan kepercayaan penuh kepada kami, staf yang ada untuk melakukan improvisasi dalam mencapai goal. Saya belajar banyak dalam hal pembentukan tim, komposisi dan keahlian sampai dengan karakter masing-masing personil menjadi bahan perimbangan dalam membentuk tim yang solid.

Sangat disayangkan hanya sekitar satu tahun saya di LPTP Manado, waktu itu pikiran masih bercabang antara karir dan melanjutkan studi. Meski demikian, perjumpaan saya selama di Manado beserta rekan-rekan kerja yang ada mampu memberikan pondasi dalam hal pengembangan masyarakat.

Riset Aksi Sosial Ekonomi Lebih Dalam

Rupanya nasib kurang beruntung, rancana studi lanjut gagal karena tidak lolos dalam seleksi beasiswa. Kembali saya terjebak dalam pilihan-pilihan karir yang dapat menjaga idealisme ataukah berkompromi dengan keadaan. Setelah beberapa waktu menganggur, saya berkesempatan untuk bergabung dengan Institut Pluralisme Indonesia.

Waktu itu saya direkrut sebagai project officer untuk revitalisasi batik Lasem. Sekalipun latar belakang saya dari sains murni, perlahan namun pasti Pak William Kwan selaku Direktur dan juga team leader memberikan konsep-konsep riset aksi sosial ekonomi. Bersama-sama kami mendirikan, mendampingi KUB Srikandi di desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.

KUB Srikandi Jeruk merupakan pilot project dalam rangka meningkatkan ekonomi lokal melalui batik tulis. KUB Srikandi Jeruk terdiri atas ibu-ibu yang dulunya adalah pembatik, sebagian sebagai pembatik lepas. Kelompok tersebut akhirnya lahir setelah sekian kali mesti diyakinkan, mengingat mereka pada dasarnya tidak ada keahlian lain selain membatik.

Sungguh tidak mudah mendampingi proses persalinan kelompok dalam melahirkan semangat kewirausahaan yang mulanya hanya sebagai pembatik upahan. Selain  itu juga dilkukan eksperimen peningkatan kualitas batik, pewarnaan, manajamen keuangan dan pemasaran. Haru dan bangga, kini KUB telah mampu berdiri sendiri, dan bahkan anak-anak kecil kini mulai ikut menyukai membatik lagi.

Pak William Kwan yang memperoleh gelar masternya dari Vanderbilt University, tetap dengan rendah hati. Tidak pernah menunjukkan diri sebagai seorang intelektual, namun mampu menerjemahkan teori-teori ekonomi dalam praksis yang sederhana. Seorang pemimpin yang sangat perhatian terhadap anggota timnya sekaligus sebagai motivator.

Sekalipun kita punya tugas masing-masing, Pak William memberikan kesempatan bagi kami untuk mengeksplorasi diri pada bidang yang diminati, sembari mengerjakan tugas kami. Bahkan lebih jauh beliau juga memberikan wawasan dimensi resolusi konflik, dalam pilot project KUB Srikandi Jeruk.

Saya sangat bersyukur bisa belajar banyak dari  Ir. Adiloekito dan Bapak William Kwan. Mereka berdualah orang yang sangat berjasa membentuk kepribadian saya untuk secara tulus dan totalitas mengabdikan diri bagi kehidupan. Terima kasih yang tidak terkira, kepada mereka berdua para pejuang kehidupan, orang yang mampu menginspirasi orang lain untuk bersama-sama mewujudkan kehidupan yang labih baik untuk setiap orang.

Advertisements

Conflict Immunity : Dari pendekatan personal ke sistem

Niat baik kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk membangkitkan kegiatan ekonomi lokal, tidak selalu mendapat respon yang baik di masyarakat. Terlebih lagi dinamika masyarakat pasca reformasi seolah-olah menempatkan aksi demonstrasi menjadi simbol atas kebebasan tersebut. Tidak jarang perjumpaan perusahaan dengan masyarakat justru berada dalam kondisi yang tidak harmonis, konflik. Apapun penyebabnya, konflik perusahaan-masyarakat lebih banyak mendatangkan kerugian bagi kedua belah pihak daripada mendatangkan manfaat.

Belakangan, dengan semakin meningkatnya tren konflik perusahaan-masyarakat muncul pertanyaan mendasar, bagaimana strategi perusahaan menyikapi potensi konflik yang ada? Bagaimana keterlanjutan penyelesaian konflik ketika tingkat keluar-masuknya staf cukup tinggi?

Pola pendekatan umum untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut biasanya adalah dengan cara mencari orang-orang dengan kecakapan yang cukup untuk menangani hal itu. Hal ini tidak dapat disalahkan, namun demikian efektifitasnya dapat dipertanyakan. Mengapa demikian? Karena penanganan konflik bukan merupakan aksi super hero di atas panggung. Jika demikian adakah alternatif penanganan atas potensi konflik?

Membangun sistem imunitas atas konflik

Sistem imunitas seperti halnya dalam tubuh manusia, bekerja secara simultan mulai dari kontak berulang terhadap patogen, munculnya gejala demam sampai pembentukan antibodi. Setelah terbangun suatu sistem imunitas, berkali-kali kontak tarhadap patogen tidak akan memberikan efek berarti. Dalam konteks pembentukan sistem imunitas atas konflik perkebunan kelapa sawit maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

• Sudut pandang dan arah kebijakan

Pada dasarnya ketika kita menyebut suatu fenomena sebagai suatu konflik, hal ini mengindikasikan adanya keterlambatan penanganan. Sebagai pengamat, kita coba tarik waktu mundur sebelum konflik tersebut mengemuka.

Masyarakat dan perusahaan yang berkonflik mengindikasikan adanya jarak diantara keduanya. Bisa karena masyarakat menjaga jarak, bisa juga karena perusahaan tidak menempatkan masyarakat sebagai satu kesatuan harmonis dalam mewujudkan cita-cita bersama. Ketika masyarakat ditempatkan secara terpisah dengan perusahaan maka akan mempengaruhi sikap dan kebijakan perusahaan terhadap masyarakat. Konsekuensinya program-program dari perusahaan yang terkait dengan masyarakat hanya terkesan formalitas dan pemanis belaka.

Selanjutnya, arah kebijakan program yang diselenggarakan perusahaan tidak cukup hanya untuk meminimalisir resiko kerugian, namun tentunya diarahkan kepada perolehan manfaat bersama baik perusahaan maupun masyarakat.

• Transformasi diri menuju transformasi kolektif

Dalam kapasitas yang beragam, keberadaan perusahaan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan, yang juga  akan mempengaruhi dinamika sosial budayanya. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik maka arah perkembangan masyarakat menjadi tidak menentu (free fall society), sendi-sendi kehidupan kolektif yang bersandar pada identitas kultural menjadi rapuh. Dalam kondisi masyarakat yang demikian sudah dapat ditebak bagaimana jadinya jika berhadap-hadapan dengan perusahaan?

Program pembinaan generasi muda yang berakar pada penguatan karakter berdasar pada identitas kultural perlu segera dilakukan. Jika ditanya apakah hal ini pasti berhasil? Maka jawaban yang pasti bahwa dalam proses social engineering merupakan investasi jangka panjang, tidak dapat disamakan dengan perhitungan hasil pada praktik budi daya tanaman yang dapat dengan mudah diprediksi sebelumnya.

Selain pendekatan program, staf external affair tentunya juga senatiasa melakukan transformasi diri seiring perkembangan masyarakat. Keberadaannya bukan hanya sebagai karyawan perusahaan yang mengurusi masyarakat, namun lebih dari itu menjadi bagian dari masyarakat dalam melakukan transformasi masyarakat yang bersinergi dengan perusahaan.

Tidak ketinggalan juga keberadaan lembaga pemerintahan serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sudah tidak jamannya lagi saling mengungkit kelemahan dan kekurangan yang ada karena secara mendasar sama-sama memimpikan kehidupan yang lebih baik. Dengan segala potensi yang dimiliki akan jauh lebih baik berkolaborasi secara intens dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik.

• Teknologi informasi pendukung

Ketika tingkat keluar masuk staf external affair meningkat, maka perusahaan menjadi rentan akan konflik. Kecenderungan perusahaan tergantung pada kecakapan personal, sehingga ketika yang bersangkutan keluar perusahaan akan kalang kabut. Bagi staf baru yang menggantikan akan sangat kewalahan karena kurangnya informasi serta tuntutan penyelesaian target. Staf yang baru mau tidak mau harus “cuci piring” atas permasalahan yang ditinggalkan.

Perusahaan yang tangguh tentunya mendasarkan pada berlakunya sistem, tidak semata-mata tergantung pada kecakapan personal. Ketersediaan dan kemudahan akses informasi akan berpengaruh pada performa staf dalam menangani permasalahan tertentu, khususnya konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat.

Dengan berkembanganya teknologi informasi, terdapat peluang untuk diterapkan dalam penyediaan informasi lahan secara lengkap. Mulai dari historis perolehan lahan, rekaman peristiwa dapat diintegrasikan dengan peta lahan (sistem informasi geografis). Barangkali  suatu saat nanti data tersebut dapat diakses online oleh staf yang bersangkutan, sehingga tidak menututp kemungkinan ketika terjadi permasalahan klaim lahan bisa diselesaikan di lahan saat itu juga sekalipun oleh staf yang relatif baru ditempatkan.

Ketika berbicara tentang konflik perusahaan dengan masyarakat, penyelesaian secara cepat pada level  terbawah yang bisa dilakukan jauh lebih baik daripada menunda waktu sampai kepada jenjang pengambil keputusan yang lebih tinggi.

Jika sistem imunitas sudah terbentuk, maka kita tidak harus menunggu “demam” dahulu kemudian mencari obat. Ketiadaan konflik bukan berarti keberadaan staf external affair tidak lagi dibutuhkan, hal ini sebagai indikasi bahwa sistem imunitas yang ada telah bekerja dengan baik.

Penyelesaian terhadap konflik akan tetap dipengaruhi oleh kecakapan staf yang bersangkutan, namun jika tidak didukung oleh suatu sistem imunitas yang kuat maka kecakapan personal tidak dapat tampil secara maksimal. Di atas segalanya, perusahaan tentunya harus mengikuti ketaatan terhadap hukum dan aturan, serta menempatkan program pengembangan masyarakat yang diselenggarakan berdasarkan kepatutan-kepatutan yang ada.