Monthly Archives: May 2009

“ Saya Tidak Takut Persaingan”

Diana Budhi Setyaningsih, ditemui di rumahnya Desa Sepacar Tirto Pekalongan, usai memberikan pelatihan batik cap kepada 4 orang pemuda desa dari Jeruk yang dikirim IPI. Diana ( 32 tahun) panggilan akrab ibu dari dua orang anak ini terlihat sangat energik dan optimis menjawab setiap pertanyaan ketika tim IPI menanyakan perihal aktifitas serta motivasinya dalam memberikan pelatihan batik cap. Baginya yang terpenting bahwa ilmu itu akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain, terlebih lagi jika sesedikitpun ilmu dan ketrampilan yang dia berikan dapat memberikan kesempatan bagi para pemuda untuk bekerja dan menciptakan usaha sendiri. “ Saya  berani ambil resiko untuk mendobrak tradisi yang mengajarkan ketrampilan batik hanya untuk sanak-keluarganya saja. Kalau demikian terus bagaimana budaya batik itu akan terus dilestarikan”, demikian Diana menambahkan.

Diana menyadari betul dengan tindakannya itu dapat menimbulkan kecemasan diantara pengusaha batik cap umumnya, barangkali mereka akan ketakutan jikalau mereka akan mendapatkan semakin banyak pesaing bisnisnya itu. Namun ketika tim IPI menanyakan apakah dia sendiri yang juga pengusaha batik cap merasa takut akan persaingan ini? Dia menjawab dengan tegas “Saya tidak merasa takut akan persaingan dari siapapun karena hal tersebut memicu saya untuk semakin kreatif, malah saya merasa bangga bahwa ilmu yang saya miliki dapat dipelajari untuk banyak orang terlebih lagi untuk pemberdayaan masyarakat”. Hal ini memang patut disadari karena Pekalongan mempunyai banyak sekali pengusaha batik, maka iklim persaingan menjadi sangat ketat. Oleh karena itu mereka harus senantiasa melakukan inovasi baik dalam hal kain, pewarna, malam, teknik pengecapan, teknik pewarnaan, sampai pada barang jadi. Lihat saja inovasi mereka di pasar Setono tidak hanya melulu kain batik hanya untuk  pakaian, tapi juga sudah berubah menjadi aneka warna kerajinan mulai dari kain horden, tempat koran, sampai pada sarung bantal. Waow luar biasa, mungkin perlu diusulkan kalau Pekalongan bukan hanya mendapatkan julukan sebagai kota batik tapi juga kota sejuta inovasi.

Sebelum menggeluti usaha batik, Diana bekerja di Museum Batik Pekalongan. Semasa dia bekerja di musem, dia aktif untuk mempromosikan budaya dan pengenalan teknik membatik kepada masyarakat sekitar, khususnya pelajar SD sampai SMA. Begitu semangatnya dia dalam mempromosikan usahanya itu sampai-sampai dia sendiri mendatangi sekolah-sekolah dari Batang sampai Pemalang untuk mengunjungi Museum Batik Pekalongan sekaligus mengikuti pelatihan kilat. “ Sangat disayangkan jika Pekalongan yang katanya kota batik, tapi anak-anak mudanya ketika ditanya masalah batik kok tidak tahu”, demikian kenang Diana ketika masih aktif di museum dengan program paket pelatihan batik untuk pelajar 2006-2008 silam.

Totalitas Melestarikan Batik

Setelah kelahiran anaknya yang kedua Muhammad Daniel Haq tahun 2007 lalu, Diana tidak bisa optimal bekerja di museum. Diana memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya itu kemudian totalitas berkolaborasi dengan suaminya Muhammad Farid (35 tahun) untuk menjalankan usaha batiknya. Sebelumnya dia hanya membantu usaha yang dirintis bersama suaminya sejak 2001. Usaha  batiknya itu dirintis keteika dia prihatin melihat alat-alat perbatikan yang masih lengkap, tertumpuk di gudang begitu saja. Alat-alat tersebut adalah milik mertua Diana yang dahulu juga mempunyai usaha batik namun kemudian tutup akibat krisis moneter 1997. Sebenarnya Diana sendiri tidaklah terlalu mengerti seluk beluk batik, karena dia dibesarkan bukan dari keluarga dan lingkungan pembatik. Selain mewarisi peralatan batik milik mertuanya ternyata Diana juga mempelajari ketrampilan dan cara mengelola usaha batik. Pengatahuan tentang perbatikannnya  semakin mantab dia berkesempatan mempelajari sejarah dan filosofis batik sembari menjalankan pekerjaan utamanya di museum.

Diana dibesarkan dari keluarga yang bukan pembatik, dan dia sangat bersykur bisa mempunyai pengetahuan batik cap seperti sekarang ini. Dari latar belakang dan pergumulannnya ketika bekerja di museum itulah yang membuat Diana untuk lebih mengusahakan pelestarian budaya batik cap dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada generasi muda. Dia menempatkan batik cap sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakat, bukan hanya sekedar untuk mencapai kepentingan bisnis pribadi semata. Pilihannya untuk terus mengembangkan batik cap bukan tanpa alasan, meskipun secara ekonomis harus bersaing dengan batik print atau sablon. Melalui batik cap memungkinkan terserapnya jumlah tenaga kerja yang cukup banyak, dengan demikian berarti akan memberikan kontribusi enonomis yang cukup tinggi terhadap masyarakat disekitarnya. Selain itu harga dari batik cap relatif lebih terjangkau, tanpa harus menurunkan kualitas dan kandungan artistik di dalamnya. Alasan lainnnya adalah berkenaan dengan pemaknaan terhadap kain batik itu sendiri. Prasyarat mendasar dalam batik yaitu proses pelekatan malam dan dilanjutkan pewarnaan akan terus terpelihara. Dengan demikain kain yang dihasilkan memang benar-benar kain batik, bukan hanya kain print atau sablon yang bermotif seperti kain batik. Batik yang dihasilkan bukan hanya merupakan barang jadi semata, tetapi lebih merupakan proses menuangkan kreatifitas ke dalam selembar kain.

Kecintaanya terhadap budaya batik membuatnya tak ragu-ragu untuk terus melakukan inovasi dan membagi-bagikannya melalui pelatihan-pelatihan. Dia membuka diri kepada siapa saja yang punya niat sungguh-sungguh untuk mengembangkan batik cap, bisa mengikuti program pelatihan yang diselenggarakannnya, terlebih lagi jika untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat. Dia berharap bahwa orang-orang yang dilatihnya kelak  juga akan membagikan pengetahuan dan ketrampilannya kepada orang lain. Mereka yang sudah pernah dilatih diharapkan juga dapa membuka lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan taraf hidum masyarakat sekitarnya. Baginya pelestarian budaya batik dan spirit kepedulian sosial itu lebih luhur, bukan sekedar urusan bisnis belaka. (Slamet Haryono).

***

Kanuri Edisi V, 2009

Advertisements

Tikus Pithi Anata Baris : Menggali Spiritualitas Jawa Untuk Membangkitkan Kembali Spirit Gerakan Mahasiswa

“TIkus pithi anata baris” secara langsung diartikan sebagai tikus kecil yang sedang merapikan barisan. Oleh Sujiwo Tejo dimaknai sebagai adanya usaha dari kelommpok kecil masyarakat yang menggalang kekuatan untuk memberontak. Peringatan akan adanya pemberontakan rakyat kecil tersebut telah disampaikan beratus tahun yang lalu oleh Jayabaya ,raja Kediri pada abad ke XII dalam Jangka Jayabaya.

Apakah relevansi ramalan Jayabaya itu dengan gerakan mahasiswa?
Bukan merupakan suatu kebetulan jika belakangan -pasca era reformasi 1998- terjadi euforia demonstrasi sebagai bentuk ekspresi terhadap kebebasan dari penguasa yang otoritarian. Aksi-aksi demontrasi tersebut pelan pelan menggeser persepsi masyarakat mengenai mahasiswa yang tadinya dianggap sebagai kaum terdidik yang diharapkan menjadi agen perubahan menjadi hanya sekedar “tukang demo”. mungkin statemen ini terlalu berlebihan, tapi kita semua dapat memverifikasi statemen tersebut langsung ke masyarakat ” bagaimana pandangan masyarakat terhadap mahasiswa “aktivis” saat ini?

“Gerakan mahasiswa bukanlah demonstrasi, tetapi demonstrasi merupakan salah satu muara dalam gerakan mahasiswa” demikian kata Yakub Adi Krisanto, salah seorang pembicara materi gerakan mahasiswa di LMKM LK UKSW yang dipanelkan bersama Yesaya Sandang dan Penulis. Dengan demikian mahasiswa atau aktivis mahasiswa harus juga perlu mencari tahu muara gerakan mahasiswa yang lainnya. Yakub menambahkan bahwa Lembaga Kemahasiswaan cenderung melulu sebagai Lembaga Kegiatan. Dengan demikian patut dipertanyakan relevansi peranan dan fungsi LK dalam bingkai gerakan mahasiswa. Memang tidak dapat dipungkiri dalam gelimang budaya hedonistik di dalam kampus masih terdapat segelintir mahasiswa yang notabene tidak melulu fungsionaris LK yang mau terlibat dalam aksi advokasi terhadap permasalahan masyarakat di Salatiga. Kemampuan mahasiswa untuk membungkus nilai-nilai universalitas, humanisme dan keberpihakan terhadap kelompok tertindas dalam aksi-aksi yang konstruktif diperlukan kekritisan, kejejaringan,sinergi dan basis keilmuan yang kuat. Untuk itu perlu diperluas fasilitas-fasilitas ruang publik seperti kelompok-kelompok diskusi, demikian Yesaya sandang menambahkan.

Kembali ke awal, Jayabaya telah mengingatkan kita akan adanya pemberontakan rakyat kecil. Kalu memang terjadi pemberontakan tersebut menjadi pertanyaan besar adalah ” dimana posisi mahasiswa?” apakah bersama-sama rakyat ikut memberontak ataukah bersandingan dengan penguasa karena sudah terlanjur menikmati kemapanan dalam bentuk fasilitas-fasilitas dan status elit dalam masyarakat. Terlepas ramalan Jayabaya terbukti atau tidak, sudah sepatutnyalah mahasiswa berada bersama rakyat ” ajur ajer empan papan” atau diartikan sebagai berbaur menyatu dan saling menyesuaikan. Yang perlu diwaspadai oleh mahasiswa dalam hal ini LK UKSW, bahwa kalau memang benar-benar tejadi pemberontakan, jangan dianggap bahwa tidak akan ada mahasiswa dari tempat lain, yang barangkali tidak ada jaminan adanya resistensi diboncengi kepentinggan-kepentingan elit politik. Sudah bukan rahasia maraknya gerakan mahasiswa ekstra kampus yang berafiliasi dengan partai politik.

Meleburnya mahasiswa (UKSW) bersama rakyat kecil ini, memungkinkan mahasiswa untuk berperan sebagai agen perubahan, sehingga “tikus-tikus” yang memberontak biarlah memberotak, tapi tidak asal memberontak, bahkan kalau perlu mari kiita memberontak bersama-sama. Bukan masalah memberontak kepada siapa dan dalam hal apa, tetapi ketika mahasiswa-rakyat melebur permasalahan apapun dapat dicarikan muara-muara penyelesaiannya dengan lebih santun tanpa mengurangi kualitas dan efektifitasnya. Hal ini dirasa mendesak untuk segera dilakukan, mengingat gerakan mahasiswa yang ada selama ini cenderung bersifat momentum, dan tergantung isu. Oleh karena itu mahasiswa terkesan hanya sebagai “penunggang kuda” di atas permasalahan yang terjadi di masyarakat dan berharap mendapatkan status “AKTIFIS” yang dianggap sangat prestisius di kalangan mahasiswa pada umumnya. Kalau tidak percaya, lihat saja bagaimana para aktifis dengan bangga memasang emblem dan simbol-simbol pergerakan itu dalam jas almamaternya. Apakah perilaku yang demikian itu, aktifis mahasiswa masih menganggap diri tidak elitis? Semakin banyak simbol-simbol yang dipasang, semakin prestisius pula posisinya di kalangan aktifis mahasiswa. Kaya militer aja pake tanda pangkat segala.

Di atas hanyalah contoh ketidak mampuan aktifis mahasiswa untuk “ajur ajer empan papan”. Melakukan gerakan, tidaklah harus secara masif dengan aksi turun ke jalan ketika ada isu-isu tertentu saja. Tindakan demikian justru akan memberi jarak antara mahasiswa-rakyat, dengan mengansumsikan bahwa masyarakat itu bodoh dan lemah sehingga perlu aksi heroistik dari mahasiswa, padahal tidak mutlak demikan. Alternatif gerakan mahasiswa ke depan haruslah lebih sistematis dan kontinu serta ada kohesifitas yang kuat atara mahasiswa-rakyat, melebur. Tidak juga harus melulu dalam bentuk program kegiatan, namun demikian LK/Universitas perlu merancang master plan gerakan mahasiswa. Aksi-aksi peleburan rakyat-mahasiwa tidaklah merupakan suatu program Kegiatan, tapi tetaplah itu harus TERENCANA. Meskipun demikian LK sekali waktu juga bisa membuat program yang sekiranya dapat dimaknai sebagai “pintu masuk” untuk meleburkan diri bersama rakyat. Beberapa kegiatan LK yang dapat diintegrasikan bersama rakyat adalah pelatihan kepemimpinan, socev yang live in bersama rakyat. Namun demikian yang dijadikan catatan, bahwa dalam live in tersebut tidak hanya sekedar memindahkan lokasi kegiatan dari wisma-wisma atau gedung pertemuan ke tengah-tengah perkampungan, harus benar-benar ada program yang terintegrasi. Untuk menjaga kontinuitas tidak menutup kemungkinan masing-masing fakultas mempunyai desa binaan. Tidak sekedar menjadi desa langganan untuk penyelenggaraan kegiatan mahasiswa.

Dengan terintegrasinya kegiatan mahasiswa dengan rakyat yang terus ditindak lanjuti menjadi aksi-aksi (dengan jumlah aktivis, terbatas, bergantian, sinergi, tersamarkan) pembauran bersama rakyat, maka peran mahasiswa sebagai agen perubahan sudah dimulai jauh sebelum masalah-masalah yang bersifat momentum dan bergantung isu tersebut ditanggapi oleh mahasiswa lainnya dalam bentuk demonstrasi. Ada proses pencerdasan masyarakat yang secara tidak langsung juga akan mengasah intelektualitas, kepekaan dan keberpihakan mahasiswa terhadap kelompok tertindas.

Tinggal sekarang apakah pihak pihak terkait, dalam hal ini LK dan Universitas sebagai lembaga yang diberi tanggungjawab untuk mengemban amanah luhur tersebut mampu segera menyikakapi hal ini tidak! Kalau memang tidak mampu mnyikapi hal ini, maka tidak menutup kemungkinan lembaga-lembaga tersebut akan menjadi target pemberontakaan rakyat kecil. Ingat ketiak “tikus tikus kecil sedang merapikan barisan” mereka hanya bisa menempatkan apakah kita ada bersama-sama dengan mereka ataukah kita ada bersama dengan pihak-pihak dimana mereka akan memberontak.

Salatiga 9 Mei 2009

Salam nusantara

Slamet Haryono

* Catatan penulis atas sesi materi “Gerakan Mahasiswa” dalam LMKM yang diselenggarakan di wisma Kurios, salaran, Kopeng, 8 Mei 2009. Sebagai juga pemateri yang dipanelkanbersama Yakub Adi Krisanto dan Yesaya Sandang.