100 Hari Genosida di Rwanda

Film ini berlatar belakang konflik etnis di Rwanda pada bulan April 1994. Tokoh utama dalam film ini  adalah Paul Rusesabagina, seorang manajer hotel Des Mille Collines yang terletak di Kota Kigali, Ibu Kota Rwanda. Paul adalah etnis Hutu, sedangkan Tatiana -istri Paul- adalah etnis Tutsi. Situasi politik di Rwanda kian memburuk ketika pesawat Presiden Rwanda Juvenal Habyarimana ditembak jatuh. Melalui radio RTLM (Radio Télévision Libre des Mille Collines), milisi Interahamwe yang merupakan organisasi paramiliter Hutu ,terus melakukan propaganda yang menyatakan bahwa orang-orang Tutsi merupakan kecoa yang bekerjasama dengan kolonial Belgia, melakukan penjajahan atas orang-orang Hutu di Rwanda.

Angkatan bersesanjata Rwanda FAR (Forces Armed Rwandan) bekerjasama dengan milisi Interahamwe melakukan teror dengan membantai orang-orang Tutsi maupun orang Hutu moderat. Keadaan semakin tidak aman, keluarga Paul kemudian diungsikan ke hotel Des Mille Collines. Beberapa tetangga yang masih selamat, juga dibawa serta oleh Paul mengungsi ke hotel, meskipun untuk itu Paul harus menyuap para tentara yang memblokadir jalan. Semakin hari, milisi Interahamwe semakin brutal, pengungsi makin banyak berdatangan ke hotel. Tentara Perancis yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB tidak bisa menghentikan pembunuhan brutal yang ada, hanya bisa menjaga beberapa daerah yang dianggap penting. Karena situasi yang terus memburuk, orang-rang eropa kemudian berduyun-duyun meninggalkan Rwanda, dalam perjalanan mereka menuju bandara dikawal oleh pasukan PBB.

 

Lebih lanjut dapat diunduh disini.

Advertisements

Konsep Pendidikan yang Membebaskan Paulo Freire

Denis Collins dalam bukunya “Paulo Freire : Kehidupan, Karya dan Pemikirannya” (2011)[1] menyajikan biografi Paulo Freire dengan cukup sederhana dan ringkas. Makalah ini, sebagian besar berangkat dari buku tersebut. Terlahir dengan nama lengkap Paulo Reglus Neves Freire, di Kota Recife, Brazil 19 September 1921. Freire lahir dalam keluarga yang pas-pasan, bahkan cenderung berkekurangan terlebih lagi setelah masa depresi besar pada 1930. Karena keadaan ekonomi yang terus memburuk, pada 1931 keluarga Freire pindah ke kota Jaboato yang biaya hidupnya lebih rendah. Malang, di tahun 1934 bapak dari Paulo Freire meninggal, hal ini memaksa Freire kecil berhenti sekolah selama 2 tahun. Sejak saat itulah, Freire merasakan penderitaan dengan segala kekurangannya. Pengalaman hidupnya yang demikian kelak memberikan pengaruh besar dalam cara pandang dan keberpihakannya terhadap kehidupan masyarakat marjinal.

Usai sekolah pendidikan atas, Freire muda melanjutkan kuliah di Universitas Recife dengan mengambil jurusan hukum pada 1943. Begitu lulus ujian kepengacaraan, Freire tidak memilih bidang hukum untuk pekerjaanya, justru dia memilih untuk bekerja di bidang jasa pelayanan sosial sebagai Kepala Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946, di negara bagian Pernambuco. Pekerjaanya tersebut memberikan kesempatan bagi Freire muda untuk berinteraksi dengan orang-orang marjinal. Minat dan perhatiannya dalam filsafat dan psikologi bahasa memberikan pengaruh yang besar bagi pengembangan metode pendidikan bagi orang dewasa yang dia tekuni. Seiring dengan itu, Freire mendapatkan gelar doktornya dari Universitas Recife pada 1959.

Artikel selengkapnya silakan unduh disini.

[1] Terjemahan dari judul asli “Paulo Freire: His Life, Works and Thought”