Monthly Archives: September 2014

Corporate-Community Engagement

Beberapa waktu yang lalu perusahaan melakukan survei  Emeployee Engagement (EE). Istilah yang baru saya dengar, dengan sangat seksama saya mendengarkan penjelasan dari fasilitator yang kebetulan berparas cantik. Secara sederhana EE diartikan sebagai tingkat keterikatan karyawan terhadap perusahaan. Semakin tinggi tingkat EE dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.  Sudah barang tentu hal ini diidamkan oleh semua pengusaha.

Sementara proses masih berlangsung, di benak saya justru sedang merangkai konsep Corporate-Community Engagement (CCE). Bukan hal yang baru sama sekali, namun saya rasa hal ini akan sangat  menentukan sikap korporasi dalam kaitannya dengan masyarakat lokal. Sebelum melangkah lebih lanjut, apakah melalui program Community Development (CD) atau Corporate Social Responsibility (CSR) belum cukup menjawab tantangan tersebut?

Jika dilihat sepintas baik CD ataupun CSR akan memberikan indikator-indikator yang mudah diamati dan terukur. Biasanya indikatornya adalah berapa besar dana yang dialokasikan untuk CD atau CSR? Berapa banyak fasilitas umum, pendidikan, keagamaan, kesehatan yang yang disentuh oleh program? Baik CD atau CSR berangkat dari perspektif perusahaan yang ada kepentingan. Konsep CD telah lahir terlebih dahulu yang mulanya merupakan inisiatif perusahaan dengan mengadopsi praktik-praktik terbaik dalam hal berinteraksi dengan masyarakat, khususnya dari Non Government Organization (NGO).

Konsep CD pada dasarnya dibangun atas dasar upaya perusahaan dalam rangka meminimalisir gangguan usaha. Sementara itu CSR dibangun atas dasar perlunya masyarakat sekitar memperoleh maanfaat atas kehadiran perusahaan tersebut. Pelaksanaan CSR kini telah mendapat sorotan yang cukup serius dari pemerintah yang secara berkala dilakukan pengawasan melalui suatu bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD).

Dalam banyak kesempatan aktualisasi CD maupun CSR berupa program, sehingga evaluasinyapun dapat diukur dari besaran anggaran, variasi bentuk program, besaran jumlah masyarakat yang terlibat atau merasakan manfaatnya. Jika dalam pelaksanaanya indikator-indikator tersebut terpenuhi maka akan sangat menentukan citra perusahaan tentunya dengan publikasi yang cukup. Pendekatan paling mutakhir adalah partisipatif, tapi tetap saja program tersebut dalam perspektif perusahaan. Pemerintah dalam pengawasannya berhenti pada titik ini.

Mau menjadi seperti apa?

Jika kita mengajukan pertanyaan “masyarakat mau menjadi seperti apa ke depan?” maka akan sulit sekali menjawab, dengan kata lain “biarkah masyarakat menentukan takdirnya sendiri, perusahaan telah melakukan tanggungjawabnya”.

Perusahaan apapun, secara khusus adalah perusahaan yang bidang usahanya berada atau melibatkan masyarakat secara langsung dalam jangka panjang tentunya harus berpikir ulang dalam membuat kebijakan terkait dengan masyarakat. CD Officer ataupun CSR Officer tidak hanya cakap dalam menyusun program dan melaksanakannya, namun lebih jauh perlu mentransformasi diri menjadi CCE Officer.

Lebih jauh, peran petugas dari perusahaan berperan lebih intensif dalam proses transformasi masyarakat. Artinya tidak hanya sekedar menjalankan program kerja, namun lebih terkesan sebagai fasilitator masyarakat yang dipekerjaan oleh perusahaan. Boleh dikata waktu di masyarakat adalah 80%, sisanya baru digunakan untuk keperluan administrastif di perusahaan.

Perusahaan harus bisa hadir melampaui CSR, tidak berhenti sampai di pemenuhan kewajiban atau kepantasan apa lagi formalitas. Layaknya seorang pemuda yang meminang gadis, bukan karena hamil duluan namun karena si pemuda sudah punya visi ke depan untuk si gadis dan kehidupan mereka berdua, kiranya demikianlah analogi kehadiran perusahaan di masyarakat.

Seberapa dekat dan seberapa serius hubungan perusahaan dengan masyarakat? Dapat diketahui jika dapat menjawab pertanyaan-pertannyaan berikut dengan baik. Apa dan bagaimana visi perusahaan akan keberadaan masyarakat desa? Bagaimana master plan untuk merelaisasikan misi tersebut? Siapa yang merelaisasikan tersebut? Bagimana kekuatan tim dan dukungan dana  untuk merealisasikan tersebut? Bagaimana indikator pencapaian relaisasi tersebut?

Sudut Pandang Kedua Belah Pihak

CCE dikembangkan dalam perpektif perusahaan-masyarakat, bukan hanya dari sudut pandang perusahaan, bukan pula dari sudut pandang masyarakat seperti program-program advokasi oleh NGO.

Melalui perpektif kedua belah pihak akan melahirkan komitmen bersama menjalani hubungan yang romantis antara perusahaan-masyarakat. Sepertihalnya muda-mudi dalam menjalin hubungan, maka masing-masing pihak dapat saling menjajaki dan mengenali kepribadian masing-masing. Workshop ataupun Focused Group Discussion (FGD) bisa menjadi sarana yang tepat, bukan hanya forum sosialisasi ataupun rapat.

Selanjutnya, secara bersama-sama dapat merencanakan hal-hal apa yang akan dilakukan bersama dalam kurun waktu 1, 5 atau 10 tahun mendatang. Termasuk hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan dan diantisipasi jika terjadi sesuatu yang bisa merusak koemitmen bersama tersebut. Bisa jadi komitmen tersebut perlu untuk disampaikan kepada dunia, bahwasanya kedua belah pihak telah bersepakat untuk menjalin hubungan yang sungguh-sungguh, tentunya dengan tetap menjunjung tinggi local wisdom.

Kedua belah pihak yang terikat komitmen dapat menentukan diri mau menjadi apa ke depan, merencanakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang, menjunjung tinggi prinsip saling menghargai, transparan dan kesungguhan. Akan tetap ada riak-riak kecil yang mengusik komitmen tersebut, namun hal itu harus dimaknai sebagai suatu proses untuk semakin mendewasakan dan menjadi lebih baik.

Belum ada gambaran? Biar demikian adanya, operasionalisasi CCE termasuk indikator evaluasi sementara biar mengendap di benak. Tidak seru banget jika sekali jumpa langsung buka-bukaan. Meski demikian saya terbuka untuk membangun komitmen, jika kita memiliki kesamaan visi yaitu untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Jika memungkinkan biarlah surga itu terwujud melalui insan-insan yang benar-benar mau berkomitmen. Tentunya bukanlah surga urusan syahwat atau surganya para ahli pencabut nyawa manusia.