Monthly Archives: June 2011

Apakah Tuhan Itu Ada?

Malam di pelataran mess 12, saya bersama beberapa orang kawan melepaskan pandangan ke langit yang diterangi cahaya bulan. Bukan maksud kami hanya untuk memelototi langit,sembari bercerita kami duduk dipelataran untuk menjaring sinyal lebih banyak, sehingga kami tetap bisa terhubung dengan dunia luar.

http://sihijau.wordpress.com/2010/12/09/bintang-jatuh/Di tengan percakapan kami, sesekali masing-masing telepon genggam kami berbunyi, baik lewat pesan singkat (SMS) atau telpon.Selesai menerima telepon atau membalas SMS, kami kembali melanjutkan cerita.Bukan pembicaraan yang serius, berbagai macam topik pembicaraan keluar dengan sendirinya. Di tengah pembicaraan yang tidak serius tersebut, Arma yang bekerja sebagai Guru memotong pembicaraan kami dan mengatakan ada bintang jatuh. Dia berkisah bahwa dahulu ketika masih SMA dia sering mengajukan permintaan atau berharap sesuatu ketika ada bintang jatuh, namun sekarang tidak lagi.

Bintang Jatuh

Barangkali kebiasaan memohon sesuatu saat terjadi bintang jatuh sudah menjadi mitos, susah untuk dimengerti namun realitas itu tetap ada, sampai sekarang. Saya coba merenungkan asal mula mitos ini, sampai kemudian saya teringat dalam sebuah tayangan televisi yang mengisahkan persaingan antara kebaikan dan kejahatan. Iblis (Lucifer) seperti dikisahkan dalam kitab Taurat, adalah malaikat Tuhan yang kemudian membelot dan akhirnya dihukum dan dijatuhkan ke dalam dunia kegelapan. Oleh  karena itu lucifer juga mendapat julukan fallen angel.  Jatuhnya Lucifer yang merupakan malaikat yang bersinar tersebutseperti halnya bintang yang jatuh, sehingga dia mendapatkan julukan lain sebagai the fallen star.

Terkait jatuhnya Lucifer yang disimbolkan oleh bintang jatuh, sudah dapat dimengerti, namun apa hubungannya hal ini dengan permohonan dan harapan yang dipanjatkan saat bintang jatuh?

Lucifer sangatlah gila hormat, butuh pengakuan. Ketika manusia berdoa dan salah alamat, dapat saja permohonan itu terwujud namun demikian bisa jadi itu adalah pekerjaan Lucifer. Mengapa Lucifer dapat mengabulkan doa yang salah alamat? Karena dia juga adalah malaikat yang sakti, dia juga mampu membuat keajaiban. Segala yang dia berikan kepada manusia tidak ada yang gratis, selalu ada harga yang harus dibayar.

Saat ada bintang jatuh dan manusia meminta sesuatu,bisa jadi akan terwujud. Permohonan yang terwujud secara ‘luar biasa’ tersebut akan memberikan efek kecanduan dan ketakjuban. Perlahan namun pasti, cerita itu disebarluaskan ke teman-temannya, sampai kepada kita sekarang dan jadilah mitos.

Nampaknya memang indah menyaksikan bintang jatuh, terlebih bersama dengan kekasih sambil berbaring di rerumputan. Begitu kuatnya mitos ini, sampai-sampai ada sebuah tayangan di televisi yang menggambarkan muda-mudi berbaring di rerumputan sambil menyaksikan bintang jatuh yang bertaburan di langit. Tentu sebagian masih ingat dengan serial Meteor Garden.

Semakin banyak orang yang mengajukan permintaan saat bintang jatuh, saat itu pula Lucifer menikmati pengakuan manusia atas dirinya. Melalui fenomena bintang jatuh, yang melambangkan kejatuhan dirinya, dia sudah berhasil mengalihkan perhatian manusia dari Tuhan, merebut pengaruh Tuhan atas manusia. Untuk itu  iblis dapat menawarkan apa saja, mulai dari makanan, kekuasaan, kemegahan dunia dan seterusnya.

Tuhan dan Keinginan Manusia

Tidak hanya kepada bintang jatuh, tapi pantaskah kita yang mengaku ber-Tuhan mengajukan permintaan yang demikian? Meskipun demikian apakah berarti kita harus mengajukan permintaaan kepada Tuhan? Iblis sengaja menawarkan apa saja yang menjadi keinginan manusia, yang ingin kaya diberikan kekayaan, yang ingin dianggap pahlawan diperkenankan mati membela agamanya meski harus membunuh orang lain, yang ingin kekuasaan diberikan kekuasan meskipun korup. Demikianlah ini dunia berjalan dalam kendali iblis, jika tidak percaya silahkan saja anda membuat KTP atau SIM apakah sudah berjalan sesuai kententuan? Belum lagi kalau menyaksikan televisi, bagaimana polah tingkah para politisi dan penguasa. Tentunya tidak semuanya demikian, masih ada orang yang baik.

Manusia yang mengumbar keinginannya dengan sendirinya akan memenjarakan dirinya. Semakin keinginan terpenuhi, akan semakin banyak daftar keinginan lainnya. Sungguh kasihan Tuhan jika hanya untuk mewujudkan keinginan-keinganan manusia. Seolah-olah Tuhan itu diadakan, karena keinginan manusia itu ada. Ketika sesuatu yang di-Tuhankan itu tidak lagi dapat mewujudkan keinginannya, maka manusia akan mencari Tuhan baru. Demikian seterusnya perjalanan umat manusia, telah silih berganti Tuhannya, sampai munculnya agama-agama besar.

Dalam nuansa eksklusif dan ekspansif, agama-agama juga menawarkan berbagai kebahagiaan selama hidup di dunia dan terutama di akhirat. Eksklusifitas tersebut dipakai dengan jargon untuk menjaga kemurnian ajaran yang juga merupakan suatu strategi defensif untuk tetap mempertahankan jumlah pengikutnya. Sementara itu untuk meningkatkan pengaruh dan kekuatan, agama-agama menggunakan strategi ekspansif yaitu dengan berbagai cara melakukan agitasi untuk menambah jumlah pengikut. Dalam situasi yang beginilah terjadi tumpang tindih pengaruh dan kepentingan, jika tidak bijak menyikapi dapat berujung pada perseteruan.

Jika agama-agama hanya menjadi alasan perseteruan, untuk apakah agama ada? Kembali ke cerita Lucifer, dia bisa menggunakan apa saja untuk mengalihkan perhatian manusia dari Tuhan, termasuk perseteruan.

Mengapakah agama-agama perlu memperbesar jumlah pengikutnya? Apakah Tuhan juga punya keinginan untuk disembah? Jika saya menjadi Tuhan dan masih berkeinginan, maka saya akan mengundurkan diri dari Jabatan Tuhan. Jika saya memutuskan untuk tetap menjadi Tuhan namun tidak lagi ada keinginan untuk disembah, untuk apakah saya manciptakan agama?

Apapun yang dapat mewujudkan keinginan manusia akan di-Tuhankan, sepertinya uang tetap menduduki peringkat teratas dalam nominasi sebagai Tuhan. Apakah kita akan terus mengumbar keinginan kita?

Jika harus berkeinginan, maka keinginan saya sekarang adalah untuk tidak beragama. Tuhan itu ada karena keinginan itu ada, Tuhan tetap ada sekalipun keinginan itu tidak ada. Jika masih bertanya-tanya apakah Tuhan itu ada? Jawabnya adalah, AKU yang ada.

Berhati-hatilah dengan keinginan!!!

Tekanan Pekerjaan

Masih segar, beban pekerjaan saya belum menumpuk banyak.Setidaknyasaya masih bisa berpikir jernih, lalu bagaimana jika nanti beban pekerjaan saya bertambah banyak?  Muncul dalam pikiran bagaimana cara mengatasi beban yang berlebih jika telah cukup lama saya bekerja? Dari pertanyaan itu membuatku berpikir tentang berbagai kemungkinan yang dilakukan orang ketika tidak lagi mampu mengatasi beban hidupnya. Pikiran tersebut masih terlintas selama beberapa hari dan membawaku untuk mencari petunjuk, mengamati kepada mereka yang telah bekerja bertahun-tahun.

http://www.blogcatalog.com/blogs/propolisBeban hidup bisa jadi bukan semata-mata dari perkara besar yang tidak terselesaikan dengan baik, namun justru karena dari perkara kecil yang terakumulasi.  Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu saya sempat merasa tidak nyaman ketika menjadi notulen dan saya salah menulis kata dateline yang seharusnya deadline.  Spontan ada seorang pemimpin tertawa kecut dan meminta saya untuk menuliskannya dalam bahasa Indonesia saja, sementara saya hanya menulis sesuai yang diucapkan saja.

Tawa dari pemimpin tersebut memang tidak salah, karena memang cukup lucu melihat fenomena kesalahan atau kebodohan orang. Banyak dari kita juga yang juga akan tersenyum ketika melihat orang lain melakukan kebodohan. Begitu bodohnya saya jika hanya karena tawa begitu saja kemudian saya merasa sakit hati. Meski demikian, bisa dibayangkan jika hal-hal kecil semacam ini terus terulang dengan berbagai bentuk. Seseorang bisa sangat terbeban dalam lingkungan pekerjaannya, akibatnya prestasi kerja yang bersangkutan akan menurun, lebih parah lagi jika sampai mengganggu kinerja perusahaan.

Jika riak-riak kecil beban tersebut terus diterima dari orang yang sama, menyebabkan stigma negatif atas orang tersebut, akibatnya yang bersangkutan akan menjaga jarak. Jika si pemberi beban tersebut merupakan bagian dari kelompok terntentu, akan lebih parah jika stigmatisasi tersebut digeneralisir menjadi stigma kelompok. Tentunya jika sudah demikian menjadi sangat rentan akan terjadinya konflik. Sementara itu jika beban kehidupan tersebut berasal dari berbagai orang, yang bersangkutan dapat menjadi rendah diri.

Beban hidup bukan hanya berasal dari pekerjaan saja, bisa juga berasal dari keluarga dan juga di lingkungan tempat dimana kita tinggal. Namun yang menarik perhatian saya adalah beban pekerjaan, kebetulan saya baru saja masuk di lingkungan kerja yang baru. Ketika beban hidup tidak segera dilepaskan, maka perlahan namun pasti hal ini akan menggerogoti kehidupan kita. Apa jadinya jika beban itu terbawa ketika kita menjadi pemimpin? Bisa jadi akan dengan cepat sekali kita terpancing emosi, marah meski oleh hal-hal yang sepele.

Bagi para pekerja bawahan, apa yang bisa dilakukan jika pimpinan meremehkan, memarahi? Bukan mengenai benar atau salahnya mengapa yang bersangkutan dimarahi oleh pimpinan, namun seseorang bawahan yang menerima perlakuan demikian tidak akan tinggal diam. Teringat pelajaran fisika sewaktu masih SMP, bahwa tekanan yang diberikan dalam ruangan tertutup akan diteruskan sama besarnya ke segala arah. Jika manusia senatiasa mendapatkan tekanan semenjak kecil sampai dewasa, kemanakah tekanan itu akan diteruskan?

Dalam kasus tertentu, seorang pekerja bawahan bisa saja balik memarahi pimpinan bahkan sampai melakukan tindakan yang agresif, namun sangat jarang sekali. Karena seorang bawahan kecil kemungkinan memarahi pemimpinnya, maka yang dilakukan yang bersangkutan adalah mencari kompensasi untuk melampiaskan beban tersebut.

Kompensasi yang mungkin dilakukan oleh pekerja adalah menurunnya prestasi kerja, memanipulasi informasi atau justru mensabotase arus informasi yang seharusnya diterima pemimpin. Kompensasi dalam bentuk lain dengan mengalihkan perhatian melalui berbagai kegiatan yang menghibur, mulai dari karaoke, olahraga termasuk memanjakan diri dengan berbagai fasilitas jasa ataupun kepemilikan atas barang tertentu. Semakin banyak pendapatan semakin besar kemungkinan pengeluaran untuk belanja kenikmatan, keindahan dan kenyamanan.

Tidak tuntasnya beban hidup, dorongan untuk mencari yang lebih nikmat, lebih indah, lebih nyaman menjadi semakin kuat. Kondisi masyarakat yang patriarki, ditambah peradaban yang dibangun belum pada kesadaran yang cukup, maka kaum perempuan akan cenderung menjadi korban. Apa sih yang tidak bisa dibeli oleh uang?

Bertumpuknya beban hidup sama halnya kita selalu makan tiap hari namun tidak pernah buang air besar. Banyak dari kita yang tidak begitu mengenal diri kita, kita tidak tau cara yang efektif untuk melepaskan beban hidup. Meski demikian, banyak juga yang memilih cara yang kurang efektif bahkan sangat tidak efisien.

Sampai kapan manusia akan puas dengan membeli sesuatu atau menikmati sesuatu? Pada titik ini, saya tidak tahu seberapa besar kontribusi agama terkait beban hidup.