Monthly Archives: July 2006

Analisis Protein Spesifik Tembakau Srinthil

1. PENDAHULUAN

Tembakau srinthil merupakan salah satu bentuk dari tembakau rajangan dari daerah Kedu dengan kualitas istimewa. Keistimewaan tembakau tersebut terletak pada ke-khas-an rasa yang dimiliki juga karena proses terbentuknya yang tidak tentu dan begitu alami tanpa campur tangan manusia, sehingga oleh masyarakat sekitar peristiwa tersebut masih dianggap sebagai keajaiban alam atau supranatural. Oleh karena prosesnya yang tidak menentu serta keunggulan rasa yang dimiliki, menyebabkan tembakau srinthil mendapatkan harga di pasaran yang jauh lebih tinggi dari pada tembakau rajangan biasa.

Pada industri rokok keberadaan tembakau srinthil dalam racikan turut menentukan kualitas rasa rokok yang dihasilkan. Sementara itu jumlah tembakau srinthil yang ada di pasaran sangat tidak menentu. Oleh karena itu penelitian tentang peristiwa terbentuknya tembakau srinthil sangatlah diperlukan dengan harapan proses terbentuknya tembakau srinthil dapat dikendalikan.

Penelitian ini merupakan penelitian awal dalam upaya mencari tahu lebih banya tentang peristiwa terjadinya tembakau srinthil. Sebagai titik tolak dalam penelitian ini di fokuskan pada kandungan protein teutama untuk mengetahui kandungan protein yang secara khas terdapat pada tembakau srinthil selama proses pemeraman. Dengan harapan jika  telah diketahui protein yang secara spesifik pada tembakau srinthil dapat dirunut sumber dari protein tersebut, apakah protein tersebut merupakan hasil dari proses metabolisme tembakau itu sendiri ataukah melibatkan organisme dari luar. Lebih lanjut jika sumber dari protein tersebut dapat diketahui maka dimungkinkan cara untuk merekayasa baik secara genetik ataupun lingkungannya. Namun demikian dalam penelitian ini akan dibatasi pada upaya mencari tahu keberadaan protein yang secara spesifik terdapat pada tembakau srinthil.

Untuk mengetahui keberadaan protein yang secara spesifik terdapat pada tembakau srinthil menggunakan metode pemisahan berdasarkan kemampuan dari protein dengan berbagai ukuran untuk melewati bidang pemisah dengan kerapatan tertentu yang didorong dengan tenaga listrik. Secara khusus menggunakan teknik elektoforesis gel. Teknik ini digunakan dengan pertimbagan pada pengerjaan prosedur yang tidak terlalu rumit serta biaya operasional yang tidak terlalu tinggi dengan akurasi hasil yang tinggi.

***

Untuk lebih mengenai rancangan penelitian ini silahkan download disini.

Advertisements

Bermahasiswa Bukan Sekedar Menjadi Mahasiswa

Teman-teman mahasiswa baru yang saya kasihi, suatu pergumulan yang berat ketika kami harus menyambut kedatangan teman-teman dan kami tidak dapat memberikan apa-apa…

Hanya melalui tulisan ini saya berharap dapat memeberikan bekal bagi teman-teman untuk memasuki dunia kampus yang nantinya akan mempersiapkan teman-teman memasuki dunia kerja, memikul tanggungjawab masa depan bangsa.

Untuk itu persiapkan diri baik-baik.

 

Adakah yang bisa dibanggakan?

Saya ucapkan selamat datang bagi mahasiswa baru, selamat datang di kampus kita tercinta Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Saya sangat berbangga atas keputusan teman-teman dalam memilih UKSW sebagai tempat untuk mengasah diri menyongsong masa depan. Mengingat bahwa di luar ada banyak sekali Perguruan Tinggi baik negeri ataupun swasta yang menawarkan berbagai layanan pendidikan dengan jaminan cepat lulus, cepat dapat kerja, fasilitas lengkap, biaya murah dan lain sebagainya. Lalu apa yang dapat dibanggakan dari UKSW?

Banyak hal yang dapat kita banggakan dari UKSW, mulai dari keberagaman etnis dan kepercayaan sampai tingkat perekonomian orang tua mahasiswa. Hubungan antara mahasiswa dan dosen yang memegang prinsip “Magistrorum et scholarium[2] dengan mengedepankan ke-partner-an sehingga bukan merupakan hubungan antara atasan dan bawahan. Dengan damikan menjadikan UKSW merupakan suatu “Indonesia mini” yang sekaligus kampus persemaian demokrasi.  Hak-hak dan penghargaan terhadap mahasiswa dijunjung tinggi, hal itu diwujudnyatakan melalui keterwakilan unsur mahasiswa baik di Fakultas ataupun Universitas oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK). Dengan demikian pengambilan kebijakan di dalam kampus, terutama yang menyangkut mahasiswa harus melibatkan LK. Hal ini patut dibanggakan mengingat bahwa di kampus lain, mahasiswa hanya sebatas pengguna jasa layanan pendidikan sehingga tidak perlu dilibatkan dalam pengambilan kebijakan.

“Bermahasiswa”[3] bukan sekedar mahasiswa

Kalau di kampus lain setelah kita diterima dan punya Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) maka kita sudah sah dianggap mahasiswa, namun di kampus kita “bermahasiswa” dimaknai lebih dari sekedar mempunyai KTM, kuliah dan lulus cepat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap ilmu menjadikan lulusan kita mempunyai keunggulan dibandingkan lulusan dari perguruan tinggi lain. Karena UKSW telah mendesain profil lulusan dengan ciri khas minoritas yang berdaya cipta (creative minority)[4]. Apakah hal ini berarti bahwa kita dapat lulus dengan mudah dan cepat serta mempunyai keunggulan yang Creative minority tersebut tanpa harus bersusah payah ?

Tentu saja tidak, untuk menjadi pribadi yang Creative minority , bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi adalah sebuah pilihan. Terdapat banyak wadah atau kesempatan yang memungkinkan bagi kita untuk mendapatkan hal itu melalui pelatihan-pelatihan, lomba, seminar, partisipasi dalam kelompok bakat dan minat (Olahraga, seni, jurnalistik, dan penalaran) yang kesemuanya itu terangkum dalam Lembaga Kemahasiswaan. Terdapat banyak sekali kelompok bakat dan minat yang ada di UKSW baik yang ada di Fakultas ataupun di Universitas mulai dari olahraga basket, volley, bela diri, teater, karawitan, vokal grup, robotika, karya tulis dan penelitian, pers kampus dan lain sebagainya.

Dengan melibatkan diri kita dalam kegiatan-kegiatan tersebut maka akan semakin membuka wacana kita dan membuat kita semakin yakin mengadapi tantangan masa depan, karena itulah UKSW ada.

Mengapa takut “bermahasiswa”

Sebagian orang sangat takut untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan tersebut, ada yang takut jika akan mengganggu perkuliahannya, ada juga yang menganggap hal itu tidak penting dan hanya akan membuang waktu sia-sia. Tentunya akan ada banyak argumen yang  dilontarkan untuk menutupi ketidakmampuan kita melihat realitas. Bisa diambil contoh adalah perasaan kita ketika berada di tepi danau di tengah-tengah gunung dengan air yang jernih.  Sejujurnya kita sangat ingin merasakan kesejukan air itu, namun demikian kita sangat takut ketika kita menyentuhkan jari kita ke air tersebut dan ternyata dingin. Kebanyakan orang memutuskan untuk mengurungkan niatnya mandi di danau tersebut, meskipun sudah lama tidak mandi. Namun demikian berbahagialah mereka yang memutuskan untuk mandi, karena mereka akan merasakan kesejukan, dan hal yang sangat luar biasa terjadi ketika kita keluar dari air dan kita merasakan tubuh kita menjadi begitu hangat sehingga kita bisa melanjutkan perjalanan kita menuju puncak.

Berangkat dari cerita tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ketakutan kita untuk terlibat dalam kegiatan disebabkan karena kita telah terlebih dahulu membuat persepsi yang salah tentang keterlibatan tersebut. Bukankah kita sepatutnya bersyukur telah diberikan akal budi, sehingga dengan akal budi tersebut kita dimampukan untuk dapat mengatasi tantangan jaman. Memang segala sesuatunya akan lebih indah jika kita melakukan berbagai kegiatan baik kuliah ataupun “bermahasiswa” sebagai bentuk ucapan syukur, bukan karena sekedar tuntutan ataupun prasyarat untuk memasuki dunia kerja.

“Bermahasiswa” apa yang bisa kita dapatkan?

Hal yang lebih menarik lagi ketika kita “bermahasiswa” adalah kesempatan untuk dapat mengolah ketrampilan manajerial serta mamahami suatu sistem. Sudah barang tentu dalam dunia kerja membutuhkan keteraturan, pembagian kerja yang jelas, pelaporan dan hierarki yang jelas. Agar proses produksi dapat berjalan lancar harus ada koordinasi yang baik antara bagian pemasok bahan baku, bagian produksi, dan bagian pemasaran. Jika salah satu dari bagian tersebut tidak berjalan maka akan terjadi  gangguan terhadap hasil yang diproleh, dan perusahaan bisa merugi. Sangat disayangkan jika hal itu terjadi pada diri kita ketika kita memasuki dunia kerja, hanya saja kita tidak terbiasa dan tidak terlatih untuk menghadapi kondisi tersebut. Seperti ada pepatah “ tidak ada kuda liar, yang ada hanyalah kuda yang belum terlatih”.

Dengan keterlibatan kita di Lembaga Kemahasiswaan memungkinkan bagi kita untuk dapat mempelajari “sistem” yang merupakan prototipe dari perusahaan, negara ataupun alam semesta yang penuh dengan keteraturan. Kita menjadi tahu bagaimana profil lulusan UKSW di desain melalui Skenario Pola Pengembangan  Mahasiswa (SPPM), kita menjadi tahu aturan-aturan yang berlaku dan mengapa hal itu diberlakukan seperti dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM), kita menjadi tahu bagaimana seuatu kegiatan bisa dilaksanakan dan bagaimana harus melaporkannya, dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan.

Pesan Sponsor

Memang benar ada banyak kesempatan yang ditawarkan kepada kita, namun demikian saya tegaskan sekali lagi bahwa bagaimanapun profil lulusan di desain jika kita memutuskan untuk sekedar berkuliah dan hanya sekedar menjadi mahasiswa maka kita akan sangat rugi besar, bukan hanya saat ini tapi juga masa depan kita. Saya tidak dapat menjelaskan secara rinci bagaimana struktur LK dan pembentukannya. Teman-teman penasaran? Jika penasaran berlanjut hubungi kantor LK terdekat. Hidup mahasiswa……!!!


[1] Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Periode 2005-2006. Mahasiswa Fakultas Biologi

 

[2] Persekutuan antara pengajar (dosen) dengan yang diajar (mahasiswa).

[3] Partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

[4] Meskipun dalam jumlah yang kecil tetapi mampu menunjukkan jalan bagi bangsanya dan dapat membimbing masa yang pasif menjadi penganut yang giat karena superioritas jiwa dan roh serta kekuatan keyakinannya.