Critical Theory and the Management of Change in Organizations (Journal Review)

REVIEW JOURNAL

 

Jurnal ini merupakan pengantar dari beberapa jurnal lain dalam jurnal bidang manajemen perubahan organisasi. Penting untuk ditelaah lebih lanjut karena mengungkapkan bagaimana teori kritis ini lahir dan ditempatkan dalam khasanah ilmu sosial lainnya. Diawali dengan pemamparan aspek historis teori kritis, beberapa konsep dasarnya, kesalahpahaman serta implikasi yang mengikutinya. Bagian awal yang menceritakan sejarah kelahiran teori kritis cukup jelas meski tidak memberikan detail terperinci. Hal ini dapat dipahami karena fokus pada bagian ini bukan pada aspek kajian historis namun sebagai gambaran akan situasi dan lokasi saat teori kritis dilahirkan.

Perlu ditambahkan adalah pertanyaan mendasar bagaimana teori kritis lahir? Teori ini lahir sebagai evaluasi dan sikap para peneliti dalam mazab Frankfurt atas bangkitnya Nazi dan Fasisme kala itu. Sebagai peneliti sosial seolah-olah hanya tunduk dan pasrah pada realitas bahwa ada berjuta manusia etnis Yahudi dibantai rezim totaliter Hitler. Sebagaimana yang disampaikan Horkheimer dalam Suseno (2013) “…bahwa yang dikritik dari teori konservatif karena dianggap melindungi dan membenarkan yang terjadi. Teori tradisional yang kontemplatif dalam arti bahwa teori sekedar memandang dan merenungkan realitas tapi tidak mau dan tidak bisa mengubahnya. Maka teori tradisional hanya afirmatif”. Tambahan selanjutnya adalah apa perbedaan pendekatan teori tradisional dan teori kritis?

Teori kritis bagaimanapun juga terinspirasi dan dibakar semangat pemikiran Marx yang lahir dari semangat melawan ketertindasan. Hal ini sepertihalnya diuraikan Damsar (2015) bahwa “…akibat dari pembagian kerja dan pemilikan pribadi menyebabkan kontradiksi atara yang memiliki dan yang tidak memiliki”. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya perlawanan. Selanjutnya menurut Suseno (2013) “Teori tradisional bertolak pada apa yang dianggap fakta. Teori kritis bertanya perkembangan apa yang menghasilkan sebuah keadaan dan bagaimana dinamikanya. Maka teori kritis mampu memahami kenyataan dari sudut kemungkinan untuk berubah. Teori kritis dibimbing ide tentang masyarakat mendatang sebagai komunitas manusia-manusia bebas”.

Kembali ke jurnal ini, sebagai pengantar komposisi yang dihadirkan cukup memberikan bekal dalam mempelajari jurnal lainnya ataupun bagi pembaca yang awam dengan topik teori kritis, hanya saja karena diksi menyebabkan pembaca tidak segera menemukan makna dari setiap kalimat yang disajikan. Sebagai contoh kata optic dialectic tidak diterjemahkan menjadi “dialektika optik” sebagai mana pengertian umumnya bahwa optik mengandung pengertian terkait lensa dan cahaya. Saya lebih memilih untuk mengartikan hal tersebut sebagai “pengamatan dialektika” dimana optik terkait dengan fungsi untuk pengamatan.

Dalam sub bab pengamatan dialektika disajikan secara runut penjelasan dialektika menurut Hegel yang cenderung linear berupa tesis-anti tesis-sintesis. Dikatakan Damsar (2015) bahwa “Hegel menerangkan pola-pola perubahan dan perkembangan sejarah yang luas, melalui filsafat dialektika ideal. Analisis dialektika ideal melalui pertentangan ide-ide”. Selanjutnya hal ini dikritisi Marx bahwa dialektika tidak melulu linear, terkadang hierarkis atau bahkan mencakup fenomena lain yang bukan berseberangan. Sementara itu teori kritis memberikan misi baru dengan dialektika diperlukan untuk untuk membuka kedok bentuk-bentuk dominasi psikologis dan sosial ini dan sekaligus melahirkan pembebasan.

Implikasi teori kritis dan dialektika pada manajemen perubahan organisasi sebagaimana dicontohkan dalam jurnal ini, telah memberikan gambaran bahwasanya teori kritis tidak hanya menjadi konsumsi para ilmuan elitis. Secara pribadi masing-masing individu dapat secara kritis mempertanyakan alternatif-alternatif solusi atas tantangan organisasi yang ada. Horkheimer dalam Poespowardojo (2016) “Peran utama teori kritis untuk mendorong kelahiran emansipasi yang melibatkan setiap orang sebagai pelaku yang sadar terhadap dirinya dan masyarakatnya”. Catatan saya, terkait contoh yang digunakan adalah seorang administrator atau manajer, konsekuensinya adalah bahwa perubahan yang dapat terjadi adalah masih dalam lingkup otoritasnya saja. Sementara bukan tidak mungkin hambatan terjadinya perubahan adalah justru karena struktur dan otoritas di atasnya. Pertanyaan lebih lanjut apakah organisasi tersebut mempunyai sistem yang mengakomodir masukan dan perubahan dari setiap lapisan struktur yang ada? Apakah organisasi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi lapisan struktur dibawahnya mendapatkan kebebasan yang cukup untuk bersama-sama mewujudkan apa yang dicita-citakan? Di saat yang bersamaan apakah kesadaran yang di bangun dapat melepaskan dorongan manusia untuk menguasai alam kemudia menjadikan manusia agar lebih bersahabat dengan alam?

Lebih lengkapnya silakan unduh disini.

 

Advertisements

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on December 12, 2017, in Makalah and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: