Aku Belajar Sekolah
Tahun ajaran baru, seperti tahun-tahun sebelumnya ada penerimaan murid baru. Beberapa kali saya melihat tayangan di televisi, murid baru dan orang tua mereka rela menunggu di depan gerbang sekolah sejak pagi buta, menunggu gerbang dibuka dan berebut tempat duduk. Takut tidak kebagian tempat duduk, bahkan orang tuanya pun ikut berebut untuk anaknya, sungguh aneh.
Saya ingat betul awal saya masuk sekolah SD, meski yang lain berebut kursi namun demikian aku tidak. Resikonya saya duduk di bangku paling belakang, bertiga satu meja. Orang tuakupun tidak ada yang mengantarkanku ke sekolah. Sejak masuk TK, hanya sekali aku diantar ke sekolah oleh Ibuku, aku tidak mau diantar ibuku. Namun demikian ibuku tidak tega, kemudia mengikutiku dari belakang bersama ibu-ibu lainnya. Aku menjadi sangat kesal dan malu dengan teman-temanku karena ibuku menungguku sampai pulang sekolah. Aku tidak mau sekolah jika ibuku tetap mengantarku ke sekolah. Setelah itu aku selalu berangkat ke sekolah sendiri.
Memang saat pendaftaran masuk sekolah baik di SD maupun SMP aku masih diantar orang tuaku, karena ada urusan dengan keuangan. Setelah itu aku selalu berangkat sekolah sendiri. Kelas 1 SD uang saku yang diberikan orang tuaku Rp 50,- waktu itu sudah cukup untuk beli satu nasi bungkus dan satu bungkus dawet.
Aku tidak tahu apa itu belajar, jadi sepulang sekolah ya main bersama teman-teman atau ikut orang tuaku ke ladang. Yang aku tahu belajar ya di sekolah, orang tuakupun tidak pernah menyuruhku belajar. Orang tuaku tidak ada yang lulus SD. Hanya sekolah dan bermain itu saja kesibukanku sampai kelas 3 SD. Menjelang kelas 4 SD saya tertarik untuk belajar bertani dengan Kakek. Saya minta dibelikan keranjang kecil dan sabit untuk cari rumput. Dengan demikian ada kesibukan baru sepulang sekolah selain bermain. Untuk setiap pikul rumput yang saya bawa, Kakeku menghargai Rp 100,- Uang itu tidak langsung saya minta, namun ditabung di tempat Kakek.
Ketika aku mau beli tas, sandal atau sepatu baru maka aku minta uang tabunganku sama Kakek, aku diajak ke kota. Setelah sampai di kota, aku diajak makan di warung makan. Biasanya aku pesan nasi brongkos, ketika baru diambilkan oleh si penjualnya saya berbisik ke Kakek “Mbah, nanti saya nambah ya?” langsung saja Kakekku menjawab “Iya nanti nambah lagi tidak apa-apa, habiskan dulu yang ini”. Nasi brongkos satu porsi tidak habis, sambil senyum simbahku menawarkan “ Mau nambah lagi?” aku hanya geleng-geleng kepala.
Kembali ke tujuan awal ke kota, aku menghendaki sepatu baru. Waktu itu sepatu kesukaanku “Warrior”. Sepertinya waktu itu harganya masih sekitar Rp 27.000,- setelah aku tahu harganya, rupanya uang tabunganku di tempat Kakek tidak cukup. Di depan penjual itu, aku tarik baju Kakek memintanya untuk membungkuk, aku berbisik malu “Cari yang murah saja mbah,tidak usah yang ini tidak apa-apa”. Kembali Kakeku tersenyum dan memintaku untuk menjajal ukuran sepatu yang pas dengan merek yang sama. Aku mau saja, tapi aku masih ragu memasukkan kakiku ke sepatu karena aku tahu uangku tidak cukup. Setelah ketemu ukuran yang cocok, tawar menawar sebentar, Kakekku langsung membayar itu sepatu untukku. Aku tersenyum bahagia, tapi aku masih bertanya-tanya dari mana uang sisanya?
Aku masih terlalu bodoh saat itu untuk mengetahui kalau Kakekku pasti bawa uang lebih. Aku berpikir demikian karena aku tidak tahu harga sepatu, aku merasa uang tabunganku sudah cukup banyak. Lagipula ketika aku mengajak ke kota, Kakeku menyanggupi, tersenyum seraya berkata “Nanti kamu yang bayar ongkos bis dan ongkos makannya ya?” Aku merasa cukup punya uang waktu itu dan langsung saja mengiyakan. Setelah dihitung-hitung ternyata untuk ongkos bis ke kota dan makan berdua, uang tabunganku sudah habis.
Sampai dengan lulus SD, hanya itu kesibukanku. Oh iya ada sedikit selingan, pada saat kelas V SD, karena waktu itu bulan puasa, aku ikut juga berpuasa. Aku tidak tau tujuan puasa untuk apa, aku hanya ingin ikut berpuasa karena teman-temanku yang lain kuta berpuasa. Teman-temanku kuat puasa satu bulan, masa aku tidak kuat. Teman-tamanku tarawih, aku tidak. Tapi ketika temanku mengaji, aku ikut pergi namun demikian aku hanya menunggu temanku di bangku luar rumah tempat mengaji, sampai selesai.
Beberapa minggu setelah puasa, aku masuk rumah sakit. Aku rawat inap selama 14 hari, saat Kakeku menjenguk aku bilang ke Kakek “Nanti bayar biaya rumah sakitnya pakai tabungan saya mbah”. Kakeku hanya tersenyum dan bilang “Makanya cepat sembuh, supaya bisa cari rumput, kasihan babinya tidak ada yang ngasih rumput”
Sepulang dari rumah sakit, aku mesti banyak istirahat dan aku tidak diperbolehkan cari rumput lagi. Berkurang satu aktifitasku, ditambah lagi aku menjadi jarang bermain bersama teman-teman. Pada saat-sat seperti itu aku tidak sengaja mengisi waktuku dengan membaca majalah-majalah bekas, buku pelajaran bekas, pemberian saudara. Sejak saat itu aku mulai senang membaca buku, LKS (lembar Kerja Siswa) meski bekas. Bagi orang lain hal seperti itu dikatakan bagai belajar, bagiku hal itu hanya mengisi waktu luang saja. Selebihnya bermain dengan teman-teman, hanya itu kesibukanku sampai aku lulus SD.
August Blues
Saya bukan ahli bahasa, namun ketika masih SMP saya suka sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Dulu seringkali saya membuat puisi yang saya kumpulkan dalam buku catatan kecil, beberapa teman perempuan sempat meminjam buku kecil tersebut, entah sekarang dimana buku itu. Bahkan sekarang aku lupa caranya membuat puisi. Entah siapa pernah bilang kepadaku “Membuat puisi itu tidak susah, yang lebih susah adalah membuatmu jatuh cinta. Ketika jatuh cinta, puisi akan mengalir dengan sendirinya” atau barangkali itu hanya percakapan antara aku dan diriku sendiri.
Setiap pelajaran Agama, kami yang bukan beragama mayoritas harus keluar dari kelas. Pada saat itu menjadi kesempatan untuk bisa ngintip ke kelas lain yang sedang pelajaran, berharap adik kelas yang cantik berpamitan untuk keluar kelas setelah mengetahui kami di luar. Tidak seperti dalam sinetron, meski kami mondar-mandir di samping kelas, itu gadis cantik tak kunjung keluar kelas. Curiga dengan aksi konyol kami, guru kelaspun keluar dan menegur kami. Percakapan singkatpun terjadi antara kami yang sebenarnya panik dengan guru bahasa Indonesia tersebut. Singkat cerita, Ibu guru ada keperluan, dan kami diminta menjaga kelas yang masih ada waktu sekitar 1 jam pelajaran. Kami bersedia, tidak ada penolakan sedikitpun dari kami.
Berlagak sok berkuasa di kelas, kami sesekali jalan ke kursi deretan belakang, maju lagi ke depan hanya untuk melihat lebih dekat adik kelasku yang cantik. Barangkali aku jatuh cinta dengan gadis itu, sayang sekali waktu itu belum ada Facebook ataupun HP, kesempatan terbaik menemuinya adalah saat perlajaran Bahasa Indonesia di kelasnya.
Mendekati bulan Agustus, latihan Pramuka digiatkan lagi. Kami yang duduk di kelas tiga, yang kebetulan menjadi Dewan Galang mendapatkan tempat khusus untuk berinteraksi lebih dalam dengan adik-adik nan cantik dalam suasana latihan Pramuka. Sungguh acara yang paling kami tunggu, bahkan waktu senggang selama pelajaran di kelaspun membahas tentang Pramuka. Usai latihan Pramuka, tak jarang rombongan kami mengikuti dari belakang, sekedar memastikan gadis itu sampai di rumahnya dengan Slamet
Sampai dengan kelulusanku, tidak terjadi apa-apa antara aku dan gadisku, hanya sempat bertukar foto ukuran kartu pos saja beberapa minggu sebelum kelulusan, saat au singgah ke rumahnya. Entah kemana foto itu, tidak pernah berhasil aku temukan meski aku tidak pernah membuangnya. Selulus dari SMP aku melanjutkan sekolah di kota Wonosobo, bukan SMA Negeri, bukan juga SMA favorit, hanya sekolah biasa dengan beberapa gedung tua dikelilingi parit. Setelah itu, tidak pernah ada kontak lagi, tidak pernah juga ada pertemuan dengan gadis itu, sampai bulan Agustus tahun berikutnya.
Agenda tahunan sekolah kami adalah menyelenggarakan Persami (Perkemahan Sabtu Malam Minggu), saya mendapat undangan sebagai alumni. Kali ini merasa lebih gagah datang ke almamater sekolah, dengan memakai pakaian Pramuka lengkap dengan BANTARA diatas pundak, bercelana panjang. Beberapa teman satu angkatanku yang tersebar di berbagai sekolah juga mendapatkan undangan yang sama, menjadi semacam reuni bagi kami.
Kelakar dan canda hangat berubah menjadi kompetisi terbuka diantara kami para senior, ketika gadis cantik yang ada di kelas Bahasa Indonesia itu,ternyata kini juga menjadi panitia Persami. Teman-teman senior semua sudah pasang strategi dan semakin jelas sasarannya menjelang jurit malam. Sepertinya tidak banyak harapan, aku tidak punya pengalaman dalam hal ini. Namun aku merasa sangat mengkhawatirkannya dan hanya bisa berharap gadis itu bisa mengerti akan kekhawatiranku padanya. Tidak ada HP untuk mengirim pesan itu, namun ketika dia melintas di depan kami dengan sepupunya yang tidak kalah cantik, ada kesan yang lain yang dipancarkan dari sorot matanya. Sampai saat ini, aku masih mengingat sorotan mata itu.
Temanku yang merasa paling inti, sudah sejak awal mengkondisikan agar dalam jurit malam gadis itu bisa berjaga satu pos dengan dirinya, sial. Tidak lebih dari 2 menit, ketika terjadi sedikit kekacauan dengan pembagian tugas yang dibuat temanku itu, aku merasa inilah saatnya. Aku pastikan lokasi keberadaan gadis itu, akupun segera melesat menghampirinya, aku tawarkan kepadanya untuk tetap tinggal bersama saya, berjaga di pos induk sekolah, melepas regu mengikuti jurit malam.
Temanku itu menjadi sangat gusar, karena dia tidak berhasil membawa gadis itu tinggal satu pos dengan dia, terpaksa dia harus terjun ke lokasi karena dia yang merancang jurit malam itu. Satu per satu, regu diberangkatkan, akhirnya hanya tinggal kami berdua. Iya kami berdua di tengah lapangan sekolah, ditemani nyala api unggun.
Tidak banyak yang kami bicarakan, kamipun masih berdiri berjauhan sambil sebentar-sebentar mengatur nyala api. Ketika kayu bakar sudah hampir habis, aku menanyakan kepadanya untuk tetap tinggal di dekat api ataukah ikut bersamaku mencari bangku bekas untuk di bakar. Dia memilih untuk ikut denganku, munkin ada baiknya karena sejujurnya aku tidak mau melewatkan sedetikpun malam itu tanpa dirinya. Ketika aku hendak mengangkat tumpukan bangku bekas, dia menawarkan untuk membawakan senter kecil yang aku bawa. Tidak terasa, jari lembutnya menyentuh jariku, tidak lama memang, tapi rasa itu entah bagaimana menceritakannya.
Kami bercanda ringan, tidak ada pembicaraan serius sambil sesekali saling menatap. Jujur dalam hatiku berdoa agar teman-teman yang jurit malam tidak segera kembali, karena belum puas aku nikmati kebersamaan malam itu.
Suara derap kaki perlahan mendekat, artinya acara jurit malam telah selesai. Semua anggota Pramuka telah kembali ke sekolah, oleh Kakak Pembina, kami diperintahkan untuk istirahat sejenak. Dengan berat hati aku melepaskan dia bergabung lagi dengan teman panitia lainnya. Akupun mencari tempat istrirahat paling nyaman, yaitu di UKS. Barangkali memang nasib baikku, ketika aku bersantai sejenak dengan kawan dekatku di depan UKS ternyata gadis itu datang bersama saudara sepupunya untuk ke kamar kecil yang letaknya pas di depan UKS. Segera kami hampiri, dan sekali lagi akau tawarkan dia untuk beristirahat saja di UKS sambil menjaga salah satu peserta Persami yang terbaring lelah di UKS. Gadis itupun mau, sementara saudara sepupunya diantar oleh temanku ke ruang istirahat panitia, yang ternyata entah pergi kemana mereka baru kelihatan saat apel pagi.
Tidak sesingkat itu, meski kini kami bertiga, tapi peserta yang terbaring lemah itu telah tertidur lelap jadi praktis hanya kami berdua, lagi. Namanya juga anak-anak, cerita hanya masalah seputar pelajaran dan teman-teman. Aku benar-benar tidak tahu caranya mengungkapkan rasa sukaku padanya. Kami kehabisan cerita, aku hanya bisa menawarkan jaketku untuk menghangatkan tubuhnya. Meski cukup lelah, gadis itu tetap kelihatan cantik dengan rambut yang terurai rapi. Kami duduk bersebelahan, dan kini semakin dekat, tidak seperti saat di api unggun tadi. Tidak banyak bicara, aku sodorkan bahuku untuknya bersandar.
Sesekali mataku terpejam, menikmati kebersamaan itu. Kepalaku ikut miring, bersandar di ubun-ubunnya, sungguh tidak terduga ada sensasi yang luar biasa ketika mencium bau wangi rambutnya. Semakin pagi semakin dingin, tak terasa tangan kiriku sudah menutup rapat kedua tangannya yang berada diatas pangkuannya. Masih tidak ada kata. Ketika ayam mulai berkokok artinya memang sudah benar-benar pagi dan sebentar lagi teman-teman pada bangun. Aku merasa harus segera mengutarakan isi hatiku padanya. Masih dengan gemetaran karena dingin juga grogi aku katakan “Dik, aku sayang kamu” lama kami terdiam dan hanya berpandangan. Aku tidak tahu persis apa yang dia pikirkan, namun sungguh tatapan matanya waktu itu penuh makna. Tetap saja dia diam, sampai aku tanya “Bagaimana?” dia kemudian menjawab “ Iya aku tahu, tapi Kakak sudah seperti Kakakku sendiri”. Kami kembali terdiam.
Setelah apel pagi selesai, acara Persami juga selesai, kami kembali ke rumah kami masing-masing. Sore harinya teman dekatku datang ke rumahku, menceritakan kalau sepulang jurit malam mereka duduk berdua di belakang sekolah. Kami tertawa bersama-sama setelah aku juga menceritakan kejadian yang baru aku alami semalam. Perjumpaanku dengan gadis itu bukan perjumpaan yang terakhir, beberapa kali masih sering satu bis menuju ke sekolah, meski kami tidak satu sekolah lagi saat SMA. Perjumpaan di bis itu tak lagi sehangat saat perjumpaan dengannya di depan api unggun, setahun yang lalu.
Setelah aku melanjutkan kuliah di Salatiga, aku tidak pernah melihat gadis itu lagi. Bahkan tidak lama kemudian aku mendengar gadis itu telah menikah. Beberapa kali gadis itu masih menjumpaiku lewat mimpi.
Yah semua itu hanya sepenggal cerita dikala aku masih muda belia, ketika masih belajar tentang cinta, bahkan sampai sekarangpun aku merasa masih harus lebih banyak belajar tentang cinta. Semua bermula dari pelajaran Bahasa Indonesia. Saat itu, sepertinya sedang belajar mengenai logika bahasa di kelas. Aku tidak ingat persis, tapi sepertinya mereka sedang belajar mengotak atik kata. Sebagai contoh Jika payung dapat dipakai saat hujan. Artinya, saat tidak hujan saya tidak perlu berpayung. Atau saya berpayung karena hujan. Dalam contoh dalam kalimat yang lain jika beribadah dapat menghapus dosa. Artinya, saya tidak perlu berbuat dosa sehingga saya tidak perlu beribadah. Atau saya beribadah karena saya berdosa.
Itu hanyalah pelajaran logika bahasa. Bersyukur sekali saat itu aku berada di kelas itu meski niat awalnya adalah untuk menjumpai gadisku namun aku juga belajar bahwa dengan logika bahasa dapat membantu mengeluarkanku dari ketersesatan pikir. Bersyukur dapat keluar kelas saat jam pelajaran Agama sehingga pikiranku tidak banyak teracuni oleh doktrin agama.
Semenjak saat itu, hampir setiap mendekati bulan Agustus selalu ada cinta bersemi. Sungguh tak sanggup melihat tingkahku yang konyol dan bodoh saat jatuh cinta.




















