Popularity of the Decentralization Reform and Its Effects on the Quality of Education (Journal Review)

Desentralisasi merupakan usulan dari para pembuat kebijakan sebagai cara meningkatkan kualitas pendidikan, meskipun potensinya di bidang ini masih diperdebatkan. Artikel ini menelusuri dorongan dan popularitas reformasi sebagai solusi kebijakan atas beberapa dekade terakhir. Ini menyatakan bahwa tiga kecenderungan khususnya telah menandai pasca era tahun 2000 :  pendalaman reformasi yang dilaksanakan sebelumnya, fokus yang ditingkatkan pada intervensi  desentralisasi sekolah, dan peningkatan penting dalam skema di kawasan Afrika. Artikel ini memeriksa bukti empiris pada hubungan itu antara desentralisasi dan kualitas pendidikan, menggunakan studi kasus yang terperinci di Indonesia dan Kenya. Studi kasus tidak hanya menampilkan tren desentralisasi tetapi juga menunjukkan bahwa pendekatan desentralisasi yang berbeda dapat menghasilkan perbedaan yang dramatis hasil dalam kualitas pendidikan. Pada bagian depan ini, artikel ini menyatakan bahwa fitur desain dan implementasi cenderung membentuk hasil yang berkualitas, secara mendasar dibentuk oleh kondisi ekonomi serta oleh politik donor dan pemangku kepentingan lokal.

Artikel selengkapnya unduh disini.

Advertisements

Super Hero Masa Kini

Kita dibesarkan oleh dongeng, kisah para raja dan kestria, kisah orang-orang suci dengan segala kemampuan dan kesaktiannya. Hollywood tahu persis kehausan manusia modern akan hal ini, sehingga setiap kali peluncuran film superhero baru selalu kebanjiran penonton.  Di saat bersamaan, kita juga dibiasakan bahwasanya menjadi penonton itu nikmat. Hanya tinggal duduk menertawai aksi konyol superheronya, mengutuki kebodohannya dan sedih sesaat atas penderitaannya. Begitu selesai film diputar, selesai semuanya.

Dalam kebudayaan timur, kita lekat dengan berbagai cerita manusia sakti. Ada yang bisa membuat candi hanya dalam satu malam, ada yang bisa terbang ke angkasa meski tanpa sayap dan tabung oksigen, ada yang bisa membelah daratan, dan masih banyak lagi. Ya, kita begitu menikmatinya. Beberapa diantara masih lekat dan mungkin kita masih mempercayainya. Kita terlanjur asik menikmati cerita tersebut sebagai bagian dari kehidupan kita, sehingga kita lekas marah ketika ada pendapat lain atau fakta ilmiah baru yang menggoyahkan konsep keyakinan kita pada cerita tersebut. Kita lupa mempertanyakan darimana dan bagaimana kesaktian tersebut diperoleh dan bekerja?

Di jaman modern, dengan kecanggihan teknologi orang dapat menciptakan superhero-superheroan versinya sendiri. Dimulai dengan edit foto, seolah menunjukkan adanya kekuatan supranatural seketika ketika dibagikan di media sosial dengan fasilitas share dan ketik amin, jadilah superhero. Superhero perlu pakaian kebesaran yang menunjukkan identitas, yang membedakan dirinya dengan orang pada umumnya. Sangat menyenangkan memang bermain superhero-superheroan, dikagumi, dipuji-puji dan banyak teman-temannya. Saya kadang bertanya-tanya darimana superhero tersebut mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Dituturkan bahwa orang-orang sakti ada yang mendapakan kekuatannya karena keturunan orang hebat jaman dahulu. Kita terlanjur menerimanya, tanpa mau mempertanyakan apakah nenek moyangnya dahulu yang dianggap hebat itu sudah hebat sejak lahir? Atau mulanya juga dilahirkan jadi orang biasa? Ada lagi yang mendapatkan kekuatannya dengan bertapa di tengah hutan, dalam goa, di tepi sungai.

Bertapa itu identik dengan kehidupan yang menderita, jauh dari gemerlap kehidupan, kurang makan dan minum, waktunya banyak digunakan untuk menyadarkan diri. Di jaman modern hal ini apakah masih bisa  dilakukan?. Masih banyak daerah di pelosok pedalaman negeri, jauh dari gemerlap listrik, sinyal dan akses jalan raya bukankah ini merupakan lokasi yang bagus untuk bertapa? Kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, kesehatan, ketidakadilan bukankah musuh yang jauh lebih nyata untuk diperangi? Berpuasa untuk tidak memegahkan diri, menganggap diri paling penting, memakai pakaian kebesaran agar diagungkan, bisa jadi menjadi media alternatif selain menahan diri dari rasa lapar dan haus. Waktu, tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mengentaskan ketertinggalan, membangun kesadaran bersama untuk membangun dan menjaga bumi pertiwi bisa jadi lebih bermakna selain hanya berdiam diri membangun kesadaran diri. Atau jangan-jangan memang kita sedang tidak sadarkan diri, karena asik berfantasi menjadi superhero, sampai lupa aksi dalam kehidupan sehari-hari?

Saat ini orang dengan mudahnya diombang-ambingkan dengan berita bohong dan fitnah. Berbagai macam isu dengan mudahnya dihembuskan pada kelompok-kelompok tertentu yang tidak lagi mau menggunakan akalbudinya, terlebih lagi jika isu-isu tersebut disampaikan oleh orang tertentu bak superhero masa kini.  Bukankah kita masing-masing pribadi bisa menggembleng diri menjadi kesatria-kesatria yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak mencari nama, menggunakan segenap akal budinya untuk membangun identitas manusia yang berbudi luhur? Kesatria yang mampu melihat di dalam gelap, carut marut antara kebenaran dan dusta, antara fakta dan propaganda, mampu melihat superhero jadi-jadian yang menyesatkan.

Mereka yang dalam dirinya bergetar dengan tulisan ini adalah keturunan dari para kesatria nusantara. Kita bebas memilih untuk menjadi seperti apa? Kita bisa memilih untuk diam dan banyak bekerja, atau hanya duduk dan berbicara. Kita bisa memilih untuk melawan kemiskinan dan penderitaan atau justru melawan anak bangsa sendiri karena perbedaan demi meraih kekuasan. Jika kita harus mengenakan baju kebesaran dengan segala perlakuan dan keistimewaanya terlebih dahulu, baru kemudian melakukan perubahan, mungkin ada baiknya pulang saja ke rumah, minta sama ibu untuk dibelikan baju Superman.