Main Bola

http://i154.photobucket.com/albums/s243/amie089/bola-kartun.gifKetika masih anak-anak, mungkin saat itu aku sudah kelas 1 SMP. Seperti halnya anak-anak yang lain, main sepak bola merupakan hal yang menyenangkan. Saat main bola sebagai kegiatan bersenang-senang dengan teman sebaya, kakek saya tidak menghiraukan. Namun ketika minatku semakin besar, kakek mempertanyakan niatku? Kala itu aku meminta dibelikan sepatu untuk bermain bola.

Pertama, kakeku menanyakan apa tujuanku bermain bola? Aku jawab untuk mencari keringat. Langsung saja kakeku mengambil pikulan, keranjang kecil, dan sabit sambil berkata “ Ayo kalau mau cari keringat”. Sepertinya aku salah membuat alasan, mau tidak mau saya ikut kakek ke ladang untuk cari rumput.

Beberapa hari berlalu, aku mencari-cari alasan yang tepat untuk bermain bola. Aku dapat alasan yang cukup bagus, kembali saya jumpai kake untuk meminta ijin bermain bola. Lagi saya ditanya “ Untuk apa main bola?” saya menjawab dengan yakin bahwa saya bermain bola untuk pergaulan, wajarnya anak-anak. Kakek tidak melarang, namun kali ini dia banyak bercerita. Intinya menanyakan apakah tekatku sudah bulat?

Saya dibuat penasaran dengan ekspresi kakek yang tersenyum penuh misteri.  Saya balik bertanya “Emang kenapa mbah?” Pelan-pelan kakek menjawab dengan pertanyaan. “Apa untungnya main bola? Kamu main bola untuk cari keringat? Sama-sama berkeringat kan lebih baik kamu ke ladang, kerja atau cari rumput. Rumput kamu bawa ke kandang untuk pakan babi dan sapi. Nanti kalau sudah besar sapi dan babimu bisa dijual untuk beli baju dan keperluan sekolahmu”.

Kakek masih melanjutkan pembicaraannya. “Kalau kamu main bola, sudah capek, kamu lapar tidak dimasakkan sama nenek, babi dan sapi juga terurus. Kamu pilih mana? Masih mau main bola?” Terdiam cukup lama, kesal dan sedih, saya masih belum beranjak dari hadapan kakek yang masih mencincang dedaunan untuk pakan babi. Kakek tahu bahwa aku tidak berterima dengan ucapannya, lanjut dia menceritakan beberapa kejadian saat orang bermain bola. “Perlu kamu ketahui, sepak bola itu olahraga yang keras. Tidak jarang orang beradu kaki sampai keseleo bahkan kadang ada yang sampai patah tulang. Kalau sudah begitu mau bagaimana? Kamu jadi cacat, dan darimana biaya pengobatannya? Jual babi dan sapimu belum cukup untuk mengobati jika sampai patah” demikian kakek menambahkan ceritanya untuk meyakinkanku.

Sejak saat itu aku tidak lagi bermain sepak bola, paling hanya sekali-kali menonton bola. Itupun kakek selalu berpesan agar tidak usah terlalu fanatik. “Kalah-menang itu hal biasa, namanya juga permainan. Nikmati saja kebodohan yang ada” Kaget dengan pernyataan itu, saya menanyakan balik apa maksudnya? Kakek menjawab “Betapa tidak bodoh, orang-orang dewasa seharusnya bekerja kok malah berebut satu bola? Kalau anak-anak masih maklumlah. Yang lebih bodoh lagi adalah penontonnya, sudah tahu begitu tapi ada juga yang kemudian mau berantem. Dapatnya apa?”. Saya tetap menonton pertandingan bola di lapangan desa, yang hanya berjarak 3 km dari rumah dengan jalan kaki.  Namun sepanjang permainan, saya justru tidak henti-hentinya merenungkan apa yang dikatakan kakekku.

Semakin bertambah usia, aku mulai menyadari beberapa kekhawatiran kakekku jika aku bermain bola. Kala itu masih terdengar rumor jika para pemain bola tidak hanya bermain dengan teknik dan startegi, namun kadang juga ada yang pakai “ilmu”. Orang-orang yang demikian biasanya bermain kasar, tidak jarang memancing emosi lawan. Jika sudah demikian kadang juga dapat memicu perkelahian yang melibatkan para penonton.

Kebiasaan menonton pertandingan sepak bola masih aku lakukan sampai aku lulus SMP. Namun selalu saja sepulang dari menonton sepak bola kakek saya bertanya “Dapat apa?”. Saya hanya bisa tersenyum. Menginjak SMA sampai sekarang, aku tidak lagi bermain sepak bola. Kemampuan motoriku sama sekali tidak terasah. Bahkan ketika pertandingan persahabatan antar angkatan ketika masih kuliah, teman-teman membiarkan aku menendang bola di depan gawang tanpa pengawalan. Meraka tahu, meski tanpa pengawalan tembakanku tidak akan masuk ke gawang. Tidak lucu ah.

Belakangan  saya merenungkan kembali dengan apa yang pernah disampaikan kakekku. Sangat ironis sekali bagaimana permainan sepak bola disinyalir ada pengaturan skor, belum lagi polah tingkah para suporternya. Mulai dari aksi perkelahian, pelemparan batu sampai dengan perusakan kios. Hal yang paling diagung-agungkan dalam olahraga yaitu sportifitas nampaknya hanya menjadi slogan semata. Parahnya lagi, sekalipun bukan suporter tim yang bermain, ada saja yang melakukan keributan terhadap suporter tim yang bermain. Bukan tanpa alasan, hal ini mungkin terjadi karena adanya sejarah permusuhan antar suporter sebelumnya. Sangat disayangkan sesama anak bangsa berbuat demikian. Apakah tidak lebih baik energi jiwa muda yang begitu luar biasa besar ini dialihkan untuk hal-hal yang lebih positif untuk membangun bangsa?

Sekali lagi saya teringat dengan pertanyaan kakek saya “Dapatnya apa? Biar apa?”

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on October 19, 2015, in Javalosophy and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: