Mengapa Scientiarum?

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan diskusi dengan Aron Daud Unas, via chat Facebook. Bukan orang sembarangan, Aron adalah mantan Ketua Umum SMU 2014-2015. Sudah lama sekali saya tidak pernah bicara serius tentang LK (Lembaga Kemahasiswaan) UKSW, terakhir sekitar tahun 2010-an. Periode setelah itu hampir tidak ada lagi teman-teman aktifis yang sekedar say hello apalagi berdiskusi tentang LK. Entah darimana sumbernya, Aron mengajak pertemanan di FB, setelah itu kami terlibat beberapa pembicaraan serius tentang LK.

Terakhir dia menanyakan bagaimana harapan saya terhadap LK, saya jawab saya sudah tidak banyak berharap dari LK, saya lebih memberikan perhatian pada Scientiarum (SA). Kemudian dia menanggapi, kenapa Scientiarum? Saya berikan penjelasan panjang lebar, tapi intinya begini. SA itu lembaga pers mahasiswa, ada dibawah koordinasi SMU (Senat Mahasiswa Universitas), artinya keberlangsungan SA sangat tergantung dari kebijakan dari SMU bagaimana menempatkan SA. Pada periode 2005-2006, Universitas melihat peran strategis SA dalam rangka membangun wacana kritis prinsipil, sehingga melalui WR III (Umbu Rauta) memberikan dukungan dana sebesar 25 juta untuk satu tahun anggaran.

Dana tersebut luar biasa besar, biasanya SA hanya diberikan anggaran tidak lebih dari 10 juta. Saya pada waktu itu dengan tegas, menanyakan kepada WR III akan kebijakan tersebut “Apakah ini berarti SA dibeli oleh kampus, dan kami tidak boleh memberikan kritik terhadap kampus?” Umbu Rauta menjelaskan, bahwa Universitas tidak akan mencampuri urusan isi dan redaksi dari SA, itu semua tanggung jawab SMU. Jadi sudah menjadi kewajiban SMU untuk melakukan pengawasan, sehingga ketika ada permasalahan seputar isi dari SA, Ketua SMU-lah yang dipanggil, bukan pimred SA. Dana pembinaan ini semata-mata merupakan bentuk komitmen dan dukungan universitas, sepertihalnya universitas mendukung keberadaan vokal grup Lentara Kasih dan Voice of SWCU.

Bambang Triyono, Pimred waktu itu menyanggupi. Bahkan kita kewalahan untuk bisa menerbitkan sampai 3 volume, mengingat waktu itu personil SA hanya terdiri atas orang-orang yang gemar diskusi dan menulis saja, kita belum terlatih secara serius dalam hal jurnalistik.

Berangkat dari penggalan cerita tersebut tergambar bagaimana hubungan SA dengan SMU dan Universitas melalui WR III. Nah untuk periode setelah itu saya kurang tau, tapi belakngan saya melihat dukungan dana kepada SA sangatlah minim. Sampai-sampai kami para alumnus turut berkontribusi dana hanya sekedar untuk menjaga supaya web SA tetap hidup.

Saya bertanya-tanya, dimanakah LK? Bagaimanakah dukungan universitas terhadap pengembangan mahasiswa? Mengapa SA saya jadikan contoh kasus, mungkin tidak hanya SA tapi hal ini bisa berarti juga beberapa kelompok diskusi atau UKM lainnya. Jika posisi strategis SA tersebut tidak diaggap penting oleh universitas, lalu apalagi yang lebih penting sebagai tanggungjawab universitas dalam menyelenggarakan pembinaan mahasiswa?

Jika ada kesan SA dikebiri melalui pemotongan anggaran dan LK diam saja, maka alasan inilah saya tidak ada harapan lagi untuk LK. Sikap dan dukungan universitas terhadap SA adalah contoh kecil realitas kehidupan mengenai arogansi si penguasa terhadap si lemah. Jika nurani para fungsionaris LK tidak peka membaca situasi ini, maka saya anggap fungsi radar dari LK sudah jebol, tidak berfungsi. LK bukan hanya pandai menyusun dan merealisasikan program kegiatannya, namun lebih dari itu mampu membangun ketrampilan berorganisasi, semangat kolektifitas dan kepekaan sosial. Jika tidak setia pada perkara kecil ini, bagaimana mungkin dapat menerima tanggungjawab yang lebih besar (kelak dalam dunia kerja)?.

Secara internal saya berikan masukan kepada segenap anggota SA, inilah momentum untuk memperbaiki diri. Menyadari posisi strategis SA, bukan hanya kumpul-kumpul dan foto sana-sini. Boleh saja mendalami fotografi, dan bahkan fotografi menjadi suatu media advokasi yang strategis. Bersamaan dengan itu budaya kumpul-kumpul semestinya terarah dalam suatu diskusi, sembari masing-masing menuliskan pengalaman tersebut. Output dari SA bukanlah majalah, tulisan atau foto, tetapi adalah jiwa-jiwa yang secara kritis prinsipil mampu membaca, menuliskan suatu realitas kehidupan dan melakukan berbagai aksi sebagai manusia yang berdaya cipta. Itu saja, tidak muluk-muluk.

Kembali lagi Aron menanyakan, kenapa saya tidak menyampaikan hal itu kepada fungsionaris LK? Saya tidak mau dianggap post power syndrome, saya kalau tidak ditanya ya tidak bersuara. Saya mau sampaikan hal ini ke Aron, karena Aron sudah lengser. Selebihnya adalah tanggungjawab fungsionaris LK untuk memenuhi tugas dan panggilannya. Apakah LK hanya akan handal membuat program saja, atau bagaimana?

Saya menutup dengan, ada kalanya batu yang dibuang akan menjadi batu penjuru. Demikian.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on October 8, 2015, in Scientiarum and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: