Conflict Immunity : Dari pendekatan personal ke sistem

Niat baik kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk membangkitkan kegiatan ekonomi lokal, tidak selalu mendapat respon yang baik di masyarakat. Terlebih lagi dinamika masyarakat pasca reformasi seolah-olah menempatkan aksi demonstrasi menjadi simbol atas kebebasan tersebut. Tidak jarang perjumpaan perusahaan dengan masyarakat justru berada dalam kondisi yang tidak harmonis, konflik. Apapun penyebabnya, konflik perusahaan-masyarakat lebih banyak mendatangkan kerugian bagi kedua belah pihak daripada mendatangkan manfaat.

Belakangan, dengan semakin meningkatnya tren konflik perusahaan-masyarakat muncul pertanyaan mendasar, bagaimana strategi perusahaan menyikapi potensi konflik yang ada? Bagaimana keterlanjutan penyelesaian konflik ketika tingkat keluar-masuknya staf cukup tinggi?

Pola pendekatan umum untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut biasanya adalah dengan cara mencari orang-orang dengan kecakapan yang cukup untuk menangani hal itu. Hal ini tidak dapat disalahkan, namun demikian efektifitasnya dapat dipertanyakan. Mengapa demikian? Karena penanganan konflik bukan merupakan aksi super hero di atas panggung. Jika demikian adakah alternatif penanganan atas potensi konflik?

Membangun sistem imunitas atas konflik

Sistem imunitas seperti halnya dalam tubuh manusia, bekerja secara simultan mulai dari kontak berulang terhadap patogen, munculnya gejala demam sampai pembentukan antibodi. Setelah terbangun suatu sistem imunitas, berkali-kali kontak tarhadap patogen tidak akan memberikan efek berarti. Dalam konteks pembentukan sistem imunitas atas konflik perkebunan kelapa sawit maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

• Sudut pandang dan arah kebijakan

Pada dasarnya ketika kita menyebut suatu fenomena sebagai suatu konflik, hal ini mengindikasikan adanya keterlambatan penanganan. Sebagai pengamat, kita coba tarik waktu mundur sebelum konflik tersebut mengemuka.

Masyarakat dan perusahaan yang berkonflik mengindikasikan adanya jarak diantara keduanya. Bisa karena masyarakat menjaga jarak, bisa juga karena perusahaan tidak menempatkan masyarakat sebagai satu kesatuan harmonis dalam mewujudkan cita-cita bersama. Ketika masyarakat ditempatkan secara terpisah dengan perusahaan maka akan mempengaruhi sikap dan kebijakan perusahaan terhadap masyarakat. Konsekuensinya program-program dari perusahaan yang terkait dengan masyarakat hanya terkesan formalitas dan pemanis belaka.

Selanjutnya, arah kebijakan program yang diselenggarakan perusahaan tidak cukup hanya untuk meminimalisir resiko kerugian, namun tentunya diarahkan kepada perolehan manfaat bersama baik perusahaan maupun masyarakat.

• Transformasi diri menuju transformasi kolektif

Dalam kapasitas yang beragam, keberadaan perusahaan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan, yang juga  akan mempengaruhi dinamika sosial budayanya. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan baik maka arah perkembangan masyarakat menjadi tidak menentu (free fall society), sendi-sendi kehidupan kolektif yang bersandar pada identitas kultural menjadi rapuh. Dalam kondisi masyarakat yang demikian sudah dapat ditebak bagaimana jadinya jika berhadap-hadapan dengan perusahaan?

Program pembinaan generasi muda yang berakar pada penguatan karakter berdasar pada identitas kultural perlu segera dilakukan. Jika ditanya apakah hal ini pasti berhasil? Maka jawaban yang pasti bahwa dalam proses social engineering merupakan investasi jangka panjang, tidak dapat disamakan dengan perhitungan hasil pada praktik budi daya tanaman yang dapat dengan mudah diprediksi sebelumnya.

Selain pendekatan program, staf external affair tentunya juga senatiasa melakukan transformasi diri seiring perkembangan masyarakat. Keberadaannya bukan hanya sebagai karyawan perusahaan yang mengurusi masyarakat, namun lebih dari itu menjadi bagian dari masyarakat dalam melakukan transformasi masyarakat yang bersinergi dengan perusahaan.

Tidak ketinggalan juga keberadaan lembaga pemerintahan serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sudah tidak jamannya lagi saling mengungkit kelemahan dan kekurangan yang ada karena secara mendasar sama-sama memimpikan kehidupan yang lebih baik. Dengan segala potensi yang dimiliki akan jauh lebih baik berkolaborasi secara intens dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik.

• Teknologi informasi pendukung

Ketika tingkat keluar masuk staf external affair meningkat, maka perusahaan menjadi rentan akan konflik. Kecenderungan perusahaan tergantung pada kecakapan personal, sehingga ketika yang bersangkutan keluar perusahaan akan kalang kabut. Bagi staf baru yang menggantikan akan sangat kewalahan karena kurangnya informasi serta tuntutan penyelesaian target. Staf yang baru mau tidak mau harus “cuci piring” atas permasalahan yang ditinggalkan.

Perusahaan yang tangguh tentunya mendasarkan pada berlakunya sistem, tidak semata-mata tergantung pada kecakapan personal. Ketersediaan dan kemudahan akses informasi akan berpengaruh pada performa staf dalam menangani permasalahan tertentu, khususnya konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat.

Dengan berkembanganya teknologi informasi, terdapat peluang untuk diterapkan dalam penyediaan informasi lahan secara lengkap. Mulai dari historis perolehan lahan, rekaman peristiwa dapat diintegrasikan dengan peta lahan (sistem informasi geografis). Barangkali  suatu saat nanti data tersebut dapat diakses online oleh staf yang bersangkutan, sehingga tidak menututp kemungkinan ketika terjadi permasalahan klaim lahan bisa diselesaikan di lahan saat itu juga sekalipun oleh staf yang relatif baru ditempatkan.

Ketika berbicara tentang konflik perusahaan dengan masyarakat, penyelesaian secara cepat pada level  terbawah yang bisa dilakukan jauh lebih baik daripada menunda waktu sampai kepada jenjang pengambil keputusan yang lebih tinggi.

Jika sistem imunitas sudah terbentuk, maka kita tidak harus menunggu “demam” dahulu kemudian mencari obat. Ketiadaan konflik bukan berarti keberadaan staf external affair tidak lagi dibutuhkan, hal ini sebagai indikasi bahwa sistem imunitas yang ada telah bekerja dengan baik.

Penyelesaian terhadap konflik akan tetap dipengaruhi oleh kecakapan staf yang bersangkutan, namun jika tidak didukung oleh suatu sistem imunitas yang kuat maka kecakapan personal tidak dapat tampil secara maksimal. Di atas segalanya, perusahaan tentunya harus mengikuti ketaatan terhadap hukum dan aturan, serta menempatkan program pengembangan masyarakat yang diselenggarakan berdasarkan kepatutan-kepatutan yang ada.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on October 1, 2014, in Community Development and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: