Blog Archives

A Note for Matijn Eickhoff

F

riday, 25 March 2011. Dr Martijn Eickhoff Dutch history of archeology researcher was presented His work-in-progress presentation about “Sleeping Beauties, Hidden Forces: Archeology in Indonesia in colonial and post-colonial times and the formation of heritage”. This discussion was held by The Java Institute of Soegijaprananta University. This discussion  is free and open for everyone, but not more than 15 people attended it, seem almost of them are lecturer and older than me.


Martijn Eickhoff

In His research Martijn try to find the formation heritage of Indonesia, ownership or of clustered, shared or contested heritage. Which people or institutions decide who is or who is not allowed to participate in the dominant sense of belonging connected to the site? What are the political, social, cultural and economic/commercial consequences of these decisions?

From His presentation, He gave many example how the Dutch and also the British really care and concern to the Indonesian heritage. Many temple are excavated and renovated at that time, such as Borobudur and Prambanan. Almost the picture and explanation seem the big contribution of the Dutch to preserved Indonesian heritage. Only two picture shown the heritage destruction caused by the Dutch, which are Puputan war picture. The consequences of that war are the destruction of the Palace[1].

I think only 5 person that actively participate in this discussion, and the time is running out. So I do not have time to asked to Martijn. Just a few minute before we leaved that room, I have a chance to asked. “Did your research  only concern about the contribution of the Dutch colonial  to preserved and heritage formation? How about the destruction?” He answered “Of course, we studied it both side, such as at Puputan war” I gave a short explanation why I am asked about that, at lease the research became fair and objective.  I told to Him, another example the Dutch involved destruction is at the time of  Herman Willem Daendels, as Governor-General of the Dutch East Indies. Daendels command the build of road post from Anyer to Panarukan as a defend strategy against  British Battleships, at 1808.

That story is so familiar when we studied about Indonesia at colonial time. But there is a little pieces of that story that not fully revealed. This story I have found at the time as researcher of Indonesian Pluralisme Institute, at Lasem sub district of Rembang, Central Java. Almost two years I have been stayed there doing research action about culture and history of batik Lasem. There is folklore about struggle of  “Lasem rebel”  against Dutch policy about build road post. This story inspired local Pembatik[2] to made batik with Watu Pecah motif. Watu Pecah  mean broken stone, it motif describe the misery of the women (pembatik) those left by the husband recruited by VOC to work forced to build road post.

I am so curious with it folklore, finally I found copy of Babad Badrasanti which include with Carita Lasem. Babad Badrasanti is a Local wisdom Buddhism life guidance, it wrote by mPu Santibadra (1480). While Carita Lasem wrote by  Ki Kamzah (1863), decent of mPu Santibadra. Furthermore about Babad Badrasanti and Carita Lasem I wrote in brief story Belajar Sejarah Minor di Lasem. I am so excited with the detailed of story from Carita Lasem. A part of this told about heroic story the struggle of the last Majapahit Imperium against VOC arbitrariness. The “Lasem rebel” are so anger with arrogance of VOC because the was destructing their temple, as a foundation of road post. The remaining stones of the temple  been throwed out to the sea, because they does not want the local people come back to the temple, that possibly re-consolidate against VOC.

Actually “Lasem rebel” is a term is used by VOC to the local militia that struggle against them. The most famous Lasem rebel are Tan Kie Wie, Ui Ing Kiat (Widyodiningrat), Panji Margono they known as Three Heroes. Panji Margono is the descent of mPu Santibadra, one of royal family of Lasem Kingdom, which is Lasem Kingdom is a small part of the imperium Majapahit. So we can say that Lasem is the last existence of Java-Hindhu-Buddhism authority after the fall of Majapahit. At that contrary we can saw the collaboration of Java people, Java-Champa people, Chinese people, Hindu-Buddhism people, Taoism people and Moslem people against VOC.

There are many things in Lasem we can studied, but the research program of Indonesian Pluralism Institute was done there. The struggle spirit of Lasem rebellions is burn me out to keep on mind, doing autonomous research, and hope someday will found a chance to do deep research.


[1] Buleleng Palace, I thing at Puputan Jagaraga War. Martijn not clearly describe those picture.

[2] Batik maker. Labour-artist who made the Batik.

Identitas Manusia (Jawa)

Makna yang melekat pada kata jawa mengandung tiga unsur yaitu gemati, ngerti dan wigati. Lebih lanjut, gemati dapat diartikan sebagai perhatian atau menjaga dan merawat dengan baik, sedangkan ngerti diartikan sebagai pengertian dan mengetahui hal-hal yang terbaik, selanjutnya wigati berarti penting atau memberikan sesuatu dengan sepenuhnya. Dengan kata lain, jawa berarti manusia yang memiliki perhatian sepenuhnya terhadap segala hal, mengerti cara dan mau melakukan sesuatu untuk menjaga, merawat dengan baik agar mendapatkan hasil yang terbaik bagi kelestarian komunitasnya


Identitas yang Hilang

B

ermula ketika berdiskusi dengan Slamet Widjaja salah seorang budayawan Lasem, beberapa kali terlontar “wong jawa ilang jawane” jika diterjemahkan bebas menjadi orang jawa yang kehilangan (identitas) kejawaanya. Sesungguhnya apa yang hilang dari orang jawa[1]? Jika yang hilang itu adalah identitas, maka seperti apakah identitas manusia jawa? Jika pertanyaan itu diajukan kepada sebagian orang di jaman sekarang akan akan dijawab dengan mudah bahwa manusia jawa adalah orang yang lahir, besar dan menggunakan bahasa jawa dari keluarga jawa.

Slamet Widjaja

Sebelum kita berspekulasi mengenai manusia jawa itu seperti apa, ada hal yang menarik bahwa kata jawa yang merupakan kata benda dapat berubah menjadi kata sifat menjadi njawani. Hal ini semakin membuat saya penasaran, sekaligus mendapatkan petunjuk mengenai identitas masyarakat jawa lebih kepada sifat komunal masyarakat jawa, bukan sebatas sifat yang sangat personal, bukan pula mengenai tata busana atau tata bahasa saja. Ciri khas dari komunitas manusia jawa tersebut juga terekspresi dalam perseorangan yang menjadi anggota komunitas, yang proses internalisasinya melalui kesadaran dan kerelaan dan bukan doktriner.

Dugaan saya tersebut semakin diperkuat setelah saya mendapatkan salinan buku “Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung”. Buku tersebut ditulis oleh Mbah Guru atau nama Aslinya adalah Hadi Darsono atau nama kecilnya adalah Takrip, yang mulai ditulis sejak tahun 1931 berdasarkan cerita dari leluhur masyarakat Kanung serta beberapa catatan kecil. Dalam buku tersebut menceritakan awal mula peradaban manusia di tanah Jawa sejak periode 230 tahun SM sampai 1527, sungguh suatu rentang waktu yang cukup lebar jika dibandingkan dengan ketebalan buku yang hanya sekitar 50 lembar saja. Konsekuensinya adalah beberapa peristiwa sejarah dilewati atau dikupas singkat dan langsung melompat cukup jauh sampai ada peristiwa sejarah yang besar.

Koloni awal manusia jawa yang diceritakan Mbah Guru merupakan manusia pendatang dari Sampit, jika ditelusur ke belakang maka nenek moyang mereka berasal dari bangsa Chauw yang bermukim di hulu sungai Yang Tse (China) yang melakukan migrasi ke selatan sampai ke pegunungan Yunan, Hainan (taiwan) kemudian menusuri kamboja hingga ke Kalimantan. Koloni pendatang yang menetap di Nusa Kendeng[2] kemudian menamakan diri sebagai orang jawa, tanah mereka disebut sebagai tanah jawi. Mereka meggunakan nama jawa yang berasal dari kata jawi (banteng betina) yang sangat perhatian menjaga anak-anaknya ketika di malam hari mereka tidur bergerombol beradu punggung membentuk lingkaran dengan anak-naknya berada ditengah. Sementara itu beberapa banteng lainnya tetap siaga berkeliling diantara kawanan banteng tersebut untuk berjaga dari serangat binatang buas.

Secara sederhana makna yang melekat pada kata jawa mengandung tiga unsur yaitu gemati, ngerti dan wigati. Lebih lanjut, gemati dapat diartikan sebagai perhatian atau menjaga dan merawat dengan baik, sedangkan ngerti diartikan sebagai pengertian dan mengetahui hal-hal yang terbaik, selanjutnya wigati berarti penting atau memberikan sesuatu dengan sepenuhnya. Dengan kata lain, jawa berarti manusia yang memiliki perhatian sepenuhnya terhadap segala hal, mengerti cara dan mau melakukan sesuatu untuk menjaga, merawat dengan baik agar mendapatkan hasil yang terbaik bagi kelestarian komunitasnya. Berdasarkan pemaknaan tersebut di atas, maka masyaratakat Jawa tidak perlu besar kepala karena seiring dengan berkembangnya jaman semakin banyak masyarakat Jawa kehilangan identitasnya. Di lain pihak ada sebagian juga orang-orang yang bukan merupakan suku Jawa justru lebih njawani dari orang Jawa itu sendiri.

Manusia jawa memandang perubahan dan paham-paham baru

Peta Jawa Dwipa

Label jawa selanjutnya menjadi sangat dinamis dan terbuka, dan tidak terpaku hanya pada garis keturunan darah, adat, busana dan bahasa saja tetapi mengenai pencintraan personal dengan karakter tertentu sebagai bagian dari komunitas. Nilai-nilai yang disemaikan oleh manusia jawa pada mulanya dapat kembali ditebalkan dalam masyarakat Jawa saat ini, mengingat semakin derasnya informasi dan paham-paham yang masuk dari luar telah banyak merubah dan menggilas identitas manusia jawa. Sebagai contoh adalahnya masuknya paham demokrasi dan sistem pemerintahan modern, mengkondisikan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam pemilihan wakil-wakil mereka yang ternyata dalam prosesnya justru menyebabkan keretakan di dalam masyarakat yang terbungkus dalam partai-partai politik yang hanya berorientasi kekuasaan dan kepentingan sesaat. Belum lagi praktek-praktik kecurangan dengan politik uang sudah dianggap lumrah, justru jika ada orang jujur hendak mencalonkan diri maka dianggap aneh dan sudah barang tentu tidak akan mendapatkan dukungan suara. Apakah harus saya contohkan mengenai pengaruh agama terkait dengan pudarnya identitas manusia jawa? Saya rasa tidak perlu, karena contohnya akan sangat banyak dan pasti hanya berisi tentang persitiwa-peristiwa yang sangat memalukan untuk disebut sebagai manusia dan hanya  akan menyebabkan kekecewaan, prasangka prasangka buruk terhadap pihak lain.

Dalam usahanya menjaga kelestarian komunitas manusia jawa dilakukan dengan nasehat non doktriner, tidak ada yang harus, yang ada adalah sebaiknya dan seyogyanya. Umumnya hal ini dilakukan oleh generasi tua kepada generasi muda, tanpa bermaksud untuk mengekang kebebasan generasi muda dalam berekspresi dan berkatualisasi diri. Hal ini terangkum dalam pepatah ngono yo ngono tapi aja ngono, jika diartikan secara bebas menjadi jika mau berbuat sesuatu ya silahkan saja asal tidak keterlaluan. Demikian juga ketika paham-paham keagamaan masuk, manusia jawi tidak akan terang-terangan menolak dan akan diterima dengan baik hidup berdampingan atau urip bebrayan. Paham tersebut dipersilahkan masuk dan ikut mewarnai kehupan masyarakat, sejauh itu tetap memegang identitas manusia jawa, seperti pepatah yang mengatakan kalau agama merupakan ageman yang berarti pakaian. Pakaian dapat berganti-ganti sesuai jaman, namun identitas manusia jawa tetap dipegang secara teguh.

Kelestarian manusia jawa

Dimensi lain dalam usaha manusia jawa dalam melestarikan komunitasnya tidak terpaku pada hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga terwujud dalam hubungan manusia dengan alam yang skaligus juga manifestasi dan pembadanan dalam bergumul dengan SANG URIP, atau SANG HIDUP. Siapa namanya dan bagaimana betuknya, berapa jumlahnya tidak diungkapkan mereka hanya tau SANG URIP itu ada hanya bisa dimengerti jika dilakukan. Seperti pepatah ngelmu iku tinemune kanthi laku, atau dapat diartikan bahwa pengetahuan hanya bisa dimengerti dengan menjalankan. Perolehan pengetahuan dalam menjalani hal itu meskipun nyaris tidak dapat diperdebatkan namun anehnya ada kecenderungan untuk bergerak dalam satu arus bersama secara harmonis. Sebagai contoh, penekanan pada dimensi tidakan atau perilaku lebih terlihat nyata dari pada konsep-konsep agama modern yang dapat diperdebatakan. Tentang bentuk, jumlah dan nama Tuhan misalnya justru menyebabkan perbedaan-perbedaan yang akhirnya merugikan bagi kelestarian manusia. Jika hanya untuk kebaikan dan agar manusia bisa berbuat baik tentunya tidak diperlukan agama, hal ini terbukti ketika sebelum agama-agama modern masuk apakah tidak ada manusia yang bisa berbuat baik? Apakah masyarakat sungguh-sungguh tidak baik?

Oleh karena alasan-alasan yang diangap baik itu, maka sekonyong-konyang manusia harus beragama, terutama di Indonesia sebagai ciri dari komunitas yang bernama Indonesia. Sekali lagi karena alasany yang dibangun kurang mendasar, dan menekankan doktrinasi sehingga nalar dan rasa manusia itu tumpul, hanya ikut-ikutan saja apalagi itu menurut tokoh agama. Memilih untuk berseteru dengan sesama manusia demi sesuatu yang sangat abstrak, yaitu agama. Akhir yang tidak jelas, tujuan yang kabur, nalar dan rasa yang tumpul itulah beberapa konsekuensi dari euforia agamis.

Kesadaran mengenai keberlangsungan manusia tergantung dari topangan sang ibu yaitu alam, manusia jawa sangat memperhatikan dan menjaga keberadaan mata air. Hal ini sejalan dengan lahirnya manusia jawa, yaitu sesaat sebelum koloni pendatang dari Sampit tersebut menamakan diri sebagai manusia jawa mereka terlebih dahulu bersimpuh dihadapan ibu bumi dan memeluk langit, berucap syukur baru kemudian membuat pemukiman di dekat mata air. Di kemudian hari nama tetua koloni tersebut yaitu Kie Seng Dang digunakan sebagai nama lain dari mata air yaitu sendang. Apakah manusia jawa memelihara mata air tersebut hanya karena membutuhkan airnya? Saya rasa tidak, perhatian dan tindakan mereka yang dengan sepenuh hati tersebut merupakan wujud bakti kepada ibu alam yang bersetubuh dengan bapa langit, menghasilkan anugerah yaitu mata air.

Setidaknya ada tiga poros yang sangat penting terkait dengan kelestarian manusia jawa yaitu manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan SANG URIP. Bagaimana bisa mengerti akan hal ini, jalani saja, terbuka dan dinamis maka perlahan SANG URIP akan menyatakannya juga lewat ibu alam. Bakti manusia jawa terhadap bapak dan ibu merupakan personifikasi bakti kepada SANG URIP dan ibu bumi, dengan demikian kita dapat lebih luas simbol lingga yoni bukan hanya sebtas simbol alat kelamin laki-laki dan perempuan.


[1] Kata jawa dengan huruf kecil semua merujuk pada waktu pulau jawa masih terdiri atas beberapa pulau untuk membedakan dengan kata Jawa yang menggunakan huruf besar semua merupakan pulau Jawa modern seperti saat ini.

[2] Salah satu pulau yang di kemudian hari bergabung dengan pulau lainnya menjadi pulau Jawa modern, saat ini merupakan bagian dari wilayah kabupaten Rembang, sedikit bagian termasuk wilayah Kabupaten Blora.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,071 other followers