Blog Archives

Sarungan

Para kesatria pandawa padha sarungan

Nalika jaman aku cilik, aku ditukokna sarung karo ibuku. Sarung batik Pekalongan, iku kangga cawisan yan tiba titi wancine tetakan manukku. Dadi sawetara wektu sarunge disimpen ning lemari. Nduweni sarung kuwi ana rasa mongkok ing ati, rasane ora kanthi selak pingin nganggo.

Sak bare tetakan manuk, aku banjur kulina nganggo sarung. Pancen nyata bener kepenak rasane, apa maneh sarunge batik. Jaman saiki langka wong padha sarungan batik , sing okeh-okeh padha nganggo sarung kang digawe nganggo mesin yaiku sarung kothak-kothak.

Nalika aku nulis iki uga lagi sarungan, sanajan ta dudu sarung batik kang kaya jaman cilik nanging rasane lega, isis tinimbang nganggo ageman saka manca. Sarung iku okeh banget pigunane, bisa dinggo bebetan, selimutan, bisa uga kanggo telesan nalika adus ning kali. Sarung kang padha bisa dienggo wong lanang uga wedok, tuwa uga enom. Malahan bocah cilik iya uga bisa nganggo yaiku dienggo gendhongan. Awak gedhe uga kuru bisa mlebu ning sarung, ora usah nganggo ukuran khusus.

Saiki jamane wis maju, wis langka wong padha nganggo sarung. Okehe padha ngangga ageman kang saka manca, kang werna-werna wujude, ukurane uga pigunane. Mula saka iku, saiki wong siji karo sijine bisa katitik saka agemane.

Umume wong sing seneng nganggo klambi ijo kumpul karo sing klambi ijo, semana uga sing seneng nganggo klambi abang uga kumpul kambi sing klambi abang lan sak piturute. Kang radha aneh, wong-wong mau umpawa padha kumpul padha ngrasani wong kang agemane beda. Rumangsane agemane dhewe kang paling resik lan paling apik.

Ora cukup semana, ing liya wektu wong-wong kuwi mau bisa padha gelut, bisa uga ngrusuhi wong liyane kang beda agemane. Perkarane sepele, yaiku rumangsane dheweke kang paling bener lan wong kang beda agemane kuwi ora bener. Wong kang kaya mengkono mau kuwi bisa diunekna wong kang keblinger, merga saka beda ageman wong siji kambi sijine bisa padha congkrah. Kamangka nalika lair iya padha uda, ora ana sijia kang padha anggo-anggon.

Apa padha waras? Dumeh wewadine wis padha tinutup ageman banjur padha tumindhak sak karepe dhewe. Rumangsane nganggo ageman kuwi ben bisa ndalan, eh malah dadi klunthangan. Karo wong sing agemane beda wae gelem tumindhak sawiyah, apa maneh karo wong kang ngliga.

Kumalungkung lan gumedhe, nganggo ageman terus rumangsa luwih unggul tinimbang liyan? Oh, manungsa-manungsa iki arep padha  menangi apa? Umpama padha ngligane apa ya ijeh padha demen sengit lan congkrah? Umpama kudu nganggo ageman ya nggolek kang dienggo kepenak lan marakke lega. Ora malah ndadekke sumpege awak uga liyan, mula saka iku amrih kepenake padha sarungan wae.

Advertisements

Tujuan Hidup

tujuan-hidupSatu pertanyaan ini yang cukup sering ditanyakan, bahkan mungkin oleh semua orang. Ditanyakan kepada dirinya sendiri ataupun orang lain. Bagi yang belum pernah mendapat pertanyaan tersebut, ketika ditanya oleh orang lain akan memerlukan waku bebera saat untuk menjawabnya. Bahkan ada yang masih belum bisa menjawab meski telah ditanyakan berulang-ulang.

Ketidakmampuan menjawab pertanyaan itu menyebabkan situasi kegalauan yang masing-masing orang kadarnya dapat berbeda-beda. Sebagian orang putus asa untuk menjawab pertanyaan itu, bikin pusing, katanya. Maunya terima jadi, biar tidak pusing. Ketidaktahuan atas tujuan hidup dapat menimbulkan sensasi keresahan, kekhawatiran, dan ketakutan.

Karena tidak mau ribet, terima jadi akhirnya hanya bisa meniru jawaban yang sementara itu ada, baik dari kata orang lain atau kata buku. Termasuk diantaranya buku dan kitab keagamaan. Orang-orang yang sudah mengetahui jawaban tersebut terlebih dahulu terkadang diagung-agungkan sebagai guru. Popularitas agama semakin meningkat, semakin memberikan keuntungan bagi aktor-aktor di dalamnya. Aktor-aktor agama yang telah mengetahui peran strategis agama kemudian secara masif menyebarluaskan pengaruhnya, yang pasti bukan tidak ada kepentingan dibalik itu. Selagi masih ada uang, kekuasaan di dalamnya, mungkin perlu berpikir ulang untuk mendapatkan jawaban atas tujuan hidup dari agama-agama.

Manusia mempunyai potensi luar biasa dalam dirinya, namun demikian menjawab pertanyaan atas tujuan hidupnya banyak yang menyerah dan sekedar mengikut saja. Sebagian diantaranya memang berusaha cukup keras sampai harus mencari dan membaca berbagai jenis kitab, serta berguru kepada sekian banyak orang. Selama proses tersebut justru ada yang mendapat ilmu yang lainnya, yang tidak sabar untuk segera menguji kemampuannya. Berlindung dibalik kata “nyimak” dan “mohon pecerahan” terkadang justru hanya sebagai umpan untuk memamerkan kemampuannya.

Pada dasarnya manusia tidak senang digurui, namun anehnya banyak yang suka menggurui. Meskipun tidak suka digurui, orang-orang rela berguru, dan suatu saat nanti juga dapat menggurui orang lain. Apakah tujuan hidup manusia hanya berguru untuk menggurui? Lebih enak tanpa guru tanpa murid. Guru tidak terbeban kalau yang diajarkannya tidak dimengerti oleh muridnya, dan muridnya tidak terbeban dikatakan salah dan bodoh oleh gurunya.

Orang beranggapan bahwa jika tanpa guru dan tanpa buku petunjuk orang akan tersesat? Justru karena ada guru dan buku petunjuk kita bisa tersesat. Karena tujuan kita telah terlebih dahulu ditetapkan oleh guru ataupun buku petunjuk tersebut. Jika kata guru atau buku petunjuk bahwa rahasia kehidupan itu tersembunyi di barat sana, maka ketika kita pergi ke timur, kita akan dikatakan tersesat. Bukan hanya itu, kita juga dapat merasa resah, khawatir dan takut.

Bayangkan kita tidak punya guru dan tidak ada buku petunjuk? Setiap jengkal langkah kita adalah langkah yang semakin mendekati pada tujuan hidup kita. Hal ini sudah pasti, karena hidup itu sendiri bergerak, kalau sudah tidak bergerak itu mati. Apakah kita akan dikatakan tersesat? Tidak perlu resah. khawatir dan takut, agar kita dapat hidup sehidup-hidupnya.

Ada orang-orang yang sudah cukup cerdas untuk mengajarkan tentang kehidupan, menjadi panutan banyak orang. Ucapannya ditulis dan dibukukan, bahkan mungkin jadi kitab. Namun suasana batinnya masih dilingkupi dengan rasa resah, takut dan khawatir. Resah kalau pengikutnya berkurang, takut kalau ternyata ada yang jauh lebih bisa menjelaskan tentang kehidupan, khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan. Hal ini masih manusiawi, tidak harus seorang tokoh besar, manusia biasapun juga dapat merasakannya. Lebih disayangkan adalah kalau ada orang-orang yang resah bukan karena pergumulan batinnya, namun resah karena sikap dan pilihan hidup orang lain. Misalnya ketika ada orang lain memilih jalan ke timur, maka orang itu lekas marah dan segera mengatakan tersesat, beramai-ramai mengutuki dan melampiaskan amarah karena yang mereka anggap sebagai kebenaran adalah orang harus ke arah barat.

Agama sepertinya sangat diperlukan bagi orang yang belum mengembangkan potensi dirinya, sejauh itu pula masih akan ada proses berguru dan menggurui. Mengapa demikian? Karena hanya dalam proses pembelajaran agama beberapa pertanyaan menjadi tabu, potensi kita dibatasi hanya pada pengertian yang telah ditetapkan dan disepakati saja. Memang betul manusia ada batasnya, namun sangat disayangkan jika batasan tersebut hanya pada pertanyaan.

Tujuan hidup seseorang boleh lebih dari satu, boleh berubah-ubah. Jika saat ini ditanya mengenai tujuan hidup saya, maka akan saya jawab tujuan hidup saya adalah hidup sehidup-hidupnya. Kehidupan yang seperti apa itu? Adalah kehidupan yang kita jalani dengan cara-cara terbaik yang kita ketahui. Bukan semata-mata kata orang, kata buku atau kata guru.

Jika demikian kita harus mengalami sendiri dan tidak boleh belajar ini-itu? Tidak ada yang harus, semakin diharuskan semakin kita jauh dari tujuan hidup kita. Mengalami, merasakan dan menyadari sepenuhnya dengan segala potensi yang ada dalam diri kita agar senantiasa mendapati cara-cara yang lebih baik dalam hidup.

Masing-masing orang bebas menentukan tujuan hidupnya, sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya. Tidak menutup kemungkinan akan ada kesamaan dengan orang lain, paling tidak kesamaan dalam cara menjalani hidupnya.

Tidak perlu takut salah, takut ini-itu kalau yang ditanam itu kebaikan. Semakin takut semakin kita kehilangan potensi hidup sehidup-hidupnya. Tulisan ini tidak harus disetujui atau disepakati, tidak perlu dijadikan petunjuk ataupun disakralkan jadi kitab. Tidak perlu menganggap saya guru apalagi nabi, nanti ada orang yang marah-marah dan lekas mencari dan mengatakan pada saya sesat dan penyesat. Apakah orang-orang yang demikian ini dapat hidup sehidup-hidupnya?