Menantang Godaan

Kegiatan Sanggar Batik Di Dusun Gading, Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Rembang.

Setiap kali memasuki bulan puasa, selalu saja mengingatkan aku pada seorang kawan yang juga merupakan rekan kerjaku, namanya Tika. Kami bersama-sama bekerja di Institut Pluralisme Indonesia (IPI). Kala itu kita melakukan riset aksi “Revitalisasi Batik Lasem”. Kami berbagi tugas, saya menangani relasi dengan pemerintahan dan publikasi sedangkan Tika menangani bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Secara langsung disupervisi oleh Mbak Rosi dibawah komando Pak Willy.

Apa yang kami kerjakan sederhana, pada prinsipnya adalah menjawab pertanyaan mendasar “bagaimana keberlangsungan batik tulis Lasem?” Pertanyaan tersebut mengemuka, ketika batik sudah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, namun di sisi lain bahwa pembatik tulis Lasem rata-rata berumur 40 tahun ke atas. Jika generasi muda tidak ada lagi yang mau dan mampu membatik maka dalam kurun waktu 10 tahun ke depan akan sangat sulit sekali medapatkan batik tulis Lasem.

Salah satu objektif Tika adalah membangkitkan gairah membatik bagi generasi muda, secara khusus Tika membangun relasi dengan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler membatik. Beberapa kegiatan lomba membatik tingkat Sekolah Dasar diadakan untuk turut meningkatkan generasi muda dalam menekuni batik tulis.

Di hari biasa, sebuah pondok bambu berukuran 6 x 6 meter digunakan oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk membatik, namun di setiap minggu pagi, suasana berubah. Riuh anak-anak sudah berkumpul, berniat untuk belajar membatik. Melihat antusiasme tersebut, secara tidak terduga beberapa ibu pembatik dengan sukarela membantu mengajarkan membatik secara sukarela.  Bukan hanya di Desa Jeruk, tapi hal itu juga ada dilakukan di Desa Karaskepoh dan Tuyuhan, tidak tanggung-tanggung Ibu Kades Karas Kepoh dan Istri Kades Tuyuhan juga ikut turun tangan.

Hampir 2 tahun kami bersama-sama mendampingi KUB Srikandi Jeruk, tentunya juga melewati bulan-bulan puasa. Selama bulan puasa tersebut, kami tetap melakukan aktifitas bersama seperti biasa. Yang luar biasa adalah, ketika saat jam istirahat Tika justru mengantarkan saya ke warung terdekat. Sementara saya makan, tika biasanya mengisi kesibukan dengan menulis “buku monyet” . Begitu cara Tika menyebutkan buku kecil catatan kegiatan hariannya. Selesai itu dia asik ngobrol dengan si penjual nasi pecel, yang juga seorang muslim. Pecel di bulan puasa rasanya tidak senikmat di bulan lainnya, bukan karena rasanya, tapi karena saya harus menyantapnya di depan orang yang sedang berpuasa. Tidak lupa saya sampaikan maaf sebelumnya.

Setiap suapan pecel terkandung juga pergumulan batin saya. Seorang muslim yang taat dan besar hati menantang godaan dibulan puasa. Sungguh suatu sikap mental yang luar biasa. Bahkan ketika di luar sana saya mendengar pemberitaan orang-orang yang secara paksa menutup warung makan saat dibulan puasa, saya merasa tidak percaya. Apa hebatnya mampu menahan lapar dan dahaga namun tidak bisa menahan diri dengan beringasnya untuk memaksa orang lain menutup warungnya? Karena dua orang muslim yang di depan saya, jelas secara berani menantang godaan itu. Mungkin mereka perlu belajar dengan Tika.

Beberapa kali saya minta pamit untuk makan sendiri, selesai makan saya jemput Tika lagi untuk melanjutkan aktifitas. Namun Tika selalu menolak, dia mengatakan tidak keberatan menemani saya makan siang. Awalnya aku kira basa-basi saja, namun rupanya memang dia serius. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sampai akhir bulan puasa dia selalu menemaniku makan siang. Karena rasa tidak nyaman, pernah sekali saya tidak makan siang, hitung-hitung beromantisme menahan lapar, tapi sampai sore ya lemas juga. Maklum karena terakhir berpuasa dulu waktu masih kelas 5 SD. Karena beberapa bulan setelah puasa saya masuk rumah sakit, maka sejak saat itu saya tidak pernah puasa lagi. Kalaupun sehari cuma makan sekali, semasa masih kuliah itu sudah biasa. Bukan karena mau berpuasa, tetapi karena keadaan.

Tika, bukan meminta diri untuk dihormati karena sedang berpuasa, tapi dia memberikan keteladanan bagaimana dia menghormati orang yang tidak berpuasa, sekalipun aku yang tidak berpuasa tidak meminta untuk dihormati.

Tika dan teman-teman muslim seluruh dunia, selamat menjalankan ibadah puasa ya.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on June 18, 2015, in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: