Duluan Ayam atau Telur?

http://s5.postimage.org/qnrlkb2uf/Ayam_Telur_02.jpgBaik filsuf dan biolog klasik ketika berbicara tentang asal usul kehidupan terjebak pada pertanyaan “manakah yang lebih dahulu, ayam atau telur?”. Pada umumnya orang akan menjawab tergantung kita menyebutkannya mana duluan, kalau kita menyebutkan ayam dan telur maka akan dijawab ayam duluan. Sementara klo kita menyebutkan telur dan ayam maka kita akan menjawab telur duluan.

Selain jawaban retoris tersebut ada juga yang menjawab berdasarkan abjadnya, kebetulan kata ayam dimulai dengan huruf A, sedangkan kata telur dimulai dengan huruf T maka orang menjawab ayam duluan. Tentu kedua jawaban di atas tidak akan memuaskan.

Suatu ketika dalam pertemuan yang tidak formal, ketika saya masih mengajar di Kalimantan Timur, ada orang yang menanyakan “Telur dan ayam duluan mana?” Sebetulnya pertayaan tersebut lebih bersifat menguji dan hendak mempermalukan saya di depan umum. Mengapa demikian? Mereka mengetahui latar belakang saya seorang biolog, yang kental dengan konsep evolusi. Di sisi lain saya juga seorang guru sekolah minggu yang tentunya lekat dengan konsep kreasi (penciptaan).

Sembari menyantap hidangan, setelah saya mengatur kursi tempat duduk saya sedemikian rupa. Saya memberikan jawaban “Ya jelas ayam duluan”. Mereka kemudian terdiam sejenak dan penasaran dengan alasan atas jawaban saya. Kebetulan mereka semua adalah orang taat beragama jadi mereka berharap jawaban saya bertentangan dengan iman mereka, sehingga mereka punya cukup alasan untuk memberikan label sesat pada diri saya.

Alasan mengapa saya menjawab ayam duluan adalah begini : Dalam konsep penciptaan, dikisahkan bahwa sang pencipta bersabda dalam membentuk alam semesta. Dikisahkan bahwa setelah alam semesta, bumi dan tumbuhan diciptakan maka segeralah diciptakan segala jenis hewan baik yang di air, yang di darat maupun yang terbang di udara. Dari sini sudah dapat ditarik alasan bahwa Ayam sudah pasti duluan dari telur, karena yang disabdakan adalah “jadilah binatang-binatang” bukan “jadilah telur-telur”.

Alasan kedua, saya sampaikan dengan nada bercanda “Kalau telur duluan memang kamu yang mau mengerami?” Misalnya pada alasan pertama orang membantah bahwa seharusnya yang diciptakan adalah telur-telur, bukan binatang. Maka akan terjadi keruwetan luar biasa, pertama adalah bahwa dari telur tersebut kita tidak tahu manakah yang akan menjadi ayam jantan dan betina. Artinya kalau nanti sudah jadi ayam, jika ternyata yang diciptakan adalah telur ayam betina maka tidak ada ayam jantan yang akan membuahi sel telurnya, jadi dapat dipastikan ayam tersebut mati tanpa keturunan. Keruwetan kedua adalah ketika telur tersebut ada tanpa ada yang membuahi, maka saat menetas tidak akan menghasilkan individu baru (tidak jadi anak ayam) karena kromosomnya haploid alias tidak mendapat sumbangan kromosom dari lawan jenis. Keruwetan ketiga adalah yang saya sampaikan di atas, kalaupun sudah diciptakan telur siapakah yang akan mengerami telur tersebut?

Alasan ketiga, berangkat dari konsep evolusi. Bahwa yang berevolusi adalah mahkluk hidup berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Artinya seekor burung mengalami perubahan bentuk paruhnya karena menyesuaikan dengan tipe makanan tempat dimana dia tumbuh. Pastinya hal itu berlangsung dari generasi ke generasi. Berangkat dari dasar itu maka yang bereaksi terhadap lingkungan adalah mahluk hidupnya, dalam hal ini  burung atau ayam, bukan telurnya. Jadi mau tidak mau para evolusionis harus menyepakati ayam duluan agar teori evolusi dapat diterima.

Alasan keempat, ini berdasarkan temuan terkini dari para peneliti dari universitas Warwick dan Sheffield menggunakan super komputer yang diberi nama Hector. Mereka menemukan ada protein ovocledidin-17 yang membatu proses pembentukan cangkang. Protein tersebut terbentuk dalam indung telur yang terdapat di dalam tubuh ayam, dengan kata lain pembentukan telur hanya bisa terjadi ketika ada di dalam tubuh ayam.

Jelas sudah, empat alasan mengapa saya menjawab ayam duluan daripada telur. Pada saat itu saya hanya menyampaikan tiga alasan, sedangkan alasan keempat baru saya ketahui kemudian.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on February 8, 2013, in Artikel, Science and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Mas, awakmu salah nulis, ya? coba cek ini:

    Saya memberikan jawaban “Ya jelas telur duluan”.

    Dan di paragraf selanjute kowe nulis iki:

    Alasan mengapa saya menjawab ayam duluan adalah begini : Dalam konsep penciptaan, dikisahkan bahwa sang pencipta bersabda dalam membentuk alam semesta. bla..bla..bla…

  2. menarik mbah slamet…..kalau jawabanku: telur dulu, baru ayam.🙂 hehehe

  3. Mantap Mas Slamet…
    tetep pertanikanlah…

    kalo saya jawabnya ayam duluan, karena ayam penyet lebih mahal dari telur penyet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: