Kebanggaan

bangga-jd-indoKebanggaan bukan merupakan suatu eksistensi, tetapi rasa dan sikap batin atas sesuatu berdasarkan ukuran tertentu. Bagi seseorang naik mobil pribadi sudah suatu kebanggaan, tapi bagi orang lain naik mobil pribadi bukan sesuatu yang membanggakan. Terkait kebanggaan  kemungkinannya hanya dua yaitu membanggakan sesuatu atau dibanggakan oleh orang lain. Tidak pernah dilakukan sensus kebanggaan, tapi jumlah orang yang membanggakan sesuatu jauh lebih banyak daripada orang yang dapat dibanggakan oleh orang lain. Mengapa tidak banyak orang yang dapat dibanggakan?

Tidak ada jawaban yang pasti, sejauh saya dapat meraba, hal itu disebabkan karena manusia lebih sibuk untuk membanggakan sesuatu. Artinya ukuran-ukuran yang dipakai dalam bersikap lebih banyak ukuran yang sangat menonjolkan ego, dengan sendirinya tidak tersedia tempat yang cukup nyaman bagi orang lain dalam kehidupan kita.

Rasa bangga itu perlu, terlebih kebanggaan yang dapat dinikmati bersama. Misalnya sama-sama bangga menjadi bangsa Indonesia. Semakin banyak kebanggaan tersebut dapat dinikmati oleh orang banyak semakin layak untuk dibanggakan, begitu juga sebaliknya. Ada yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi banyak orang, namun justru ada banyak orang juga yang tidak dapat menikmati hal itu. Misalnya menjadi warga negara Indonesia seharusnya membanggakan Indonesia, namun sebagai bangsa Indonesia ada yang tidak dapat menikmati hal itu. Contoh paling nyata adalah dalam rangka menjalankan keyakinan dan kepercayaannya, apakah semua warga negara dapat dengan tenang dan damai? Sepertinya ada yang keliru dalam rangka menjadi Indonesia.

Terdapat simpang abu-abu antara dapat dibanggakan dengan membanggakan, yaitu ketika seseorang begitu membanggakan dirinya sendiri. Dikiranya semakin membanggakan dirinya begitu juga akan semakin dapat dibanggakan oleh orang lain. Sebagai contoh, Joko sebagai seorang Gubernur begitu dibanggakan oleh banyak orang. Sikapnya yang tidak membanggakan diri tersebut memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk bersimpati dan membanggakannya. Pada saat yang sama Joko dapat saja berubah sikap dengan begitu membanggakan dirinya, maka dia akan mempersempit kesempatan orang untuk membanggakannya.

Jadi kebanggaan terhadap diri sendiri ya untuk diri sendiri, tidak perlu dibagi-bagi ke orang lain. Karena orang lain akan bersikap yang sama. Kalau tidak percaya, coba ingat baik-baik percakapan yang pernah kita lakukan bersama orang lain. Sebagai contoh, ketika kita berbicara membanggakan liburannya ke Bali, maka lawan bicara kita juga akan membanggakan liburannya di tempat lain.

Selain simpang abu-abu, ada banyak ranjau seputar bangga-membanggakan. Pemenang dalam sebuah peperangan tentu akan dengan sangat bangga menuliskannya dalam sejarah. Sementara itu adakah perang tanpa korban, tanpa kekerasan, tanpa kekalahan dan tanpa penderitaan? Jadi jangan buru-buru bangga disebut pahlawan atau membanggakan kepahlawanan seseorang.

Peperangan di dalamnya ada pembunuhan, ketika berbicara pembunuhan semata kita seolah-olah begitu anti terhadapnya. Pembunuhan dalam konteks peperangan menjadi sangat berbeda sekali, seolah-olah semakin banyak yang dibunuh menjadi semakin membanggakan. Sementara itu penyebab perang hanya satu yaitu permusuhan yang didasarkan atas rasa kebencian.

Rasa kebencian dapat begitu mudahnya ditabur, dari kebencian personal menjadi kebencian kolektif. Kebencian yang kemudian dimuculkan dalam sikap yang bertentangan sudah dianggap bermusuhan. Membenci kejahatan dan peperangan, jangan buru-buru bangga. Bangsa ini pernah secara kolektif membenci yang menurut mereka diakatakan jahat, yaitu atheisme dalam PKI. Akibatnya 5.000 orang lebih dibantai tanpa pengadilan, pada waktu itu begitu bangganya bisa menyingkirkan sekian banyak orang yang dianggap jahat.

Sampai sekarang kebencian terhadap atheisme dan komunisme terus ditabur. Pertanyaan saya apakah dengan membenci itu membuat hidup kita bahagia? Virus kebencian itu bukan hanya terhadap atheisme dan komunisme, dengan sendirinya mengalami mutasi dan adaptasi yaitu kebencian terhadap apapun yang tidak sesuai dengan pahamnya. Lebih jauh lagi, benci dengan orang yang tidak sama kepercayaan dan keyakinannya. Lihat saja berapa banyak rumah ibadah yang dihancurkan karena perbedaan keyakinan? Menariknya mereka yang menghancurkan itu sangat bangga dengan tindakannya tersebut, sama semangatnya dengan maju berperang.

Apakah orang-orang tersebut dapat dibanggakan? Apakah kepercayaan orang tersebut dapat dibanggakan? Bagaimana mungkin seseorang merasa tidak tenang dengan pilihan sikap dan kepercayaan orang lain? Sebelum bertindak renungkan dahulu, pertanyakan kepada diri kita sendiri. Kalau dengan kita beragama dan berkepercayaan ternyata membuat hidup kita tidak tenang dan damai, berarti ada yang tidak beres dengan agama dan kepercayaan yang dipilih.

Kepercayaan apapun itu yang layak dibanggakan adalah yang dapat memberikan ketentraman dan kedamaian hati, bukan sekedar kata cinta damai. Kepercayaan tersebut bukan konsep atau dogma, tapi terekspresi dalam sikap. Kalau kita menjadi geram karena orang lain memilih menggunakan jenis baju tertentu, sudah pasti sikap kita yang salah. Jadi kita tidak bisa memaksakan orang lain agar memakai jenis baju tertentu supaya kita merasa tentram dan damai. Kenikmatan itu manifestasi dari kehendak bebas, artinya tidak bisa dipaksakan. Karena semakin dipaksakan semakin tidak nikmat.

Terkadang manusia dengan cepatnya cuci tangan dengan melemparkan kesalahan pada oknumnya bukan agama atau kepercayaannya. Sekali lagi agama dan kepercayaan itu termanifestasi dalam pilihan-pilihan sikap. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan tindakan kekerasan terlebih disediakan dalih dan alasan yang cukup dari agama, jika dikatakan agama tersebut tidak pernah salah, yang salah oknumnya. Pertanyaan saya, apakah agama dan kepercayaan hanya menyediakan alasan untuk melakukan tindak kekerasan?

Ukuran-ukuran agama sangat berpotensi tumpang tindih dan bisa jadi bertolak belakang satu dengan yang lain. Jadi kalau kita masih sering membanggakan sesuatu dengan ukuran agama dan kepercayaan besar kemungkinan akan berselisih dengan orang lain, akhirnya tidak bisa dinikmati bersama. Jadi apakah masih bisa dibanggakan?

Tidak perlu repot mempelajari kitab agama dan bangga kalau sudah ditokohkan apalagi sudah banyak pengikutnya (bukan berarti tidak boleh mempelajari kitab ya). Cukup dengan hati nurani, seluruh manusia di penjuru dunia, lahir dilengkapi dengan hati nurani jadi tidak usah khawatir dan beralasan seribu satu macam hanya untuk mencari kenikmatan diri. Masing-masing dari kita dapat saling membanggakan dan dibanggakan dengan ukuran yang universal, yaitu hati nurani. Tentang kebanggaan bukan mengenai apa atau siapa, tetapi tentang ukuran yang dipakai. Ketika kita salah menggunakan ukuran sudah pasti kita tidak dapat dibanggakan meskipun kita selalu membanggakan hal itu.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on December 1, 2012, in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: