Tuhanmu Dimana?

http://baby-jihan.blogspot.com/2009/11/karena-merpati-tak-pernah-ingkar-janji.html

Prihatin dengan realitas kehidupan beragama di negeri ini. Kekerasan, penyerangan, intimidasi, pembatasan, pemaksaan antar kelompok menjadi tontonan yang cukup sering di layar televisi. Oleh para pakar dan birokrat hal itu bisa menjadi topik diskusi berkepanjangan tanpa ada suatu kejelasan solusi, mengambang, normatif dan mempersalahkan pihak-pihak tertentu. Oh negriku…

Bukankah bangsa ini bangsa yang beradab? Bukankah bangsa ini katanya berkeTuhanan Yang Maha Esa? Bukankah setiap penduduk wajib mengisikan sesuatu di KTP pada kolom agama? Ada banyak kaum cerdik pandai, banyak pemuka-pemuka agama, rumah ibadah hampir ada di semua pemukiman, ada pemerintahan, ada penegak hukum. Tetapi melihat realitas yang ada, sepertinya kita sedang hidup ditengah-tengah sandiwara dengan judul kekacauan dan kemunafikan. Ada apa semua ini?

Konon katanya Agama diadakan dan sangat perlu untuk membuat keadaan menjadi tidak kacau. Dari agama itulah orang mengenal Tuhan. Sekarang justru banyak kekacauan berlabel agama. Berangkat dari kenyataan itu muncul pertanyaan sebenarnya Tuhan itu ada  tidak? Kalau ada, dimanakah keberadaannya?

Tarik Nafas Sejenak

Agamawan dan agamawati yang terhormat, mari kita introspeksi diri kita masing-masing, agama kita masing-masing. Apakah diperbenarkan melakukan tindak kekerasan, atas nama apapun? Silahkan gunakan analisa, segala rumus, segala ilmu, segala kitab di segala penjuru. Masih tidak berani dengan tegas menjawab? Tanyakan pada Nabi masing-masing. Kalau masih tidak bisa, tanyakan pada Tuhan masing-masing. Kalau Tuhannya sama, saya yakin jawabannya sama, jika berbeda jawabannya saya yakin ada yang mengaku-aku Tuhan. Atau Tuhannya sama, tapi kita saja yang tidak bisa mendengar jawabannya.

Lagi-lagi saya merasa ada yang aneh setelah menuliskan kalimat-kalimat tertentu. Kali ini saya terpaksa membaca berulang-ulang kalimat yang menyatakan harus bertanya kepada Tuhan, justru mendapati pertanyaan semakin banyak tentang Tuhan. Jika mau bertanya kepada Tuhan sudah barang tentu harus terjawab Tuhan ada dimana? Terus bertanya pakai apa? Lewat sms, tanya langsung atau kirim email? Sebelum itu boleh menjadi tambahan daftar pertanyaan yang mungkin perlu dijawab, Tuhan itu seperti apa? Apakah Tuhan semua orang itu sama? Apakah Tuhan benar-benar ada secara eksistensi atau hanya ada sekedar kata Tuhan?

Mari kita pilahkan sejenak. Sebagian orang menganggap Tuhan itu tidak ada secara eksistensi, yang ada hanya kata Tuhan bisa disebut Ateis. Sebagian lainnya menganggap Tuhan itu ada, meskipun sama-sama tidak ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan. Kelompok ini bisa disebut Teistik. Kelompok Teistik sebagian diantara masih mengharuskan keberadaan agama, disebut kelompok relogius. Sebagian  Teistik lainnya tidak lagi menganggap agama perlu, tapi tetap percaya Tuhan itu ada. Menguraikan yang demikian hanya akan terjebak pada konsep, tapi tidak apalah sekali waktu boleh terjebak, hanya jangan selamanya terjebak pada konsep.

Silahkan tentukan masing-masing, tidak harus ikut-ikutan atau takut berbeda pandangan dengan orang lain mengenai Tuhan. Tidak akan dipersalahkan, yang menyalahkan sudah barang tentu pandangan yang bersangkutan sendiri patut dipertanyakan. Sampai disini cukup jelas, tidak perlu saling mempersalahkan dan menganggap diri paling benar.

Kembali ke pembahasan di atas tentang Tuhan ada dimana. Orang pada umumnya mengatakan Tuahan berada di suatu tempat atau di surga. Artinya Tuhan itu nan jauh disana, untuk berkomunikasi manusia menggunakan cara dengan berdoa. Tidak tahu pasti apakah komunikasi satu arah atau dua arah. Melengkapi ritual keagamaannya, manusia juga melakukan ibadah, biasanya melakukan hal itu karena ada maunya. Ayolah, kita jujur pada diri kita masing-masing. Kalau memang surga seperti yang dikonsepkan dalam kitab-kitab itu tidak ada, masih adakah diantara kita yang mau beribadah?

Keterpisahan?

Doa, ibadah, menjalankan perintah agama dengan segala sesuatu keanehan perilaku manusia beragama nampaknya terbangun dalam konsep keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Betapa tidak, dalam kehidupannya manusia sering kali merasa ditinggalkan, diabaikan bahkan ada yang menganggap sedang diberi ujian oleh Tuhan. Beribadah ya ibadah saja, soal kehidupan sehari-hari itu urusan lain, katanya Tuhan nanti akan memperhitungkan perbuatan baik dengan ibadahnya. Tergantung banyak yang mana, itu yang aan menentukan finalnya di surga atau neraka. Dalam doanya manusia cenderung merengek-rengek, meminta-minta meski sebagian doanya merupakan doa hafalan. Kalau berdoanya saja demikian, bagaimana Tuhan bisa memberi jawaban atas pertanyaan kita? Bisa dibayangkan ketika kita sedang bicara dengan seseorang yang memberondong kita dengan banyak pertanyaan dan permintaan. Belum sempat kita menjawab, orang tersebut sudah pergi. Fiuh…capek deh….

Manusia tidak takut melakukan tindak kekerasan karena menganggap Tuhan tidak mengetahuinya, lebih parah lagi kalau menganggap Tuhan berada dipihaknya. Kalau tidak percaya, perhatikan saja apa yang diseru-serukan orang ketika sedang melakukan kekerasan berlabel agama.  Itulah kondisi ketika manusia menempatkan dirinya secara terpisah dengan Tuhan. Akibatnya bisa merasa hampa, jauh, arogan, dan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal katanya atas nama Tuhan.

Kita mesti belajajar juga kepada mereka yang dianggap ateis. Justru mereka dalam kehidupan kesehariannya lebih baik daripada yang mengaku berTuhan. Apakah kita yang mengaku berTuhan tidak malu? Setidaknya mereka yang dianggap ateis tidak menjadikan dirinya sebagai standar moralitas dan kebenaran.

Di Dalam dan Menyatu

Keterpisahan manusia dengan Tuhannya tersebut, sungguh sesuatu yang tragis. Lalu bagaimana solusi atas keterpisahan tersebut? Bagi yang ateis mulailah dengan diam, tidak usah bicara tidak usah berpikir, cukup diam saja dulu. Bagi yang berTuhan dan beragama, baca kitab sucinya masing-masing. Pelajari apa kata kitab tersebut tentang sifat-sifat Tuhan. Sudah barang tentu sifatnya ada banyak, tidak usah diperdebatkan perbedaannya. Kita cari saja sifat yang umum dan bisa diterima.

Saya rasa kaum teistik semua percaya Tuhan adalah kreator. Kreator itu mengadakan yang belum ada. Ada inisiatif, proaktif. Dekat dengan itu, Tuhan juga merupakan komposer, artinya mampu menciptakan sekaligus menyelaraskan yang diciptakannya secara harmonis. Tuhan juga punya sifat pemelihara, artinya rancangan-rancangannya adalah penuh kebaikan. Pastinya Tuhan itu tanggungjawab dengan yang diciptakannya. Setidaknya itu menurut cerita-cerita dalam kitab, selebihnya silahkan ditambahkan sifat-sifat lainnya sesuai selera masing-masing.

Sifat-sifat Tuhan tersebut kita hadirkan dalam kehidupan kita, tidak usah muluk-muluk menciptakan pulau sendiri. Cukup ciptakan kedamaian di keluarga dan lingkungan dimana kita tinggal. Boleh juga menjadi tokoh perdamaian dunia, atau pemuka agama namun setidaknya setiap gerak dan ucapan kita, diselaraskan dengan berbagai hal agar menjadi kebaikan bersama yang universal dan tidak menganggap diri paling benar. Boleh juga menjadi pekerja di taman nasional atau aktivis lingkungan, lebih dari itu tentunya kita lebih memilih tindakan-tindakan yang konstruktif daripada destruktif. Sepertihalnya Tuhan bertanggungjawab pada ciptaanya, kita juga bertanggungjawab atas semua hasil olah budi kita termasuk dalam pekerjaan. Bekerja dengan baik melebihi ibadah apapapun. Tapi nampaknya masih banyak orang suka beribadah saja, urusan pekerjaan tidak beres. Tidak percaya, silahkan saja merasakan layanan di lembaga-lembaga pemerintah yang digaji dari uang pajak dari rakyat. Sungguh mengecewakan.

Jika setiap orang mampu menghadirkan sifat-sifat Tuhan tersebut saya rasa keadaan akan semakin baik.  Meski demikian tidak usah merasa diri paling berTuhan atau mengaku-aku Tuhan. Tidak ada yang lebih Longan dari Longan yang lainnya. Tidak perlu mengulang kisah tragis Syeh Siti Jenar, yang karena keyakinannya dan juga karena intrik politik harus meregang nyawa.

Menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita, memberikan kesempatan kepada kita menjadi co-creator. Kita dapat berperan aktif untuk bersama-sama menciptakan suasana damai dan nyaman di bumi. Selain itu, dengan menghadirkan Tuhan dapat menyisihkan efek samping keterpisahan yaitu merasa jauh, terabaikan atau sekedar menjadi korban kebijakan Tuhan dengan menyebutnya sebagai nasib atau takdir.

Sebagai catatan saja, di beberapa kitab dikisahkan juga tentang sifat Tuhan lainnya, diantaranya adalah pemarah dan pencemburu. Itu cerita, bisa jadi cerita itu tidak benar. Kalau kita saja yang manusia tahu bahwa marah itu tidak baik, mengapa Tuhan tidak lebih tahu dari manusia?

Jadi, mau berTuhan atau tidak ya silahkan. Mau menganggap Tuhan yang terpisah nan juah di luar sana atau menyatu di dalam diri kita ya silahkan. Jika hal itu ditanyakan kepada saya, maka akan saya jawab “di dalam  lebih asik”.

***

Pastinya, malapetaka menghampiri orang-orang yang menyukai kekerasan. Saya memilih jalan damai, kiranya malapetaka tersebut menyingkir dari jalan kami.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on August 28, 2012, in Artikel and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: