Tuhanmu Berapa?

http://gebyokandfurniture.blogspot.com/Ketika masih kecil, pernah saya ditanya oleh seorang teman “Tuhanmu berapa?” Saya hanya terdiam. Kemudian teman tersebut menerangkan “Bukankah Tuhanmu ada tiga”. Kebiasaan mereka yang mengaku berTuhan satu merasa lebih benar daripada yang berTuhan bukan satu.

Sebentar, rasanya ada yang kurang pas dengan kalimat tersebut di atas. Rupaya saya telah terbawa dalam paradigma kaum pembilang Tuhan. Anggap tidak terjadi apa-apa, dan mari kita selami pemikiran kaum pembilang Tuhan.

Saat ini yang lagi tren adalah Tuhan dibilang satu atau monoteis. Namanya juga lagi tren, kalau saja Tuhanmu tidak dibilang satu maka dianggap tidak benar. Anggapan tersebut tidak bisa disalahkan, dianggap benar ataupun dianggap salah tidak merubah esensi yang dianggap.

Paham monoteis pernah juga menjadi bahan olokan di abad pertama sampai pertengahan. Saat itu masih tren paham politeis, atau menganggap Tuhan lebih dari satu. Jadi pertanyaan yang sama “Tuhanmu berapa?” saat itu juga menjadi pertanyaan yang bersifat mengolok, seperti halnya saat-saat belakangan ini. Hanya saja konteksnya berbeda apakah monoteis atau politeis yang menanyakan. Biasanya yang menanyakan adalah mayoritas kepada minoritas.

Jauh kebelakang, sebelum ditemukan angka, sudah barang tentu  pertanyaan “Tuhanmu Berapa?” dianggap pertanyaan yang bodoh. Masih jauh lebih relevan jika bertanya “Tuhanmu apa?”, itupun jika orang pada masa itu ada yang menanyakan hal itu.

Pertanyaan “Tuhanmu apa?” akan dijawab sangat bervariatif. Mereka yang tinggal di teluk bisa saja menjawab Tuhan mereka adalah buaya. Mereka yang tinggal di tengah hutan bisa saja menjawab Tuhan mereka adalah burung elang, atau bisa juga batu besar, pohon besar, gunung berapi dan lain sebagainya. Entah bagaimana, orang-orang jaman sekarang menganggap mereka yang berTuhan buaya, elang, batu besar, pohon besar tersebut disebut sebagai pengikut dinamisme.

Saya menduga, dinamisme lahir kemudian. Sebelumnya kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang terlebih dahulu ada. Mengapa demikian? Karena kematian merupakan hal yang nyata dihadapi oleh manusia di sepanjang jaman. Menyaksikan orang-orang terdekat meninggal merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan bagi setiap orang. Perlindungan dan asuhan orang tua ketika masih hidup menjadi sesuatu kebutuhan bahkan dekat dengan ketagihan, dan bagaimana menjawab kebutuhan tersebut ketika orang tua yang mengasuh tersebut meninggal?

Kerabat yang masih hidup mengganggap orang tua yang telah meninggal itu tetap ada, meskipun tidak tampak. Ada dan melindungi mereka sama seperti saat hidup, berikut juga kebiasaan orang tua tersebut saat masih hidup. Tidak heran mereka yang masih hidup kadang mengirim makanan, minuman kesukaan  pada hari hari tertentu di pemakaman orang tua tersebut. Kepercayaan demikian disebut animisme. Karena setiap orang pasti mati, maka setiap orang berkesempatan menjadi nenek moyang bagi keturunannya. Meskipun tidak punya keturuanan langsung, masih bisa juga diTuhankan oleh orang yang masih hidup.

Baik dinamisme maupun animisme, menyediakan banyak sekali jawaban atas pertanyaan tentang Tuhan, sehingga semua jawaban atas pertanyaan “Tuhanmu Berapa” dan “Tuhanmu Apa” dianggap benar dan sah. Saya menyebut animisme dan dinamisme sebagai kaum pewujud Tuhan. Tidak dipermasalahkan Tuhan dibilang berapa atau apa, pembuktiannya hanyalah Tuhan siapa yang lebih kuat. Kepercayaan yang terlalu berlebih menganggap Tuhannya yang paling kuat. Tidak heran jika pada saat itu atau bahkan sampai saat ini orang masih suka bertikai hanya untuk mendapatkan pengakuan Tuhan siapa yang lebih kuat.

Ketika suatu kelompok dengan kepercayaan terhadap Tuhan tertentu menyerang kelompok lain dan menang mereka beranggapan bahwa Tuhan mereka itu memang kuat dan berpihak kepada mereka. Khusus pada fenomena ini, masih sering terjadi sampai sekarang baik di kalangan pewujud Tuhan ataupun pembilang Tuhan. Jika Tuhan memang maha kuat untuk apa meminta bantuan kepada manusia yang maha lemah untuk memusnahkan sekelompok orang? Lagipula untuk apa juga memusnahkan sekelompok manusia  yang katanya juga hasil ciptaannya tanpa alasan, hanya untuk mendapatkan pengakuan ke-maha-annya? Tuhan macam apa itu…

Oh iya lupa, namanya juga Tuhan. Boleh apa saja, suka-suka dong. Ups…kok jadi begini yah? Ya kira-kira beginilah kalau sudah terseret ke dalam doktrin keTuhanan yang tidak universal. Apapapun caranya dan apapun alasannya untuk mengukuhkan pandangan keTuhanannya yang paling besar dan paling benar. Asumsi-asumsi dan pandangan tersebut diramu dan dibungkus rapi dalam suatu kemasan yang namanya agama, itupun masih ada labelnya masing-masing.

***

Omong kosong apa lagi ini? Betapa susahnya menguraikan omong kosong secara berisi. Tentang hal ini mengingatkan saya tentang cerita seorang tukang yang membuat Dipan, ketika dipan tersebut sudah selesai orang menyebut rongga dibawah Dipan tersebut sebagai “Longan” (Longan : Kolong-an). Menarik, meskipun tukang tersebut membuat berbagai bentuk dan ukuran Dipan dengan rongga berapapun orang tetap menyebutnya Longan. Tukang tersebut tidak pernah berusaha membuat Longan, namun demikian Longan tersebut akan selalu ada ketika Dipan terbentuk. Longan itu hanya kekosongan semata, sekalipun semua Dipan dimusnahkan, kekosongan itu tetap ada.

Manusia ibarat Dipan yang dapat menangkap fenomena keTuhanan dalam dirinya. Dipan yang besar, kuat dan indah dapat dipakai untuk duduk sekian banyak orang dengan nyaman. Manusia yang berbudi luhur tentu dapat memperbesar potensi keTuhanan dalam dirinya, sehingga mendapati kehidupan yang harmonis bagi banyak orang.

Potensi keTuhanan tersebut bukan semata pengetahuan atau doktrin tentang Tuhan.  Mereka yang pegang harga mati doktrin keTuhanan hanya akan terjebak pada retorika, usaha pembenaran diri, menyalahkan orang lain, pasif dan tidak mau bertanggungjawab.

Mengapakah mesti beragama  jika kita masih menyukai kekerasan, minta dihormati dan dihargai, iri hati, pendendam dan arogan. Kita yang mengaku beragama dan masih suka demikian tidakkah membuktikan bahwa agama kita hanya omong kosong belaka?

Tidak bisakahkah kita hidup dalam keharmonisan dan kedamaian? Setidaknya itu pengakuanku, inilah jalanku. Jadi, apakah masih akan bertanya “Tuhanmu berapa?” Jika masih bertanya demikian, maka akan saya jawab “maaf tidak saya jual”.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on August 27, 2012, in Artikel and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. ===
    Potensi keTuhanan tersebut bukan semata pengetahuan atau doktrin tentang Tuhan.
    ===

    pengetahuan tentang Tuhan, atau KEYAKINAN tentang Tuhan?

    –> http://pewijayanto.wordpress.com/2012/08/27/keyakinan-bukan-pengetahuan/

  2. Pertanyaan “Tuhanmu berapa?”, itu mungkin sudah didasari KONSEPSI bahwa Tuhan itu sesuatu yang DAPAT DIHITUNG/BERBILANG.

    Tidak akan ada pertanyaan seorang perempuan kepada kekasihnya, “Cintamu berapa?”, karena cinta bukan sesuatu yang berbilang.

    (hanya membandingkan, bahwa pertanyaan BIASANYA didasari pada ASUMSI tertentu)

  3. “maaf tidak saya jual” hahahhaa….. memang omong kosong😀

  4. Tuhan dalam persepsi masing2😛
    kapan pulang salatiga? yuk ngobrol🙂

  5. Pancasila: Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Saya justru tidak ingin memperbesar potensi keTuhanan dalam diri saya (seperti dalam tulisan anda)–karena saya manusia, maka saya akan memperbesar potensi kemanusiaan saya. Untuk apa berusaha memperbesar potensi keTuhanan. Seperti kata anda: “Tukang tersebut tidak pernah berusaha membuat Longan, namun demikian Longan tersebut akan selalu ada ketika Dipan terbentuk.”–atau dalam bahasa saya: “saya tidak pernah berusaha memperbesar potensi keTuhanan dalam diri saya, namun demikian potensi keTuhanan dalam diri saya tersebut akan selalu ada ketika kemanusian terbentuk.” ……”Semakin besar DIPAN, akan semakin dapat banyak menampung orang untuk istirahat di atasnya. MAKA PERBESAR DIPANMU, BUKAN LONGANMU.” hehehe…(maafkan kalau filsuf gila keliru interprestasi, maklum gila cuyyy) ^_^~

    • @Teddy : Benar yang kamu bilang… Karena yang aku sampaikan bukan yang paling benar atau satu-satunya kebenaran.

      Pingin atau tidak pingin itu nomor sekian. Pada prinsipnya saya mau tekankan adanya potensi keTuhanan dalam setiap diri manusia. Potensi tersemut semakin meningkat ketika yang bersangutan menjadi “semakin manusia”.
      Artinya kita mengusahakan Dipannya yang diperbesar, bukan Longannya. Dengan sendirinya Longannya akan mengikuti…

      Nuwun….

  6. Siip mas, yo ngono iku jatining lelakon ing donya… saya menyukai tulisan seperti ini, semoga membawa pencerahan bagi republik yang semakin ngawur ini..! Thank’s

    • Terimakasih Pak Kus Gandoz. Mari kita mulai dari diri kita sendiri agara memang pantas dan layak menjadi teladan. Bukan untuk mengejar popularitas atau hanya karena diajarkan oleh agama.

      Mari kita mulai dengan penuh kesadaran…. Rahayu

  7. ya beginilah jika tidak faham tentang jawa bisa menjadikan hatimu sudzon bro……fahamilah dalamilah untuk mencari tau bertanyalah pada pakarnya tentang jawa jangan bertanya kepada orang awam.

  1. Pingback: Di Dalam atau Di Luar? « Slamet Haryono's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: