Tidak Beragama?

http://agengstarsword.blogspot.comJernihnya dan segarnya air di dalam sumur dapat diketahui setelah kita mengambil air tersebut entah dengan timba ataupun dengan pipa dengan bantuan pompa air. Dalamnya sumur tersebut terukur dengan panjangnya pipa ataupun tali timba yang digunakan. Jika pipa atau talinya terlalu pendek, maka kita tidak tahu dalamnya sumur. Jadi bagaimana mau mengetahui jernihnya  dan segarnya air sumur tersebut?

Demikian hendaknya kita punya cukup akal budi dan kebijaksanaan dalam menilai sesuatu, termasuk dalam menilai orang lain. Kita kadangkala terburu-buru menilai orang lain, dengan berdasarkan asumsi-asumsi ataupun keterbatasan pengetahuan kita. Misalnya menganggap orang tidak beragama adalah atheis, lebih jauh lagi menganggap orang atheis adalah PKI.

Ini namanya salah kaprah, tidak beragama itu areligi. Tidak ber-Tuhan, itu atheis, sedangkan PKI adalah Partai Komunis Indonesia di era 60-an. Jadi sangat tidak tepat dengan menyebut orang tidak beragama sebagai atheis ataupun PKI. Jika kita masih menyebut orang tidak beragama dengan PKI saya yakin orang tersebut belum cukup wawasan, paling banter adalah mendapat pelajaran sejarah dengan kurikulum ala orde baru, ataupun wejangan dari guru agamanya.

Orang yang terlalu dini menilai orang lain, ibarat kita mau menimba air dengan tali yang pendek. Sudah barang tentu kita akan terlihat bodoh, itupun kadang kita merasa diri bangga. Parah…! Saya sarankan kepada orang-orang yang demikian untuk memperluas wawasannya, baik itu sejarah ataupun semantika.

***

Ok, anggap saja semua sudah bisa menggunakan kata areligi, atheis dan PKI sesuai konteksnya. Karena saya tidak akan menjelaskan sejarah tentang atheisme ataupun PKI disini. Silahkan tanya mbah google jauh lebih informatif.

Di Indonesia, orang beragama kecenderungan mempunyai prasangka buruk terhadap orang tidak beragama, tidak semuanya sih. Orang yang tidak beragama dianggap aib bahkan sampah bagi lingkungannya. Oleh karena itu wajar jika kemudian ada fenomena agama KTP. Artinya agama hanyalah formalitas belaka.

Jika orang tidak beragama berperilaku kurang terpuji itu wajar, namun bagaimana mungkin jika banyak orang beragama berperilaku kurang terpuji. Anggaplah pejabat-pejabat korup itu apakah ada yang tidak beragama? Saya rasa semuanya beragama, bahkan mungkin tokoh agama.

Bukan hanya tentang korupsi, saya melihat perilaku orang-orang beragama justru lebih tidak terpuji daripada orang tidak beragama. Hanya orang-orang beragama yang berusaha mengajak orang lain mengikuti agamanya. Masih mending kalau orang yang diajak tersebut tidak memiliki agama, parahnya orang yang diajak tersebut sudah memiliki agama yang lain. Apakah hal ini tidak akan menimbulkan masalah? Orang tidak beragama tidak akan mengajak orang lain untuk ikut tidak beragama.

Orang beragama, menganggap agamanya sendiri yang paling baik. Orang tidak beragama tidak akan menganggap agamanya yang paling baik, karena tidak punya agama. Kalau ada orang mengatakan semua agama itu sama saja, itu hanya basa-basi aja. Jika benar agama itu sama saja dan semua baik, bagaimana kalau saat memilih aga dilakukan pengundian seperti memilih dadu? Terkadang orang menerima begitu saja bahwa semua agama itu sama saja dan tujuannya sama.  Bandingkan makna kalimat tersebut dengan upaya untuk mengajak orang lain masuk agamanya. Aneh bukan, kalau sama baiknya dan tujuannya sama untuk apa mengajak orang lain masuk agamanya?

Orang beragama seringkali tampil dengan pakaian sangat agamis, dengan nama agamis, gelar kehormatan agamis. Untuk perilakunya ga ada jaminan juga agamis. Jika perilakunya agamis kadang kebablasan dengan menganggap dirinya paling baik, paling suci atau paling tidak menjadikan dirinya sebagai standar perbuatan baik dan urusan moralitas. Orang tidak bergama tentunya tidak demikian, tidak ada kepentingan untuk menjadikan dirinya sebagai standar perbuatan baik ataupun moralitas.

Lebih menarik lagi belakangan sering terjadi kekerasan berlabel agama, sudah barang tentu orang-orang tersebut pastilah beragama. Sangat menarik bukan, orang yang beragama bisa berbuat kekerasan atas nama kebaikan (menurut agamanya). Terang saja jadi masalah karena agama macam-macam, demikian juga persepsi orang tentang kebaikan juga macam-macam. Menjadi pertanyaan adalah agama macam apa yang memberikan kesempatan bagi pengikutnya untuk melakukan tindak kekerasan?

Orang tidak beragama tentunya tidak akan repot-repot melakukan kekerasan berlabel agama. Kalaupun melakukan kekerasan ya kekerasan saja, jadi tidak merepotkan orang lain yang kebetulan seagama. Jadi terkena imbas mendapatkan nama jelek. Tentunya orang yang beragama taupun tidak beragama sangat tidak tepat melakukan tindak kekerasan.

Paling sering saya temui permasalahan menyangkut agama adalah dalam hal perkawinan. Karena beda agama jadi batal kawin atau kalau jadi kawinpun menjadi tambah banyak masalah karena agamanya itu. Meskupun ada beberpa pengecualian yang berbeda agama juga berumah tangga secara harmonis. Orang tidak beragama tidak akan repot mau kawin dengan orang beragama apa aja.

Komunitas-komunitas tertentu terikat dalam kesamaan agama. Dalam pergaulan, pendidikan bahkan pekuburan juga terkelompok-kelompak sesuai agama. Menarik bukan? Jika surga memang ada apakah juga akan berkelompok sesuai agamanya itu? Yang berkelompok-kelompok sesuai agama pastilah orang beragama, sedangkan orang tidak beragama bisa bergabung ke kelompok mana saja. Selain itu jika surga tersebut ada dan sesuai kelompok agama-agama, orang tidak beragama kalau bosan boleh ikut ke surga kelompok agama yang lain.

Kalimat terakhir tersebut, saya benar-benar ngarang. Tidak ada dasarnya jadi jangan dipercaya. Barangkali bukan hanya kalimat terakhir, tapi seluruh tulisan ini.

Jadi, yang beragama silahkan beragamalah dengan baik, melebihi kebaikan orang yang tidak beragama. Hanya orang dengan pikiran yang dangkal yang mengatakan air sumur itu jelek sementara akalnya tidak cukup dalam untuk menyelami dasar sumur itu.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on April 1, 2012, in Artikel and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. susetyadi tri pranarso

    kadang juga muncul pertanyaan yang saya rasa tidak satupun bisa menjawabnya kecuali ‘Zat’ yang dicari itu sendiri.
    ‘Agama mana yang paling baik?’ atau
    ‘Tuhan mana yang paling benar?’
    saya rasa ada ungkapan yang bisa menggambarkan 2 pertaanyaan tsb
    ‘orang yang meraba gajah dari belakang akan bilang gajah itu adalah ekor, sementara orang yang meraba gajah dari depan akan bilang gajah itu belalai’. itupun kalau si gajah belum menyadari bahwa ia di raba dan melakukan tindakan pengamanan diri seperlunya…

    • Bung Susetyadi, terimakasih atas tanggapannya. Senang kalau membaca komentar sampeyan, jadi semangat juga menanggapinya.

      Terkait pertanyaan yang sepertinya tidak terjawab, bukan tidak bisa terjawab, barangkali metodenya yang salah karena berdasarkan asumsi yang salah.

      Zat/Dzat atau apapun namanya, juga merupakan suatu pengandaian (asumsi). Asumsi itu dibangun oleh agama tertentu yang juga beserta beberapa agama-agama berada dalam paradigma keterpisahan.

      Ada keterpsahan antara yang diciptakan dengan yang menciptakan. Alhasil dari asumsi tersebut memunculkan serangkaian metode-metode yang bisa jadi keliru. Misalnya dengan kata kunci “mencari” itu tadi.

      Keterpisahaan tersebut nampak dalam cerita manusia memegang gajah, yang pasti manusia itu bukan gajah, sehingga ada keterpisahan antara manusia dengan gajah. Cerita ini juga dibangun diatas paradigma keterpisahan.

      Sementara itu beberapa kepercayaan yang lain, berada dalam paradigma penyatuan. Terkait dengan keTuhanan, cirinya tidak lagi mencari tetapi menjalani.

      Beberapa pertanyaan barangkali bisa dianulir tanpa harus pusing mencari jawab jika mempunyai dasar yang kuat, kalaupun dengan asumsi setidaknya asumsi tersebut masih bisa dinalar.

      ***

      Menjawab tentang agama agama mana yang baik, saya rasa jika kita sepakat dengan parameter mana diukur masih bisa kita menjawabnya. Namun saya rasa hal itu bisa menjadi sesuatu yang tidak baik, mengingat pengikut agama2 tersebut kebanyakan masih belum siap untuk menerima kenyataan buruk tentang kepercayaannya itu.

      Tentang Tuhan mana yang paling benar, tergantung bagaimana konsep Tuhan itu dibangun?

  2. susetyadi tri pranarso

    Ah, kakak Slamet bisa saja…

    saya rasa baik keterpisahan maupun penyatuan, awal mulanya adalah mengenai konsep Tuhan yang dibangun, seperti yang mas Slamet sampaiken.

    pada suatu ketika saya pernah sampai pada pengertian bahwa Tuhanmu itu ya dirimu itu. Jadi bagaimana ‘Tuhan’ yang diyakini itu adalah Tuhan yang baik, adalah benar menjadi baik ketika ‘diri’ telah menjadi kebaikan bagi sesuatu diluar ‘diri’, apapun itu. meskipun kebaikan sendiri masih relatif dan abstrak.(saya rasa pengertian saya ini pun terbangun dari pembelajaran yang tidak terlepas dari latar keyakinan saya, jadi masih juga relatif. pengertian ini tentu tidak menggambarkan Tuhan sebagai ‘Sesuatu’).

    Keyakinan, bukan agama, yang mengakui Tuhan yang maha baik akan mewujudkan kebaikan relatif bagi sesamanya. keyakinan itu perwujudan diri, sedang agama itu perwujudan komunitas. jadi jika orang beragama seringkali berbuat yang dinilai lebih buruk ketimbang yang tidak beragama, saya kira wajar saja, karena bisa jadi orang yang tidak beragama justru berkeyakinan. Keyakinan bahwa ‘Sesuatu’ itu baik adanya.

    • Bung Susetyadi…

      Saya kok kurang sreg dengan melemparkan hal-hal pada kotak relatif. Kesannya kebaikan itu menjadi tidak bersenyawa dengan kebaikan yang lain. Apakah demikian konsep relatif?

      Analoginya seperti halnya air, baik berwarna apapun atau macam-macam kandungan terlarut di dalamnya, tetap saja air tersebut dapat bersenyawa. Pada suatu tataran akan terbangun persenyawaan kebaikan yang universal, bukan hanya menurut aku atau agamaku.

      Dengan atau tidak beragama kita bisa menjadi lebih baik, dan lebih baik menuju kebaikan universal, tidak terbelenggu pada kebaikan versi agama atau keyakinan tertentu.

      Itu menurut saya, dan jangan dipercaya begitu saja.

      • susetyadi tri pranarso

        saya juga tidak percaya bung slamet. bisa musrik nanti..hehe..

        dalam pengertian saya, relatif itu mengarah pada acuan yang digunakan, sehingga kebaikan yang dihasilkan akan tetap berarti kebaikan jika yang memberi dan yang menerima memiliki acuan yang sama. tinggal sang pelaku kebaikan itu akan menggunakan acuan yang bersifat personal atau universal, sehingga kemungkinan bahwa kebaikan itu berubah makna bagi sang penerima dapat diperkecil.
        saya rasa ini akan bergantung pada tingkat kesadaran pengetahuan dan keluasan wawasan sang pelaku itu. sehingga tataran dimana persenyawaan itu terbangun bisa tercapai.

  3. Waahhh… artikel yang sangat berbobot…🙂
    Membuka wawasan baru bagi saya….

  4. Manusia memang suka membuat kotak-kotak yang yang tidak perlu. Mungkin ini merupakan bentuk egoisme manusia ya?..termasuk klaim ketuhanan itu…Salam damai untuk anda semua.

    • Salam damai…..Pak Kus

      Ya benar memang manusia cenderung begitu pak…hal itu menunjukkan tingkat kesadaran yang rendah. Artinya apa yang dianggap mereka sebagai kebenaran, bukan dari kesadaran diri, melainkan karena hasil doktrinasi… Rahayu

  1. Pingback: Tuhanmu Dimana? « Slamet Haryono's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: