Tekanan Pekerjaan

Masih segar, beban pekerjaan saya belum menumpuk banyak.Setidaknyasaya masih bisa berpikir jernih, lalu bagaimana jika nanti beban pekerjaan saya bertambah banyak?  Muncul dalam pikiran bagaimana cara mengatasi beban yang berlebih jika telah cukup lama saya bekerja? Dari pertanyaan itu membuatku berpikir tentang berbagai kemungkinan yang dilakukan orang ketika tidak lagi mampu mengatasi beban hidupnya. Pikiran tersebut masih terlintas selama beberapa hari dan membawaku untuk mencari petunjuk, mengamati kepada mereka yang telah bekerja bertahun-tahun.

http://www.blogcatalog.com/blogs/propolisBeban hidup bisa jadi bukan semata-mata dari perkara besar yang tidak terselesaikan dengan baik, namun justru karena dari perkara kecil yang terakumulasi.  Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu saya sempat merasa tidak nyaman ketika menjadi notulen dan saya salah menulis kata dateline yang seharusnya deadline.  Spontan ada seorang pemimpin tertawa kecut dan meminta saya untuk menuliskannya dalam bahasa Indonesia saja, sementara saya hanya menulis sesuai yang diucapkan saja.

Tawa dari pemimpin tersebut memang tidak salah, karena memang cukup lucu melihat fenomena kesalahan atau kebodohan orang. Banyak dari kita juga yang juga akan tersenyum ketika melihat orang lain melakukan kebodohan. Begitu bodohnya saya jika hanya karena tawa begitu saja kemudian saya merasa sakit hati. Meski demikian, bisa dibayangkan jika hal-hal kecil semacam ini terus terulang dengan berbagai bentuk. Seseorang bisa sangat terbeban dalam lingkungan pekerjaannya, akibatnya prestasi kerja yang bersangkutan akan menurun, lebih parah lagi jika sampai mengganggu kinerja perusahaan.

Jika riak-riak kecil beban tersebut terus diterima dari orang yang sama, menyebabkan stigma negatif atas orang tersebut, akibatnya yang bersangkutan akan menjaga jarak. Jika si pemberi beban tersebut merupakan bagian dari kelompok terntentu, akan lebih parah jika stigmatisasi tersebut digeneralisir menjadi stigma kelompok. Tentunya jika sudah demikian menjadi sangat rentan akan terjadinya konflik. Sementara itu jika beban kehidupan tersebut berasal dari berbagai orang, yang bersangkutan dapat menjadi rendah diri.

Beban hidup bukan hanya berasal dari pekerjaan saja, bisa juga berasal dari keluarga dan juga di lingkungan tempat dimana kita tinggal. Namun yang menarik perhatian saya adalah beban pekerjaan, kebetulan saya baru saja masuk di lingkungan kerja yang baru. Ketika beban hidup tidak segera dilepaskan, maka perlahan namun pasti hal ini akan menggerogoti kehidupan kita. Apa jadinya jika beban itu terbawa ketika kita menjadi pemimpin? Bisa jadi akan dengan cepat sekali kita terpancing emosi, marah meski oleh hal-hal yang sepele.

Bagi para pekerja bawahan, apa yang bisa dilakukan jika pimpinan meremehkan, memarahi? Bukan mengenai benar atau salahnya mengapa yang bersangkutan dimarahi oleh pimpinan, namun seseorang bawahan yang menerima perlakuan demikian tidak akan tinggal diam. Teringat pelajaran fisika sewaktu masih SMP, bahwa tekanan yang diberikan dalam ruangan tertutup akan diteruskan sama besarnya ke segala arah. Jika manusia senatiasa mendapatkan tekanan semenjak kecil sampai dewasa, kemanakah tekanan itu akan diteruskan?

Dalam kasus tertentu, seorang pekerja bawahan bisa saja balik memarahi pimpinan bahkan sampai melakukan tindakan yang agresif, namun sangat jarang sekali. Karena seorang bawahan kecil kemungkinan memarahi pemimpinnya, maka yang dilakukan yang bersangkutan adalah mencari kompensasi untuk melampiaskan beban tersebut.

Kompensasi yang mungkin dilakukan oleh pekerja adalah menurunnya prestasi kerja, memanipulasi informasi atau justru mensabotase arus informasi yang seharusnya diterima pemimpin. Kompensasi dalam bentuk lain dengan mengalihkan perhatian melalui berbagai kegiatan yang menghibur, mulai dari karaoke, olahraga termasuk memanjakan diri dengan berbagai fasilitas jasa ataupun kepemilikan atas barang tertentu. Semakin banyak pendapatan semakin besar kemungkinan pengeluaran untuk belanja kenikmatan, keindahan dan kenyamanan.

Tidak tuntasnya beban hidup, dorongan untuk mencari yang lebih nikmat, lebih indah, lebih nyaman menjadi semakin kuat. Kondisi masyarakat yang patriarki, ditambah peradaban yang dibangun belum pada kesadaran yang cukup, maka kaum perempuan akan cenderung menjadi korban. Apa sih yang tidak bisa dibeli oleh uang?

Bertumpuknya beban hidup sama halnya kita selalu makan tiap hari namun tidak pernah buang air besar. Banyak dari kita yang tidak begitu mengenal diri kita, kita tidak tau cara yang efektif untuk melepaskan beban hidup. Meski demikian, banyak juga yang memilih cara yang kurang efektif bahkan sangat tidak efisien.

Sampai kapan manusia akan puas dengan membeli sesuatu atau menikmati sesuatu? Pada titik ini, saya tidak tahu seberapa besar kontribusi agama terkait beban hidup.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on June 18, 2011, in Artikel and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Lalu hal positif apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban atau tekanan dalam pekerjaan??…….

    sebelumnya terima kasih,,,

    • Terimakasih Dzaki sudah berkenan berkomentar di blog saya.

      Masing-masing orang mempunyai cara yang tersendiri untuk mengurangi tekanan/beban hidup, meski tidak menutup kemungkinan ada beberapa hal yang sama. Ada beberapa hal yang dapat saya bagikan, cocok dan tidaknya tergantung kita masing-masing.
      1. Cari pekerjaan yang disukai. Seberapapun berat pekerjaan, jika hal itu merupakan bagian dari hobi atau yang kita sukai tentu kita tidak perlu capek-capek memotivasi diri jika sedang tidak semangat.
      2. Jika pekerjaan tidak terlalu disukai, carilah aktifitas lain yang cukup disukai, tanpa harus menyita waktu terlalu banyak untuk pekerjaan utama. Kalau saya dengan bloging….
      3. Ketika tidak cukup punya semangat, ingatlah keberhasilan yang pernah dicapai. Bukan pada kegagalan atau kendala yang dihadapi. Fokus pada tujuan awal bekerja, tujuan hidup akan sangat membantu.

      Sementara itu yang terpikirkan olehku, lainnya menyusul nanti kalau sudah ingat. Senang bisa berbagi dengan anda.🙂

  2. Ngopi ae mas. YUKZ… ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: