Menakar Kualitas Pemimpin

P

emimpin, bukan hanya tentang jabatan. Jabatan bagi Seseorang yang berjiwa pemimpin memungkinkan yang bersangkutan untuk memberikan kontribusi lebih terkait dengan tujuan personal ataupun tujuan organisasinya. Tanpa suatu jabatan tidak menjadi alasan bagi seorang pemimpin untuk tetap memberikan kontribusi dan merealisasikan tujuannya. Kualitas seorang pemimpin bukan hanya berbicara mengenai program atau kebijakan yang dihasilkannya selama menjabat, namun juga tentang sikap pejabat terhadap lawan politiknya.

Ketika menggunakan indikator program dan kebijakan saja, pada akhir periode dapat menghasilkan laporan yang bisa dianggap gemilang dengan capaian-capaiannya. Jika sudah demikian apakah seorang pejabat sudah dikatakan berhasil dalam memimpin?

Sikap Pejabat terhadap Pihak yang Pro dan Kontra

Tidak salah memang menggunakan program dan kebijakan sebagai tolok ukur kualitas seorang pemimpin, namun hal inilah yang mendorong seorang pemimpin untuk mebuat program dan kebijakan yang sensasional. Obsesi untuk mewujudkan program dan kebijakan yang sensasional dengan segera tersebut, tidak jarang mendapat respon berlawanan dari berbagai pihak. Alhasil situasi ini akan memecah anggota menjadi pihak yang pro dan pihak yang kontra. Kualitas seorang pemimpin akan terlihat dalam situasi yang demikian, terutama sikap pemipin terhadap pihak yang kontra.

Pemimpin yang berkualitas justru akan merangkul pihak-pihak yang kontra. Sebaliknya pemimpin yang kurang berkualitas hanya fokus pada pihak-pihak yang mendukung saja. Terhadap pihak yang kontra, fenomena yang biasa terjadi dalam dunia pemerintahan atau lembaga profesional adalah adanya mutasi pegawai atas orang-orang yang dianggap sebagai lawan politik. Fenomena mutasi tersebut tidak serta merta menyingkirkan pihak-pihak yang kontra melainkan dapat juga sedang mengamankan posisi-posisi strategis. Apakah mutasi beberapa pegawai di lingkungan kampus UKSW pada periode 2010 merupakan mutasi rutin ataukah ada kepentingan lain?

Pada lembaga non profesional, kualitas seorang pemimpin terlihat dari banyak sedikitnya dukungan berdasarkan atas kesadaran dari berbagai pihak, baik dari luar ataupun internal organisasi. Minimnya dukungan dari pihak luar menunjukkan lemahnya kualitas pemimpin, terlebih lagi jika sampai ditinggalkan anggotanya. Dengan kata lain seorang pemimpin harus introspeksi diri, jika terdapat banyak anggotannya yang mengundurkan diri. Apakah pengunduran diri beberapa fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Univrsitas periode 2010 merupakan suatu kebetulan?

Selama pemimpin menjabat, fokus kebijakan pemimpin yang berkualitas merata ke berbagai kelompok baik yang pro maupun kontra berdasarkan tujuan organisasi, sementara itu kualitas pemimpin yang rendah hanya akan berfokus pada kelompok-kelompok pendukungnya. Sepintas nampak tidak ada bedanya sikap pemimpin atas program dari kelompok pro maupun kontra, namun jika diamati secara seksama akan terlihat dari berbagai prosedur yang di-by pass. Kelompok yang kontra akan diperhadapkan dengan serangkaian aturan standar bahkan kalau perlu akan ditambahkan berbagai peraturan tambahan. Slogan yang biasa muncul dalam kondisi ini adalah “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah?”. Kelompok yang pro akan mendapat manfaat dengan berbagai kemudahan terkait birokrasi, dengan kata lain birokrasi tersebut di-by pass.

Pertengahan 2010 sampai awal 2011 masih terdengar isu gagalnya calon pembicara menjadi pembicara di berbagai pelatihan yang diselenggarakan Lembaga Kemahasiswaan. Kegagalan ini mungkin masih bisa dimaklumi jika hanya ada satu atau dua calon pembicara saja, namun jika sudah lebih patut dipertanyakan ada apa dibalik semua ini? Siapa yang menggagalkan hal ini apakah dari pihak Lembaga Kemahasiswaan atau pemimpin Universitas? tidak jelas. Jika diamati dengan seksama calon pembicara yang gagal menjadi pembicara sudah dapat dipastikan bukan merupakan pihak yang pro dengan penguasa.

Contoh lain lagi adalah isu mengenai tersendatnya pembangunan gedung Fakultas Ekonomi, perlu dikaji lebih jauh. Apakah hal ini terjadi karena fokus pemimpin Universitas lebih kepada rencana pembangunan kampus 3 UKSW di Blotongan, atau memang ada permasalahan lain? Berandai-andai, jika rencana pembangunan kampus 3 terwujud, menjadi pertanyaan selanjutnya adalah program studi apa saja yang akan menempati bangunan baru tersebut? Pemimpin yang berkualitas tentunya tidak asal dalam menempatkan program studi di kampus baru tersebut. Akan sangat naif sekali jika dengan adanya kampus 3 seolah-olah membagi secara rigid pihak yang pro dengan yang kontra. Kualitas seorang pemimpin akan teruji dalam hal ini, itupun kalau kampus 3 benar-benar terwujud.

Terlepas jadi atau tidaknya pembangunan kampus 3, penggabungan beberapa program studi di UKSW menarik untuk diamati. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi birokrasi, hal ini patut mendapatkan apresiasi. Capaian ini merupakan nilai plus tersendiri sebagai suatu langkah startegis seorang pemimpin, terlepas adanya isu miring tentang pengelompokkan program studi yang ‘basah dan kering’.

Mengusung Perubahan

Hampir sebagian besar pemimpin akan mengusung isu perubahan, hanya sebagian kecil saja yang dengan besar hati melanjutkan kebijakan dan program dari pemimpin periode sebelumnya. Hal ini tidak berlaku mutlak jika pemimpinnya merupakan incumbent, karena pasti akan mengusung gagasan untuk melanjutkan kebijakan yang telah dilaluinya. Berdasarkan gagasannya apakah pro perubahan atau melanjutkan kebijakan, tidak serta merta dapat digunakan untuk menilai kualitas seorang pemimpin. Keduanya sama-sama berpeluang untuk menambahkan poin sebagai pemipin yang berkualitas. Menjadi penentu atas keduanya adalah bagaimana seorang pemimpin menurunkan gasasannya tersebut dalam tindakan nyata?

Kualitas seorang pemimpin terlihat dari kebesaran hatinya yang meskipun gagasan perubahan tersebut itu dari dirinya bisa ditularkan seolah-olah gagasan tersebut berasal dari anggota dan menjadi agenda bersama. Bukan hanya bicara tentang cepatnya waktu untuk menelurkan gagasan, namun pemimpin yang berkualitas tidak akan tergesa-gesa untuk segera berhasil dengan gagasan perubahannya itu. Polimik sistem pendidikan di UKSW yang menggunakan sistem dwi-mester atau tri-mester manjadi contoh yang menarik untuk melakukan refleksi terkait kualitas kepemimpinan seorang pemimpin.

Masa Transisi

Menjelang akhir periode, merupakan ujian terberat bagi seorang pemimpin yang menjadi pejabat. Pertanyaan terberat bukan hanya soal siapa yang akan menggantikan kedudukannya, tapi bagaimana kualitas orang yang akan menggantikan kedudukannya? Pejabat yang hendak lengser, mempunyai tanggungjawab untuk menyiapkan generasi penerusnya yang berkualitas, tanpa harus membatasi setiap orang untuk menduduki jabatan tersebut. Akan lebih baik jika seorang pejabat mampu untuk menyiapkan iklim yang kondusif bagi pejabat berikutnya, bukan meninggalkan banyak masalah.

Kualitas seorang pemimpin terbentuk melalui proses yang merupakan resultan antara hambatan dan tantangan. Dalam hal ini calon pemimpin yang akan menggantikan, hendaknya mempunyai pengalaman yang cukup dengan lingkungan baru yang hendak dipimpinnya. Atas dasar ini pula, capaian pemimpin yang meniti karir dari bawah bisa lebih berhasil daripada pendatang baru, dengan asumsi kapabilitas pemimpin tersebut sama. Selama masa transisi, untuk mengakselerasi penyesuaian terhadap lingkungan kerja yang baru biasanya dilakukan dengan magang. Terlepas pemimpin tersebut merupakan orang lama atau pendatang baru, akan sangat baik sekali jika bersedia melakukan magang. Bukan sekedar basa-basi, namun hal ini menunjukkan kebesaran hati seorang pemimpin.

Epilog

Kebijakan ataupun program yang dilakukan selama pemimpin menjabat bukan mengenai benar atau salah. Kualitas seorang pemimpin melampaui nilai kebenaran, juga terkandung nilai-nilai yang luhur, mulia dan kebesaran hati. Kualitas tersebut tercermin dari sikapnya terhadap berbagai pihak terutama pihak-pihak yang dianggap kontra.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on May 6, 2011, in Artikel and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: