Merokok di Dalam Menara Gading

D

engan bermodalkan segelas kopi yang dibungkus plastik, saya dan Satria meluncur ke Kapel UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), memenuhi undangan teman-teman dari SMUTI (Solidaritas Mahasiswa Untuk Tembakau Indonesia). Niatnya membeli segelas kopi biar bisa ngopi dan merokok sambil diskusi, namun karena saya baru tahu tempat diskusinya di Kapel setelah membeli kopi, akhirnya bungkusan kopi tersebut saya tenteng aja. Tidak lazim diskusi di Kapel yang biasanya dipakai untuk persekutuan doa, hal ini menurut saya sungguh suatu fenomena yang menarik. Biasanya dari Kapel atau Gereja cenderung untuk menyuarakan gerakan anti rokok, namun kali ini justru akan membahas mengenai tembakau Indonesia.  Setiba disana sudah ada lebih dari 40 orang memadati kapel, terdiri atas mahasiswa UKSW, AMA dan STAIN Salatiga. Kunjungan saya kali ini bukan untuk persekutuan doa seperti dahulu tapi untuk mengikuti diskusi tentang nasib tembakau Indonesia.

Suasana Diskusi di Kapel UKSW tentang Tembakau Indonesia

Baru di pertengahan diskusi saya baru tahu kalau penyelenggara kegiatan tersebut bukan SMUTI melainkan LK (Lembaga Kemahasiswaan) UKSW. Awalnya saya kira penyelanggara kegiatan tersebut adalah SMUTI, karena yang mengundang saya adalah SMUTI. Begitu datang, saya coba menyimak arah pembicaraan, yang kemudian saya perhatikan diskusi kali ini sangat tidak terarah. Gatot dan Sonde mencoba memberikan penjelasan tentang duduk perkara pertembakauan di Indonesia, khususnya menyangkut akan diberlakukannya Undang-Undang Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan, yang sementara ini masih dalam rancangan. Peserta banyak yang kebingungan demikian juga moderatornya. Sampai akhirnya Roy  menanyakan tentang tujuan dari diskusi ini? Lupa persisnya apa yang disampaiakan Roy. Sekali lagi moderator bingung.

Kebingungan tersebut secara eksplisit terungkap ketika salah seorang peserta diskusi mengatakan “saya bingung, saya belum membaca RUU ataupun SKB (Surat Keputusan Bersama) dua menteri terkait tembakau, juga panitia tidak menyediakan hard copy SK tersebut” Yakub Adi Krisanto langsung menanggapi pernyataan salah seorang peserta diskusi tersebut dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Dia mengkritik bahwasanya teman-teman mahasiswa semestinya telah terlebih dahulu membaca materi diskusi sebelum menghadiri diskusi. Dengan demikian datang diskusi tidak dengan pikiran kosong yang hanya akan memancing perdebatan retoris. Sungguh kebiasaan yang kurang baik bagi mahasiswa.

Pejabat LK UKSW yang juga hadir pada kesempatan itu, mencoba menengahi bahwa melalui diskusi kali ini perlu berbagai tahapan, perlu kajian-kajian lebih jauh. Belum selesai menyampaikan tanggapan Yakub kembali menyela, bahwa pernyataan yang disampaikan pejabat LK tersebut justru membawa peserta diskusi kembali ke awal pembahasan. Mengingat yang bersangkutan datang terlambat, sementara itu peserta diskusi cukup gemas dengan jalanya diskusi yang muter-muter dan terkesan tidak ada kesiapan LK UKSW sebagai penyelanggara.

Saya coba memberi tanggapan, bahwa melalui diskusi kali ini teman-teman mahasiswa menjadi lebih peduli dengan nasib petani tembakau, buruh pabrik rokok dan pedagang eceran. Bukannya menuntut hak untuk tetap dapat merokok di dalam kampus, karena jika DPRD ikut meratifikasi SKB dua menteri dan membuat perda maka akan diberlakukan Kawasan Bebas Rokok (KBR). Daerah yang ditetapkan sebagai KBR adalah fasilitas kesehatan, kendaraan umum dan fasilitas pendidikan termasuk kampus. Rasanya aneh dan terlalu manja mahasiswa berdiskusi untuk menolak RUU dan SKB tentang tembakau karena ingin mendapatkan kebebasan merokok di kampus. Sementara itu nasib ribuan petani tembakau, buruh pabrik rokok dan pedagang eceran ada di ujung tanduk. Jika benar RUU tersebut akan diberlakukan, bagaimana dengan nasib mereka?

Debat?

Belum juga terjawab mengenai arah dan tujuan diskusi ini, moderator justru melemparkan ke forum. Beberapa peserta diskusi mencoba terlibat dalam perdebatan, seperti telah diatur oleh panitia terdapat label PRO dan KONTRA pada kedua sisi dinding Kapel yang berhadapan. Peserta diskusi terjebak pada perdebatan mengenai boleh atau tidaknya merokok, manfaat atau bahaya merokok. Sungguh fenomena yang sangat menyedihkan. Niatnya mungkin baik, akan meniru gaya debat yang diselengarakan di stasiun TV swasta. Sebagai bagian proses pendidikan teknik debat mungkin perlu, namun dalam konteks perjuangan SMUTI saya kira outputnya bukan masalah siapa menang atau kalah dalam adu argumentasi.

Debat, belakangan menjadi cukup populer dikalangan dunia pendidikan tinggi. Selain menjadi kebanggaan bagi para peserta debat juga menjadi kebanggaan bagi perguruan tinggi yang mengirimkannya, terlebih menang. Sungguh suatu metode yang cukup efektif untuk membuktikan penguasaan konsep, ketajaman untuk menganalisis dan mematahkan argumen lawan, mempertahankan argumen dengan meyakinkan. Metode ini mengikuti aturan oposisi biner, akan ada yang menang dan kalah. Jika dalam diskusi di SMUTI menggunkan metode ini maka akan ada pihak yang menang juga ada yang kalah, dengan kata lain sudah ada perpecahan sedikit orang yang peduli terhadap tembakau Indonesia. Selain itu hasil perdebatan akan dibawa kemana?

Sudah sepantasnya teman-teman SMUTI menggunakan cara yang lebih kolaboratif daripada kompetitif. Diskusi bukan untuk diskusi saja, namun untuk ditindaklanjuti dan ada solusi. Hal yang paling realistis adalah bagi para perokok tidak perlu bersikeras dengan merokok dapat memberi manfaat, benar bahwa merokok itu memang hak. Lebih dari itu para perokok harusnya bisa menunjukkan kehidupan, kontribusi pemikiran dan tindakan yang lebih positif dari non perokok, jika memang merokok memberi manfaat. Para perokok harus bisa memancing simpati non perokok untuk ikut serta dalam perjuangan SMUTI. Tujuan dari SMUTI adalah untuk memastikan jaminan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik jika diberlakukan RUU tembakau, khususnya petani tembakau, buruh pabrik rokok dan pedagang eceran.

Mendesak Pemerintah!

Penolakkan terhadap RUU tembakau tanpa solusi dan aksi, maka tidak ada bedanya antara mahasiswa dan rakyat jelata. Fokus terhadap penolakkan hanyak akan menempatkan mahasiswa pada posisi konfrontatif dengan pemerintah, dalam situasi sekarang ini strategi demikian kurang menguntungkan. Meskipun tidak konfrontatif bukan berarti kita menurut saja dengan pemerintah, ingat jangan terjebak pada paradigma oposisi biner seperti pada debat. Teman-teman SMUTI bisa mendesak pemerintah untuk melakukan segenap akselerasi sebelum RUU tembakau diberlakukan. Akselerasi tersebut diantaranya adalah pemerintah menjamin kesejahteraan petani tembakau dengan menyelenggarakan program konversi atau reduksi tanaman tembakau dengan lebih serius. Program konversi tersebut tentunya dengan mempertimbangkan nilai ekonomis, nilai ekologis dari tanaman pengganti tembakau lengkap mulai dari bibit, tenaga ahli dan sistem pemasarannya. Jika pemerintah berani menjamin maka pemberlakuan RUU tembakau dapat dipertimbangkan.

Masih terdapat dua kelompok masyarakat yang dapat terkena imbas RUU tersebut, yaitu buruh pabrik rokok dan pedagang eceran. Untuk itu teman-teman SMUTI dapat mendesak pemerintah untuk membangun lapangan usaha baru, serta pemberian ketrampilan tambahan bagi para buruh rokok. Pemerintah harus berani menjamin bahwa semua buruh pabrik rokok akan difasilitasi dan mendapat pekerjaan baru yang layak. Resiko berkurangnya pendapatan pedagang rokok eceran juga harus menjadi perhatian serius pemerintah, setidaknya perlu untuk diperhatikan mengenai kelayakan tempat dan lokasi dagangan yang lebih strategis.

Pusat Studi Tembakau dan Aksi Pendampingan

Jaminan kesejahteraan atas petani tembakau, buruh pabrik rokok dan pedagang ecerantersebut dialamatkan kepada pihak pemerintah, namun demikian segenap mahasiswa dari masing-masing kampus dapat mendesak pihak rektorat untuk membuat pusat studi tembakau. Pusat studi ini merupakan pusat studi interdisipliner, bukan hanya melakukan penelitian terkait budidaya tembakau, tapi juga terkait masalah hukum dan sosial ekonominya. Output dari penelitian tersebut bukan sekedar menjadi laporan kerja penelitian, namun harus memberi manfaat nyata bagi petani tembakau, buruh rokok dan pedaganag eceran. Tanggungjawab yang tidak kalah pentingnya adalah penelitian terkait pengurangan efek membahayakan dari rokok.

Sembari pemerintah melakukan proses akselerasi, didukung dengan penelitian dari lembaga pendidikan, teman-teman mahasiswa dapat ikut berperan aktif sebagai relawan dalam penelitian tersebut. Lebih jauh jika memang teman-teman mahasiswa merasa punya kepedulian lebih dapat melakukan aksi pendampingan langsung terhadap komunitas petani, buruh pabrik dan pedagang eceran. Jika teman-teman mahasiswa mau dan mampu untuk melakukan aksi pendampingan ini, maka tidak perlu untuk takut lagi untuk dikatakan bersembunyi dalam menara gading. Apalagi menuntut hak agar dapat merokok di dalam menara gading.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on April 12, 2011, in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. Mantap-mantap…🙂

  2. saya suka argumentasi dalam catatan ini. apakah sudah disampaikan pada saat diskusi kemarin??

    salam,

    • Terimakasih kawan. Saya pastikan sudah saya sampaikan pemikiran ini ke kawan-kawan LK UKSW dan SMUTI yang hadir pada saat itu. Hanya saja saya tidak bisa memastikan apakah hal ini akan ditindak lanjuti atau tidak🙂

  3. makanya jalankan hidup sehat
    merokok itu terkadang menyehatkan daripada diskusi yang tak terarah…..

  4. sy bs bayangkan suasananya.
    mungkin arah diskusi ga jelas soalnya belum minta arahan dari Tuhan.🙂

  5. Dari tulisan di atas saya bisa membayangkan suasana yang terjadi di Kapel. Trims Mas.
    Mengomentari diskusinya, saya kira yang menjadikan kampus sebagai menara gading adalah karena diskusi dan debat seperti di atas, bukan persoalan rokok dan tembakau. Kemarin saya baru baca Sajak Tangan karya WS Rendra dia bilang begini, “Kita adalah angkatan yang gagap…. kita tdk mengerti cara brpikir lurus krn kita tdk diajar filsafat atau logika”.

    Makasih untuk tulisannya Mas. Meskipun saya tidak pernah kelihatan di permukaan selama ini, tapi saya bisa tahu juga keadaan kampus dan suasana “kasih” yang terjalin di dalamnya.🙂

    • Terimakasih Ubbu….
      Senang masih mau memperhatikan dan berkontribusi pemikiran dengan situasi yang terjadi di seputar UKSW dan Salatiga. Berharap ke depan masih banyak hal yang bisa kita sharingkan bersama dan melakukan tindakan-tindakan nyata bersama, seperti dulu lagi.

      Kapan ke Salatiga lagi? Kedatanganmu di Salatiga ditunggu, supaya kami bisa berpikir lebih lurus dan tidak gagap lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: