Bagi Saya, Sumba adalah Surga

S

eminggu Daniel dan Ferdi meninggalkan Salatiga, saya kembali berkunjung ke basecamp anak Sumba. Ada Paulus, David, Fredy, Neni dan masih banyak lagi yang lainnya, mereka sedang asik nonton film berjudul “Faith Like Potatoes“. Teman-teman Sumba sudah saya anggap seperti saudara sendiri, hampir setiap acara yang mereka adakan saya nyaris tidak pernah absen, yang paling sering adalah pesta pengucapan syukur setelah wisuda. Hampir setiap hari mereka berkumpul, mulai dari bercerita tentang kenangan di kampung halaman mereka, masak dan makan bersama, curhat sampai dengan diskusipun ada. Intensitas pertemuan, solidaritas dan semangat mereka mampu menyeret saya dalam imaji dan harapan akan masa depan Sumba.

Wisuda Ferdinand U.R A. (Fendy Kurniawan Photography)

Sembari nonton film, saya bergumul tentang bagaimana nasib teman-teman yang sedang nonton bareng saya saat itu ketika kembali ke Sumba? Bagaimana masa depan Sumba?

Potensi yang Ada di Sumba

Sumba mempunyai modal sosial untuk berkembang menjadi lebih baik sekaligus berpotensi sebagai  program percontohan dan pembangunan. Modal tersebut adalah adanya ikatan etnisitas yang juga mempunyai batas wilayah yang jelas yaitu dalam satu pulau. Ikatan etnisistas tersebut kiranya tidak dimaknai sebagai eksklusifitas ataupun superioritas. Solidaritas etnis sumba dapat menjadi  kekuatan yang cukup solid untuk membangun sendi-sendi kehidupan bersama. Solidaritas tersebut bukan semata-mata karena hubungan darah, namun bagi siapa saja yang mempunyai komitmen untuk memajukan tanah Sumba.

Gereja sudah sepantasnya memberi kontribusi yang sangat besar dalam membangun kesadaran publik, menjadi penghubung antar kelompok masyarakat, dalam hal ini terkait dengan kepercayaan Marapu. Tentunya bukan hanya terhadap Marapu saja, namun semua kelompok masyarakat yang ada. Gereja jangan hanya terjebak pada aktifitas ritual keagamaan saja tapi juga harus mampu menggerakan sendi-sendi kehidupan bersama, untuk masyarakat yang lebih sejahtera, tidak hanya terbatas pada gerakan moral saja. Kehidupan yang lebih sejahtera tersebut bukan dilihat dari seberapa besar dan megahnya gedung gereja, namun seberapa banyak warga jemaatnya hidup dalam kesejahteraan dengan pekerjaan yang layak, tanpa pengangguran. Gereja juga harus peka terhadap perubahan dan dinamika politik setempat, seberapa banyak kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dapat mendarat tepat sasaran untuk masyarakat banyak. Dalam hal ini gereja dapat ikut mendorong terwujudnya iklim usaha dan pengawalan yang serius dari pemerintah.

Potensi yang Ada pada Perwasus

Keberadaan organisasi seperti Perwasus, sudah sepantasnya mendapat dukungan dari pemerintah Sumba. Dukungan tersebut bukan hanya berupa materi, namun juga informasi. Teman-teman Perwasus tentunya juga harus lebih berani dan lebih tanggap untuk mendesain program yang lebih bermanafaat. Acara pesta dan berbagai perayaan tidak harus dihilangkan karena itu juga menjadi salah satu modal sosial. Namun demikian teman-teman dapat secara bertahap membuat Master Plan untuk pengembangan Sumba. Tidak perlu buru-buru dan berlebihan, hal itu dapat dimulai dengan mengdadakan diskusi rutin, baik tiap minggu atau 2 minggu skali. Mengingat jumlahnya yang banyak dapat juga dibagi dalam beberapa kelompok kecil, baru dalam 1 bulan sekali diadakan diskusi bersama.

Hal-hal yang menjadi bahan diskusi adalah semua tentang Sumba. Tidak perlu terjebak dengan model yang terlalu ilmiah dan kaku, mengalir begitu saja. Akan lebih baik selain pembagian kelompok tersebut juga dibagi dalam beberapa rumpun ilmu ataupun kepakaran. Misalnya teman-teman dari mahasiswa pertanian atau mahasiswa dari Fakultas non pertanian yang tertarik dalam bidang pertanian, mereka berada dalam satu Gugus Kerja pertanian. Segala topik dalam hal pertanian mereka akan dikaji secara mendalam. Gugus kerja tersebut mensimulasikan berbagai kemungkinan untuk mengembangkan masyarakat Sumba dalam bidang pertanian. Perlu dicatat dalam mengerjakan hal ini jangan melulu berorientasi sebagai birokrat, namun juga perlu melihat potensi ataupun sudtut pandang lainnya seperti Gereja, LSM, kelompok tani dan lain sebagainya. Agar dapat mensimulasikan lebih nyata, maka teman-teman sudah sepatutnya mendapat dukungan informasi dari pemerintah Sumba. Data-data terkait bidang pertanian dapat disuplai dari pemerintah Sumba sebagai amunisi untuk diskusi dan simulasi.

Gugus kerja tersebut dapat dibuat sebanyak yang diperluakan sesuai kebutuhan, setidaknya mencangkup berbagai Dinas dalam pemerintahan Sumba ataupun kelompok sosial yang ada. Kerjasama antara pemerintah Sumba dengan Perwasus sudah selayaknya memasuki fase yang lebih serius, dan berkomitmen untuk bahu membahu membangun Sumba. Simulasi, diskusi yang dibahas dalam Gugus kerja tersebut pada akhirnya diarahkan pada riset aksi yang mendalam, baik kelompok atau perorangan. Riset secara perorangan ini sekaligus akan menjawab ketidak siapan mahasiswa dalam mengejakan penelitian untuk skripsi. Pada tahap ini jika memungkinkan, pemerintah Sumba dapat memberi dukungan materi terhadap beberapa program penelitian yang startegis.

Hasil-hasil penelitian, perkembangan ataupun isnpirasi yang dapat membangun Sumba dapat dielaborasi dalam satu terbitan yang ditujukan untuk masyarakat Sumba. Pengerjaan penerbitan ini ditangani oleh Gugus Kerja khusus, seperti yang sudah ada yaitu Talora. Dukungan dari pemerintah dalam penerbitan ini patut diberikan apresiasi, setidaknya itu informasi yang saya ketahui dalam penerbitan Talora bulan Maret, 2011. Dukungan dari pihak pemerintah tersebut sebenarnya menjadi ajang untuk evaluasi internal redaksi Talora, bahwasanya penerbitan edisi selanjutnya sudah harus lebih serius, jangan asal terbit.

Kolaborasi Sumba-Perwasus-UKSW

Selain pemerintah, dan Perwasus teman-teman masih memungkinkan untuk menggunakan potensi yang sebesar-besarnya di UKSW. Topik-topik penelitian yang dikerjakan oleh Gugus Kerja baik yang untuk keperluan Skripsi atau tidak, dapat dikonsultasikan kepada pakar-pakar terkait di UKSW. Tentunya universitas dan Dosen patut menyambut baik hal ini, jangan semua-semua minta dihargai dalam sks yang dirupiahkan. Hitung-hitung teman-teman Dosen melakukan misi kemanusiaan yang katanya Universitas Kristen.  Bukankah keterlibatan Dosen dalam berbagai kegiatan Penelitian ataupun kegiatan sosial juga akan menentukan Jabatan Fungsiinal Akademik? Untuk keperluan Sertifikasi Dosen sehingga berhak mendapat tunjangan dari pemerintah? Untuk keperluan akreditasi program studi?

Khusus dalam kebijakan pimpinan Universitas menjadikan UKSW sebagai Research University, sudah selayaknya mendapat dukungan dari semua pihak. Keseriusan pimpinan Universitas tersebut akan terlihat pada seberapa banyak dukungan mereka terhadap penelitian-penelitian yang ada atau diadakan. Teman-teman Perwasus jangan tinggal diam menunggu program yang dibuat PR 3 ataupun Lembaga kemahasiswaan. Inisiatif dan profesionalitas teman-teman Perwasus  tentunya dapat juga memberikan masukan-masukan program kepada LK maupun PR 3 sehingga kegiatan yang dibuat bisa lebih kreatif dan bermanfaat, bukan sekedar memoles ulang kegiatan yang sudah ada.

Epilog

Apa yang saya sampaikan hanya merupakan suatu imaji akan Sumba, mengapa saya bilang demikian? Karena saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sumba. Tidak menutup kemungkinan sebagian orang akan membenci saya dan menganggap saya sok tahu. Tidak ada soal bagi saya, bukankah para tokoh agama juga sok tahu membicarakan tentang Surga?🙂 (Orang beriman tidak boleh tersinggung he..he…maaf jangan dimasukkan ke hati) Sementara belum ada satu orangpun dari kita yang pernah pergi ke Surga, atau bahkan sebenarnya kita sudah ada di surga? Bagi mereka surga itu adalah kehidupan setelah mati. Bagi saya, Sumba adalah Surga.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on April 4, 2011, in Artikel and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. Petrus Wijayanto

    Ya kapan-kapan ke Sumba tow…,
    naik kapal cepat saja dari Surabaya, lebih murah dan nampaknya lebih ‘menantang’. (tapi saya jg belum pernah)
    kelihatannya lebih menarik naik kapal laut, kalau pesawat terbang, cuma lihat baling-baling di udara, hehehe…. (karena pesawat yg ke sana kecil, Fokker 27)

  2. Saya menyambut baik tulisa ini, setidaknya dapat meberikan catatan2 penting dan pesan moral yang sangat akademis.
    @ berbicara menngenai gereja,mengingatkan kembali diskusi saya dengan Adik ayahku (atau sebutan bagi orang jawa “Pade”) yg kebetulan seorang pendeta di Sumba. Saya sempat betanya “kenapa gereja di sumba tidak terpanggil untuk mjd komonitas yg transformatif?”. Kesimpulan yg bisa saya tarik dari pembicaraan kala itu (Agustus,2008). Bahwa Kita (Gereja) dan orang percaya, terpanggil untuk melihat realitas dari prespektif umat (rakyat). Disn sy setuju dengan pendapat mas Slamet yang mengatakan gereja tidak hanya terbatas pada gerakan moral saja. Artinya dimana gereja terpanggil untuk menjadi KOMONITAS-KOMONITAS yg TRANSFORMATIF dan Non-Formis, gereja sudah seharusnya menciptakan ruang dan menjadi agen transformasi.

    @ Perwasus dan Pemda Sumba, @ UKSW, Perwasus n Sumba (mengenai ini saya punya pandangan lain mas, kapan saya akan konsepkan dalam sebuah tulisan)…hahahaha…..

    • Menarik sekali Hans. Setidaknya dari diskusi dengan Pak Lik (bukan Pak De, Kalau Pak De sebutan untuk kakak dari orangtua kita) memberi bukti akan realitas dari peranan gereja, saat ini. Sebenarnya kenyataan tersebut bukan hanya di Sumba, karena saya sendiri belum ke Sumba namun juga di Indonesia umumnya.
      Baik sekali kalau memang Gereja mau segera bangkit dan menata diri, jika tidak maka dalam 30 tahun ke depan populasi jemaat bisa berkurang drastis sama seperti yang terjadi di Eropa sekarang ini.
      Terkait gagasanmu tentang perwasus, Pemda Sumba, dan UKSW saya menyambut baik sekali, silahkan diformulasikan. Mari berbagi untuk kehidupan yang lebih baik. 🙂

  3. Yermias Umbu Yagu

    Yah, tulisan ini mengingatkan sy akan diskusi teman-teman GMKI malang terkait dengan peran greja didalam mengambil bagian untuk menghidupkan masyarakat, greja, dan lingkungan itu sendiri(saya bisa bilang pendeta, greja belum tentu hidup jika iya tidak bisa memperbaharui jemaatnya agar bisa hidup) hehehe peace pak pendeta. melihat fenomena greja saat ini, terkadang terlalu lebai dan soktau akan surga? mereka lupa akan intruksi yesus kristus yang mengatakan: lanjutkan karya-karya Allah berlandaskan kemampuan masing-masing yang beralaskan KASIH. nah berangkat dari pernyataan Yesus bahwa bumi ini adalah karyaNYA, yang melanjutkannya adalah manusia yang hidup. bukan dengan cara memperdebatkan tafsiran untuk menuju surga sehingga kita akan kehabisan waktu untuk mencariNYA dan lupa untuk mengembangkan potensi untuk bisa melanjutkan karya-karya titipanNYA. menurut saya kita bisa menemukan surga dimanapun ketika kita bisa melanjutkan karya-karya yg beralskan KASIH(surga ada di situ).🙂 harus ada desain greja didalam membina jemaatnya agar mereka bisa bertahan hidup sehingga greja tidak sekedar bangunan tetapi greja benar-benar menjadi mitra kerja TUHAN. makasih Umbu slamet haryono..:)

    • Senang rasanya teman2 Sumba begitu antusiasnya melakukan diskusi, baik lewat media GMKI ataupun diskusi dadakan. Saya kitra hal semacam ini harus dibudayakan. Satu hal yang menjadi catatan bahwa terkadang sudah banyak diskusi menguap begitu saja,tidak ada orang yang rela hati menambatkan dalam betuk tulisan. Dalam ha ini saya sarankan untuk diarsipkan, baik itu lewat milis, blog ataupun note facebook.
      Selain itu menjadi kebiasan kita juga setelah selesai diskusi ide mnguap begitu saja tanpa ada yang menindaklanjuti. Olehkarena itu dibutuhkan orang-orang yang mau berinisiatif untuk memulai merealisasikan setiap gagasan yang dihasilkan melalui diskusi tersebut.
      Dengan menghadirkan permasalahan kontekstual di Sumba menjadi topik diskusi diharapkan teman2 Sumba dimanapun berada bisa lebih siap ketika kembali ke Sumba, membangun dan memajukan Sumba. Itulah Surga.

  4. manarik sekali tulisannya mas, apalgi menyinggung nama sumba jadi inspirasi untuk menulis juga.
    menjadi menarik lagi kalau teman2 dari sumba juga menulis tentang bayangan mereka tentang sumba, sehingga semakin kaya akan informasi dan kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sumba sebaiknya seperti apa, terkhusus peran mahasiswa2 yang mencari ilmu di tanah orang….
    nanti saya coba tulis, bayanganku tentan sumba….
    thanks mas tulisannya menarik….

    • Makasih Ubbu…….
      Itu sudah yang saya tunggu, teman2 menjjadi lebih peka, punya inisiatif, membangun gagasan bersama tentang Sumba dan mengawal perubahan, menuju Sumba lebih maju……

      Bukankah demikian panggilan hidup Ubbu?
      Ok ditunggu tulisannya……

  5. Terima kasih buat tulisannya Ubbu, tulisan yang sangat membantu kami, yang sedang berkuliah di Salatiga ini, supaya benar-benar mencari bentuk dengan baik untuk menuju ‘Surga’ itu. Saya kira, Ubbu sudah secara gamblang menjelaskan masukkan Ubbu, tinggal bagaimana kami mampu mendaratkannya di Bumi. Seperti kata Yesus dan Satria Anandita, “Di Bumi, Seperti Di Surga”….🙂

    Semoga saja kami bisa menjalankan ini tahap demi tahap, dan semoga kami juga peka dengan keadaan atau dengan “keterasingan diri” kami saat ini. Karena kalau kami sampai pada titik kesadaran tersebut, maka tentu kami (termasuk kita) akan menuju ke Surga yang sesungguhnya tanpa hidup dengan embel-embel kemunafikan ataupun sudah “sudah terisi penuh, seluruh”… (Saya bingung lagi dengan apa yang saya tulis ini,,,hahahahahaha). Pokoknya, itu sudah.

    Nanti pergi main2 sudah ke Sumba Ubbu ee…. Kalau saya kaya saja, aihhh, kamu dua dengan STR, saya traktir tiket pergi-pulang ke Sumba terus. (Ini masih imajinasi/mimpi juga, hahahahahahaha…..). Makasih banyak Ubbu Slamet, Sukses buat usaha dan karya kita semua.

    • @ Ubbu Fregor, senang bisa berbagi pemikiran dengan Ubbu. Semua ini tulisan ini kalau bukan karena informasi yang ubbu dan kawan2 Sumba berikan tidak akan mungkin ada tulisan ini. Terimakasih sekali sudah menginspirasi saya.

      Tanggungjawab yang jauh lebih besar adalah untuk merealisasikannya….ditunggu kelanjutannya. Saya dengan senang hati bisa mendampingin teman2 semua, sejauh yang saya bisa. Semangat kawan2.🙂

  6. Yermias Umbu Yagu

    Makasih sudah mengingatkan saudara. perlu memang itu saudara agar ide-ide yang terkait dengan sumba tidak melanglang buana, dan sekalian belajar menulis to saudara untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada.sukses untukmu.:)

    • Ubbu Yere, terimakasih kembali. Begitulah makna persaudaran, harus saling mengingatkan. Akan lebih baik lagi jika teman2 Sumba di berbagai tempat juga bisa menindaklanjutinya, baik yang di Malang, Yogyakarta, Surabaya, atau dareah lainnya.

      Dengan demikian teman2 bisa membuat semacam konsorsium untuk bisa mengintegrasikan pemikiran dan tindak lanjut, bukan persaingan.

      Salam “Surga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: