Gagal Menjadi Produk Gagal

M

enghabiskan malam dan menyambut pagi di Kemiri Candi, di basecamp teman-teman Sumba (26 Maret, 2011). Bermodal gitar, arsol dan ketela rebus, kami membuat pesta kecil-kecilan untuk dua sahabat kami yang hendak meninggalkan Salatiga, Ferdinand Umbu Reda Anaboeni dan Daniel Pekuwali. Ferdi besar di Kupang, orang tua Sumba-Jawa. Ferdi pulang ke Kupang setelah menyelesaikan studinya di FTI UKSW. Saya mengenalnya di kepengurusan Senat Mahasiswa Universitas (SMU) 2005-2006, Ketika saya menjadi Ketua Umum, dia adalah Anggota Bidang IV, Departemen Komunikasi dan Hubungan Eksternal. Ferdi lebih banyak telibat di SMU, Perwasus, dan Scientiarum (SA) daripada di Lembaga Kemahasiswaan FTI sendiri, barangkali dia merasa tidak terlalu cocok berorganisasi disana.

Ferdinand Umbu Reda Anaboeni

Daniel Pekuwali, mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2008. Dia kelahiran Sumba, pertama mengenalnya di kantor (SA) saat dia masih sebagai mahasiswa baru, dia diajak seniornya yang juga teman saya, Febri. Beberapa kali, saya ketemu dengan Daniel di kantor SA, dia sangat pendiam dan pemalu, duduk dipojok dengan tampang yang menyedihkan (jadi teringat tulisanku tentang Kere Tuntang). Dalam suatu kesempatan saya bicara dengan dia, saya menghardik keras dengan pasang muka serius “Percuma kamu datang jauh-jauh dari Sumba kalau sampai disini hanya menjadi mahasiswa biasa saja”. Febri tangkap maksud saya dan ikut memberi nasehat kepada Daniel. Dikemudian hari saat teman-teman SA berkumpul termasuk juga Daniel, tanpa persetujuan darinya saya bilang kepada anak-anak SA lainnya kalau Daniel ingin bergabung dengan SA. Awalnya Dia menolak dan merasa canggung, namun akhirnya dia ikut bergabung juga dengan SA.Dua tahun setelah peretemuan itu, Daniel sudah menjadi Pemimpin Redaksi Scientiarum, sungguh suatu capaian yang luar biasa, bahkan posisi itu tidak pernah saya atau Febri pegang. Daniel yang dulu, sangat berbeda sekali dengan yang sekarang. Di akhir jabatannya sebagai Pimred dia sempat mengadakan pelatihan atau lebih tepatnya belajar bersama membuat “lead berita yang menarik”, di SA. Daniel sendiri yang memberi pelatihan itu, dia sudah tak canggung atau malu lagi berbicara seperti dulu.

Malam Perpisahan Itu

Daniel Pekuwali

Bukan hanya teman-teman Sumba yang hadir waktu itu, ada juga teman dari Manado yang ikut bergabung. Malam perpisahan itu cukup berat buat saya karena harus menyaksikan kepergian Ferdi dan Daniel. Tidak sampai hati saya menatap wajah Daniel karena dia terpaksa meninggalkan kuliahnya karena tidak ada biaya lagi. Setahu saya, dia salah satu dari beberapa mahasiswa pertanian yang mendapatkan beasiswa dari program The Agriculture Excellent Program, semacam beasiswa untuk menjaring calon mahasiswa berpotensi. Entah bagaimana, realisasi beasiswa tersebut tidak berjalan lancar sampai akhirnya dia tidak bisa ikut registrasi kuliah lagi, sebelumnya dia pernah mendapat dispensasi untuk ikut kuliah, namun tidak untuk kali ini. Ketidaklancaran penyaluran beasiswa tersebut menimbulkan banyak pertanyaan bagiku, akan keseriusan kampus ini dalam menyelenggarakan pendidikan. Ketidaklancaran tersebut apakah karena Daniel bersama teman-teman SA lainnya cukup vokal mengkritisi berbagai kebijakan kampus? Ataukah ada permasalahan birokratis lainnya yang tidak saya ketahui?

Kepergian Daniel membuat saya gundah karena ketidakmampuan saya untuk melakukan sesuatu buat Daniel, agar dia tetap bisa melanjutkan studinya. Sampai pada kondisi tersebut saya mepertanyakan ulang dimanakah Lemabaga Kemahasiswaan ketika ada masalah semacam ini? Apakah kampus hanya bisa menawarkan janji-janji manis melalui beasiswanya, namun pahit realisasinya? Satu hal saja yang membuat saya sedikit lebih tenang bahwa Daniel sudah mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai wartawan di harian Medan Bisnis, meski tanpa gelar Sarjananya.

Daftar Panjang Produk Gagal

Daniel menambah panjang daftar produk gagal yang dihasilkan UKSW, setelah sebelumnya Yunatyo Adi Setiawan, Bambang Triyono,Yogi Nasution (Sebleng), Satria Anandita terlebih dahulu mendapat gelar tersebut. Oleh UKSW barangkali mereka disebut sebagai produk gagal, namun bagi Scientiarum mereka adalah orang-orang terpilih untuk gagal menjadi produk gagal. Daniel, Satria, Bambang mereka bertiga semua pernah menjadi Pimred SA. Saat ini Adi bekerja sebagai wartawan di Suara Merdeka, Bambang sebagai staf Litbang di majalah Warisan Indonesia, Sebleng berwiraswasta, Satria bekerja sebagai content web developer di Willi Toisuta Association.

Mereka hanya sebagian kecil produk gagal yang bisa saya ingat dan cukup dekat dengan saya, entah masih ada berapa banyak lagi yang lainnya. Sungguh suatu ironi dalam dunia pendidikan, apalagi mendengar kata ‘produk’ itu sendiri mengindikasikan bahwa mahasiswa bukan merupakan subyek pedidikan, namun obyek pendidikan. Mungkin terlalu berlebihan saya menyebutnya demikian, namun perasaan menjadi obyek pendidikan itu juga pernah saya alami saat bermahasiswa. Dahulu, untuk membayar uang perkuliahan saja harus ngantri, dan tidak jarang mendapat perlakukan yang kurang menyenangkan dari bagian keuangan. Saya berpikir kami mahasiswa datang untuk membayar kuliah saja diperlakukan demikian apalagi kita datang untuk hutang, agar dapat kuliah? Belum lagi kita bicara tentang hubungan dosen mahasiswa di kelas. Dibalik semua itu saya tahu persis teman-teman staf pengajar yang masih sangat perhatian terhadap dinamika mahasiswa. Semoga pelayanan di UKSW sudah semakin baik lagi sekarang.

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat terkejut ada seorang mahasiswa (yang tidak perlu saya sebutkan namanya) penerima beasiswa membuat pengakuan bahwa ada seorang pejabat kampus memberikan pengarahan kepada para penerima beasiswa kalau dia tidak segan-segan akan mencoret nama mahasiswa yang terlalu vokal. Pengakuan tersebut semakin memperkuat dugaan saya kalau ada permainan untuk mengebiri vokalitas dan kreatifitas mahasiswa. Mungkinkah ini ada kaitannya juga dengan pencoretan dan penggantian nama pembicara dalam berbagai pelatihan di kampus oleh pihak-pihak tertentu?

Di sisi lain, saya melihat ada upaya dari pihak kampus untuk mencoba merangkul alumni. Selain untuk meningkatkan silaturahmi tentunya keterhubungan dengan pihak alumni dapat mempermudah pengelolaan informasi terkait dengan akreditasi program studi. Saya menjadi bertanya-tanya apa yang menyebabkan alumni enggan berkontribusi untuk almamaternya? Apakah mereka juga mengalami perlakuan atau sesuatu yang mengecewakan yang pernah mereka terima saat bermahasiswa?

Bergumul lebih jauh ke depan, bagaimana UKSW akan memberikan kontribusi lebih untuk negara ini, untuk kemanusiaan, untuk kehidupan yang lebih baik? Apakah cukup dengan mencetak para Sarjana sebanyak-banyaknya dan mengesampingkan mereka yang dianggap atau calon produk gagal? Semoga pimpinan UKSW punya sekian banyak jurus jitu selain promosi lewat olahraga dan semboyan go international-nya.

Epilog

Saat ini saya hanya bisa mempersembahkan tulisan ini untuk teman-temanku yang dianggap produk gagal, baik yang ada di daftar tersebut ataupun yang belum saya sebutkan. Bersyukurlah kita setidaknya kita sudah sempat menikmati pendidikan di UKSW. Dengan segala keterbatasan minus gelar Sarjana, teman-teman sudah bisa menunjukkan perjuangan yang luar biasa mengatasi tantangan jaman, kira-kira demikiankah creative minority tersebut dihasilkan seperti yang dibilang Arnold J. Toynbee?. Teman-teman mahasiswa yang masih berkuliah, sedapat mungkin selesaikan pendidikan secepatnya dan segeralah berkarya. Tidak semua orang mendapatkan keberuntungan untuk berhasil dalam hidupnya minus gelar Sarjana, karena Sarjana pengangguran saja sudah sangat banyak, mungkin termasuk saya🙂.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on April 4, 2011, in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. setelah baca tulisan ini, saya baru teu kalau Daniel Pekuwali sudah kembali ke Sumba. Tak ada kabar sebelumnya kalau pace satu itu juga pulang.

    • Makasih pace su mampir di kita pe blog
      Iya dong dua su pergi, Mar Niel pergi merantau ke Medan, bukan pulang Sumba. Dia pulang Sumba kalau sudah sukses, mo bikin harian Sumba…
      Kalau Ferdi paling sebentar lagi kita terima undangan nikahnya…he..he….

  2. ama dekri!!!!

    apa kabarx sie sarjana yg plg kupang itu yah??
    klo yg di medan saya sudah ketemu..🙂

    • Eri……
      Saya liat di itu foto, niel su botak yah…..?
      Dan Sarjana paling ganteng se Kupang itu sepertinya masih gondrong…..ha…..ha….😛
      Dia potong rambut paling nanti kalau su mo menikah😀

  3. iyaw,,
    su botak skali dy…
    kmrn pas saya sampe sana pas hutx isna jga trus malamx dy diminta ke rumahx isna…
    mana hujan lagi hari itu,,
    salut saya sama perjuanganx dy aya..🙂

  4. kalau ada promosi kampus ke SMA- SMA untuk tidak masuk ke kampus (yang tidak perlu saya sebutkan namanya), biar sy yg pimpin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: