Evolusi Surga

Surga oleh kitab-kitab suci dibayangkan sebagai tempat yang serba enak. Bagaimana sesungguhnya konsep surga dan neraka itu lahir? Bagaimanakah perubahan pemaknaan terhadap surga dan neraka itu sendiri? Konsep tentang surga-neraka tidaklah statis dan ternyata juga mengalami evolusi.

Tempat yang serba enak itu surga

S

urga, satu dari beberapa kata keramat dalam kelompok agama tertentu. Surga dibayangkan sebagai suatu tempat dimana semua hal yang enak ada disana. Sementara itu untuk menyebutkan tempat dimana semua yang tidak enak adalah neraka. Surga menjadi salah satu tempat yang paling misterius sekaligus paling banyak dicari oleh manusia, banyak hal yang dapat manusia korbankan untuk mendapatkan surga. Tidak menutup kemungkinan sesamanya manusia juga menjadi korban untuk memuluskan perjalannya ke surga. Berbagai macam versi cara orang menempuh jalan ke surga, yang paling sering disebut ada dua yaitu: Satu dengan perbuatan baik dan yang ke dua dengan penebusan. Ada banyak dalih untuk membenarkan masing-masing cara tersebut, biarkan demikian adanya.

Belum ada laporan mereka yang sudah sampai ke surga, balik ke bumi. Untuk itu kita akan berwisata ke masa lampau sesaat sebelum surga dan neraka itu lahir dari kandungan agama. Dahulu kala ketika bumi masih tertutub oleh lapisan es yang cukup tebal, bisa dibayangkan kondisinya yang begitu dingin dan tentunya tidak mudah untuk mendapatkan makanan. Hanya daerah-daerah dekat khatulistiwa saja dan punya banyak gunung berapi, terdapat kelimpahan sumber makanan dan iklim yang hangat. Dorongan untuk tetap bertahan hidup, mencari tempat yang lebih nyaman, lebih banyak makanan, lebih hangat memaksa koloni-koloni manusia purba meninggalkan benua Afrika pada 2,7 juta tahun yang lalu.

Perlahan namun pasti, sebagian dari mereka pergi ke timur dan mendiami hamparan benua yang sangat subur dan cukup hangat, daerah tersebut kemudian disebut sebagai Athlantis. Menurut Arysio Santos, daerah tersebut di kemudian hari adalah Indonesia. Pada periode 130.000-2,7 juta tahun yang lalu para pendatang ini kemudian menyesuaikan diri dengan keadaan di wilayah yang baru itu. Penyesuaian ini yang kemudian oleh Charles Darwin disebutkan sebagai evolusi. Terlepas seperti apapun manusia pada waktu itu, setidaknya keberadaan beberapa situs manusia purba di Indonesia menunjukkan bahwa daerah ini sudah ditempati oleh manusia pada jutaan tahun yang lalu. Bagi yang masih penasaran silahkan berkunjung ke Museum Purbakala Sangiran.

Peradaban manusia Athlantis pertama yang dibangun pada 130.000 tahun SM kemudian hancur karena letusan gunung Toba pada 75.000 SM. Sisa-sisa manusia yang ada mencoba bertahan hidup kemudian mereka membangun kembali Athlantis yang kedua, namun demikian hancur lagi karena letusan Gunung Krakatau pada 11.600 SM. Pasca letusan kali ini mereka yang selamat kemudian bermukim sedikit ke utara di lembah sungai Indus, membangun Athlantis yang ketiga, sampai akhirnya kekeringan melanda daerah ini dan  untuk ketiga kalinya peradaban Athlantis hancur, pada tahun 3.100 SM.

Bayang-bayang kehidupan di Athlantis disebut surga

Sementara itu di belahan bumi bagian tengah dan barat, sedikit dari imigran Afrika yang dapat bertahan hidup sejak dimulai perjalanan mereka pada 2,7 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa dari mereka yang hidup kemudian membangun peradaban baru dengan orang-orang Athlantis yang menyelamatkan diri pasca hancurnya Athlantis yang pertama. Salah satu yang berhasil membangun peradaban yang cukup besar adalah di dekat delta sungai Nil, di Mesir. Pelarian dari Athlantis tersebut menuturkan kepada anak cucunya tentang adanya suatu tempat yang sangat enak dimana banyak intan permata, makanan, dan manusia yang cantik-cantik (bidadari), hawa yang hangat. Perlahan cerita tersebut menjadi dongeng dan mitos belaka menyusup dan terserap ke dalam kebudayaan baru yang mereka kembangkan.

Mesir merupakan peradaman yang akhirnya menyemaikan agama semitik termasuk di dalamnya Yahudi, Kristen, Katholik dan Islam. Lahirnya agama-agama tersebut dalam suasana romantisme akan Athlantis yang masih lekat. Gambaran akan suatu tempat yang serba enak tersebut masuk dalam ajaran agama-agama yang kemudian disebut sebagai surga. Tempat yang enak tersebut pada dasarnya merupakan proyeksi dari Athlantis. Sementara itu neraka sebagai tempat yang serba tidak enak merupakan kondisi ketika Athlantis hancur terbakar oleh letusan Gunung Toba. Surga dan neraka tersebut tidak pasti karena hanya merupakan proyeksi, yang pasti adalah sudah ada peradaban yang luar biasa besar di Athlantis jauh sebelum Adam dan Hawa versinya Alkitab, entah menurut Al-Quran, saya tidak tahu.

Surga itu ketika membuat orang lain merasa nyaman dan saling menyamankan

Sampai saat ini kebanyakan orang berusaha mati-matian menghidari neraka dan berusaha untuk masuk surga, dipersilahkan, tidak ada yang melarang. Bagi saya pecarian yang semacam demikian seperti halnya menolak kehadiran seorang perempuan cantik karena lebih memilih bayang-bayangnya. Tidak ada alasan bagi saya untuk menolak apalagi menyakiti orang lain karena kebetulan berdeda pandangan mengenai surga. Perbedaan pandangan tersebut diciptakan oleh agama-agama, bersyukur meskipun pandangan tersebut berbeda-beda kalau bisa hidup rukun, bagaimana kalau terus berkelahi memperebutkan status sebagai kelompok yang paling berhak atas surga?

Agama atau tokoh agama yang mengaku diri paling baik sudah seharusnya memberi contoh yang baik, tidak lekas marah dan kasar memerangi orang lain yang dianggap tidak baik. Sementara itu, lagi-lagi saya teringat pesan Kakek saya tentang hal ini. “Baik buruknya agama akan terlihat dari tindakannya, jika kamu dapat hidup rukun dengan orang yang meski itu tidak baik, kamu adalah baik” demikian pesan Kakek saya. Selain itu saya teringat kalimat yang diucapkan Kakek saya tentang nywargake liyan. Kata nywargake berasal dari kata surga, nywargake kemudian berarti membuatkan surga, atau membuat merasa di surga. Sementara itu kata liyan berasal dari kata liya, atau orang lain. Jika digabung kata nywargake liyan berarti membuat orang lain merasa di surga.

Konsep surga yang dimaksud bukan lagi merupakan suatu tempat, namun suatu kondisi. Nywargake liyan berati membuat orang lain merasa nyaman, membuat orang lain merasa enak, tidak maunya enak sendiri. Senada dengan hal itu, Ki Ageng Suryomentaram mengatakan jika kita ingin merasa enak kita harus mengenakkan orang lain, dengan demikian orang hidup akan saling mengenakkan. Bagi yang menginginkan surga buatlah orang lain merasa di surga, bagi yang bertindak dan menganggap orang lain tidak pantas berada disurga, sesungguhnya yang bersangkutan sudah ada di neraka.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on March 29, 2011, in Javalosophy and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. “Apa yang ingin orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah demikian.”
    Itu juga tujuan “nywargake liyan”.

  1. Pingback: Bagi Saya, Sumba adalah Surga « S L A M E T H A R Y O N O : Share for A Better Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: