Kere Tuntang

S

enin, 28 Maret 2011. Sore itu saya masih terperangkap di kos Satria, karena di luar hujan tak kunjung berhenti. Tidak sempat makan sejak pagi dan ganya ada beberapa potong emping dan air putih, lumayan dapat mengganjal perut sementara sambil berinternetan. Sementara nganggur apa lagi yang bisa saya lakukan selain berinternetan dan menulis.

Rakit Penyeberangan

Secara kebetulan ketika saya mengetik kata Tuntang di mesin pencari Google, mendapati salah satu blog milik Antyo Rentjoko  yang menceritakan tentang cerita ketika tinggal di Salatiga. Dalam salah satu tulisan di blognya Antyo membahas mengenai Kere Tuntang dan bahkan sampai pada akhir ceritanya dia tidak tahu dari mana asal kata Kere Tuntang.

Tuntang merupakan nama Desa yang juga merupakan nama Kecapatan di Kabupaten Semarang. Tuntang terletak diantara jalan raya yang menghubungkan Salatiga dan Bawen. Tidak susah untuk mengenali ini karena sepanjang perjalanan Bawen-Salatiga hanya ada satu jembatan yang besar di atas sungai Tuntang. Sungai tersebut merupakan satu-satunya sungai yang mengalirkan air dari Danau Rawapening, sementara itu terdapat 8 sungai yang bermuara ke Rawapening.

Kere berasal dari bahasa jawa yang artinya miskin, atau orang miskin. Perihal kata Kere Tuntang, saya pernah mendengar cerita dari almarhum A. Kasidjo, bapak kos ketika saya masih bermahasiswa di Salatiga. Entah bagaimana awal mulanya saya tidak ingat, saya hanya ingat bahwa dia pernah menceritakan tentang Kere Tuntang kepada saya. Menurutnya dahulu sebelum ada jembatan Tuntang, ketika orang hendak bepergian melewati daerah tersebut mereka harus menggunakan perahu penyeberangan. Untuk menggerakan perahu tersebut digunakanlah tali yang melintang di atas sungai Tuntang. Si tukang sebrang cukup menarik tali tersebut sampai  perahu bergerak ke depan. Setibanya diseberang, tepat ketika penumpang perahu penyeberangan menginjakkan kakinya kembali di daratan, ada banyak pengemis yang meminta-minta kepada para pelintas yang menggunakan jasa penyeberangan.

Waktu itu, pengemis yang berkeliaran pasar masih lebih bersih pakaiannya, sementara itu pengemis yang ada di Tuntang mereka lebih terlihat kotor. Sebagai bahan olokan yang menunjukkan kondisi orang begitu miskinnya, orang-orang pada waktu itu menyamakan dengan Kere Tuntang. Begitu populernya olokan tersebut masih saja istilah Kere Tuntang masih dipakai meskipun sudah dibangun jembatan Tuntang dan sudah tidak ada lagi pengemis disana.

Kere jaman dahulu, menungu belas kasihan dari pelintas dipinggir sungai, tempat dimana banyak orang melintas. Tidak jauh berbeda dengan sekarang, kere masih menunggu belas kasihan dari orang-orang yang melintas dalam dunia informasi, meskipun tidak lagi berpakaian kotor. Kere jaman modern mereka adalah yang terbuang oleh sistem meskipun mengantongi ijazah Sarjana. Sistem yang dibangun hanya menguntungkan para pemilik modal, di atas fondasi kebebasan dan egoisme. Kemanusiaan, lingkungan menjadi korban yang tidak bisa dipungkiri. Sebagian Kere yang telah berhasil masuk ke dalam birokrasi pura-pura tidak tahu, dan turut serta menikmati bancaan yang seharusnya menjadi hak rakyat kecil. Saya, satu diantara sekian banyak Kere Tuntang yang bertebaran di negeri ini.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on March 28, 2011, in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. Oooo, aku baru tahu kalau asal muasal ceritanya seperti itu, padahal aku dari kecil akrab banget ma istilah “kere tuntang” (Bapakku asli Tlogo). Nanti aku tanya simbahku bener g ceritanya🙂

    • Ha…ha……tidak menutup kemungkinan ada versi lain karena aku hanya dapat cerita. Nanti bagi-bagi informasi yah kalau ada temuan baru, bisa buat inspirasi nulis lagi.🙂
      Btw maturnuwun mbak sudah berkenanan mampir dan komentar di blogku. Jangan kapok yah…

  2. Menarik. Oh begitu rupanya. Tapi kenapa bisa seterkenal itu ya? Apa di tempat lain nggak ada kéré?🙂

    • He….he……sepertinya sampai sekarang juga masih banyak kere, atau mungkin justru lebih banyak. Saya tidak tahu pasti mengapa menjadi begitu terkenalnya, bisa jadi karena keberadaan kere Tuntang tersebut tetap eksis untuk kurun waktu yang cukup lama, dengan demikian menjadi melegenda.

      Itu baru dugaan saya, saya tidak punya cukup bukti mas. Btw maturnuwun sudah berkenan singgah.🙂

  3. matur nuwun mas info-nya…

  4. Oleh sebab itu ada stigma kalau di Tuntang banyak kerenya. Padahal menurut mbahku yg asli Tuntang, kebanyakan mereka itu adalah pendatang yg berasal dari daerah Demak.

  5. Menarik mas, tulisannya….saya org Tuntang, ngere di ibukota :)…sampeyan org Tuntangkah?

  1. Pingback: Produk Gagal? « S L A M E T H A R Y O N O : Share for A Better Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: