Melampaui Creative Minority : Kontekstualisasi Pemikiran Notohamidjojo tentang Pembinaan Kepemimpinan

Oleh Slamet Haryono[2]

Creative minority merupakan sekelompok kecil manusia yang mampu untuk mencari solusi atas berbagai kesulitan tantangan peradaban, menggerakkan dan menentukan sejarah peradaban yang kemudian akan diikuti oleh yang lain (Arnold J. Toynbee[3]). Gagasan ini ditangkap dan dibesut dengan baik oleh O. Notohamidjojo dalam lingkup pendidikan Kristen dan falsafah Jawa. Setengah abad setelah gagasan tersebut disemaikan di UKSW apakah sudah menghasilkan pemimpin  mengatasi kesulitan tatangan peradaban?


Siapakah Notohamidjojo?

T

erlahir dengan nama Oeripan pada tahun 1915 di Blora dari keluarga Abdullahfatah tokoh hukum agama dan pergerakan Islam. Setelah dewasa barulah digunakan nama O. Notohamidjojo, seorang pelajar otodidak yang mempunyai minat dalam banyak hal mulai dari filsafat, hukum, bahasa, budaya juga theologi. Dasar-dasar filsafat kekristenannya banyak dipengaruhi oleh aliran Dooyeweerd[4] yang olehnya dihadirkan secara kontekstual dalam besutan filsafat Jawa. Sementara itu pandangannya terkait pembinaan kepemimpinan terinspirasi oleh Toynbee seorang sejarawan Inggris.

Notohamidjojo kecil beruntung mendapatkan kesepatan belajar di tengah masa pendudukan Belanda, pada masa itu pula beliau mengenal kekristenan yang akhirnya pada usia 20 tahun memutuskan untuk menjadi seorang kristen. Ketika jaman pendudukan Jepang beliau telah menjadi seorang guru di Sala. Antara tahun 1949-1956 sambil mengajar dan memimpin asrama di Sekolah Guru Atas Kristen di Salemba Jakarta, beliau berkuliah pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat dari Universitas Indonesia. Setelah lulus Notohamidjojo menerima tawaran untuk memimpin PTPG Kristen Indonesia di Salatiga, yang kemudian menjadi Universitas Kristen Satya Wacana.

Sejak usia 21 tahun Notohamidjojo sudah menulis dalam surat-surat kabar De Locomotief dan Soerabajaasch Handelsbald tentang masalah-masalah kemasyarakatan. Tulisan-tulisannya bertemakan politik dan kebudayaan, buku yang pernah di tulisnya adalah Tata Negara Indonesia, Iman Kristen dan Politik, Tanggung Jawab Gereja dan Orang Kristen di Bidang Politik, Masalah Keadilan. Selain kebiasaanya menulis, Notohamidjojo juga ikut serta dalam berbagai organisasi yaitu sebagai ketua bidang politik dalam pengurus besar PGRI. Setelah itu beliau banyak mencurahkan idealismenya melalui Parkindo.

Totalitas dan keyakinannya menjadikan Notohamidjojo mampu mendirikan dan membesarkan UKSW menjadi salah satu perguruan tinggi yang berdasarkan iman kristen di Indonesia. Pengabdian dan komitmen beliau dalam ilmu hukum mendapatkan penghargaan sebagai Doctor Honoris Causa dari Vrije Universiteit,  Amsterdam. Pengabdiannya di UKSW sejak didirikan sampai jabatan tersebut dilepaskan dengan keinginan beliau sendiri, genap 17 tahun. Hal inidisebabkan karena kondisi fisik beliau yang menurun sampai tutup usia di tahun 1985.

Pemimpin dan Pembinaan Kepemimpinan Menurut Notohamidjojo

Kepemimpinan adalah perubahan antara pemimpin dan golongan penganut berdasarkan pilihan bebas (bukan berdasarkan paksaan, atau dorongan naluri buta) dan kebutuhan pribadi yang terangi akal. Semua ini merupakan perhubungan berdasarkan pertimbangan sadar antara penganut terhadap kepribadian dan pemimpin dan perhubungan antara pemimpin terhadap kepribadian penganut. Dalam suatu kepemimpinan tercakup beberapa unsur-unsur konseptual seperti maksud dan tujuan pemimpin, dan bagaimana sikap pemimpin terhadap penganut (pribadinya) dalam merealisasikan maksud dan tujuan pemimpin atau organisasi tersebut.

Terdapat  sepuluh hal yang merupakan kewajiban seorang pemimpin. Kesepuluh berikut ini menurut saya merupakan refleksi theologis Notohamidjojo terkait dengan pembinaan kepemimpinan.

1.       Kasih sebagai dasar dalam berelasi.  Dengan Kasih pemimpin akan memperlakukan anggotanya sebagai subyek bukan obyek.

2.       Pengabdian, merupakan Kesediaan untuk melayani

3.       Memiliki pesan, artinya memiliki misi dan mampu mengkomunikasikan misinya ke anggotanya.

4.       Memiliki visi dan insight, artinya berpandangan jauh kedepan mampu menguasai ruang gerak untuk merealisasikan tujuan.

5.       Berkeyakinan kuat dan percaya diri.

6.       Tahan uji, sabar, memiliki semangat yang tak kunjung padam dalam merealisasikan tujuan.

7.       Kesediaan bekerja keras, sehingga para anggota bekerja keras pula.

8.       Sadar kewajiban dan memiliki disiplin diri.

9.       Berkeahlian dan berwibawa karena jujur dan bersedia melayani.

10.   Bertanggung jawab, membela kebenaran, mampu mengambil keputusan yang bijaksana, berjiwa bebas, berani melawan bahaya.

Lebih lanjut, penggabungan antara falsafah Jawa dengan konsep creative minority-nya Toynbee setelah ditajamkan oleh Notohamidjojo dinyatakan sebagai lima fungsi seorang pemimpin, yaitu :

1.       Pembawa gagasan tentang rumusan jalan keluar terhadap tantangan masyarakat dan budaya, serta mampu merealisasikannya dalam aksi yang menunjukan prestasi.

2.       Sadar terhadap tendensi perubahan dalam masyarakat, sehingga dapat mencegah perkembangan yang tidak diinginkan.

3.       Berperan dalam menyiapkan dan mewujudkan perubahan, asalkan sadar akan dasar dan arah perkembangan, serta ahli, jujur dan bijaksana.

4.       Berkat superioritas jiwa dan roh dan kekuatan keyakinannya mampu memberi bimbingan kepada massa yang pasif sehingga menjadi penganut yang aktif dalam proses perkembangan (pembangunan).

5.       Tut wuri handayani, mengikuti anggota sebagai subyek dan mengembangkan tanggung jawab mereka, serta memberi pengaruh untuk berkembang dan meningkat.

Pemimpin tidak lahir dengan sendirinya, namun ada wadah pembinaan pemimpin yang akan membinanya. Pembinaan pemimpin tersebut melalui pergumulan terus-menerus dengan berbagai masalah diperguruan tinggi, gerakan kemahasiswaan dan dimana saja. Lebih lanjut, perguruan tinggi berfungsi sebagai pencipta lingkungan persekutuan yang bersifat ilmiah (universitas scientiarum), yang terdiri dari ahli dan calon ilmuwan dalam relasi pembentukan pemimpin yang ilmiah (universitas magistrum et scholarium), namun yang tidak memisahkan diri dari masyarakat yang akan dilayani, justru karena proses pembentukan pemimpin dilakukan dengan berorientasi kepada pembentukan ahli yang melayani masyarakat.

Terdapat  dua faktor pendukung dalam pembinaan pemimpin menurut Notohamidjojo. Pertama, Keunggulan pribadi si pemimpin, seperti superioritas jiwa dan roh, kekuatan keyakinan, percaya diri, tahan uji, ahli dan sebagainya. Kedua, Keteladanan moral pribadi, seperti jujur, bijaksana, sabar dan sebagainya.Konsep kepemimpinan menurut Notohamidjojo mencerminkan pengutamaan asas hak-hak pribadi, baik hak-hak pribadi si pemimpin maupun anggotanya, dengan demikian sikap saling menghormati perlu dijunjung tinggi. Berdasarkan asas tersebut, relasi antara pemimpin dan anggotanya harus lebih bersifat mengembangkan pihak anggota.

Terkait bidang politik, seorang pemimpin mempunyai tanggungjawab:

1.       Menggunakan kebudayaan, iptek, ekonomi, politik, sosial dan sebagainya untuk melayani kesejahteraan hidup.

2.       Mengupayakan sikap tepat antara manusia terhadap Tuhan, sesama, alam dan pengaruh-pengaruh budaya eksternal.

3.       Memberikan redireksi, sanktifikasi, pengembangan budaya nasional demi kemajuan yang memuliakan Tuhan.

4.       Mengisi dan mendasarkan upaya-upaya tersebut pada ruang atau peluang yang ditawarkan oleh Pancasila.

5.       Berbuat secara bijaksana.

Secara ringkas konsep pembinaan kepemimpinan menurut Notohamidjojo dibungkus dalam istilah creative minority. Konsep tersebut merupakan penajaman gagasan Toynbee yang tentunya menjadi lebih bernas dan kontekstual secara geografis.

Pembinaan Kepemimpinan di UKSW Saat Ini

Notohamidjojo sangatlah cermat dalam menangkap gagasan Toynbee tentang creative minority, mengingat saat itu Indonesia masih dalam masa revolusi pasca kemerdekaan. Menurut saya gagasan tersebut didasarkan atas : Pertama, situasi nasional paska penjajahan, dalam situasi psikis-sosial yang tertekan sehingga perlu adanya semangat kebangkitan kolektif. Kedua, Kekristenan di Indonesia masih terlalu imut untuk memberikan kontribusinya bagi negeri ini, sehingga perlu pembinaan kepemimpinan kristen bagi generasi muda, khususnya guru pendidikan agama kristen. Lebih lanjut beliau menarik gagasan-gagasan dari Toynbee dalam religiusitas kristen dan falsafah Jawa, sehingga lebih kontektual diterapkan dalam lingkup pendidikan kristen yang notabene ada di tengah lingkungan masyarakat Jawa. Jika ditarik keluar, konsep creative minority Toynbee mencakup perspektif yang lebih luas, menyangkut sekelompok kecil manusia dalam berbagai peradaban. Jika ditarik lebih dalam, konsep creative minority Notohamidjojo dalam perspektif yang semakin tajam yaitu dalam lingkup pendidikan-kristen.

Menurut saya, Notohamidjojo menempatkan UKSW sebagai wadah pembinaan kepemimpinan itu sendiri, dimana berbagai tantangan dan situasi yang ada menjadi pemicu sekaligus penggembleng mental dan keahlian calon pemimpin. Pada tahun 1984, John A. Titaley kala itu ketika menjabat PR 3, memformulasikan pemikiran Notohamidjojo ke dalam Skenario Pola Pangembangan Mahasiswa (SPPM) UKSW. Profil lulusan yang diidealkan oleh UKSW adalah yang bercirikan creative minority, yaitu yang tinggi iman juga tinggi ilmu. Jumlah mahasiswa yang tidak lebih dari 5000 orang, penyediaan asrama mahasiswa dan Pelayanan Kristen (Campus Ministry) menjadi kondisi yang cukup ideal untuk membina calon pemimpin, dimana intensitas dan interaksi civitas kampus akan turut membentuk karater lulusannya.

Seiring dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan meningkatnya kesadaran akan pendidikan, maka mulai kepemimpinan Willi Toisuta UKSW meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswanya, dengan demikian dinamika kehidupan akademis di UKSW menjadi semakin kompleks. Kompleksitas tersebut menjadi suatu tantangan baru ketika berbicara tentang kualitas lulusannya. Perlahan kata creative minority dan SPPM hanya dipahami oleh segelintir dosen yang melek dengan gerakan mahasiswa serta lingkup aktivis lembaga kemahasiswaan saja, selebihnya patut dipertanyakan?

Konsep creative minority Toynbee yang diperoleh dari amatan dan penelitian atas peristiwa yang telah berlalu dan alami disemaikan di UKSW menjadi terinstitusi, futuristik dan terkondisi. Hal ini membawa beberapa konsekuensi bahwa pembinaan pemimpin itu seolah-olah dipaksakan melalui pendekatan sistem pendidikan. Baik itu melalui kurikulum dengan sejumlah sks mata kuliahnya ataupun Lembaga Kemahasiswaan dengan kredit poin beserta sertifikatnya. Tidak salah memang menempuh cara demikian, karena memang dunia khususnya Indonesia sedang dalam pusaran formalitas. Setelah sekian banyaknya menghasilkan Sarjana dengan kualifikasi indek prestasi tertentu beserta sejumlah sertifikat, menjadi pertanyaan adalah apakah mereka sudah cukup menjadi pemimpin di negeri ini? Atau hanya sekedar pengikut saja? Jika sudah menjadi pemimpin apakah sudah dapat mengatasi tantang jaman?

Toynbee mengamati peradaban yang mulanya dianggap sebagai sesuatu yang statis dan mekanis ternyata mempunyai sifat seperti halnya organisme hidup, yaitu mengalami fase lahir, berkembang dan kematian. Dalam amatan saya di UKSW (di Indonesia umumnya) justru terjadi sebaliknya, tanggungjawab pembinaan pemimpin tersebut terjebak dalam paradigma sitem yang mekanis, dengan proses yang serba formal. Apakah setelah lulus hanya menjadi Sarjana atau pemimpin formalitas saja? Jika lulusan yang dihasilkan demikian, maka bagaimana nasib masyarakat kecil? Bagaimana nasib bangsa ini?

Terkait dengan masyarakat dan bangsa ini, terlalu sering terjadi penafsiran yang sempit bahwa menjadi pemimpin identik sebagai pejabat, padahal ketika sebagai pejabat tidak membawa masyarakatnya kepada peningkatan standar kehidupan bahkan ikut bersama-sama yang lainnya merampas dan menikmati hak yang seharusnya menjadi milik rakyat kecil. Telah berkali-kali Notohmamidjojo dalam pidatonya menegaskan bahwa pengembangan keilmuan tersebut digunakan untuk kesejahteraan manusia, dan tidak boleh memisahkan diri dari masyarakatnya. Sampai disini kita harus jujur sebarapa banyak tenaga, pikiran, matakuliah ataupun pembinaan kepemimpinan tersebut diarahkan kepada rakyat kecil? Ataukah kita hanya mampu menyuplai kebutuhan karyawan pada berbagai perusahaan besar saja?

Menurut Toynbee, punahnya peradaban terjadi ketika minoritas kehilangan kreativitasnya sehingga tidak mampu menjawab tantangan yang ada, maka akan menurunkan kepercayaan mayoritas, hancurnya ikatan sosial dan menghasilkan ikatan-ikatan sosial yang baru yang memunculkan pertikaian. Jika kita menengok ke dalam, apakah hal ini yang sedang terjadi di UKSW? Tanpa bermaksud untuk tidak mengindahkan kemajuan dan prestasi yang telah dicapai UKSW, bagaimanakah pembinaan pemimpin di UKSW ke depan? Apakah cukup dengan membuat kurilulum kepemimpinan? Apakah cukup dengan Go international-nya? Jika dengan hal tersebut saja belum cukup bagaimana dengan isu mengenai pencekalan beberapa pembicara pelatihan yang tidak seideologi dan berbagai kebijakan yang dianggap intervensi terhadap Lembaga Kemahasiswaan? Dengan cara seperti inikah creative minority dibangun?

Penutup

Arnold J. Toynbee dan O. Notohamidjojo merupakan dua tokoh yang sangat saya kagumi, bukan hanya sebagai filsuf dan pendidik namun juga ketepatannya dalam membaca keadaan mampu untuk memberikan respon dalam berbagai karya yang luar biasa. Mereka berdua ini yang layak mendapat sebutan sebagai creative minority. Keteladanan Notohamidjojo merupakan internalisasi nilai spiritualitas Kristen-Jawa yang mampu menarik dan menajamkan pemikiran Toynbee tentang peran orang-orang creative minority dalam berkembang dan matinya peradaban.

UKSW perlu bergumul lebih serius terkait pembinaan kepemimpinan, perlu untuk secara kreatif mencari alternatif atau mempertajam yang sudah ada. Sikap hormat-menghormati dan perhatian terhadap kemajuan anggota (mahasiswa) menjadi pilihan yang lebih tepat menggantikan sikap yang menonjolkan dominansi dosen dan birokrat kampus. Semangat kompetisi dan memecah-mecah berganti menjadi semangat kolaboratif dan penyatuan. Semangat statis-mekanis berganti menjadi semnagat dinamis-organis. Perhatian terhadap rakyat kecil patut ditingkatkan tanpa mengesampingkan perhatian terhadap dunia usaha berskala besar.

Sebagai sebuah tulisan, penutup yang saya sampaikan terkesan abstrak. Pembaca yang kritis tentunya akan mempertanyakan bagaimana pembinaan kepemimpinan itu menurut anda? Jika saya harus menjawab, ya akan saya jawab namun bukan di materi ini, karena saat ini adalah kepemimpinan menurut Notohamidjodo, bukan menurut Slamet Haryono. Mungkin perlu tambahan satu materi lagi he…he…🙂

Mari berdiskusi, saling berbagi dan melengkapi. Batu diasah dengan batu, manusia diasah oleh sesamanya, demikianlah pemimpin terlahir.

***

REFERENSI

Kepemimpinan dan Pembinaan Pemimpin” (Kumpulan Karya Mengenanng Dr. O. Notohamidjojo). Penyuting R. Gultom, dkk., Yayasan Bina Darma & UKSW – 1993

http://notohamidjojo.scientiarum.com/bio/

http://mas-tsabit.blogspot.com/2009/05/membedah-pemikiran-arnold-j-toynbee.html

http://www.philosophyprofessor.com/philosophers/arnold-toynbee.php

http://rickyanggili.blogspot.com/2011/02/kepemimpinan-yang-bertanggung-jawab-dr.html

http://fredyguty.wordpress.com/2010/09/03/notohamidjojo-dan-pikiran-pikirannya-menurut-usadi-wiryatnaya/

http://en.wikipedia.org/wiki/Herman_Dooyeweerd


[1] Disampaikan dalam LDKM FEB UKSW, 26 Maret 2011, di Kampus UKSW, Salatiga.

[2] Alumni FB UKSW, Mantan Ketua Umum SMU 2005-2006, Peneliti di Insitut Pluralisme Indonesia

[3] Sejarawan Inggris (1889-1975) Pengarang buku A Study of History yang terbit dalam 12 Volume. Mencurahkah perhatian pada 23 peradaban dunia terutama tentang lahir, berkembang dan punahnya peradaban.

[4] Herman Dooyeweerd (1894-1977), Seorang sarjana hukum dan filsuf berkebangsaan Belanda, pendiri filsafat aliran filsafat ide cosmonomik. Pokok pikirannya bahwa semua realitas beserta pemaknaanya bersumber dari Tuhan.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on March 26, 2011, in Materi Pelatihan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: