Catatan untuk Sebuah Nama

P

agi ini terbangun oleh alarm yang berbunyi dari HP Bejo Saputro, sementara dia masih asik tertidur. Mau tidak mau aku cari dan aku matikan alarmnya, sampai akhirnya malas untuk tidur lagi. Seperti biasa, ritual di pagi hari setelah mata terbuka ada berjuta kata berjubel menunggu dituangkan, karena begitu banyaknya terkadang justru bingung sendiri untuk memulainya. Sembari menunggung untuk topik yang paling tepat untuk ‘dilahirkan’ aku nyalakan  Laptop, putar lagu Ebiet G. Ade kemudian kembali berziarah ke dunia Facebook.

Lagu untuk sebuah nama, adalah lagu pertama yang aku putar pagi ini. Sembari berziarah, melihat nama-nama yang tetap kokoh terpasang di dinding Facebook, meski orangnya entah kemana. Benar-benar seperti sedang berziarah ke makam, hanya ada nama yang tertera tanpa kehangatan. Sejenak tafakur untuk mengenang kembali kehangatan yang pernah dilalui. Dalam kehidupan nyata, ketika seseorang meninggal biasanya nama yang tertera di batu nisan adalah nama yang sama persis digunakan ketika dia hidup. Dalam kebudayaan tertentu, terkadang juga menyebutkan nama kecilnya, nama orang tuanya atau bahkan keuarganya juga ikut dicantumkan semua.

Dalam kebudayaan Jawa, nama menjadi semacam tanggungjawab yang harus dijunjung tinggi. Oleh karena itu nama yang diberikan kepada kita biasanya merupakan pengharapan orang tua, hal itu bukan kebetulan semata.  Nama menjadi semacam wadah atas segala informasi semasa hidup yang melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh, ketika kita teringat nama Soekarno maka yang terlintas di pikiran kita dia adalah Presiden pertama RI, orator yang hebat juga Bapak dari mantan Presiden Megawati Soekarno Putri. Semakin banyak informasi yang kita punya tentang seseorang, maka kita akan semakin mudah untuk mengingat nama itu dan ketika mengingat namanya seolah-olah benar-benar hidup, meskipun orangnya sudah meninggal. Mengapa demikian? Padahal nama bukanlah orangnya, nama itu akan tetap ada meski orangnya sudah meninggal, yang paling banyak terjadi adalah semakin berkurangnya informasi tentang orang itu.

Orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya, karena nama adalah pengharapan, maka orang. Nama itu bukan sekedar adopsi nama -yang dianggap keren- dari belahan dunia yang lain. Tidak salah juga memasukkan nama yang terdengar bagus dan familiar diucapkan, namun tentunya akan menjadi pertanyaan besar bagi setiap orang yang diberi nama demikian. “Mengapa aku diberi nama ini, bukan yang itu?” Satu dari sekian banyak hal yang berpotensi menjadi krisis identitas telah dimulai ketika mulai memepertanyakan namanya. Dalam budaya Jawa, tidak jarang juga ada orang yang mengganti nama anaknya dengan melakukan ritual selamatan. Penggantian nama tersebut biasanya disebabkan karena anaknya sakit-sakitan, dianggap nama yang dipikul anak tersebut terlalu berat. Keluarga, tetangga, teman dan alam menjadi saksi serta memberikan restu atas penggantian nama tersebut, sehingga anak tersebut boleh lekas sembuh.

Sementara itu nama di Facebook, orang dengan sesuka hati bisa menambah, mengurangi atau menganti namanya yang bahkan sama sekali baru. Bukan hal yang salah ketika orang mengunakan nama yang lain dengan nama di Facebooknya, namun hal ini dapat menimbulkan kebingungan orang lain untuk mengenali kita. Ketika nama yang digunakan di Facebook berbeda dengan nama asli kita, berati sudah ada dua wadah yang mengadung informasi tentang diri kita. Tidak semua orang diberikan kemampuan yang bagus untuk mengingat nama orang yang begitu banyak dalam hidupnya, jadi jangan menyalahkan orang kalau dengan begitu nama kita akan tersingkir dari ingatan orang yang mengenal kita dalam kehidupan nyata.

Disadari atau tidak, nama yang kita gunakan di Facebook juga dapat mempengaruhi kehidupan kita, jadi hati-hatilah memilih nama, bukan sekedar untuk gagah-gagahan. Saya tidak bisa membayangkan kalau di jaman penjajahan dulu sudah ada Facebook, mungkin orang-orang akan banyak merubah namanya. Sebagai contoh, kalau nama saya sesungguhnya adalah Slamet Haryono, bisa jadi nama saya di Facebook akan berubah menjadi Slamet Pingin Merdeka, Slamet Selalu Dihina, Slamet Pekerja Paksa dan lain sebagainya. Bukan semata keruwetan karena nama yang berbeda dengan nama di dunia nyata, menjadi pertanyaan apakah kita tidak bisa mensyukuri nama yang telah diberikan orang tua kepada kita? Apakah kita takut untuk memakai nama kita? Bagaimana dengan tanggungjawab yang terkandung dalam nama kita?

Terlalu kerdil jika hidup masih berkutat pada diri sendiri. Tuntaskan kemelut identitas diri dan mantabkan penggunaan nama kita yang sesungguhnya sehingga kita bisa lebih menjadi berkat buat orang lain dan semesta.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on February 15, 2011, in Facebook and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: