Mr dan Mrs Derita

T

erjaga di pagi hari, senin 14 Februari 2011. Lagu “Mr Curiosity” dari Jasson Mraz menjadi penanda kembalinya aku ke kehidupan ini. Internet masih terhubung, aplikasi Facebook masih menyajikan beragam status dari teman-teman di dunia maya. Status tersebut kebanyakan seputar valentine, sebagian lagi masih status bertemakan derita. Bukan hanya kali ini, sepanjang lintasan status di dinding Facebook selalu saja ada yang memasang status dengan tema derita, seolah-olah tidak ada orang lain yang menderita. Apakah benar demikian?

Masing-masing orang punya masalahnya sendiri, namun tidak semuanya terkspose di Facebook, bergantung pada tingkat masalah dan daya kelembaman yang bersangkutan terhadap masalah. Pada beberapa orang tertentu tingkat kelembaman terhadap masalah begitu tipis, sehingga sedikit saja masalah dalam dunia nyata efek ‘radiasi’nya bisa segera terpapar di Facebook, baik itu nama foto, status ataupun pernak pernik lainnya. Apa yang diharapkan dari Mr/Mrs Derita dengan perubahan nama, foto atau statusnya? Apakah masalahnya akan selesai begitu saja?

Kehadiran Facebook layaknya peri pendengar yang senantiasa mendengarkan keluh kesahnya setiap saat tanpa komplain. Keberadaannya menyingkirkan realitas manusia yang jauh lebih unik karena tidak selalu menurut. Menemukan orang yang tepat untuk berbagi beban hidup memang tidak mudah dan tidak semua orang bersedia maka dengan sendirinya namun bersabarlah sedikit karena selama menunggu ‘perjodohan’ tersebut akan melatih tingkat kelembaman kita terhadap masalah. Ketika sudah ketemupun, ternyata tidak semua tanggapan dari orang tersebut akan memuaskan kita, justru itulah uniknya manusia. Pada saat yang tepat, tetap akan ada orang yang bersedia menyediakan waktu juga kedua telinganya untuk mendengarkan masalah kita. Namun sayang sekali, terkadang kesempatan itu justru dilewatkan oleh Mr/Mrs Derita, karena sudah terlanjur percaya dengan Facebook.

Nampaknya hal ini sangat sepele, namun perlu diperhatikan bahwa kebiasaan untuk mengumbar beban derita melalui Facebook akan mengurangi kepekaan kita terhadap sesama manusia di dunia nyata. Bagaimana kita bisa melihat penderitaan orang jika kita sudah membebani diri dengan status sebagai orang yang paling menderita? Tidak hanya kehilangan kepekaan dengan orang lain yang menderita, namun juga orang lain yang akan memberikan berkat dan damai sejahtera, karena perhatian hidupnya hanya pada diri sendiri.

Perhatian yang diberikan orang-orang kepada Mr/Mrs Derita berupa tanggapan atau acungan jempol pada tingkatan tertentu bisa lebih adiktif dari minuman keras. Penyakit Mr/Mrs derita tidak akan lekas pulih bahkan akan semakin menjadi. Tidak sepenuhnya salah Mr/Mrs Derita, tidak banyak orang yang mau menyediakan diri untuk membagi waktu dan perhatiannya dengan orang lain di tengah rutinitasnya. Apakah komentar atau acunagn jempol sudah mewakili perhatian dan kehadiran manusia? Dalam dunia nyata, manusia basa-basi bisa lebih kamflufatif seperti halnya dalam dunia maya, tidak cukup berani mengekspresikan rasa sesungguhnya kepada orang lain. Tidak banyak orang yang berani mengacungkan jempolnya kepada orang lain atas tindakannya yang mengesankan, maka jangan heran kalau acungan jempol hanya dimonopoli oleh praktisi MLM (multi level marketing) atau motivator saja.

Hal yang patut diwaspadai oleh Mr/Mrs Derita, bahwa dengan tidakannya itu justru memancing para ‘pemangsa’ karena sudah menangkap sinyal yang menunjukkan anda sedang terluka dan lemah. Bersiap-siap saja untuk dimangsa, dengan demikian akan semakin mengokohkan anda sebagai “ The Greatest Mr/Mrs Derita ever”.

Lalu apa yang perlu dilakukan? Berpuasalah untuk tidak membuka Facebook.  Tutup Facebook anda, kalau perlu di non-aktifkan sementara sampai anda sembuh dari ketergantungan Facebook. Berjalanlah ke luar, benar-benar jalan kaki, tidak perlu terburu-buru. Berikan senyuman tulus kepada orang yang anda temui, coba mengerti dan rasakan kesan yang mereka pancarkan tiga detik pertama sesaat setalah kontak mata, renungkan kesan apapun yang anda tangkap tanpa harus melakukan interpretasi. Pada awalnya mungkin anda merasa tidak berhasil, namun bersabarlah dan biasakanlah. Berapa kali semingu? berapa banyak orang? Dimana saja? Semua itu bisa anda jawab senidiri, hal ini bukanlah metode baku, jadi kembangkanlah karena itulah uniknya, hanya manusia yang bisa mengembangkan dan menyesuaikannya.

Apakah anda yakin masih membuutuhkan orang lain untuk berbagi beban? Sepertinya tidak, kalaupun memang demikian akan ada orang yang tepat menghampiri anda, yakinlah. Setelah semua itu, anda akan tahu saat yang tepat untuk kembali mengaktifkan Facebook anda. Pergunakanlah Facebook untuk meningkatkan kualitas kehidupan anda di dunia nyata, bukan sebaliknya.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on February 14, 2011, in Facebook and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. good notes…^^

    laen kali suru cari mas slamet ja ya bt curhat soal masalh2na…ahhahaha, biar gag dapet julkan mr/mrs derita…ehheeheheh

  2. Setidaknya, dengan keberadaan Mr/Mrs Derita, bisa membuka celah masuk bagi pahlawan kesiangan atau pemangsa yang lapar. Like this…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: