Vox Klenikers Vox Dei : The Klenikers Voice

Kekuasaan dunia sudah terlanjur terbelah dalam dua kutub yang saling berlawanan. Di kutub kiri menghendaki kekuasaan dipisahkan urusan keagamaan, dan murni dijalankan dengan aturan kenegaraan. Di kutub kanan menghendaki negara dijalankan dengan hukum-hukum agama. Kelompok kanan menuding kelompok kiri sebagai kelompok yang nggak ber-Tuhan. Kelompok kiri menuding kelompok kanan sebagai kelompok konservatif dan tidak pro-demokrasi serta pengekangan akan hak-hak asasi manusia.

Di tengah tarik ulur kekuatan itu, lahir kelompok poros tengah yang sebenarnya bertujuan untuk menjembatani kedua kutub tersebut, namun pada kenyataanya hanya menampung massa yang kebingungan dan sebenarnya tidak menghendaki perseteruan. Massa yang kebingungan tersebut merasa tidak sreg baik di kutub kiri ataupun kanan. “Bagaimana mungkin kami harus berseteru dengan saudara sendiri hanya karena berada di kutub yang berbeda?”

Barangkali mereka sebenarnya menyangsikan kemampuan penguasa untuk bisa memperbaiki nasib mereka. Bagaimana mereka dapat memahami situasi ini dan mengambil tindakan, sementara propaganda dan poster terus membayang-bayangi dalam setiap langkah mereka. Ada yang menjanjikan perubahan, pendidikan murah, sembako murah, tersedianya lapangan kerja sampai mengklaim diri sebagai generasi muda yang cerdas dan dinamis.

Sejauh ini mereka selalu mengikuti ritual caturtahunan, sebagai ruwatan atas nasib mereka. Namun data perubahan hanyalah data, janji tinggalah janji, kehidupan dirasa semakin bertambha berat. Mereka sudah capek teriak merdeka…merdeka sejak 68 tahun silam. “Bahkan sekarang kami hendak berteriak “sejahtera” saja sudah tidak mampu”.

“Di tengah keluh kesah kami yang hanya didengarkan sebelah telinga saja oleh sang penguasa terhormat, lalu alam mengirimkan penyembuh bagi kami. Kami sangat bersyukur bahwasanya alam masih berkenan pada kami”.

Tidak lama mereka menemukan harapan akan kesembuhan penyakit mereka, ternyata sang penguasa sudah melarang kami untuk mendapatkan kesembuhan. Penguasa kiri menggunakan pasukan berseragamnya untuk membubarkan kami. Penguasa-penguasa yang lainnya juga mengutuki kami sebagai orang yang tidak rasional, percaya klenik. “Suruh siapa kalian tidak dapat kami percayai lagi”.

“Ponari dan Dewi tidak datang dengan kitab, tidak juga membawa wahyu tidak juga memasang poster, tidak juga mengumbar janji-janji. Tapi mereka berdua berpihak kepada kami. Mereka tidak menyuruh kami datang, meminta kami untuk percaya, mereka tidak menyuruh kami untuk melakukan pemujaan terhadap dirinya. Tapi kami percaya. Inilah suara kami, apakah kalian masih menganggap Tuhan berkenan bersuara melalui kami?”

“Mengapa mereka begitu tega membubarkan kami, bahkan meskipun mereka melarang dan mengutuki kami tetap saja mereka tidak dapat menyembuhkan kami”.

Apakah mereka takut kalau-kalau kekuasaan mereka akan hilang karena kalah populer dengan penguasa dunia klenik tak rasional?. Kalau benar-benar mereka punya Tuhan seperti yang digembar-gemborkan selama ini, tentulah Tuhannya tidak kalah sakti dengan sang penyembuh Ponari dan Dewi.

“Ya sudah, sebagai penutup aku teriak Sejahtera…sejahtera…. Daripada nggak teriak. Nanti kalian bilang kami tidak berteriak. Kalaupun kami berteriak sampai napas kami putus, bagaimana kalian bisa mendengar, wong telingamu aja sudah kamu sumpal dengan kertas merah bergambar proklamator kami. Bagaimana kamu dapat menjangkau kami wong langkah kakimu sudah tersangkut gelar pendidikan, gelar keagamaan, gelar kehormatan. Nggak nyampai… !!!”

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 6, 2010, in Artikel and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: