Setia kepada Apapun (Namanya) = Tidak Setia ?

Mahasiswa (Satria) dan pergumulannya
Salut atas kemampuanmu menuliskan perjalanan, pergumulanmu ketika terjebak dalam suatu institusi pendidikan (UKSW), berusaha mengkritisi (menolak) kondisi-kondisi yang bernuansa kaku, formalitas dan birokratis, tidak seperti yang diharapkan. Kemudian mencari, bertanya-tanya tentang hal-hal mendasar mengenai UKSW, kaitannya sebagai suatu institusi pendidikan. Kebetulan saja seorang yang bernama Satria, dengan susah payah namun tetap bergairah memformulasikannya dalam bentuk tulisan yang bisa baca dan didiskusikan oleh sebagian orang. Saya menduga ada banyak mahasiswa yang juga merasakan ketidaknyamanan dengan model pendidikan yang ada (termasuk UKSW), namun mereka tidak cukup mengerti mengenai maksud dari pendidikan itu apa? dan cenderung pasrah saja dengan segala rutinitas yang sudah dianggap wajar. Masuk kuliah bayar sumbangan, sks, spp setelah itu ikut kelas, diskusi, bikin makalah, tes dan bim salabim keluarlah nilai. Setelah sekian tahun dapat memperoleh gelar sarjana sebagai tiket untuk mencari pekerjaan yang dianggap layak. Untuk membuktikan dugaan saya, baiklah teman-teman dosen atau pemerhati pendidikan silahkan membuat penelitian tentang hal itu, sumangga…

Perlu terobosan, perlukah Fakultas Alternatif?
Jika asumsi saya benar bahwa apa yang dirasakan Satria itu juga dirasakan mahasiswa lain pada umumnya. Tentunya Universitas tidak salah jika mulai memikirkan model pendidikan alternatif. Mempertegas ucapan Satria, mungkin perlu adanya “Fakultas Pertanyaan”, dimana mahasiswa dan dosen benar-benar dalam kedudukan yang sama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (magistrorum et scholarium), dosen bukan hanya sebagai reviewer buku kemudian dibuatkan hand out, atau menjadi hakim atas prestasi yang dimiliki oleh mahasiswa melalui nilai yang dikeluarkannya. Sayapun meragukan dengan apa yang dinamakan prestasi yang disimbolisasi dalam IPK.

Mungkin akan ada yang menjawab bahwa selama ini UKSW juga sudah mempraktikkan hal itu (magistrorum et scholarium), saya masih meragukan. Memang benar ada, dan dipraktekkan tapi sebagai suatu kultur yang dominan sebagai ciri UKSW hm…sekali lagi saya meragukannya. Atau masih juga membela diri bahwa kekurangan itu terkompensasi oleh LK, maksudnya ikut terlibat aktif dalam Lembaga Kemahasiswaan. Tidak salah juga, tapi belakangan saya menganggap bahwa hal ini terkesan menggampangkan, ya seperti main-main saja. Mengikuti tradisi yang sudah-sudah, dengan harapan akan ada mahasiswa yang mendapat “pencerahan” dalam proses-proses tersebut. Di sisi lain teman-teman aktifis LK sudah dianggap miring oleh sebagian civitas academica, karena tidak mampu secara akademis maka lari dari kenyataan sehingga menyibukkan diri di LK. Sudahlah jujur saja…

Saya tidak melihat adanya urgensi LK harus ada, terkesan hanya sekedar pelengkap yang barangkali pada titik tertentu lebih dianggap pengganggu. Bahkan sempat juga ada pemikiran dari pimpinan Universitas untuk mengkondisikan kegiatan mahasiswa dalam kelompok-kelompok bakat minat saja, sehingga saat itu terkesan LK-nya mlempem…dan terkesan memang sedang dibiarkan mati dengan sendirinya. Ya kalau memang LK sudah tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan mahasiswa ya bubarkan saja. Dengan dibubarkannya LK akan sekaligus membuktikan betapa ampuh atau lemahnya pendidikan di UKSW. Apakah lulusannya masih bisa kritis? Apakah para sarjananya masih berhak menyandang “creative minority”? sementara yang masih menyebut-nyebut frasa tersebut hanya segelintir orang saja, terutama aktivis LK.

Menjadi Manusia Satya Wacana?
Saya menebak-nebak, spekulasi, mencoba ini-itu untuk mengerti dan berusaha menjadi sarjana yang “creative minority” , waktu itu. Mulai dari ikut persekutuan doa, kelompok pecinta alam, Lembaga Kemahasiswaan, kelopok diskusi, scientiarum sudah aku coba semua, tak lupa kudapan wajib 144 sks. Untung waktu itu belum ada kredit point di Fakultasku, kalau sudah ada dan sisa kredit point-nya dapat diuangkan maka Fakultas akan nombok…ha…ha….

Itu semua hasil dari proses tebak-tebakan untuk menjadi manusia Satya Wacana. Secara kebetulan, setelah kelulusan saya, intensitas pertemuan dengan Satria, Petrus Wijayanto meningkat. Mulai membahas ini-itu, mempertanyakan ini-itu yang waktu itu sok ber-KJ (kawruh Jiwa). Rupannya wejangan-wejangan Ki Ageng Suryamentaram cukup membantu dalam memahami identitas manusia Satya Wacana. Dimana titik kritisnya adalah ketika bertemu dengan kata “Tuhan” yang dijadikan motto UKSW. Pada gilirannya nama UKSW itu sendiri menuntut konsekuensi manusia UKSW untuk setia pada firman Tuhan. Kalau Tuhannya saja tidak jelas yang mana, apakah saya masih bisa dianggap setia? Mungkin akan dijawab “ Apapun nama Tuhan-nya, minumnya tetap teh botol sosro” ha…ha… bercanda… Maksud saya, bisa saja orang menganggap nama itu tidak penting. Kata setia, ketika kepada siapa saya setia itu tidak dianggap penting. Berarti setia atau tidak setia juga tidak penting?

Hati-hati, ini juga masalah konsep, namun bukan berarti tidak perlu berbicara konsep. Namun ketika konsep-konsep tersebut sudah dibungkus dalam kepercayaan berarti semakin dipertanyakan kebenarannya. Oleh karena itu perlu nglakoni (menjalani) ya melakukan juga mengamat-amati/menyadari/melihat/mengalami secara personal, bukan sekedar katanya.

Beberapa kemungkinan UKSW ke depan :
1. Mengambil Resiko minimum. Berjalan seperti apa adanya sekarang, dengan sedikit perubahan kemasan, sebagai bagian dari strategi pemasaran (menjebak calon mahasiswa untuk masuk UKSW) untuk mempertahankan eksistensi UKSW. Dengan kata lain, UKSW akan seperti garam yang menjadi tawar dan lentera yang ditaruh dibawah gantang.
2. Moderat. Fakultas dan Progdi berjalan seperti adanya sekarang, tinggal memperkaya dengan berbagai aktifitas tambahan melalui LK, kelompok minat, pelatihan-pelatihan, serta kegiatan sejenis. Kemungkinan ini yang paling mungkin, biar tidak dianggap tidak peduli. Sekali lagi, hasilnya untung-untungan, kalau ada alumni yang sukses ya tinggal di klaim, kalau ada yang gagal ya anggap saja itu resiko dari proses seleksi alam, sudah dianggap wajar. Yang penting jumlah mahasiswa, terutama kontribusi biaya mahasiswa terus meningkat, minimal sama atau seiring dengan nilai tukar rupiah he…he….
3. Moderat to Extreem. Secara bertahap, proses pembelajaran bukan hanya dua arah, apalagi satu arah tetapi banyak arah, tanpa guru tanpa murid. Semua adalah guru, semua adalah murid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Mata kuliah, dosen, mahasiswa, metode pembelajaran adalah variabel yang cair. Meski masih dibutuhkan instrumen penilaian, namun diharapkan lulusannya bisa lebih kompetitif. Kendala terbesar justru akan mendapatkan reaksi penolakan dari mahasiswa, karena mereka sudah merasa nyaman dengan kondisi yang tidak nyaman itu.
4. Ekstrim. “Menjadi garam dan terang dunia” tidak asal beda, tidak sekedar mengganti kemasan “tri/dwi-mester”. Pertanggungjawaban peran dan fungsi UKSW bukan sekedar ke gereja-gereja pendiri/pendukung, tetapi kepada siapa manusia UKSW memutuskan untuk setia. UKSW akan menjadi batu penjuru kebenaran untuk setia kepada (Satya Wacana = Setia kepada Firman Tuhan = Setia kepada Yahweh, lebih daripada sekedar mengkultuskan Alkitab). Tentang setia kepada Firman Tuhan, saya sependapat dengan yang dikemukakan Satria, sehingga saya tidak perlu menjelaskan disini, silahkan baca ulang saja makalah Satria yang pertama.
Bagian-bagian mana yang harus berubah? Bukan saya yang menentukan, tapi ya manusia-manusia Satya Wacana. Mulailah dengan pertanyaan “ Kepada siapa (Apa) manusia Satya Wacana menaruh kesetiaannya?”

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 6, 2010, in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: