Kesurupan Masal : Religiousism Mainstreaming

Banyak yang mempertanyakan kenapa belakangan banyak dijumpai fenomena kesurupan masal? Diantara banyak peristiwa kesurupan masal tersebut paling banyak dialami oleh kaum perempuan, terutama siswi usia 13-19 tahun atau kira-kira anak SMP-SMA. Meskipun ada beberapa pengecualian seperti yang menimpa buruh pabrik rokok di Jawa Timur, mereka berusia lebih dari 19 tahun namun tetap saja kaum perempuan yang menjadi sasaran. Selain itu yang menarik lagi bahwa fenomena kesurupan tersebut dapat dengan cepat sekali menular ke orang lain, khususnya perempuan.

Pertanyaan mendasar siapa yang paling diuntungkan dari kasus kesurupan tersebut?

Agak susah menjawab. Tapi paling tidak kita menggunakan pendekatan ilmu ekonomi, ada permintaan maka barang/jasa juga akan tersedia. Kalau dalam kasus kesurupan masal jasa siapa yang paling dibutuhkan? The Neutralizers. Apapun sebutannya yang pasti punya kemampuan atau dianggap punya kemapuan untuk melakukan pelepasan atau netralisir terhadap korban kesurupan. Memang kebutuhan akan jasa orang tersebut bukan semata-mata sebagai mata pencaharian bahkan dalam banyak kasus itu terlihat sebagai free service.

Terus apa motifnya?

Ini lebih susah menjawabnya, dan sepertihalnya kasus-kasus yang berbau mistis lainnya, kita kesusahan untuk mencari barang bukti. Dunia roh tak berwadah, sehingga tak kasat mata. Yang bisa kita amati adalah jika sudah menampilkan dirinya dalam wadah yang berwujud, bisa manusia atau benda. Ketika banyak terjadi kesurupan masal peran The Neutralizers menjadi sangat penting, karena masyarakat tahu persis dunia medis modern tidak dapat mengatasi masalah ini. Jika kita memandang The Neutralizers hanya sebatas menyembuhkan orang yang kesurupan maka kita tidak akan menemukan jawaban.

Terdapat polarisasi yang jelas mengenai orang-orang yang berkecimpung dalam dunia roh. Satu sisi, kelompok yang menggunakan paham keagamaan dan lebih sering menampilkan diri sebagai kelompok putih, sisi lain kelompok hitam dan sering dikambinghitamkan sebagai biangkerok atas segala permasalahan sputar fenomena mistis. Meski tanpa campurtangan kelompok hitam, jika dimintakan pendapat dari kelompok putih akan orang-orang yang kesurupan, maka jawabannya akan dikaitkan bahwa yang bersangkutan terlalu lemah secara spiritual atau pragmatisnya mereka belum cukup mendalami ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh.

Saya melihat ada upaya Religiousism Mainstreaming, yaitu usaha untuk mengarusutamakan paham keagamaan dalam sebanyak mungkin sendi-sendi kehidupan. Melihat fenomena kesurupan masal jasa siapakah yang akan semakin dibutuhakan? White Neutralizers, ya benar. Kenapa nggak yang Black Neutralizers? Bukan karena diragukan kemampuannnya, tapi karena jika masyarakat takut dicap musrik.

Kalau saya seorang politikus kanan dengan ideologi agama, tentunya saya akan lebih diuntungkan dengan adanya gerakan Religiousism Mainstreaming.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 6, 2010, in Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: