Kelompok Motor dan Potensi Kriminalitas Terorganisir

Belakangan mulai banyak kelompok sepeda motor yang berkembang di Salatiga, lihat saja hampir setiap sore mereka akan dengan mudah di dapati di sekitar bundara Kaloka, terutama malam minggu. Selain Kaloka ada lagi beberapa tempat favorit lainnya yaitu sekitar lapangan Pancasila dan Pujasera. Umumnya mereka berkelompok berdasarkan kesamaan jenis atau merek sepeda motor tertentu, namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa jenis kendaran lainnya diantara deretan kendaraan sejenis yang dominan. Pilihan mereka untuk berkelompok berdasarkan kesamaan merek kendaraan bukan tanpa alasan, mulai saling bertukar pikiran seputar perawatan kendaraan, modifikasi, tukar tambah suku cadang samapi aksi sosial.

Umumnya diantara anggota kelompok motor tersebut mempunyai tingkat solidaritas yang tinggi. Hal yang perlu diwaspadai bahwa anggota kelompok motor tersebut berasal dari berbagai kalangan, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat. Irisan ketiga potongan tersebut bertemu dalam solidaritas sebagai sesama anggota motor sejenis. Dengan kata lain kelompok motor tersebut mempunyai potensi untuk mengorganisir diri dengan erat lintas stratum. Penempatan diri mereka dalam masyarakat berada pada sudut yang nyaris tidak terjangkau oleh strata-strata yang ada, baik sekolah, kampus atau masyarakat. Biasanya mereka berada di tempat-tempat umum, dan sesekali menyepi untuk sekedar menguji nyali dengan ketangkasan atau berpacu melawan waktu. Dengan demikian kontrol sosial terhadap mereka relatif kecil, sekolah ataupun kampus boleh dikatakan tidak dapat menjangkau mereka, karena aktivitas mereka sudah di luar sekolah atau kampus. Sementara lingkungan masyarakat Salatiga sudah relatif permisif dengan ulah-ulah anak muda, paling-paling mereka akan menjawab “Ah biasa namanya juga anak-anak” (he…he…yang ini aku ngarang dhewe).

Saya akan menyoroti kawin silang antara solidaritas yang terbentuk dengan multi stratum entries di dalam kelompok motor tersebut. Solidaritas yang terbentuk memungkinkan adanya ikatan yang kuat diantara anggotanya, seperti halnya menemukan “keluarga” baru. Solidaritas semacam ini dalam titik tertentu bisa menggeser prioritas utama. Sementara itu multi entries stratum menyumbangkan varian identitas dan kepentingan yang cukup beragam. Apakah tidak mungkin mereka menghasilkan emrio kriminalitas teroganisir?

Saya menduga, berangkat dari pengamatan di laboratorium tentang perilaku hewan (manusia juga hewan lho) ada diantaranya mereka melakukan metamorfosis. Dalam proses metmorfosis tersebut kita memberikan identitas untuk setiap tahapannya. Tahapan tersebut menujukkan perannanya dalam siklus hidup organisme yang bersangkutan. Misalnya ketika menjadi ulat maka dia akan dengan rakus makan segala macam. Setelah menjadi kupu-kupu maka yang tadinya ulat makan segala macam sekarang mulai selektif dan hanya menghisap sari madu bla…bla…bla… Masalahnya adalah kalau yang diamati manusia maka metamorfosis itu akan menjadi seperti apa?

Dari cerita tersebut saya mendapatkan petunjuk, yaitu kata “Identitas”. Sekali lagi, saya masih menduga. Sampai saat ini, kelompok motor masih mengukur tingkat toleransi masyarakat Salatiga, dan mencari bentuk(identitas) akan menjadi seperti apa mereka itu. Mulai dengan menggunakan knalpot yang bisa merontokkan congek, sampai penguasaan atas daerah teritori tertentu. Misalnya tempat-tempat tertentu telah dianggap sebagai “sarang” mereka, tempat dimana mereka berkumpul pada waktu tertentu. Terkadang mereka juga memajang spanduk yang menunjukkan identitas mereka. Maklum namanya juga sedang mencari identitas, oleh karena itu juga perlu pengakuan dari masyarakat.

Berkaitan dengan identitas, saya yakin semuanya bersetuju bahwa mereka adalah manusia, tapi mengapa mereka membutuhkan pengakuan itu? Saya coba otak atik gathuk (menggabung-gabungkan supaya cocok) dengan bahasa jawanya manusia (Uwong,wong). Ketika uwong ora diuwongke (manusia tidak dimanusiakan) maka mereka merasa tidak nyaman dan mencari-cari cara agar dianggap manusia dan di terima sebagai sesama manusia. Aneh kan, sudah manusia masih juga kepingin jadi manusia he…he…

Kalau begitu, apakah mereka yang sedang mencari identitas itu salah? Saya justru mempertanyakan sikap pihak yang dianggap sudah menjadi orang atas mereka yang sedang mencari identitas tersebut. Kalau mereka itu berasal dari sekolah, apakah sekolahnya tidak memanusiakan mereka? Kalau mereka berasal dari kampus, apakah kampusnya tidak memanusiakan mereka? Kalau mereka berasal dari masyarakat, apakah masyarakatnya tidak memanusiakan mereka?

Kalau sudah begini siapakah sesungguhnya mereka dan kita semua? Apakah kita masih meragukan kita sebagai manusia sehingga kita tidak tahu bagaimana memanusiakan manusia? Ngomong-ngomong tentang kampus, semoga UKSW sudah memanusiakan manusia ya…tidak sedang mengajarkan manusia menjadi bebek… he…he….

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 6, 2010, in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: