Hukum Ketertarikan dan Bencana Umat Manusia

Mei, 2007. Ketika itu saya dalam perjalanan dari Bitung ke Manado bersama dengan Ir. Adiloekito, saya teringat betul dengan salah satu topik siaran di radio swasta tentang sebuah buku mengenai hukum ketertarikan. Kami sempat membahas topik itu, namun pembahasan hanya sebentar dan terhenti karena kami sama-sama tidak menguasai hal itu. Meski demikian apa yang disampaikan dalam acara siaran tersebut terus terngiang dibenakku dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari dan membeli buku tersebut. Beberapa tahun setelah saya membaca buku tersebut, The Law of Attraction karangan Michael J. Losier saya baru sadar jika kehidupan saya sedikit banyaknya telah terpengaruh oleh pemikirannya. Buku ini sangat bagus namun ada beberpapa hal yang menurut saya perlu dikritisi lebih lanjut.

Hukum Ketertarikan

Ide dasar dalam buku ini adalah mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada seseorang disebabkan oleh keinginan yang ada di dalam pikiran orang tersebut, tidak peduli disadari atau tidak, tidak peduli itu baik atau tidak. Olehkarena itu kita dianjurkan untuk mulai berpikir positif mulai dengan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Sebagai contoh, kita besar dalam suatu komunitas yang sangat mengagungkan nilai-nilai kepahlawanan, sehingga dalam pikiran kita sempat terlintas untuk ingin menjadi seorang pahlawan karena menjadi pahlawan dianggap baik. Otak manusia sangatlah kreatif, ketika mendapatkan stimulan bahwa menjadi pahlawan itu baik maka pikiran mulai mengkombinasikan beberapa kemungkinan yang hasil akhirnya adalah pahlawan. Untuk menjadi pahlawan dibutuhkan syarat ada sesuatu yang tidak baik atau musibah, kemudian kita berperan dalam memeperbaiki atau melawan ketidakbaikan. Ketidakbaikan itu bisa jadi bencana alam, kecelakaan, pemerkosaan dan lain sebagainya.

Benar terjadi, kemudian saya melakukan refleksi dengan peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu dengan apa yang pernah saya pikirkan. Sepertinya memang apa yang dikatakan Michael J. Losier memang ada  benarnya. Tentu saya tidak akan menerima begitu saja, sangat tidak bisa dijelaskan misalnya keterlibatan saya sebagai koordinator tim sukarelawan di gempa Yogyakarta 2006 adalah karena saya seorang diri memikirkan dan menginginkan berperan baik dan merasa menjadi pahlawan. Buku ini tidak menjelaskan hal itu, buku ini hanya menjelaskan mengenai peristiwa yang terjadi pada orang tersebut (secara personal) disebabkan karena keinginan dan pemikiran orang tersebut.

Februari, 2010 sepulang saya dari bioskop menonton film Avatar bersama dengan Dina Lestari, saya baru mendapat titik terang akan pergumulan saya mengenai ketidakadaan pejelasan dalam hukum ketertarikan mengenai persitiwa bencana alam (gempa Yogyakarta 2006). Dalam film tersebut digambarkan mengenai upaya masyarakat pedalaman yang masih primitif dan berpegang pada nilai-nilai kultural melawan invasi manusia modern yang cerdas, lengkap dengan teknologi canggih atas dasar keuntuangan ekonomis belaka. Sudah sangat jelas bahwa masyarakat primitif dengan tombak dan panahnya tidak akan sanggup menghadapi serbuan manusia modern dengan kendaraan lapis baja dan pesawat tempurnya. Keadaan menjadi semakin genting dan sepertinya tidak ada harapan ketika sebuah pohon besar yang menjadi tempat mereka tinggal mulai digempur dengan serangan yang begitu besar. Masyarakat yang selamat akhirnya mengasingkan diri ke phon besar lainnya, sebagai benteng terakhir yang merupakan pusat energi dan leluhur mereka berada. Satu dengan yang lain terhubung secara mendalam dalam lantunan puji-pujian sakral beserta gerakan, sampai akhirnya keajaibanpun terjadi. Datanglah bala bantuan dan masayarakat primitif tersebut berhasil mengusir invasi manusia modern.

Berdasarkan film tersebut, saya mendapatkan inspirasi bahwasanya keinginan dan harapan yang secara kolektif berpadu harmonis mendatangkan kekuatan yang sangat luar biasa. Ada mekanisme timbal balik antara energi manusia dengan energi alam. Apa hubungannya film tersebut dengan peristiwa bencana alam yang terjadi disekitar kita? Alam akan merespon apapun sinyal yang dipancarkan dalam pikiran kita baik secara individu maupun kolektif. Kita yang selalu ingin berbuat baik karena ingin dianggap baik, terkadang secara tidak sadar justru mengisyarakan alam untuk merespon sesuatu yang tidak baik. Jika satu atau dua orang saja, maka tidak cukup kuat sinyal itu untuk menggerakan alam sehingga terjadi peristiwa yang kita sebut sebagai bencana alam. Lalu bagaimana jika ada cukup banyak orang dalam suatu masyarakat mempunyai pemikiran yang sama, ingin berbuat kebaikan agar dianggap baik sehingga mendapatkan tempat yang dianggap lebih baik setelah mati?

Agama, Kepercayaan dan Pikiran Kolektif

Menurut saya, agama atau kepercayaan berkontribusi sangat besar dalam menggerakan pikiran-pikiran secara kolektif dalam suatu arus pemikiran tertentu. Di beberapa desa di Jawa, masih bisa ditemui tradisi memerti desa atau merti desa, ada juga yang menggunakan istilah nyadran, selamatan, sedekah bumi. Meskipun bentuk, sejarah dan alasan diadakannya acara tersebut bisa beragam namun saya mendapati adanya suatu pola yang sama  yaitu masyarakat dengan sadar dan secara kolektif mengalokasikan segenap sumberdaya dalam suatu waktu dan tempat tertentu (seperti dalam ritual masyarakat primitif dalam film Avatar). Segenap warga masyarakat dari berbagai latar belakang melepaskan diri dari kesibukannya masing-masing, dan mau tidak mau mereka harus berinteraksi memecah kebekuan menjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan, bukan hanya dengan manusia tetapi juga dengan alam. Biasaya acara tersebut diadakan sebagai ucapan syukur setelah musim panen, sebagian dari hasil panen dikembalikan kepada alam dan bahkan kadang juga menanggap kesenian atau atraksi hiburan jika memungkinkan. Tentulah hal ini merupakan kebiasaan yang positif, setidaknya setelah suatu desa menyelenggarakan acara ritual tersebut anggota masyarakatnya tidak resah (berpikir positif) akan kemarahan leluhur (alam).

Saat ini beberapa kebiasaan masyarakat desa sudah mulai berkurang dan sebagian hilang, kalaupun masih ada kecenderungan sudah berganti kemasan sesuai dengan konsep dan kepercayaan yang dianggap lebih modern. Upacara seperti merti desa yang mengumpulkan hasil bumi di suatu tempat dan berdoa bersama-sama dianggap tidak baik, yang dianggap baik adalah ritual yang diadakan dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan kepercayaannya ditempat ibadahnya masing-masing. Upacara yang dilakukan oleh kelompok lain juga dianggap tidak baik, maka dari itu tidak akan diikuti oleh kelompok lainnya. Kalau hal itu baik tentunya juga akan dilakukan atau ditiru oleh orang lain. Anggota masyarakat yang lainnya yang masih melakukan tradisi leluhur dan tidak masuk dalam kelompok kepercayaan yang baru, oleh kelompok tersebut langsung dikaplingkan sebagai orang kejawen. Orang yang masih melakukan tradisi leluhur masyarakat Jawa.

Ada banyak penjelasan teoritis tentang kejawen, kepercayaan, bencana alam atau teori tentang peradaban namun apa arti semua itu jika tidak mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia. Sesuatu yang baik dan positif akan dirasakan atau diterima semua orang serta akan mendapat restu alam. Menganggap sesuatu itu baik atau tidak baik, itu sungguh tidak baik.

Mimpi dan Bencana Umat Manusia

Kembali ke buku The Law of Attraction, buku tersebut secara tersirat mengatakan apapun yang kita inginkan akan terwujud. Gagasan inilah yang banyak dipakai oleh banyak motivator, aktivis multi level marketing, trainer korporasi untuk membius dengan impian-impian yang tinggi, meningkatkan produktifitas, meningkatkan konsumsi, meningkatkan penjualan akhirnya keuntungan semakin tinggi. Lebih jauh lagi, semua indikator pertumbuhan ekonomi seperti peningkatan daya beli, peningkatan industri, oleh pihak pemerintah menganggap tersebut sebagai sesuatu yang baik dan menjadi indikator keberhasilan pemerintahan. Namun dibalik semua pewujudan keinginan dan impian-impian yang tidak terbatas tersebut masih ada yang terbatas, yaitu alam. Seiring dengan pemenuhan keinginan melalui produk-produk industri akan menguras penggunaan sumberdaya alam dan meningkatkan polusi, sehingga pada suatu titik ketika jumlah dan kondisi sumberdaya alam sudah tidak mampu memenuhi keinginan manusia maka akan terjadi penurunan kualitas dan daya hidup manusia. Dengan kata lain akan banyak penyakit karena polusi dan kelaparan serta krisis energi, tidak menutup kemungkinan adalah kematian yang sia-sia karena peperangan memperebutkan sisa sumberdaya alam yang ada. Setidaknya itu makna yang saya tangkap dalam diskusi bersama Theo Van Beuseukom yang membawakan pemikiran Dennis Meadows dalam buku The Limits to Grow, bulan Juni 2010 di Salatiga.

Dalam simulasi Theo Van Beuseukom mengenai pertumbuhan ekonomi keterkaitannya dengan keterbatasan sumberdaya alam, maka dalam 40 sampai 100 tahun ke depan akan terjadi krisis yang luar biasa jika pemerintah bersama masyarakat secara terpadu mulai mengarahkan kebijakan yang lebih bersahabat dengan alam. Tidak seperti sekarang para politisi yang cenderung mengidap rabun jauh, sehingga melakukan kebijakan yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek saja dengan indikator pertumbuhan ekonomi, yaitu sampai pada periode pemilihan umum berikutnya. Bagi korporat, politisi yang terbiasa hidup dengan kelimpahan silahkan dinikmati dan dipuaskan karena barangkali hal itu kesempatan terakhir untuk dapat memuaskan diri. Bagi kami yang terbiasa hidup sederhana namun selalu mengucap syukur sudah terbiasa dan lebih siap ketika semuanya menjadi serba terbatas. Bagi yang beragama dan berkepercayaan apapun itu, jika semua yang anda lakukan tidak berpadu dan berpihak kepada alam maka tidak akan menyelamatkan anda. Maksudnya adalah menyelamatkan generasi manusia dari bencana alam. Arysio Santos dalam buku Athlantis the Lost Continent Finally Found, perihal sejarah peradaban dan kemusnahan manusia, tertulis hanya mereka yang berakal budi saja yang dapat selamat dan melanjutkan keturunan manusia di muka bumi. Belakangan saya mencari tahu ternyata Santos mengutip pendapat peramal yang dianggap nabi yang hidup sekitar 600 tahun sebelum masehi, dalam salah satu kitab kelompok kepercayaan tertentu.

Untunglah tidak disebutkan, hanya manusia yang beragama saja yang akan selamat dan melanjutkan keturunan di muka bumi…he…he…

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 6, 2010, in Resensi Buku and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: