Generasi Muda Sadar Sejarah Sebagai Pondasi Pelestarian Budaya

Rembang (20/1/2010), Bertempat di Kantor Perpustakaan dan Arsip Pemerintah Kabupaten Rembang, tim IPI (Institut Pluralisme Indonesia) mewawancarai Drs. Edi Winarno, M.Pd selaku Ketua Umum MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) di Rembang. Berikut petikan wawancaranya.

MSI itu Apa dan apa alasan didirikannya MSI di Rembang?

MSI Rembang merupakan organisasi tingkat komisariat, cabangnya berada di propinsi dan pusatnya ada di tingkat Nasional. Di Jawa Tengah sendiri baru ada 4 komisariat yaitu Brebes, Kudus, Temanggung dan Rembang. MSI sendiri merupakan organisasi yang terbuka bagi siapa saja yang gemar dan peduli akan sejarah serta pelestarian budaya. Anggotanya dapat siapa saja mulai dari praktisi, akademisi, guru, peneliti, ataupun budayawan. MSI Rembang dibentuk untuk meningkatkan minat sejarah masyarakat.

Dengan hadirnya MSI diharapkan dapat mewujudkan mimpi-mimpi untuk melestarikan sejarah di Kabupaten Rembang, baik melalui penelitian ataupun diskusi-diskusi sejarah. Bahkan MSI sudah menjalin kerjasama dengan Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala untuk tetap menjaga semangat dan kontinuitas MSI. Misalnya ada permintaan dari masyarakat untuk menjadikan kota Lasem sebagai kota cagar budaya maka MSI berharap ada kerjasama dari masyarakat setempat, pemerintah melalui dinas terkait, DPRD Rembang, LSM atau lembaga penelitian lainnya untuk melakukan penelitian, advokasi, sosialisasi.

Melihat banyaknya situs sejarah yang ada di Rembang, bagaimana pengembangan ke depan?

Tentunya situs-situs yang ada merupakan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata sejarah ataupun ziarah keagamaan sekaligus sarana pembelajaran pengetahuan sejarah dalam rangka pelestarian warisan budaya. Oleh karena itu menjadi penting untuk mempelajari kesejarahan dari situs-situs tersebut, sehingga situs-situs yang ada bukan hanya sekedar menjadi barang peninggalan tetapi mempunyai nilai historis-kultural.

Jika situs-situs tersebut dikembangkan menjadi obyek wisata, bagaimana mengantisipasi komersialisasi situs ataupun aksi vandalisme?

Itulah perlunya penanaman kesadaran sejarah di sekolah-sekolah ataupun di lokasi situs. Jika masyarakat khususnya generasi muda sudah memahami nilai kesejarahannya maka diharapkan akan turut serta menjaga dari praktek corat-coret ataupun perusakan situs tersebut. Selain itu MSI juga dapat memberikan masukan ke pemerintah jika ternyata pengembangan situs-situs tersebut mengabaikan nilai-nilai kesejarahan.

Seberapa penting kehadiran MSI di Rembang?

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Kabupaten Rembang sendiri terdapat banyak sekali situs-situs sejarah, yang belum sepenuhnya diketahui kesejarahannya, mulai dari situs manusia Plawangan, Watu Congol di Ngargomulyo, Watuguling di Terjan, Makam Bhre Lasem di Gowak serta sisa-sisa peninggalan kerajaan Lasem lainnya yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Rembang. Selain itu juga terdapat beberapa sejarah non bendawi, misalnya tentang sejarah budaya batik. Meskipun batik Lasem begitu terkenal, namun sampai sejauh ini belum ada buku yang mengupas secara komprehensif tetang sejarah batik Lasem itu sendiri. Bukan hanya tentang sejarah batik Lasem, buku tentang Sejarah Lasem dan kabupaten Rembang juga masih sangat terbatas. Sementara ini yang sudah ada adalah buku mengenai sejarah lahirnya kota Rembang dan buku Sejarah Lasem, Negeri Dampo Awang yang Terlupakan. Kedua buku tersebut banyak mengambil dari Sejarah Lasem dalam Babad Badrasanti. Minimnya sumber kesejarahan yang komprehensif tentang situs-situs sejarah di Rembang tentunya sangat memprihatinkan. Bagaimana kita bisa melestarikan warisan budaya itu, kalau kita sendiri tidak benar-benar mengatahui kesejarahannya?

Secara singkat, bagaimana sisi kesejarahan batik Lasem itu sendiri?

Batik lasem mempunyai sisi filosofis yang cukup mendalam, yang menunjukkan adanya pengaruh budaya Jawa (Majapahit), budaya Cina dan Budaya Campa. Batik Lasem itu sendiri mulai dikenal semenjak Na Li Ni Anak dari Bi Nang Un (Nahkoda kapal Cheng Ho, yang berasal dari Campa yang kemudian menetap di Lasem) mengajarkan pembatikan pada masyarakat di lingkungan Kerajaan Lasem. Meski demikian Batik sendiri sudah ada di Nusantara jauh sebelum kedatangan Bi Nang Un, tepatnya semenjak kerajaan Kediri. Di beberapa candi peninggalan kerajaan Kediri akan didapati reliefnya sudah menggunakan kain bermotif. Dengan demikian orang-orang Campa di Lasem dapat dikatakan turut memperkaya khasanah motif dan teknik pembatikan.

Apa saja program dan kegiatan MSI Rembang ke depan?

Dalam waktu dekat MSI Rembang mempunyai tiga program, yang pertama yaitu pemetaan situs-situs sejarah di wilayah Kabupaten Rembang. Kedua, membuat multimedia pembelajaran interaktif  kesejarahan. Ketiga, advokasi kota lasem sebagai kota cagar budaya. Dalam jangka panjang MSI akan membuat buku sejarah Rembang, yang tentunya dikaji secara ilmiah dan komprehensif serta dikemas secara populer. Selain itu secara berkala MSI Rembang melakukan diskusi-diskusi kesejaharahan yang diselenggarakan setiap bulan, sedapat mungkin diskusi tersebut dilaksanakan di salah satu lokasi situs sejarah yang ada di Rembang.

Bagaimana minat dan ketertarikan masyarakat Rembang, khususnya generasi muda terhadap sejarah dan pelestarian budaya?

Secara umum minat masyarakat Rembang terhadap sejarah cukup tinggi, misalnya dalam beberapa waktu belakangan ada media massa mengupas salah satu situs sejarah yang ada di Rembang maka masyarakat Rembang akan segera merespon dengan mengunjungi situs atau mencari informasi tentang situs tersebut. Indikator yang lainnya misalnya banyaknya peserta yang mengikuti seminar nasional dan susur sungai Bagan terkait dalam peranannya di masa kerajaan Lasem, pada 26 November 2009. Sebagian diantara pesertannya adalah guru-guru yang relatif masih muda.

Apa yang dilakukan MSI kaitannya dengan penanaman kesadaran sejarah dan pelestarian budaya kepada generasi muda?

MSI Rembang cukup mendukung pelestarian budaya dan kesejarahan kepada generasi muda, untuk itu MSI sangat terbuka untuk bekerjasama dengan Dinas Pendidikan ataupun Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga. Misalnya dengan Dinas Pendidikan sudah menyelenggarakan muatan lokal Sejarah dan Budaya Bahari, ini menjadi satu-satunya di Indonesia. Selain itu juga MSI mendukung penyelenggaraan muatan lokal batik.

Secara teknis, bagaimana cara menanamkan minat dan kesadaran sejarah dan pelestarian kepada generasi muda?

Untuk menumbuhkan minat terhadap sejarah, tentunya pembelajaran sejarah harus menarik dan mencakup kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kompetensi kognitif dikembangkan melalui proses pembelajaran sejarah baik di sekolah ataupun di masyarakat. Afektif, sikap kecintaan terhadap kesejarahan itu harus timbul dari diri generasi muda tersebut, dan psikomotorik melalui praktek kunjungan ke lapangan atau juga melalui praktek membatik.

MSI secara bertahap akan mengumpulkan dan menyusun buku sejarah yang komprehensif untuk keperluan pembelajaran tersebut, termasuk membuat media pembelajaran interaktif. Dengan menggunakan media pembelajaran interaktif tentunya proses pembelajaran sejarah akan lebih mudah dimengerti oleh generasi muda, sehingga diharapkan kesadaran akan pelestarian budaya akan meningkat. Ketertarikan terhadap sejarah tersebut akan semakin kuat bila didukung dengan kunjungan ke situs-situs tersebut, hal ini akan menjadi pengalaman yang sangat menarik bagi siswa.

Pesan atau tanggapan terakhir tentang kesadaran sejarah dan pelestarian budaya pada generasi muda?

Bagaimanapun tanggungjawab akan kesadaran sejarah itu sendiri merupakan tanggungjawab dari orangtua, pemerintah dan sejarawan. Oleh karena itu MSI mengajak kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk bersama-sama memelihara nilai-nilai sejarah dan juga mewariskannya kepada generasi muda melalui pendidikan.

Rembang (20/1/2010), Bertempat di Kantor Perpustakaan dan Arsip Pemerintah Kabupaten Rembang, tim IPI (Institut Pluralisme Indonesia) mewawancarai Drs. Edi Winarno, M.Pd selaku Ketua Umum MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) di Rembang. Berikut petikan wawancaranya.

MSI itu Apa dan apa alasan didirikannya MSI di Rembang?

MSI Rembang merupakan organisasi tingkat komisariat, cabangnya berada di propinsi dan pusatnya ada di tingkat Nasional. Di Jawa Tengah sendiri baru ada 4 komisariat yaitu Brebes, Kudus, Temanggung dan Rembang. MSI sendiri merupakan organisasi yang terbuka bagi siapa saja yang gemar dan peduli akan sejarah serta pelestarian budaya. Anggotanya dapat siapa saja mulai dari praktisi, akademisi, guru, peneliti, ataupun budayawan. MSI Rembang dibentuk untuk meningkatkan minat sejarah masyarakat.

Dengan hadirnya MSI diharapkan dapat mewujudkan mimpi-mimpi untuk melestarikan sejarah di Kabupaten Rembang, baik melalui penelitian ataupun diskusi-diskusi sejarah. Bahkan MSI sudah menjalin kerjasama dengan Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala untuk tetap menjaga semangat dan kontinuitas MSI. Misalnya ada permintaan dari masyarakat untuk menjadikan kota Lasem sebagai kota cagar budaya maka MSI berharap ada kerjasama dari masyarakat setempat, pemerintah melalui dinas terkait, DPRD Rembang, LSM atau lembaga penelitian lainnya untuk melakukan penelitian, advokasi, sosialisasi.

Melihat banyaknya situs sejarah yang ada di Rembang, bagaimana pengembangan ke depan?

Tentunya situs-situs yang ada merupakan potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata sejarah ataupun ziarah keagamaan sekaligus sarana pembelajaran pengetahuan sejarah dalam rangka pelestarian warisan budaya. Oleh karena itu menjadi penting untuk mempelajari kesejarahan dari situs-situs tersebut, sehingga situs-situs yang ada bukan hanya sekedar menjadi barang peninggalan tetapi mempunyai nilai historis-kultural.

Jika situs-situs tersebut dikembangkan menjadi obyek wisata, bagaimana mengantisipasi komersialisasi situs ataupun aksi vandalisme?

Itulah perlunya penanaman kesadaran sejarah di sekolah-sekolah ataupun di lokasi situs. Jika masyarakat khususnya generasi muda sudah memahami nilai kesejarahannya maka diharapkan akan turut serta menjaga dari praktek corat-coret ataupun perusakan situs tersebut. Selain itu MSI juga dapat memberikan masukan ke pemerintah jika ternyata pengembangan situs-situs tersebut mengabaikan nilai-nilai kesejarahan.

Seberapa penting kehadiran MSI di Rembang?

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Kabupaten Rembang sendiri terdapat banyak sekali situs-situs sejarah, yang belum sepenuhnya diketahui kesejarahannya, mulai dari situs manusia Plawangan, Watu Congol di Ngargomulyo, Watuguling di Terjan, Makam Bhre Lasem di Gowak serta sisa-sisa peninggalan kerajaan Lasem lainnya yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Rembang. Selain itu juga terdapat beberapa sejarah non bendawi, misalnya tentang sejarah budaya batik. Meskipun batik Lasem begitu terkenal, namun sampai sejauh ini belum ada buku yang mengupas secara komprehensif tetang sejarah batik Lasem itu sendiri. Bukan hanya tentang sejarah batik Lasem, buku tentang Sejarah Lasem dan kabupaten Rembang juga masih sangat terbatas. Sementara ini yang sudah ada adalah buku mengenai sejarah lahirnya kota Rembang dan buku Sejarah Lasem, Negeri Dampo Awang yang Terlupakan. Kedua buku tersebut banyak mengambil dari Sejarah Lasem dalam Babad Badrasanti. Minimnya sumber kesejarahan yang komprehensif tentang situs-situs sejarah di Rembang tentunya sangat memprihatinkan. Bagaimana kita bisa melestarikan warisan budaya itu, kalau kita sendiri tidak benar-benar mengatahui kesejarahannya?

Secara singkat, bagaimana sisi kesejarahan batik Lasem itu sendiri?

Batik lasem mempunyai sisi filosofis yang cukup mendalam, yang menunjukkan adanya pengaruh budaya Jawa (Majapahit), budaya Cina dan Budaya Campa. Batik Lasem itu sendiri mulai dikenal semenjak Na Li Ni Anak dari Bi Nang Un (Nahkoda kapal Cheng Ho, yang berasal dari Campa yang kemudian menetap di Lasem) mengajarkan pembatikan pada masyarakat di lingkungan Kerajaan Lasem. Meski demikian Batik sendiri sudah ada di Nusantara jauh sebelum kedatangan Bi Nang Un, tepatnya semenjak kerajaan Kediri. Di beberapa candi peninggalan kerajaan Kediri akan didapati reliefnya sudah menggunakan kain bermotif. Dengan demikian orang-orang Campa di Lasem dapat dikatakan turut memperkaya khasanah motif dan teknik pembatikan.

Apa saja program dan kegiatan MSI Rembang ke depan?

Dalam waktu dekat MSI Rembang mempunyai tiga program, yang pertama yaitu pemetaan situs-situs sejarah di wilayah Kabupaten Rembang. Kedua, membuat multimedia pembelajaran interaktif  kesejarahan. Ketiga, advokasi kota lasem sebagai kota cagar budaya. Dalam jangka panjang MSI akan membuat buku sejarah Rembang, yang tentunya dikaji secara ilmiah dan komprehensif serta dikemas secara populer. Selain itu secara berkala MSI Rembang melakukan diskusi-diskusi kesejaharahan yang diselenggarakan setiap bulan, sedapat mungkin diskusi tersebut dilaksanakan di salah satu lokasi situs sejarah yang ada di Rembang.

Bagaimana minat dan ketertarikan masyarakat Rembang, khususnya generasi muda terhadap sejarah dan pelestarian budaya?

Secara umum minat masyarakat Rembang terhadap sejarah cukup tinggi, misalnya dalam beberapa waktu belakangan ada media massa mengupas salah satu situs sejarah yang ada di Rembang maka masyarakat Rembang akan segera merespon dengan mengunjungi situs atau mencari informasi tentang situs tersebut. Indikator yang lainnya misalnya banyaknya peserta yang mengikuti seminar nasional dan susur sungai Bagan terkait dalam peranannya di masa kerajaan Lasem, pada 26 November 2009. Sebagian diantara pesertannya adalah guru-guru yang relatif masih muda.

Apa yang dilakukan MSI kaitannya dengan penanaman kesadaran sejarah dan pelestarian budaya kepada generasi muda?

MSI Rembang cukup mendukung pelestarian budaya dan kesejarahan kepada generasi muda, untuk itu MSI sangat terbuka untuk bekerjasama dengan Dinas Pendidikan ataupun Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga. Misalnya dengan Dinas Pendidikan sudah menyelenggarakan muatan lokal Sejarah dan Budaya Bahari, ini menjadi satu-satunya di Indonesia. Selain itu juga MSI mendukung penyelenggaraan muatan lokal batik.

Secara teknis, bagaimana cara menanamkan minat dan kesadaran sejarah dan pelestarian kepada generasi muda?

Untuk menumbuhkan minat terhadap sejarah, tentunya pembelajaran sejarah harus menarik dan mencakup kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kompetensi kognitif dikembangkan melalui proses pembelajaran sejarah baik di sekolah ataupun di masyarakat. Afektif, sikap kecintaan terhadap kesejarahan itu harus timbul dari diri generasi muda tersebut, dan psikomotorik melalui praktek kunjungan ke lapangan atau juga melalui praktek membatik.

MSI secara bertahap akan mengumpulkan dan menyusun buku sejarah yang komprehensif untuk keperluan pembelajaran tersebut, termasuk membuat media pembelajaran interaktif. Dengan menggunakan media pembelajaran interaktif tentunya proses pembelajaran sejarah akan lebih mudah dimengerti oleh generasi muda, sehingga diharapkan kesadaran akan pelestarian budaya akan meningkat. Ketertarikan terhadap sejarah tersebut akan semakin kuat bila didukung dengan kunjungan ke situs-situs tersebut, hal ini akan menjadi pengalaman yang sangat menarik bagi siswa.

Pesan atau tanggapan terakhir tentang kesadaran sejarah dan pelestarian budaya pada generasi muda?

Bagaimanapun tanggungjawab akan kesadaran sejarah itu sendiri merupakan tanggungjawab dari orangtua, pemerintah dan sejarawan. Oleh karena itu MSI mengajak kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk bersama-sama memelihara nilai-nilai sejarah dan juga mewariskannya kepada generasi muda melalui pendidikan.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on January 10, 2010, in Kanuri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. klo ngetik dikasi sumber yang valid dong gan =(

    • Makasih masukannya. Maaf kalau tidak saya sebutkan secara langsung dalam tulisan ini, namun kalau anda membaca halaman About disitu sudah saya sebutkan sumber-sumber tulisannya. Sekali lagi saya mohon maaf, dan khusus untuk ini berasal dari majalah Kanuri.

      Kalau boleh kasih masukan juga, kalau komentar juga ditulis pakai alamat email yang valid, dengan harapan kita masih bisa lemlanjutkan korespondensi. Sukses buat saudara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: