Lebih Serius dengan Kesejahteraan Pembatik

Kesejahteraan, satu kata yang tidak pernah selesai dibahas. Secara khusus nasib buruh batik tidak semanis dengan kain batiknya, yang kini telah diakui oleh dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Buruh batik yang hampir semuanya adalah termasuk pekerja tidak terlatih (non skilled worker) menempatkan posisi buruh batik bukan sebagai profesi yang diminati generasi muda sekarang. Meski demikian menjadi pembatik nampaknya menjadi satu-satunya pilihan bagi kaum ibu di sekitar Lasem.

Secara umum membatik dianggap sebagai pekerjaan sampingan, meskipun dalam kenyataannya sebagian pembatik memang benar-benar menghabiskan hari-harinya untuk membatik. Konsekuensinya baik pembatik atau pengusaha batik dapat memutuskan hubungan kerja secara sepihak, tanpa ada ikatan apapun. Ketika pengusaha mengalami pailit, maka tidak ada kewajiban untuk memberikan pesangon kepada pembatik. Begitu juga sebaliknya, ketika pembatik ada kesibukan lain ataupun mendapatkan tawaran membatik dari tempat lain, maka pengusaha juga tidak dapat menuntut apapun.

Sebagai pembatik, secara sederhana hanya ikut numpang hidup kepada pengusaha. Karena buruh batik hanya bisa membatik, tidak punya modal untuk membeli kain dan perlengkapan memmbatik, tidak tahu resep warna batik dan tidak tahu kemana dan bagaiaman menjual batik. Mejadi pengusaha batik secara mandiri dianggap sebagai suatu impian yang tidak realistis, toh dengan menjadi buruh batikpun mereka juga masih bisa hidup. Sudut pandang pembatik terhadap profesinya tersebut menjadi hambatan ketika dikaitkan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan pembatik.

Pemerintah perlu berbagi informasi

 

Puji Santoso

Puji Santoso (Anggota DPRD Rembang) mengiyakan bahwa tingkat kesejahteraan buruh batik di Rembang masih rendah meskipun berangsur-angsur meningkat dari tahun ke tahun. Menjadi pertanyaan besar adalah apakah ada yang salah dengan kebijakan pemerintah terkait peningkatan kesejahteraan rakyat? Seberapa besar anggaran dari pemerintah yang dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh batik? Demikian dua pertanyaan reflektif yang beliau ajukan ketika ditemui oleh tim IPI (Institut Pluralisme Indonesia).

Lebih lanjut Puji Santoso menambahkan perihal peningkatan kesejahteraan bukan semata-mata masalah angaran dan kebijakan yang pro rakyat saja tetapi bagaimana kesiapan masyarakat untuk dapat melihat potensi desa dan komitmen bersama untuk membangun desanya. Ketika ditanya lebih jauh mengenai seperti apa kebijakan yang pro rakyat, beliau menjelaskan bahwa pemerintah harus mendukung penciptaan usaha-usaha kecil di setiap desa tentunya disesuaikan dengan potensi desanya. Sementara itu usaha yang sudah ada juga tetap diberi dukungan sampai pada titik usaha tersebut dapat mandiri. Untuk itu pemerintah perlu berbagi informasi tentang peluang usaha-usaha baru dan ditindaklajuti dengan pelatihan-pelatihan teknis. Hal yang tidak terkait langsung tetapi cukup penting adalah membangun motivasi menjadi pengusaha.

Pengusaha Sudah Lebih Peduli terhadap Pembatiknya

 

Sudirman

Di tempat terpisah, Sudirman Kepala Bidang Perindustrian Disperindakop dan UMKM Kabupaten Rembang menambahkan bahwa untuk saat ini kesejahteraan pembatik sudah cukup bagus. Hal ini bukan hanya dinilai dari besarnya upah harian atau per kain saja, tetapi bonus yang mereka terima. Misalnya bonus ketika menjelang hari raya atau bonus ketika pengusaha sukses mengikuti pameran. Bahkan ada pengusaha yang memberikan bonus sepeda kepada semua pembatiknya. Budi Darmawan Kepala Bagian Perdagangan Disperindakop dan UMKM juga menjelaskan bahwa fasilitasi pameran kepada pengusaha itu dapat meningkatkan penjualan kain batik, dengan demikian maka pengusaha batik tidak sungkan-sungkan untuk memberikan bonus kepada pembatiknya. Saat ini memberikan bonus dan oleh-oleh sepulang dari pameran sudah menjadi trend di kalangan pengusaha batik Lasem. Diharapkan ke depan pengusaha yang sudah besar dan cukup mandiri dapat mengikuti pameran dengan sendirinya, dan gantian pengusaha lainnya yang difasilitasi.

Pemberian bonus dari pengusaha batik ke pembatiknya tentu meberikan satu nelai lebih, meskipun sangat insidental. Mengingat pemberian bonus paska suskes pameran berarti hanya diberikan ketika pameran itu sukses, dengan kata lain permintaan pasar masih tinggi. Menjadi permasalahan ketika permintaan pasar rendah maka tidak ada kewajiban pembarian bonus, dan bahkan tidak menutup kemungkinan sampai terjadi pemutusan hubungan kerja.  Menyikapi hal ini Budi Darmawan menambahkan perlunya suatu strategi pemasaran yang kontinyu bukan tergantung hanya pada saat pameran saja, oleh karena itu perlu dibuatkan semacam outlet khusus batik Lasem. Seperti yang sudah dilaksanakan Dinas Perindakop dan UMKM dengan menyediakan showroom batik Lasem di Lasem dengan system kontrak kepada kelompok. Ada kemungkinan dikota-kota lain yang prospek untuk pemasaran batik Lasem kan dibangung outlet-outlet batik Lasem, baik yang disediakan oleh pihak pemerintah ataupun pengusaha sendiri. Sebagai contoh di Jepara sudah ada pusat penjualan batik Lasem, meskipun masih dikerjakan oleh pengusaha setempat.

 

Budi Darmawan

Secara umum pengusaha batik kini sudah jauh lebih peduli dan perhatian terhadap para pembatiknya. Selain dengan jumlah upah yang meningkat ditambah bonus hari raya dan pameran ternyata pengusaha batik Lasem bekerjasama dengan kantor Disperindakop dan UMKM Rembang pernah mengadakan lomba batik untuk anak SD. Untuk keperluan lomba dan hadiah dari Dinas Pendirndakop dan UMKM dan  pengusaha batik Tulis Lasem. “Untuk anggaran tahun depan selain memfasilatasi pameran dan pelatihan teknis kami juga mengadakan lomba batik anak tentunya dengan tetap melibatkan pengusaha batik Lasem” demikian Sudirman menegaskan.

Belajar dari KUB Srikandi Jeruk

IPI semenjak tahun 2006 melakukan pendampingan di 5 desa (Jeruk, Karaskepoh, Tuyuhan, Doropayung dan Warugunung) di kecamatan Pancur, Rembang. Secara khusus di desa Jeruk IPI menginisiasi Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai suatu model dalam rangka pemberdayaan dan upaya peningkatan kesejahteraan secara kolektif. Dikatakan kolektif karena keberadaan KUB Srikandi Jeruk tidak dimiliki secara personal tetapi merupakan milik bersama anggotanya. Melalui KUB ini mereka yang tadinya adalah buruh batik kini juga belajar menjadi pengusaha batik. Mereka juga belajar menentukan berapa besaran upah yang layak mereka terima dari hasil kerja keras mereka, tentunya dengan memperhitungkan biaya produksi dan juga permintaan pasar.

Setidaknya ada 12 pembatik yang di dalam, sebagian sudah mulai dibatik di luar. Perlahan namun pasti KUB sudah turut mengurangi angka pengangguran dan skaligus meningkatkan kesejahteraan. Saat ini permintaan kain batik ke KUB Srikandi Jeruk sudah mulai banyak. Banyaknya permintaan tersebut tidak serta merta menaikkan upah pembatik karena mereka juga mempertimbangkan keharmonisan dengan pengusaha lain. Bahwa waktu dan tenaga pembatik yang bekerja ekstra tentunya sudah layak mendapatkan bonus. Ternyata mereka juga sudah banyak belajar mengenai etika berwirausaha, tidak sekedar bersaing menjual barang banyak-banyakan, tetapi dengan tetap menjaga kulaitas serta mempertimbangkan sisi kemanusiaan dari pembatik.

Keberhasilan dari KUB Srikandi Jeruk sekaligus menepis anggapan bahwa buruh batik tidak bisa menjadi pengusaha batik. Berkaitan dengan kesejahteraan ternyata tidak selalu bicara mengenai pemilik modal dan buruh, KUB Srikandi Jeruk menempatkan pembatiknya sebagai rekan sekerja, karena mereka juga sama-sama pembatik. Di sisi lain mengenai kesejahteraan pembatik memang selayaknya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, namun komitmen dan motivasi masyarakat untuk bangkit dan memperbaiki kesejahteraannya justru lebih utama (Slamet Haryono).

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on November 15, 2009, in Kanuri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: