Tikus Pithi Anata Baris : Menggali Spiritualitas Jawa Untuk Membangkitkan Kembali Spirit Gerakan Mahasiswa

“TIkus pithi anata baris” secara langsung diartikan sebagai tikus kecil yang sedang merapikan barisan. Oleh Sujiwo Tejo dimaknai sebagai adanya usaha dari kelommpok kecil masyarakat yang menggalang kekuatan untuk memberontak. Peringatan akan adanya pemberontakan rakyat kecil tersebut telah disampaikan beratus tahun yang lalu oleh Jayabaya ,raja Kediri pada abad ke XII dalam Jangka Jayabaya.

Apakah relevansi ramalan Jayabaya itu dengan gerakan mahasiswa?
Bukan merupakan suatu kebetulan jika belakangan -pasca era reformasi 1998- terjadi euforia demonstrasi sebagai bentuk ekspresi terhadap kebebasan dari penguasa yang otoritarian. Aksi-aksi demontrasi tersebut pelan pelan menggeser persepsi masyarakat mengenai mahasiswa yang tadinya dianggap sebagai kaum terdidik yang diharapkan menjadi agen perubahan menjadi hanya sekedar “tukang demo”. mungkin statemen ini terlalu berlebihan, tapi kita semua dapat memverifikasi statemen tersebut langsung ke masyarakat ” bagaimana pandangan masyarakat terhadap mahasiswa “aktivis” saat ini?

“Gerakan mahasiswa bukanlah demonstrasi, tetapi demonstrasi merupakan salah satu muara dalam gerakan mahasiswa” demikian kata Yakub Adi Krisanto, salah seorang pembicara materi gerakan mahasiswa di LMKM LK UKSW yang dipanelkan bersama Yesaya Sandang dan Penulis. Dengan demikian mahasiswa atau aktivis mahasiswa harus juga perlu mencari tahu muara gerakan mahasiswa yang lainnya. Yakub menambahkan bahwa Lembaga Kemahasiswaan cenderung melulu sebagai Lembaga Kegiatan. Dengan demikian patut dipertanyakan relevansi peranan dan fungsi LK dalam bingkai gerakan mahasiswa. Memang tidak dapat dipungkiri dalam gelimang budaya hedonistik di dalam kampus masih terdapat segelintir mahasiswa yang notabene tidak melulu fungsionaris LK yang mau terlibat dalam aksi advokasi terhadap permasalahan masyarakat di Salatiga. Kemampuan mahasiswa untuk membungkus nilai-nilai universalitas, humanisme dan keberpihakan terhadap kelompok tertindas dalam aksi-aksi yang konstruktif diperlukan kekritisan, kejejaringan,sinergi dan basis keilmuan yang kuat. Untuk itu perlu diperluas fasilitas-fasilitas ruang publik seperti kelompok-kelompok diskusi, demikian Yesaya sandang menambahkan.

Kembali ke awal, Jayabaya telah mengingatkan kita akan adanya pemberontakan rakyat kecil. Kalu memang terjadi pemberontakan tersebut menjadi pertanyaan besar adalah ” dimana posisi mahasiswa?” apakah bersama-sama rakyat ikut memberontak ataukah bersandingan dengan penguasa karena sudah terlanjur menikmati kemapanan dalam bentuk fasilitas-fasilitas dan status elit dalam masyarakat. Terlepas ramalan Jayabaya terbukti atau tidak, sudah sepatutnyalah mahasiswa berada bersama rakyat ” ajur ajer empan papan” atau diartikan sebagai berbaur menyatu dan saling menyesuaikan. Yang perlu diwaspadai oleh mahasiswa dalam hal ini LK UKSW, bahwa kalau memang benar-benar tejadi pemberontakan, jangan dianggap bahwa tidak akan ada mahasiswa dari tempat lain, yang barangkali tidak ada jaminan adanya resistensi diboncengi kepentinggan-kepentingan elit politik. Sudah bukan rahasia maraknya gerakan mahasiswa ekstra kampus yang berafiliasi dengan partai politik.

Meleburnya mahasiswa (UKSW) bersama rakyat kecil ini, memungkinkan mahasiswa untuk berperan sebagai agen perubahan, sehingga “tikus-tikus” yang memberontak biarlah memberotak, tapi tidak asal memberontak, bahkan kalau perlu mari kiita memberontak bersama-sama. Bukan masalah memberontak kepada siapa dan dalam hal apa, tetapi ketika mahasiswa-rakyat melebur permasalahan apapun dapat dicarikan muara-muara penyelesaiannya dengan lebih santun tanpa mengurangi kualitas dan efektifitasnya. Hal ini dirasa mendesak untuk segera dilakukan, mengingat gerakan mahasiswa yang ada selama ini cenderung bersifat momentum, dan tergantung isu. Oleh karena itu mahasiswa terkesan hanya sebagai “penunggang kuda” di atas permasalahan yang terjadi di masyarakat dan berharap mendapatkan status “AKTIFIS” yang dianggap sangat prestisius di kalangan mahasiswa pada umumnya. Kalau tidak percaya, lihat saja bagaimana para aktifis dengan bangga memasang emblem dan simbol-simbol pergerakan itu dalam jas almamaternya. Apakah perilaku yang demikian itu, aktifis mahasiswa masih menganggap diri tidak elitis? Semakin banyak simbol-simbol yang dipasang, semakin prestisius pula posisinya di kalangan aktifis mahasiswa. Kaya militer aja pake tanda pangkat segala.

Di atas hanyalah contoh ketidak mampuan aktifis mahasiswa untuk “ajur ajer empan papan”. Melakukan gerakan, tidaklah harus secara masif dengan aksi turun ke jalan ketika ada isu-isu tertentu saja. Tindakan demikian justru akan memberi jarak antara mahasiswa-rakyat, dengan mengansumsikan bahwa masyarakat itu bodoh dan lemah sehingga perlu aksi heroistik dari mahasiswa, padahal tidak mutlak demikan. Alternatif gerakan mahasiswa ke depan haruslah lebih sistematis dan kontinu serta ada kohesifitas yang kuat atara mahasiswa-rakyat, melebur. Tidak juga harus melulu dalam bentuk program kegiatan, namun demikian LK/Universitas perlu merancang master plan gerakan mahasiswa. Aksi-aksi peleburan rakyat-mahasiwa tidaklah merupakan suatu program Kegiatan, tapi tetaplah itu harus TERENCANA. Meskipun demikian LK sekali waktu juga bisa membuat program yang sekiranya dapat dimaknai sebagai “pintu masuk” untuk meleburkan diri bersama rakyat. Beberapa kegiatan LK yang dapat diintegrasikan bersama rakyat adalah pelatihan kepemimpinan, socev yang live in bersama rakyat. Namun demikian yang dijadikan catatan, bahwa dalam live in tersebut tidak hanya sekedar memindahkan lokasi kegiatan dari wisma-wisma atau gedung pertemuan ke tengah-tengah perkampungan, harus benar-benar ada program yang terintegrasi. Untuk menjaga kontinuitas tidak menutup kemungkinan masing-masing fakultas mempunyai desa binaan. Tidak sekedar menjadi desa langganan untuk penyelenggaraan kegiatan mahasiswa.

Dengan terintegrasinya kegiatan mahasiswa dengan rakyat yang terus ditindak lanjuti menjadi aksi-aksi (dengan jumlah aktivis, terbatas, bergantian, sinergi, tersamarkan) pembauran bersama rakyat, maka peran mahasiswa sebagai agen perubahan sudah dimulai jauh sebelum masalah-masalah yang bersifat momentum dan bergantung isu tersebut ditanggapi oleh mahasiswa lainnya dalam bentuk demonstrasi. Ada proses pencerdasan masyarakat yang secara tidak langsung juga akan mengasah intelektualitas, kepekaan dan keberpihakan mahasiswa terhadap kelompok tertindas.

Tinggal sekarang apakah pihak pihak terkait, dalam hal ini LK dan Universitas sebagai lembaga yang diberi tanggungjawab untuk mengemban amanah luhur tersebut mampu segera menyikakapi hal ini tidak! Kalau memang tidak mampu mnyikapi hal ini, maka tidak menutup kemungkinan lembaga-lembaga tersebut akan menjadi target pemberontakaan rakyat kecil. Ingat ketiak “tikus tikus kecil sedang merapikan barisan” mereka hanya bisa menempatkan apakah kita ada bersama-sama dengan mereka ataukah kita ada bersama dengan pihak-pihak dimana mereka akan memberontak.

Salatiga 9 Mei 2009

Salam nusantara

Slamet Haryono

* Catatan penulis atas sesi materi “Gerakan Mahasiswa” dalam LMKM yang diselenggarakan di wisma Kurios, salaran, Kopeng, 8 Mei 2009. Sebagai juga pemateri yang dipanelkanbersama Yakub Adi Krisanto dan Yesaya Sandang.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on May 8, 2009, in Materi Pelatihan and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: